MIMBARJUMAT.COM – Media sosial di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan fenomena viral bertajuk “Seablings” yang berhasil menyatukan warganet Asia Tenggara dalam perdebatan sengit seputar isu rasisme.
Istilah ini meledak dalam kurun waktu 48 jam terakhir, dipicu oleh unggahan tentang solidaritas antarwarga negara ASEAN yang saling membela dari serangan komentar bernuansa rasis di platform X.
Dari Jakarta hingga Bangkok, ribuan akun ramai-ramai bergabung dengan tagar #SeablingsUnity, menjadikannya trending topic nomor satu di lima negara Asia Tenggara.
Alih-alih memicu perpecahan, istilah ini justru membangkitkan gelombang persatuan dalam melawan narasi rasis yang dilontarkan akun-akun dari luar kawasan, terutama yang menyerang ciri fisik maupun budaya khas Asia Tenggara. Hingga saat ini, fenomena tersebut telah mengumpulkan jutaan interaksi, membuktikan kekuatan solidaritas digital masyarakat ASEAN di tengah isu sensitif terkait rasisme.
Dalam artikel ini, akan diulas secara mendalam mengenai makna Seablings yang sesungguhnya serta pemicu kemunculan fenomena ini. Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Apa Itu Seablings?
Istilah Seablings merupakan gabungan dari kata Southeast Asia dan siblings (saudara) yang lahir sebagai simbol persatuan. Warganet dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, hingga Filipina saling memberikan dukungan melalui beragam konten seperti meme, unggahan panjang, hingga video yang mengecam tindakan rasisme. Hingga kini, tagar #Seablings kian ramai digunakan sebagai bentuk solidaritas digital.
Fenomena Seablings sejatinya bukanlah hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, istilah ini kerap muncul ketika netizen Asia Tenggara menghadapi isu bersama di dunia maya. Namun, kali ini skalanya jauh lebih luas karena melibatkan sentimen lintas negara serta pengaruh budaya pop global seperti K-Pop. Meskipun demikian, tidak semua warganet Korea Selatan mendukung sikap rasis yang dilontarkan sebagian oknum.
Penyebab Seablings Viral dan Menjadi Heboh di 2026
Masalah ini berawal dari insiden pelanggaran aturan konser yang dilakukan oleh beberapa warga Korea Selatan di Malaysia. Seorang pengelola fansite untuk grup band DAY6 yang menonton di Axiata Arena, Kuala Lumpur, kedapatan membawa kamera profesional dengan lensa panjang saat konser berlangsung.
Tindakan ini merupakan pelanggaran serius terhadap ketentuan penyelenggara yang melarang penggunaan kamera profesional demi menjaga kenyamanan penonton dan hak cipta.
Situasi kian memanas setelah penonton lokal Malaysia merekam aksi tersebut dan menyebarkannya di media sosial X hingga menjadi viral. Meskipun oknum fansite dilaporkan telah meminta maaf, suasana justru berbalik semakin tegang saat sekelompok penggemar asal Korea Selatan lainnya tidak terima dengan teguran terkait larangan konser dan memperkeruh keadaan.
Banyak oknum mulai merespons dengan sikap bermusuhan terhadap Malaysia, salah satunya dengan melontarkan pernyataan bahwa idol K-Pop seharusnya hanya bisa dinikmati oleh warga Korea saja.
Tak hanya itu, sejumlah interaksi di media sosial X berubah menjadi ajang hinaan bernuansa rasial yang sangat kasar. Bahkan, sebagian netizen Korea Selatan melontarkan ejekan dengan merendahkan fitur fisik hingga kondisi ekonomi masyarakat Asia Tenggara.