Menjelajahi Rasa Khas Garut: Dodol dan Burayot yang Menggoda Selera

skinbea.com/21/ – Kabupaten Garut, Jawa Barat dikelilingi pegunungan dan udara sejuk, sehingga menjadi destinasi wisata alam.

Bila Anda berkunjung ke Kabupaten Garut, kuliner tradisional yang kaya cita rasa tentu tidak boleh dilewatkan.

Makanan tradisional Garut seperti dodol dan burayot biasanya diburu wisatawan domestik maupun mancanegara.

Dodol Garut yang sering disebut sebagai “permen raksasa” karena teksturnya yang kenyal dan manisnya yang legit.

Dibuat dari campuran gula merah, santan kelapa segar, tepung ketan, dan berbagai tambahan seperti kacang tanah atau buah-buahan lokal.

Proses pembuatannya manual dan memakan waktu hingga berjam-jam, di mana adonan direbus terus-menerus sambil diaduk tanpa henti agar tidak gosong.

Menurut para pengrajin di Kampung Dodol Sukaregang, pusat produksi utama di Garut, resep ini telah diwariskan turun-temurun sejak era kolonial Belanda.

Dodol Garut bahkan mendapat pengakuan Sertifikat Indikasi Geografis dari Kementerian Hukum dan HAM pada 2010, menegaskan keaslian dan kualitasnya yang tak tertandingi.

Tidak hanya dodol, burayot juga menjadi primadona makanan khas Garut yang semakin populer di media sosial.

Burayot adalah camilan goreng renyah berbentuk bulat kecil, terbuat dari adonan tepung beras yang dicampur gula dan santan, kemudian digoreng hingga kecokelatan.

Yang unik, burayot diangkat dari wajan menggunakan batang bambu kecil, memberikan sentuhan tradisional yang menambah daya tarik visualnya.

Asal-usul burayot berasal dari masyarakat petani Garut yang menciptakannya sebagai bekal ringan saat bekerja di sawah.

Kini, burayot sering dijajakan di pinggir jalan atau pasar tradisional seperti Pasar Cicurug, dengan harga terjangkau mulai Rp5.000 per porsi.

Video-video pendek di platform seperti TikTok semakin memperkenalkan burayot ke generasi muda, dengan jutaan penonton yang tergoda untuk mencobanya.

Selain kedua makanan tersebut, Garut juga punya deretan kuliner lain yang tak kalah menggugah selera.

Keberadaan makanan khas Garut tidak hanya soal rasa, tapi juga nilai budaya dan ekonomi. Di tengah pandemi yang telah berlalu, UMKM kuliner di Garut mengalami lonjakan penjualan hingga 30% tahun ini, berkat dukungan pemerintah melalui program desa wisata.

Festival Makanan Khas Garut yang digelar secara tahunan di Alun-Alun Garut pada akhir pekan lalu, misalnya, menarik ribuan pengunjung yang antre mencicipi berbagai hidangan.

Para pengrajin seperti Ibu Siti dari Sukaregang bercerita, “Makanan kami bukan sekadar makanan, tapi cerita tentang ketekunan dan kebersamaan warga Garut.”

Namun, tantangan tetap ada, seperti persaingan dengan makanan cepat saji modern dan isu keberlanjutan bahan baku akibat perubahan iklim.

Bagi Anda yang penasaran, kunjungi Garut sekarang juga! Naik kereta api dari Bandung hanya butuh satu jam, lalu jelajahi Kampung Dodol atau cicipi burayot panas di warung pinggir sawah.

Makanan khas Garut ini bukan hanya mengenyangkan perut, tapi juga jiwa, mengingatkan kita pada akar budaya yang autentik.

Dengan rasa yang timeless, dodol, burayot, dan kawan-kawannya siap menggoda lidah Anda. Jangan lewatkan, karena Garut bukan hanya tentang pemandangan, tapi juga ledakan rasa yang tak terlupakan.

Sejarah dan Proses Pembuatan Dodol Garut

Mari kita mulai dari dodol Garut, yang sering disebut sebagai “permen raksasa” karena teksturnya yang kenyal dan manisnya yang legit. Dodol dibuat dari campuran gula merah, santan kelapa segar, tepung ketan, dan berbagai tambahan seperti kacang tanah atau buah-buahan lokal.

Proses pembuatannya manual dan memakan waktu hingga berjam-jam, di mana adonan direbus terus-menerus sambil diaduk tanpa henti agar tidak gosong. Menurut para pengrajin di Kampung Dodol Sukaregang, pusat produksi utama di Garut, resep ini telah diwariskan turun-temurun sejak era kolonial Belanda.

Dodol Garut bahkan mendapat pengakuan Sertifikat Indikasi Geografis dari Kementerian Hukum dan HAM pada 2010, menegaskan keaslian dan kualitasnya yang tak tertandingi. Setiap tahun, produksi dodol mencapai ribuan ton, dengan ekspor ke berbagai negara seperti Malaysia dan Singapura, membuktikan daya saing globalnya.

Burayot: Camilan Manis dari Garut

Tidak hanya dodol, burayot juga menjadi primadona makanan khas Garut yang semakin populer di media sosial. Burayot adalah camilan goreng renyah berbentuk bulat kecil, terbuat dari adonan tepung beras yang dicampur gula dan santan, kemudian digoreng hingga kecokelatan.

Yang unik, burayot diangkat dari wajan menggunakan batang bambu kecil, memberikan sentuhan tradisional yang menambah daya tarik visualnya.

Asal-usul burayot berasal dari masyarakat petani Garut yang menciptakannya sebagai bekal ringan saat bekerja di sawah.

Kini, burayot sering dijajakan di pinggir jalan atau pasar tradisional seperti Pasar Cicurug, dengan harga terjangkau mulai Rp5.000 per porsi.

Video-video pendek di platform seperti TikTok semakin memperkenalkan burayot ke generasi muda, dengan jutaan penonton yang tergoda untuk mencobanya.

Varian modernnya kini mencakup rasa cokelat atau keju, menyesuaikan selera anak muda tanpa kehilangan esensi tradisional.

Leave a Comment