MIMBARJUMAT.COM – Menjelang bulan suci Ramadan, selain semarak persiapan ibadah ada sebuah tradisi khas yang mengisi hari-hari akhir nulan Sya’ban yaitu Munggahan.
Bagi masyarakat Sunda dan Jawa, tradisi ini bukan sekadar acara makan-makan biasa, melainkan sebuah ritual penghubung yang penuh makna untuk menyucikan hati dan menyiapkan diri sebelum “naik” ke bulan yang penuh berkah.
Secara bahasa, ‘Munggah’ berasal dari kata dalam bahasa Sunda dan Jawa yang berarti naik atau berpindah ke tempat yang lebih tinggi. Istilah ini dimaknai sebagai perpindahan dari bulan Sya’ban menuju bulan Ramadan, atau naiknya tingkat ibadah dan kesucian diri.
Tradisi ini biasanya dilakukan satu atau dua hari sebelum puasa dimulai, menjadi momen yang dinantikan untuk berkumpul dengan keluarga dan sanak saudara.
Apa Saja yang Biasanya Dilakukan Saat Munggahan?
Munggahan memiliki serangkaian aktivitas yang sarat dengan nilai kebersihan, silaturahmi, dan permohonan maaf. Kegiatannya bisa beragam, namun umumnya mencakup hal-hal berikut:
- Berkunjung ke tempat wisata atau berlibur singkat bersama keluarga untuk melepas penat sebelum menjalani bulan penuh ibadah.
- Membersihkan dan berziarah ke makam keluarga untuk mendoakan orang tua dan leluhur, mengingatkan akan kematian dan kehidupan akhirat.
- Melakukan pembersihan diri secara fisik, seperti keramas dan memotong kuku, yang juga merupakan sunnah Rasulullah SAW sebelum Ramadan.
- Saling meminta maaf kepada orang tua, pasangan, saudara, kerabat, dan teman. Ini adalah inti dari Munggahan, membersihkan hati dari dengki dan sakit hati agar puasa menjadi lebih ikhlas.
Inti dari semua aktivitas itu biasanya berpuncak pada acara makan bersama (botram atau bancakan). Duduk bersama, menikmati hidangan, sambil menguatkan tali silaturahmi dan saling mengucapkan permohonan maaf.
Hikmah di Balik Tradisi Munggahan
Lebih dari sekadar tradisi turun-temurun, Munggahan menyimpan nilai-nilai kehidupan yang sangat dalam.
Sebagai Bentuk Rasa Syukur
Munggahan adalah wujud syukur yang nyata. Dengan berkumpul dan bersuka cita, umat Islam mengungkapkan terima kasih kepada Allah SWT karena diberikan kesempatan dan kesehatan untuk bertemu kembali dengan Ramadan, bulan yang penuh ampunan dan rahmat.
Ajang Mempererat Silaturahmi
Kesibukan sehari-hari seringkali membuat pertemuan keluarga jadi hal yang langka. Munggahan secara khusus menyediakan ruang dan waktu untuk berkumpul, bercengkrama, dan menguatkan hubungan kekerabatan. Silaturahmi yang terjaga dipercaya dapat memanjangkan umur dan melapangkan rezeki.
Momen Saling Meminta dan Memberi Maaf
Inilah sisi paling penting dan mengharukan. Munggahan menjadi pintu pembuka untuk mengikis semua kesalahan dan kesalahpahaman. Dengan hati yang bersih dan lapang, tanpa beban dendam, seseorang akan lebih khusyuk menjalani ibadah puasa dan salat Tarawih. Meminta maaf bukan tanda kelemahan, justru menunjukkan kekuatan untuk memulai lembaran baru yang lebih suci.
Tradisi Munggahan sebelum puasa ini menunjukkan betapa kaya dan bijaknya kearifan lokal Nusantara dalam menyelaraskan budaya dengan nilai-nilai Islam.
Ia adalah bukti bahwa menyambut Ramadan tak hanya dengan persiapan fisik, tetapi lebih penting lagi, dengan persiapan hati yang tulus, penuh syukur, dan terbebas dari beban sesama.