MIMBARJUMAT.COM – Kunang‑kunang selalu menjadi salah satu pesona malam yang menakjubkan di Indonesia. Cahaya kecil mereka yang berkelap‑kelip bukan sekadar hiasan, tapi juga alat komunikasi penting untuk kawin.
Dulu, anak-anak hingga orang dewasa bisa menikmati ribuan kunang‑kunang di pekarangan, hutan, atau tepi sungai. Kini, kehadiran mereka semakin jarang terlihat.
Siklus Hidup Kunang‑Kunang
Kunang‑kunang mengalami metamorfosis lengkap, yaitu telur, larva, pupa, hingga dewasa.
Telur kunang‑kunang diletakkan di tanah lembap atau daun yang dekat sumber air. Telur ini menetas setelah beberapa hari hingga beberapa minggu, tergantung spesies dan kondisi lingkungan.
Larva hidup di tanah atau dekat sumber air. Mereka memakan siput, cacing, dan serangga kecil lain. Fase larva bisa berlangsung beberapa bulan hingga satu tahun.
Pada fase pupa, kunang‑kunang berkembang di dalam tanah atau di tempat lembap yang aman. Selama fase ini, tubuh larva mengalami perubahan hingga siap menjadi kunang‑kunang dewasa.
Kunang‑kunang dewasa muncul terutama untuk kawin. Cahaya bioluminesensi mereka berfungsi sebagai “kode” untuk menarik pasangan. Masa hidup dewasa relatif singkat, biasanya hanya beberapa minggu.
Faktor Penyebab Kelangkaan
1. Hilangnya Habitat
Perubahan hutan menjadi perumahan, kebun, atau jalan mengurangi area lembap yang dibutuhkan kunang‑kunang untuk bertelur dan tumbuh.
2. Polusi Cahaya
Lampu perkotaan dan rumah mengganggu sinyal cahaya yang digunakan untuk kawin. Banyak kunang‑kunang dewasa gagal menemukan pasangan sehingga generasi berikutnya menurun.
3. Pestisida dan Polusi
Pestisida membunuh larva atau serangga kecil yang menjadi makanannya. Limbah lingkungan juga merusak habitat alami mereka.
4. Perubahan Iklim
Pola hujan dan suhu yang tidak menentu memengaruhi fase larva dan pupa, membuat reproduksi lebih sulit.
Kelangkaan kunang‑kunang bukan hanya soal jumlahnya yang berkurang, tapi juga tentang hilangnya keajaiban malam yang dulu bisa dinikmati siapa saja.
Cahaya kecil mereka yang berkelip seperti bintang jatuh mengingatkan kita akan rapuhnya ekosistem yang kita tinggali.
Dengan menjaga habitat, mengurangi polusi cahaya, dan lebih bijak dalam menggunakan pestisida, kita memberi kesempatan bagi generasi mendatang untuk menyaksikan pertunjukan alami yang menakjubkan ini.
Penulis: Hafiz Reyfansyah