skinbea.com/21/ – Pada Selasa malam, 18 November 2025, Tim ekspedisi berhasil menyaksikan mekarnya bunga rafflesia hasseltii di kawasan hutan hujan primer Hiring Batang Somi, Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Si Junjung, Sumatera Barat.
Tim Ekspedisi yang berisikan peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), konservasionis lokal, dan tim internasional dari University of Oxford Botanic Garden and Arboretum. Perjalanan ini juga turut dipandu langsung oleh pemandu asal bengkulu bernama Septian Andriki atau kerab disapa “Deki”.
Perjalanan yang dilakukan juga tidaklah mudah, karena banyak rintangan yang harus dilewati, dari mulai perjalanan siang dan malam, serta harus melewati lebatnya hutan yang sekaligus merupakan habitat predator besar.
Rafflesia hasseltii bukan sekadar bunga langka, akan tetapi juga termasuk bagian dari fauna flora unik yang menunjukkan betapa rapuh dan kaya hayati hutan tropis di Indonesia. Bunga ini hidup sebagai parasit sempurna, kuncupnya bisa menunggu hingga sembilan bulan sebelum akhirnya mekar dengan waktu mekar yang sangat singkat, Populasinya sangat terbatas, dan bunga ini juga dikenal memiliki Warna dan tampilan yang cukup menarik dan unik.
Oleh karena itu, setiap kali Rafflesia hasseltii mekar adalah peristiwa penting bagi konservasi dan ilmu pengetahuan.
Menariknya, mekarnya Rafflesia hasseltii kali ini terjadi di Hutan Hujan Hiring Batang Somi, dimana area ini bukanlah menjadi kawasan konservasi resmi, melainkan hutan rakyat yang dikelola masyarakat setempat (Nagari).
Momen penemuan ini disertai dengan suasana haru, hal ini tergambar jelas melalui sebuah postingan video dari akun resmi Universitas Oxford (@oxford_uni) yang menunjukkan tangisan haru dari Deki yang merupakan pemandu dalam perjalanan ini.
“Selama 13 tahun. Saya sangat beruntung,” ucap Deki, suaranya bergetar penuh haru ketika kelopak bunga raksasa itu terbuka.
Selain itu, momen penemuan langka ini juga menjadi bukti bahwa konservasi flora langka tidak cukup mengandalkan kawasan lindung formal, akan tetapi “Hutan rakyat” dan pengelolaan komunitas lokal juga bisa berperan penting dalam mempertahankan habitat asli spesies endemik.
Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Joko Ridho Witono, mengatakan bahwa “Jika tidak disertai edukasi yang baik, keberadaan Rafflesia bisa terancam hilang akibat aktivitas manusia,” ucapnya.
Momen ini juga tidak hanya membuat komunitas konservasi dan ilmuwan yang terkesan, bahkan publik luas pun merespons dengan antusias dan sempat membuat ramai media soial.
Mekarnya Rafflesia hasseltii di hutan Sumatera Barat bukan hanya berita ilmiah, melainkan juga menjadi sebuah pengingat bahwa pelestarian alam tidak bisa setengah-setengah. Perlindungan hutan primer, penghargaan terhadap peneliti lokal, dan kesadaran masyarakat luas semua harus berjalan bersama agar “bunga raksasa” seperti Rafflesia tak sekadar jadi wacana, tetapi bagian utuh dari warisan alam Indonesia.