MIMBARJUMAT.COM – Di tengah inflasi Indonesia yang diperkirakan berkisar 2,5–3% sepanjang tahun 2026, emas tetap menjadi instrumen investasi yang dianggap aman. Harga emas Antam menunjukkan ketahanan dengan posisi stabil sekitar Rp2,48 juta per gram, meskipun sempat mengalami penurunan kecil dari puncaknya di akhir tahun 2025.
Meski harga emas dunia pernah mencapai US$4.300 per ons, investor ritel dalam negeri perlu berhati-hati terhadap fluktuasi yang bisa muncul akibat kebijakan Federal Reserve AS dan ketegangan geopolitik global, yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar. Dukungan kondisi ekonomi domestik memang membuat emas menjadi pilihan utama untuk melindungi aset, namun pemilihan waktu pembelian yang tepat tetap penting untuk mengoptimalkan keuntungan investasi jangka panjang.
Perkembangan Harga Emas Antam Awal Januari 2026
Harga emas batangan Antam per hari ini tercatat Rp2.488.000 per gram untuk pembelian dan Rp2.347.000 untuk penjualan kembali (buyback), turun Rp13.000 dari hari sebelumnya. Penurunan ini terutama dipicu oleh aksi ambil untung (profit taking) investor institusional.
Sepanjang tahun 2025, harga emas Antam naik signifikan sebesar 54,92% dari level awal tahun di Rp1,515 juta per gram. Namun, di minggu pertama 2026, harga terkoreksi 2,82% seiring dengan penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ke level Rp15.800.
Di pasar ritel, harga emas perhiasan 24 karat juga turun, misalnya di Raja Emas Indonesia turun Rp20.000 menjadi Rp2.155.000 per gram. Sementara itu, produk emas dari Galeri24 Pegadaian dan UBS berada di kisaran Rp2.456.000 per gram.
Fungsi Emas Sebagai Penangkal Inflasi
Inflasi Indonesia berhasil dijaga pada level 2,8% pada Desember 2025. Secara historis, emas menunjukkan kinerja yang konsisten lebih baik dibanding instrumen lain, dengan rata-rata imbal hasil tahunan 8–10%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan suku bunga deposito bank (4–5%) atau obligasi ritel.
Emas digital yang tersedia di platform seperti Pegadaian dan Indogold semakin populer karena menawarkan fleksibilitas, seperti pembelian mulai dari Rp5.000, imbal hasil bulanan sekitar 1,93%, dan likuiditas instan tanpa biaya pengiriman fisik. Di tengah BI Rate yang berada di 6,25%, baik emas fisik maupun digital terbukti efektif menjaga daya beli masyarakat dari kenaikan harga pangan, BBM, serta biaya hidup yang diperkirakan meningkat 5–7% pasca-Lebaran 2026.
Faktor Eksternal yang Dapat Memengaruhi Harga Emas
Harga emas dunia melonjak 64,2% secara tahunan hingga mencapai US$4.332 per ons, didorong oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan persaingan dagang AS–China. Kondisi ini berpotensi mendorong harga emas domestik menuju Rp2,8 juta per gram.
Namun, Goldman Sachs memperingatkan adanya risiko koreksi harga jika Federal Reserve menurunkan suku bunga lebih agresif dari perkiraan. Selain itu, penguatan rupiah dan implementasi pajak buyback emas sebesar 1,5% yang mulai berlaku tahun 2026 juga dapat memberikan tekanan pada harga domestik. Investor juga perlu mewaspadai potensi panic selling jika resesi global terjadi, meski prospek jangka panjang emas tetap positif.
Strategi Investasi Emas yang Efektif
Penerapan Dollar Cost Averaging (DCA) atau pembelian rutin dengan nominal Rp100–500 ribu setiap bulan terbukti mengurangi risiko kesalahan waktu masuk pasar. Strategi ini telah menghasilkan keuntungan historis sebesar 23,79% sejak Juli 2025.
Diversifikasi portofolio dengan mengalokasikan 20–30% dana ke emas, dan sisanya ke saham blue-chip atau reksadana pasar uang, dapat membantu menyeimbangkan portofolio dari volatilitas harian harga emas yang bisa mencapai Rp20–50 ribu per gram.
Untuk keamanan transaksi, disarankan memilih platform terpercaya seperti Antam/Logam Mulia untuk emas fisik, atau Pegadaian dan Indogold untuk emas digital. Hindari membeli dari pihak atau toko tidak resmi yang berisiko menyulitkan proses buyback.
Proyeksi dan Rekomendasi untuk Tahun 2026
Analis memprediksi harga emas masih akan menguat 5–20% sepanjang 2026 dengan target Rp2,6–2,8 juta per gram, terutama jika inflasi global melampaui 3% didukung pelemahan ekonomi negara berkembang.
Momentum beli saat ini dinilai cukup menarik setelah koreksi 2–3% di minggu pertama Januari, cocok untuk investor dengan horizon 6–12 bulan yang siap menghadapi fluktuasi jangka pendek.
Konsultan keuangan merekomendasikan akumulasi emas saat harga di bawah Rp2,45 juta per gram, dengan target jual di Rp2,7 juta pada akhir kuartal II 2026, seiring ekspektasi pemulihan ekonomi global pascaresesi.
Secara keseluruhan, emas tetap menjadi aset safe haven utama di tengah ketidakpastian tahun 2026. Namun, keberhasilan investasi sangat bergantung pada kedisiplinan, pemahaman terhadap tren global, serta strategi pembelian bertahap. Mulailah dengan nominal kecil, namun lakukan secara konsisten untuk hasil optimal dalam jangka panjang.