skinbea.com/21/ – Majalengka merupakan salah satu kabupaten yang ada di provinsi Jawa Barat, kabupaten tersebut terkenal dengan berbagai julukan yang melekat di telinga masyarakat.
Yaitu di juluki dengan kota pensiun, kota seribu curug, kota kecap, dan kota angin.
Julukan Kabupaten Majalengka sebagai kota pensiun sebenarnya sudah tidak relevan lagi. Apalagi dengan bergeliatnya industri di wilayah utara.
Sebutan tersebut bukan tanpa sebab, ada cerita menarik dibalik nama unik untuk menjuluki Kabupaten Majalengka, simak artikel berikut untuk mengetahui fakta dibalik nama-nama tersebut.
Sebelum itu, berikut sedikit penjelasan singkat seputar Kabupaten Majalengka:
Kabupaten Majalengka terletak di wilayah bumi pasundan oleh sebab itu wilayah tersebut didominasi oleh kebudayaan Sunda, dan karena daerahnya yang berbatasan langsung dengan kota Cirebon, menjadikan Kabupaten Majalengka menganut sedikit Budaya Cirebon.
Diantaranya yaitu Sampyong, Wayang golek, Wayang kulit, Pencak silat, Genjring acrobat, kecapi suling, Pantun, Sandiwara, Gaok, Jaipong, Degung dan kliningan, sintren, Tarling, Tari topeng Beber, Kuda penca, Rudat, Parerasan, Mapag sri, Ngalaksa, Gembyung, dan Tari Kedempling.
Secara geografis kabupaten Majalengka terletak di bagian timur Jawa Barat, wilayah Majalengka memiliki dataran rendah yang terletak di bagian utara, dan dataran tinggi di daerah pegunungan, yang terletak di bagian selatan tepatnya di kawasan taman nasional gunung ciremai ( gunung tertinggi di Jawa Barat).
Bagian utara Kabupaten Majalengka yang berbatasan dengan Kabupaten Indramayu didominasi oleh wilayah dataran rendah yang luas. Sementara itu, wilayah tengah dan timur yang berbatasan dengan Kabupaten Kuningan memiliki kondisi geografis berbukit dan bergunung, dengan puncak tertingginya yaitu Gunung Ceremai.
Adapun bagian selatan dan barat yang berbatasan dengan Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Sumedang juga merupakan daerah perbukitan dan pegunungan, dengan Gunung Cakrabuana sebagai puncaknya.
Kini Majalengka mengalami perkembangan yang begitu pesat mulai dari infrastruktur, fasilitas, hingga objek wisata, awal mula diadakan pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat, Majalengka sering di sebut dengan sebutan kota penerbangan atau dirgantara.
Sebagai kabupaten maka tak heran Majalengka memiliki julukan dengan khas daerahnya. bahkan tak hanya satu, Majalengka memiliki beberapa sebutan unik yang melekat di telinga masyarakat. Lalu apa saja julukan kabupaten Majalengka selain sebagai kota penerbangan atau dirgantara? Simak terus artikel berikut!
Kota seribu curug
Majalengka menjadi wilayah favorit para pecinta alam. bukan tanpa sebab, karena Majalnegka sendiri menyimpan banyak keindahan alam. Banyak temuan-temuan curug atau air terjun yang memiliki pesona bagaikan surga tersembunyi di Majalengka.
Karena hal tesebut majalengka di juluki dengan sebutan “ kota seribu curug “, terutatama bagi para pemburu wisata alam yang senang eksplor tempat indah di Majalengka.
Majalengka memiliki beberapa wisata alam curug terkenal yaitucurug sempong, curug tonjong, curug sawer, curug ibun pelangi, curug cibali, curug ciladug, curug muara jaya. Dan kemuunginan masih banyak lagi curug yang belum diketahui oleh masyarakat.
Kota kecap
Julukan “Kota Kecap” disematkan pada Majalengka karena pada masa lampau daerah ini menjadi salah satu pusat produksi dan pemasok kecap terbesar di Indonesia.
Bagi masyarakat Majalengka, nama-nama seperti Kecap Maja Menjangan (MM), Kecap Segi Tiga, dan Kecap Tiga Matahari atau Tjun Teng tentu sudah tidak asing lagi.
Kecap Maja Menjangan (MM) merupakan merek kecap legendaris yang telah diproduksi sejak tahun 1940, jauh sebelum Indonesia merdeka.
Produk ini dibuat oleh warga Majalengka bernama H Saad Wangsadidjaja di Jalan Suha, dan hingga kini masih bertahan serta digemari banyak orang karena cita rasanya yang khas.
Sementara itu, Kecap Segi Tiga mulai dibuat pada tahun 1959 di Jalan Raya Tonjong, Majalengka. Nama “Segi Tiga” dipilih karena kecap ini merupakan hasil kerja sama tiga perintis, yaitu H. Lukman, Endek, dan Aman.
Adapun Kecap Tiga Matahari atau Tjun Teng juga termasuk salah satu merek tertua, yang diproduksi oleh warga keturunan Tionghoa. Ketiga merek kecap tersebut memiliki keunggulan yang sama — cita rasa yang nikmat serta daya tahan hingga dua tahun meskipun tanpa bahan pengawet.
Keberadaan industri kecap yang kuat dan bersejarah inilah yang kemudian membuat Majalengka dikenal luas sebagai “Kota Kecap.”
Kota pensiun
Julukan ini pernah populer diucapkan oleh mantan Bupati Majalengka periode 2008–2018, Sutrisno. Dahulu, Majalengka dikenal sebagai daerah yang tenang dan cenderung sepi, baik dari kegiatan ekonomi maupun lalu lintas kendaraan.
Suasananya yang jauh dari keramaian modern membuat kota ini dijuluki sebagai “kota kaum pensiunan.” Istilah tersebut muncul karena kehidupan para pensiunan identik dengan kesederhanaan dan minim aktivitas, hanya mengandalkan uang pensiun tanpa banyak kegiatan produktif.
Akibatnya, Majalengka kala itu tampak lesu dan tenang, seolah menjadi tempat bagi mereka yang ingin menikmati masa tua dengan damai.
Kota angin
Dan yang terakhir Majalengka mempunyai sebutan “kota angin”, sebenarnya sebutan tersebut masih belum bisa di jelas kan secara ilmiah apa sebab hingga tercetus penyebutan istilah kota angin, dan belum ada sumber yang jelas mengenai asal usul sebutan itu.
Namun sebutan “ kota angin “ begitu melekat pada Kabupaten Majalengka, sebutan tersebut sangat popular di masyarakat.
Kabupaten Majalengka bukan lah kota dengan hembusan angin yang kencang, dan belum ada peristiwa seperti bencana alam puting beliung yang terjadi di Majalengka hingga menggemparkan masyarakat.
Namun sewaktu-waktu angin berhembus kencang di Majalengka, hal tersebut terjadi karena letak geografis wilayahnya yang berada tepat di kaki gunung ciremai. (Rizki Ainun Ni’mah)