Ini Arti Sebenarnya “Viral Seablings” yang Ramai di Media Sosial!

MIMBARJUMAT.COM – Istilah “seablings” yang secara cepat menjadi viral di berbagai platform media sosial, seperti TikTok, X (Twitter), dan Instagram, telah mengganggu komunitas media sosial tengah.

Banyak orang salah paham dan mengira istilah ini mengacu pada olahraga atau plesetan dari kata “saudara”. Namun, artinya sangat berbeda.

Dimulai dengan dinamika panas antara netizen Korea Selatan dan netizen dari negara-negara Asia Tenggara, istilah “seablings” muncul dari perdebatan digital antara warganet Korea yang sering disebut “knetz” dengan warganet dari negara-negara ASEAN seperti Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand.

Apa “Seablings”?

Diartikan secara harfiah sebagai “saudara Asia Tenggara”, kata “seablings” berasal dari kata “laut” (Asia Tenggara) dan “saudara” (Asia). Namun, dalam konteks viral saat ini, istilah tersebut digunakan sebagai tanda solidaritas netizen ASEAN saat menghadapi serangan, kritik, atau komentar negatif dari knetz.

Oleh karena itu, ini bukan istilah resmi dan tidak berkaitan dengan olahraga. Istilah ini murni berasal dari budaya internet dan cara berbicara di media sosial antara negara.

Mulai Perpecahan Digital

Isu-isu budaya, hiburan, standar kecantikan, dan rasa nasionalisme biasanya menjadi sumber perselisihan. Ketika topik tertentu berkaitan dengan idol K-Pop, aktor Korea, atau perbandingan budaya, beberapa perdebatan muncul di kolom komentar platform global seperti TikTok dan Instagram.

Netizen Korea yang cukup vokal dan protektif terhadap budaya dan artis negaranya kerap melontarkan komentar yang dianggap merendahkan negara Asia Tenggara. Sebaliknya, netizen ASEAN tidak tinggal diam dan berkomentar dengan argumen dan sindiran.

Saat ini, istilah “ASEAN seablings” menjadi populer. Artinya, meskipun sesama negara Asia Tenggara biasanya sering berdebat satu sama lain, mereka bersatu ketika menghadapi knetz.

Sebagai contoh, komentar:

“Seablings assemble!”

“ASEAN seablings, time to unite.”

“Kita beda negara, tapi tetap seablings lawan knetz.”

Menjadi pemandangan umum di linimasa.

– ASEAN Bersatu di Dunia Maya

Istilah ini menarik karena menggambarkan fenomena sosial yang unik. Negara-negara ASEAN, yang selama ini sering bersitegang di media sosial, seperti Indonesia versus Malaysia atau Thailand versus Filipina, justru bersatu ketika merasa diperlakukan tidak adil oleh negara lain di luar kawasan.

Rasa persatuan ini berasal dari interaksi digital, bukan dari dasar politik resmi atau organisasi formal seperti Association of Southeast Asian Nations.

Solidaritas ini lebih emosional dan spontan. Banyak warganet mengaku merasa “senasib” karena stereotip atau kritik negatif yang sering diarahkan kepada negara-negara Asia Tenggara secara umum.

Siapa Knetz?

“Knetz” sendiri merupakan singkatan dari “warganet Korea Selatan”, atau warganet Korea Selatan. Meskipun tidak semua knetz terlibat dalam perdebatan, istilah ini sering digunakan secara umum untuk konflik pendapat di media sosial.

Perlu diingat bahwa fenomena ini bukanlah konflik resmi antara negara, tetapi hanya dinamika masyarakat. Pemerintah atau lembaga resmi seperti South Korea tidak terlibat dalam hal ini. Ini adalah fenomena budaya digital semata-mata.

Mengapa Ini Bisa Jadi Viral?

Istilah “seablings” menjadi populer karena beberapa alasan:

– Sifatnya Relatable

Banyak netizen ASEAN merasa pernah mengalami stereotip atau komentar merendahkan dari luar kawasan.

– Nada Solidaritas yang Kuat

Kata ini membawa semangat persatuan, meski dalam konteks debat online.

– Didorong Algoritma Media Sosial

Konten yang mengandung drama, konflik, dan nasionalisme cenderung cepat viral.

– Mudah Diingat dan Unik

Gabungan kata yang tidak biasa membuatnya mudah dikenali.

Dalam hitungan hari, istilah ini menyebar luas dan digunakan lintas negara Asia Tenggara.

– Antara Nasionalisme dan Toxic Culture

Fenomena ini memicu diskusi tentang batas antara solidaritas dan tindakan berbahaya. Ini mungkin terdengar seperti candaan. Beberapa perdebatan berkembang menjadi rasisme, penghinaan, dan body shaming.

Pakar komunikasi digital menganggap fenomena ini sebagai jenis “tribalisme digital”, yaitu kecenderungan untuk membentuk kelompok berdasarkan identitas dan melawan kelompok lain di dunia maya.

Banyak orang melihatnya sebagai cara unik untuk berkumpul di seluruh wilayah. Netizen Asia Tenggara dapat menemukan solusi bersama di tengah perbedaan budaya dan bahasa.

– Makna Sosial “Seablings”

Istilah ini pada dasarnya membahas bagaimana internet dapat membentuk identitas regional. Generasi muda Asia Tenggara yang aktif di media sosial percaya bahwa pengalaman mereka di internet sebanding.

Fenomena “seablings” juga menunjukkan bahwa batas negara di ruang maya semakin tidak jelas. Bisa ada diskusi lintas bahasa dalam satu kolom komentar.

Meskipun demikian, penting untuk mempertahankan integritas digital. Tidak perlu menyerang orang lain untuk membangun solidaritas. Diharapkan diskusi warganet tidak berkembang menjadi ujaran kebencian dan tetap dalam batas wajar.

Leave a Comment