MIMBARJUMAT.COM — Banyak orang yang menonton anime seringkali langsung dikaitkan dengan istilah wibu. Padahal, tidak semua penggemar anime termasuk wibu. Suka anime tidak otomatis membuat seseorang terobsesi dengan budaya Jepang. Memahami asal-usul istilah ini bisa membantu kita membedakan antara sekadar hobi dan obsesi.
Secara etimologi, wibu berasal dari kata bahasa Inggris weeaboo, yang kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia. Dalam kamus slang bahasa Inggris, weeaboo awalnya digunakan secara negatif untuk menyebut orang non-Jepang yang terlalu terobsesi dengan budaya Jepang, terutama anime, manga, dan media pop Jepang lainnya.
Kata weeaboo mulai populer di internet sekitar pertengahan 2000-an. Pengguna forum online mengganti istilah lama yang lebih kasar, Wapanese, dengan weeaboo. Menariknya, weeaboo sendiri awalnya hanyalah istilah tanpa arti khusus dalam sebuah komik, kemudian berkembang menjadi ejekan di komunitas online.
Tidak semua yang menonton anime otomatis menjadi wibu. Orang yang menikmati anime atau membaca manga untuk hiburan hanyalah bagian dari anime fandom. Mereka menonton karena suka, bukan karena obsesi berlebihan.
Sebaliknya, wibu cenderung menunjukkan ketertarikan yang ekstrem terhadap budaya Jepang. Mereka bisa mengidealkan Jepang hanya berdasarkan anime, meniru gaya hidup yang tidak realistis, atau mengabaikan budaya sendiri. Beberapa stereotip wibu antara lain:
• Menyisipkan kata-kata Jepang dalam percakapan sehari-hari
• Menganggap anime lebih unggul dari budaya lain
• Terlalu fokus pada budaya pop Jepang hingga kurang peduli hal lain
Perlu dicatat, ini hanyalah persepsi populer dan tidak berlaku untuk semua penggemar anime.
Selain wibu, istilah otaku juga sering terdengar. Otaku adalah istilah asli Jepang yang berarti seseorang sangat mendalami suatu hobi, termasuk anime atau manga, tanpa konotasi negatif. Sedangkan wibu berkembang dari ejekan internet menjadi label untuk obsesi berlebihan.
Intinya, menonton anime atau membaca manga tidak menjadikan seseorang wibu. Wibu muncul dari obsesi berlebihan atau perilaku tertentu terhadap budaya Jepang. Sementara banyak penggemar anime hanya menikmati karya favorit mereka tanpa mengubah hidup secara ekstrem.
Kalau kamu suka anime, itu berarti kamu bagian dari fandom global, bukan berarti harus disebut wibu. Menikmati anime tetap bisa santai, seru, dan penuh keseruan tanpa harus terobsesi.
Penulis: Hafiz Reyfansyah