MIMBARJUMAT.COM – Salah satu prasangka yang masih beredar adalah anggapan bahwa Generasi Z terlalu sering membahas kesehatan mental. Tidak sedikit yang menilai mereka berlebihan saat membagikan isu psikologis di media sosial, bahkan dianggap gemar melakukan diagnosis diri tanpa dasar yang jelas. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Kenyataan yang Sebenarnya Mereka Alami
Kesadaran Generasi Z terhadap kesehatan mental muncul bukan sekadar karena tren. Edukasi mengenai isu ini memang semakin dibutuhkan, terutama karena mereka sedang berada pada fase transisi penting dari masa remaja menuju dewasa.
Pada tahap kehidupan ini, tekanan kerap datang dari berbagai arah. Tuntutan pendidikan, persiapan karier, relasi sosial, hingga ekspektasi keluarga menjadi beban yang tidak ringan. Di tengah perubahan tersebut, wajar jika banyak dari mereka mulai lebih memperhatikan kondisi psikologisnya.
91 Persen Generasi Z Mengalami Stres
Menurut laporan dari American Psychological Association, sebanyak 91 persen responden Generasi Z mengaku mengalami gejala fisik atau psikologis akibat stres.
Sumber stres yang mereka hadapi beragam. Masalah keuangan dan pekerjaan menjadi faktor utama, terutama bagi yang baru memasuki dunia kerja. Selain itu, ada pula beban utang, konflik keluarga, serta pola makan yang kurang sehat. Kekhawatiran terhadap masa depan juga menjadi tekanan tersendiri.
Menariknya, dari jumlah tersebut, hanya sekitar separuh yang merasa mampu mengelola stres dengan baik. Artinya, masih banyak yang membutuhkan dukungan dan pemahaman lebih lanjut.
Risiko Depresi dan Dampak Media Sosial
Penelitian dari University College London menunjukkan bahwa Generasi Z memiliki kecenderungan lebih tinggi terhadap perilaku menyakiti diri, gangguan tidur, citra tubuh negatif, obesitas, hingga depresi.
Kondisi ini semakin kompleks karena mereka tumbuh di era digital. Selama masa pandemi global, banyak remaja menghabiskan hampir sepuluh jam per hari menggunakan perangkat elektronik. Di satu sisi, teknologi memudahkan komunikasi. Namun di sisi lain, paparan media sosial juga dapat memicu rasa tidak percaya diri, perasaan terisolasi, dan paparan konten yang tidak sehat.
Meningkatnya Kesadaran Diri
Di balik berbagai tantangan tersebut, Generasi Z justru menunjukkan sisi positif. Mereka lebih terbuka membicarakan kondisi mental, berani mencari informasi, serta tidak segan meminta bantuan profesional. Kampanye kesadaran kesehatan mental yang marak di media sosial juga menjadi upaya untuk mengurangi stigma yang selama ini melekat.
Kesadaran ini menunjukkan bahwa membahas kesehatan mental bukanlah bentuk kelemahan, melainkan langkah awal untuk memahami diri sendiri.
Hal yang Perlu Diperhatikan
Meski demikian, tetap ada hal yang perlu dikritisi. Beberapa individu terkadang:
• Menggunakan isu kesehatan mental sebagai alasan untuk menyakiti orang lain
• Menjadikan kondisi psikologis sebagai dalih untuk menghindari tanggung jawab
• Melakukan diagnosis diri tanpa konsultasi profesional dan menganggapnya sebagai kebenaran mutlak
Kesadaran terhadap kesehatan mental bukan sekadar mengikuti arus. Konseling atau terapi juga bukan tanda kelemahan. Justru, keberanian untuk mengakui kebutuhan akan bantuan adalah bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.
Pada akhirnya, yang dibutuhkan bukanlah penilaian, melainkan pemahaman. Membuka ruang diskusi yang sehat tentang kesehatan mental adalah langkah penting agar setiap generasi dapat tumbuh dengan lebih kuat dan seimbang.
Penulis: Rizki Saputro S.Hum