skinbea.com/21/ – Jalalludin Rumi atau Jalalludin Muhammad Rumi yang dikenal juga dengan nama Jalalludin Muhammad Balkhi merupakan seorang penyair sufi dari Persia, teolog maturidi sekaligus ulama.
Jalalludin Rumi banyak memiliki syair dan kutipan tentang hidup lewat syair indah penuh dengan makna.
Sebelum masuk ke pembahasan Jalalludin Rumi tentang hidup, ada baiknya kita kenali lebih dalam tokoh Islam yang satu ini.
Jalalludin Muhammad Rumi atau Jalalludin Muhammad Balkhi llahir di Balkh atau sekarang Samarkand, Persia.
Nama Balkhi kemungkinan besar berasal dari tempat kelahirannya yakni Balkh. Namun di era modern, namanya populer dengan sebutan; Rumi.
Salah satu karyanya yang dibuat di Konya dianggap menjadi salah satu karya paling berpengaruh di dunia Sufisme.
Karyanya itu, juga dianggap menjadi salah satu yang terbaik dari serangkaian karya Rumi.
Puisi karya Rumi memiliki pengaruh sangat signifikan terhadap dunia sastra bahkan peradaban.
Karenanya, karya Rumi juga ditulis dalam berbagai bahasa seperti Turki Utsmaniyah, Chagatai, Urdu, Bengali dan Pashtun.
Sebagai informasi, Rumi merupakan seorang anak yang lahir dari pasangan Bahauddin Walad keturunan Abu Bakar dan ibu yang merupakan keluarga kerajaan Khwarazm.
Ayah rumi merupakan seorang guru dan cendikiawan saleh yang memiliki pandangan ke depan.
Tradisi akademik tersebut memiliki andil dalam membentuk Rumi menjadi seorang sastrawan sufi yang mumpuni.
Berikut adalah beberapa kutipan Jalalludin Rumi tentang hidup dan jiwa yang sehat serta kuat;
Pikiran vs Kenyataan
Bentuk setiap manusia seperti cawan, mata menyaksikan makna di dalam cawan itu.
Dari setiap pertemuan dengan siapapun kau raih sesuatu. Dari kedekatan dengan siapapun kau akan bawa sesuatu. (Kitab II, Bait 1090-1091.
Bila ditafsirkan secara psikologi dapat disimpulkan sebagai berikut;
Rumi mengingatkan bahwa kenyataan yang kita lihat bukanlah kenyataan murni, melainkan kenyataan yang tertuang dalam cawan pikiran kita.
Cawan itu bisa jernih (kesadaran tinggi, pikiran yang terlatih dan hati yang suci) atau keruh (nafsu, trauma, prasangka).
Maka setiap interaksi menjadi pengalaman psikologis yang membentuk realitas batin kita.
Jika kita ingin melihat kenyataan lebih jernih, bersihkan cawan pikiran kita dari prasangka, luka masa lalu dan ego.
Keseimbangan dan Kesempurnaan
Saat jatuh sakit, manusia akan merintih dan berkeluh kesah. Saat sakit, kesadaran manusia mulai terjaha.
Saat dirimu jatuh sakit, kau istighfar dari dosa-dosamu dahulu. Saat dirimua sakit, kelakuan burukmu akan menjelma dalam pandanganmu, lalu kau berniat kembali lagi ke jalan yang benar. (Kitab I, Bait 623 – 625).
Tafsir psikologi dari Keseimbangan dan Kesempurnaan adalah berikut;
Sakit sebagai guru kehidupan: Alih-alih dimusuhi, sakit bisa dilihat sebagai sarana refleksi dan koreksi.
Dari imbalance menuju balance: Penderitaan menyingkap hal-hal yang tidak seimbang dalam hidup (gaya hidup, emosi, spiritualitas), lalu mendorong kita menata ulang.
Kesempurnaan manusia: Bukan hidup tanpa luka, tapi kemampuan mengintegrasikan luka menjadi makna.
Nah itulah pernyatan Jalalludin Rumi tentang hidup dan tafsir psikologi. (Sumber: Disadur dari konten PPTI)