MIMBARJUMAT.COM – Pernahkah Anda bertanya-tanya, “mengapa harga emas terus melambung tinggi?”. Di akhir Januari 2026, harga logam mulia ini benar-benar mencetak rekor fantastis, menembus level di atas 5.500 dolar AS per troy ons.
Di Indonesia, harga emas Antam pun ikut meroket, bahkan menembus angka Rp 3 juta per gram. Apa yang sebenarnya terjadi di balik fenomena ini?
1. Faktor Geopolitik: Alasan Utama Naiknya Harga Emas
Salah satu alasan terbesar naiknya harga emas adalah situasi geopolitik global yang memanas. Ketika dunia diliputi ketidakpastian, investor besar dan kecil cenderung mencari tempat yang aman untuk dananya.
- Konflik dan Ketegangan seperti perang Rusia-Ukraina dan meningkatnya tensi di Timur Tengah membuat pasar finansial gelisah.
- Negara-negara pun ikut menimbun. Menurut Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, banyak negara kini meningkatkan cadangan emasnya. Hal ini dipicu oleh pembekuan aset Rusia oleh negara Barat yang membuat negara lain khawatir cadangan devisanya bisa terkena imbas. China dan India disebut-sebut termasuk yang aktif membeli emas.
- Saat ketakutan akan instabilitas politik dan ekonomi menyebar, emas selalu menjadi pilihan utama karena dianggap mampu mempertahankan nilainya.
2. Inflasi yang ‘Bandel’ Menggerogoti Nilai Uang
Alasan kedua yang membuat harga emas terus naik adalah inflasi yang belum juga turun sempurna. Harga-harga kebutuhan pokok dan barang lainnya masih tinggi di banyak negara, termasuk Amerika Serikat.
- Inflasi yang tinggi berarti uang yang kita pegang lama-kelamaan daya belinya berkurang. Uang Rp 100 ribu hari ini, nilainya bisa lebih rendah setahun lagi.
- Di saat seperti inilah, orang-orang beramai-ramai beralih ke emas sebagai ‘alat lindung nilai’. Sejarah membuktikan, nilai emas cenderung tahan dan bahkan naik saat inflasi menggerogoti nilai mata uang kertas. Emas dianggap sebagai aset riil yang lebih aman.
3. Suku Bunga dan Melemahnya Kepercayaan pada Dolar
Kebijakan bank sentral, terutama The Fed di Amerika turut mempengaruhi harga emas. Meski suku bunga dipertahankan, isu tentang potensi penurunan suku bunga di masa depan mulai berhembus.
- Ketika suku bunga turun, daya tarik menabung dalam bentuk mata uang menjadi berkurang. Investor kemudian mencari aset lain yang bisa memberikan perlindungan dan emas adalah salah satunya.
- Dolar AS yang melemah juga jadi pendorong. Presiden AS Donald Trump disebut memberikan toleransi pada pelemahan dolar. Dolar yang lemah membuat emas yang harganya ditentukan dalam dolar, menjadi lebih murah dan menarik bagi pemegang mata uang lain sehingga permintaannya melonjak.
- Banyak yang mulai kurang percaya dengan dominasi dolar dan emas muncul sebagai aset netral yang tidak terikat pada kebijakan negara mana pun.
Apakah Harga Emas Akan Terus Naik?
Banyak analis yang memperkirakan tren kenaikan emas ini masih akan berlanjut. Bank besar seperti Deutsche Bank bahkan memproyeksikan harga emas berpotensi menyentuh level 6.000 dolar AS per ons di tahun 2026.
Proyeksi ini didukung oleh permintaan yang kuat, baik dari bank sentral berbagai negara maupun dari investor ritel yang ingin mengamankan kekayaannya. Jadi, naiknya harga emas ini bukanlah hal yang sederhana.
Emas adalah cermin dari dunia yang sedang gelisah, penuh ketidakpastian, dan mencari pegangan yang aman. Bagi banyak orang, emas bukan sekadar perhiasan, tapi juga menjadi ‘jaminan’ di tengah kondisi ekonomi yang bergejolak.