Niat Puasa Ayyamul Bidh Rajab 1447 H dan Keutamaannya

MIMBARJUMAT.COM – Untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menunjukkan ketaatan mereka kepada-Nya, umat Islam diminta untuk memperbanyak ibadah pada bulan Rajab, yang merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan oleh-Nya.

Untuk mengisi bulan Rajab, orang Islam dapat melakukan puasa sunnah Ayyamul Bidh, yang dilakukan pada tanggal tertentu setiap bulan Hijriah. Tapi kapan puasa ini dilakukan dan bagaimana bacaan niat puasa itu?

Kapan Bulan Rajab adalah Bulan Puasa Sunnah Ayyamul Bidh?

Puasa Ayyamul Bidh adalah puasa sunnah yang dilakukan pada hari tertentu dalam bulan Hijriah. Ini dilakukan pada tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriah, saat bulan memasuki fase purnama dan memancarkan cahayanya yang paling terang. Ini dilakukan pada hari-hari tertentu dalam kalender Hijriah.

Sebuah hadits dari Abu Dzar RA menyatakan,

“Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk berpuasa pada Ayyamul Bidh 13, 14, dan 15.” (HR Ahmad dan At Tirmidzi

Kalender Hijriah Indonesia 2025–2026 yang dirilis oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI menunjukkan bahwa awal bulan Rajab 1447 H diperkirakan berakhir pada Minggu, 21 Desember 2025.

Menurut penjelasan di atas, puasa sunnah Ayyamul Bidh di bulan Rajab dilaksanakan pada pertengahan bulan, yaitu pada tanggal 13, 14, dan 15. Jadwal lengkap untuk tahun 2026 adalah sebagai berikut:

  • Jumat, 2 Januari 2026: 13 Rajab 1447 H
  • Sabtu, 3 Januari 2026: 14 Rajab 1447 H
  • Minggu, 4 Januari 2026: 15 Rajab 1447 H

Selain itu, Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) menyatakan bahwa 1 Rajab 1447 H akan jatuh pada Senin, 22 Desember 2025. Akibatnya, jadwal puasa Ayyamul Bidh Rajab NU adalah pada:

  • Sabtu, 3 Januari 2026: 13 Rajab 1447 H
  • Minggu, 4 Januari 2026: 14 Rajab 1447 H
  • Senin, 5 Januari 2026: 15 Rajab 1447 H

Niat Puasa Ayyamul Bidh Bulan Rajab

Puasa Ayyamul Bidh adalah ibadah sunnah rutin yang dilakukan pada tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriah. Karena dilakukan di bulan Rajab, lafal niat yang digunakan sama dengan yang digunakan pada bulan-bulan lainnya.

Dikutip dari buku Koleksi Doa & Dzikir Sepanjang Masa karya Ali Amrin Al Qurawy, berikut ini bacaan niat puasa Ayyamul Bidh yang disajikan lengkap dalam tulisan Arab, latin, beserta artinya.

نَوَيْتُ صَوْمَ أَيَّامِ الْبِيْضِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Arab latin: Nawaitu shauma ayyâmil bîdl lilâhi ta’âlâ.

Artinya: “Aku niat puasa Ayyamul Bidh karena Allah ta’âlâ.”

Puasa Ayyamul Bidh dilakukan dengan cara yang sama seperti puasa biasa; itu dimulai dengan membaca niat dan disarankan untuk makan sahur. Umat Islam diharuskan untuk menghindari hal-hal yang dapat mengganggu puasa saat menunggu waktu berbuka puasa pada saat magrib. Mengintensifkan amal ibadah, seperti berzikir dan tadarus Al-Qur’an, dan memperbanyak sedekah kepada sesama, adalah cara yang sangat baik untuk memanfaatkan momentum ini.

Keutamaan Puasa Ayyamul Bidh

Dikutip dari Minhajul Muslim karya Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi terjemahan Fedrian Hasmand, Kitab Fikih Sehari-hari karya A. R. Shohibul Ulum, serta Syarah Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi yang diterjemahkan oleh Misbah, berikut sejumlah keutamaan puasa Ayyamul Bidh.

1. Pahalanya Seperti Puasa Setahun
Ibadah puasa Ayyamul Bidh menyimpan fadhilah yang luar biasa, yakni ganjaran pahalanya yang sebanding dengan berpuasa setahun penuh. Keistimewaan besar ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi SAW dalam riwayat Ibnu Milhan al-Qoisy dari ayahnya, yang menuturkan bahwa:

“Rasulullah SAW biasa memerintahkan pada kami untuk berpuasa pada Ayyamul Bidh yaitu 13, 14, dan 15 (dari bulan hijriah).” Dan beliau bersabda, “Puasa Ayyamul Bidh itu seperti puasa setahun.” (HR Abu Dawud dan An-Nasa’i)

Keutamaan ini juga dikuatkan oleh hadits lain dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, Rasulullah SAW bersabda,

“Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun.” (HR Bukhari)

2. Termasuk Wasiat Rasulullah SAW
Puasa Ayyamul Bidh adalah salah satu amalan khusus yang diwasiatkan Rasulullah SAW kepada para sahabatnya. Hal ini menunjukkan kedudukan puasa ini sebagai amalan yang dijaga secara konsisten. Dalam hadits dari Abu Darda RA, ia berkata:

“Kekasihku (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) berwasiat kepadaku dengan tiga perkara, aku tidak akan meninggalkannya selama aku hidup; berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, dua rakaat dhuha, dan tidak tidur sampai aku salat witir.” (HR Bukhari)

3. Menjadi Kebiasaan Rasulullah SAW Semasa Hidupnya
Keutamaan puasa Ayyamul Bidh juga terlihat dari kebiasaan Rasulullah SAW yang senantiasa menjaga puasa ini, baik ketika berada di rumah maupun dalam perjalanan. Hal ini ditegaskan dalam hadits berikut:

“Rasulullah SAW tidak pernah berbuka (selalu berpuasa) pada Ayyamul Bidh, baik beliau berada di rumah maupun sedang bepergian.” (HR An-Nasa’i)

Tradisi ibadah ini menjadi bukti bahwa puasa Ayyamul Bidh merupakan amalan sunnah yang sangat ditekankan, sekaligus menjadi sarana bagi umat Islam untuk melatih konsistensi atau istikamah dalam beribadah.

4. Memberi Waktu Istirahat bagi Organ Tubuh
Selain bernilai ibadah, puasa Ayyamul Bidh juga memiliki manfaat dari sisi kesehatan. Dalam buku Koleksi Doa & Dzikir Sepanjang Masa susunan Ali Amrin al-Qurawy dijelaskan bahwa puasa memberikan kesempatan bagi organ tubuh untuk beristirahat agar tidak cepat mengalami kerusakan.

Puasa sunnah seperti Ayyamul Bidh membantu tubuh mengatur kembali pola asupan, terutama ketika tubuh terus-menerus bekerja mencerna makanan. Karena itulah, puasa Ayyamul Bidh termasuk bentuk kasih sayang Nabi Muhammad SAW kepada umatnya.

Wallahu a’lam.

Leave a Comment