5 Hidangan Imlek dan Jejak Sejarah di Baliknya

MIMBARJUMAT.COM – Apa yang paling kamu nantikan saat Tahun Baru Imlek? Selain angpau dan momen berkumpul bersama keluarga, hidangan khas yang tersaji di meja makan kerap menjadi daya tarik utama.

Namun, pernahkah terpikir bahwa tidak semua makanan yang identik dengan Imlek benar-benar berasal dari Tiongkok?

Perayaan Imlek memang berakar dari tradisi Tiongkok kuno. Seiring perpindahan masyarakat dan pertemuan budaya di Asia Tenggara, berbagai sajian mengalami perubahan.

Hasilnya adalah ragam kuliner yang tidak hanya mencerminkan tradisi Tionghoa, tetapi juga jejak Peranakan serta pengaruh kolonial Barat. Inilah beberapa hidangan yang menyimpan cerita panjang di balik kelezatannya.

1. Nastar

Nastar kerap dianggap sebagai kue wajib saat Imlek. Kue kecil berisi selai nanas ini memiliki makna simbolik yang kuat.

Dalam bahasa Hokkien, nanas disebut ong lai, yang berarti keberuntungan datang. Tak heran jika kue ini identik dengan harapan rezeki dan kemakmuran.

Menariknya, selai nanas pada nastar berakar dari budaya Nyonya atau Peranakan. Sementara itu, adonan mentega yang lembut menunjukkan pengaruh Barat pada masa kolonial Belanda dan Inggris.

Perpaduan tersebut menjadikan nastar sebagai simbol pertemuan budaya dalam tradisi perayaan Imlek di Indonesia.

2. Kue Kapit

Kue tipis dan renyah berbahan santan, tepung beras, tapioka, telur, dan gula ini memiliki kisah unik.

Pada masa lalu, kue kapit disebut menjadi media komunikasi pasangan kekasih. Pesan yang diselipkan di dalamnya dapat langsung dimakan sehingga tidak meninggalkan bukti tertulis.

Tradisi ini memperlihatkan bahwa fungsi kue bukan sekadar camilan, tetapi juga bagian dari kebiasaan sosial masyarakat pada zamannya.

3. Bakkwa

Bakkwa berasal dari tradisi Hokkien di Provinsi Fujian, Tiongkok. Daging babi cincang direndam gula dan minyak, lalu dipanggang hingga kering.

Pada masa lalu, daging jarang dikonsumsi sehingga biasanya hanya disajikan saat Imlek. Teknik merendam dengan gula dan rempah membantu mengawetkan daging agar tahan lebih lama.

Ketika dibawa para perantau ke Singapura dan Malaysia, cita rasanya berkembang mengikuti selera setempat. Kini bakkwa menjadi salah satu camilan premium yang selalu dicari menjelang Tahun Baru Imlek.

4. Kue Lapis

Kue lapis dengan banyak lapisan tipis berasal dari masa Hindia Belanda. Kue ini terinspirasi dari Baumkuchen, kue tradisional Jerman.

Di Asia Tenggara, resepnya diperkaya dengan kayu manis, cengkeh, pala, dan adas manis. Setiap lapisan dipanggang secara terpisah hingga menghasilkan tekstur lembap dengan rasa yang kaya.

Meski bukan berasal dari Tiongkok, kue lapis sering hadir di meja Imlek sebagai simbol rezeki yang berlapis-lapis.

5. Yu Sheng

Yu sheng kerap dianggap sebagai hidangan paling penting dalam makan malam reuni saat Imlek. Tradisi ini dipercaya berawal dari kebiasaan para nelayan di Guang Zhou yang merayakan Renri, hari ketujuh Tahun Baru Imlek, dengan menyantap hasil tangkapan mereka.

Mengonsumsi ikan mentah yang diiris tipis telah dikenal dalam tradisi Tiongkok kuno. Versi modern yu sheng disebut mulai muncul pada masa Dinasti Song, ketika penyajiannya semakin populer dalam perayaan tahun baru.

Selain penjelasan historis, terdapat pula kisah mitologis yang menyertai asal-usul hidangan ini. Diceritakan bahwa sepasang kekasih yang terdampar di sebuah kuil tanpa persediaan makanan berhasil menangkap seekor ikan mas.

Mereka mencampurkan irisan ikan tersebut dengan cuka dan menemukan rasa yang lezat. Kisah ini dipercaya menjadi salah satu cerita awal tradisi menyantap ikan mentah berbumbu.

Ketika para migran Tiongkok datang ke Malaya, tradisi ini ikut dibawa dan mengalami penyesuaian. Warung bubur mulai menjual hidangan ikan mentah yang dipadukan dengan irisan lobak dan wortel, lalu disiram minyak, gula, dan cuka.

Seiring waktu, yu sheng berkembang menjadi hidangan khas Imlek di Asia Tenggara. Penyajiannya semakin meriah dengan tradisi mengaduk bersama sambil mengucapkan doa keberuntungan.

Sajian Imlek bukan sekadar pelengkap perayaan. Di balik setiap gigitan tersimpan sejarah panjang perjumpaan budaya yang membentuk identitas kuliner Asia Tenggara hingga kini.

Meja makan saat Imlek pun menjadi saksi bahwa tradisi terus hidup, beradaptasi, dan menyatukan berbagai warisan dalam satu perayaan yang hangat.

Penulis: Ikhsan Tiaz Setiawan

Leave a Comment