mimbrajumat.com – Pada tanggal 18 November 2025, di dalam hutan hujan tropis yang terpencil di Hiring Batang Somi, Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung, Sumatra Barat, sebuah tim peneliti internasional bersama pemandu lokal berhasil merekam munculnya bunga Rafflesia hasseltii. Penemuan ini sangat mengejutkan karena bunga tersebut telah dianggap tidak terlihat secara langsung selama 13 tahun terakhir.
Momen penuh haru dan emosi mewarnai penemuan tersebut. Salah satu pemandu riset bahkan terharu hingga menangis saat melihat bunga langka itu mekar setelah puluhan kali ekspedisi gagal.
Rafflesia hasseltii adalah tumbuhan parasit yang hidup sepenuhnya bergantung pada tanaman inang dari genus Tetrastigma. Tumbuhan ini tidak memiliki daun, batang, maupun akar seperti tumbuhan pada umumnya.
Bunga Rafflesia hasseltii memiliki kelopak berwarna merah tua dengan pola bercak putih atau krem yang unik, sehingga tampak seperti motif “batik alami”.
Ketika mekar, bunga ini dapat mencapai diameter sekitar 30–45 cm, tergantung pada masing-masing individu.Siklus hidupnya cukup lama dan rentan; kuncup bunga membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk berkembang, dan saat sudah mekar, bunga hanya bertahan beberapa hari sebelum akhirnya layu.
Rafflesia Hasseltii termasuk Spesies Terancam Punah
Rafflesia hasseltii saat ini termasuk spesies yang sangat terancam punah dengan status konservasi “sangat terancam” atau critical endangered. Populasi alaminya sangat sedikit dan tersebar, dengan banyak kuncup yang mati sebelum sempat berkembang menjadi bunga mekar.
Sebagian besar tumbuhan ini tumbuh di luar kawasan lindung seperti kebun masyarakat, perkebunan, atau area yang rentan terhadap konversi lahan, sehingga mudah terancam oleh aktivitas manusia.
Perlindungan habitat asli dan peningkatan kesadaran masyarakat lokal mengenai pentingnya konservasi sangat penting agar Rafflesia hasseltii dan spesies serupa tidak mengalami kepunahan.
Upaya konservasi harus fokus pada pelestarian habitat hutan primer serta menjaga populasi tumbuhan inangnya dari genus Tetrastigma yang sangat bergantung untuk kelangsungan hidup Rafflesia ini.
Para ahli memperingatkan bahwa jika tidak ada perlindungan serius terhadap Rafflesia hasseltii berisiko punah dalam waktu dekat, sehingga strategi konservasi yang terencana dan dukungan aktif dari masyarakat dan pemerintah sangat krusial untuk menjaga kelestariannya.
Penemuan Rafflesia hasseltii kembali menguatkan bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat kaya, khususnya pada jenis bunga langka seperti Rafflesia yang masih menyimpan banyak potensi untuk dieksplorasi, meskipun menghadapi berbagai tantangan besar.
Momen ini menjadi sorotan penting bagi publik dan dunia ilmiah mengenai urgensi pelestarian hutan tropis dan ekosistem asli, termasuk pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam agar flora langka seperti Rafflesia dapat terus bertahan.
Secara simbolis, Rafflesia hasseltii mengingatkan kita bahwa keindahan alam sangat rapuh dan bisa hilang dengan mudah, sehingga hanya dapat lestari jika mendapat perlindungan yang sungguh-sungguh dan berkelanjutan dari semua pihak.
Penemuan ini juga menegaskan posisi Indonesia sebagai pusat keanekaragaman hayati Rafflesia di dunia terdapat 16 spesies yang sebagian besar masih harus dipertahankan melalui upaya konservasi habitat yang ketat dan edukasi masyarakat lokal.