Fitnah Dunia

Akhlaq | Wednesday, December 21st, 2011
fitnah dunia

fitnah dunia

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya dunia ini manis lagi hijau (indah), dan sesungguhnya Allah menjadikan kamu pengelolanya. Dia akan melihat apa yang kamu kerjakan, maka berhati-hatilah kamu terhadap dunia dan berhati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah yang pertama kali menimpa bani Israil adalah karena wanita.” (HR. Muslim)

Jika anda sering berjalan-jalan, terutama ke dataran tinggi dan pegunungan, tentu anda akan melihat lebih jelas indahnya dunia. Bumi yang kita tempati ini penuh dengan keindahan dan hal yang sangat menarik. Di sana ada pemandangan yang indah, ada sungai-sungai, ada air terjun, ada pepohonan yang lebat, udara yang sejuk, gunung-gunung yang tinggi dan lain-lain.

Melihat pemandangan yang indah dan menyenangkan itu, pernah terlintas dalam hati saya -mungkin juga anda- keinginan untuk membangun rumah di tempat yang indah tersebut; tinggal bersama keluarga. Saya ingin pergi ke kota untuk bekerja agar dapat mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya yang kemudian dapat saya gunakan untuk membangun rumah di tempat yang indah tersebut.

Namun saya berfikir dan berfikir lagi, jika saya melakukannya apakah saya akan hidup kekal di sana dan aman dari mara bahaya, kemudian bagaimana nantinya saya mencari rizki? Belum lagi dengan sarana-sarana yang kurang lengkap tidak seperti di kota. Sadarlah saya bahwa kesenangan dunia tidak sempurna; ada hidup dan ada mati, ada muda dan ada tua, ada senang dan ada sedih, ada sehat dan ada sakit, ada rasa aman dan rasa takut serta keterbatasan lainnya. Lebih dari itu, untuk memperoleh kesenangan dunia harus diraih dengan kerja keras dan usaha.

(lanjut …)



Dampak Negatif Kemaksiatan

Akhlaq | Thursday, December 15th, 2011
kemaksiatan

kemaksiatan

Di antara bencana yang banyak menimpa kaum muslimin pada zaman sekarang ini adalah merajalelanya kemaksiatan dan dosa, serta menyebarnya kemungkaran dengan berbagai tingkatannya. Tidak sedikit di antara mereka yang bahkan menganggap remeh dan ringan urusan dosa. Padahal kemaksiatan tersebut sangat berbahaya, baik bagi individu maupun masyarakat.

Bahayanya sangatlah banyak. Jika kita mau merenungkan bahaya dan dampak buruk dari kemaksiatan tersebut niscaya kita akan berusaha sekuat tenaga untuk menjauhi kemaksiatan itu.

Ibnul Qoyyim berkata, “Kemaksiatan ini memiliki bahaya yang sangat besar bagi hati. Sama seperti bahaya racun terhadap tubuh dalam tingkat bahaya yang berbeda-beda, dan tidakkah di dunia ini muncul suatu kejahatan dan penyakit kecuali disebabkan oleh kemaksiatan dan dosa-dosa. Sebab apakah yang mengeluarkan bapak manusia dari surga. tempat kelezatan, kenikmatan, kemegahan, dan kesenangan menuju alam yang penuh penyakit, kesedihan dan musibah.

Apakah yang mengeluarkan Iblis dari alam langit, diusir dan dilaknat. Rahmat berubah menjadi laknat serta keimanan berubah menjadi kekafiran? Lalu sebab apakah yang menenggelamkan seluruh penghuni bumi sehingga air melampaui puncak gunung-gunung? Dan sebab apakah yang menjadikan angin menguasai kaum ‘Ad sehingga mereka bergelimpangan mati di permukaan bumi. Sehingga mereka seperti pohon-pohon kurma yang tumbang?

(lanjut …)



Menikmati Malam

Ibadah | Sunday, December 11th, 2011
menikmati malam

menikmati malam

Saat itu malam masih tersisa. Bulan masih berenang dalam ruang semesta. Dan, bintang-gemintang masih setia bergelantungan. Dan dalam keheningannya ini, di salah satu bilik yang sangat sederhana, terdengar suara berbisik. “Wahai istriku, ikhlaskah dirimu jika malam ini aku beribadah kepada Allah?”

“Wahai suamiku, kekasih Allah. Sesungguhnya (jika menuruti kata hati) aku merasa nyaman jika selalu berada di sampingmu. Namun, aku ikhlas dengan apa yang engkau sukai. Engkau sangat gemar beribadah kepada Allah. Bagaimana mungkin aku tidak mengikhlaskanmu.” sahut Aisyah lembut.

Sejurus kemudian, pasangan suami istri agung ini berwudhu. Keduanya lalu tegak dalam kesalihan malam bak Jabal Rahmah yang memancang kuat menembus lazuardi imani. Takbirnya melesat bersama keagungan Sang Pencipta. Rapalan firman-firman-Nya bergetar bersama air mata yang memburai berharap rida Allah. Begitu juga dengan gerak rukuk dan sujudnya, lekat dalarn harmoni gerak jagad raya. Demikian ikhlas keduanya memenuhi panggilan suci untuk menjadikannya lebih mulia dalam menggapai maqamam mahmuda (tempat terhormat).

Inilah sepenggal peristiwa malam yang dikisahkan oleh Aisyah RA kepada Atha’ saat ia dan temannya bertandang ke rumah ummul mukminin. Cerita yang dituturkan melalui jalur Ibnu Mardawih ini merupakan satu dari sekian kisah mengesankan Rasulullah dalam upaya menghidupkan sisa-sisa malamnya.

(lanjut …)



Puasa Asyura

Ibadah,Syariat | Friday, December 2nd, 2011
puasa asyura

puasa asyura

Sesungguhnya hari Asyura (10 Muharram) merupakan hari bersejarah dan diagungkan. Orang-orang Quraisy biasa berpuasa pada hari asyura di masa jahiliyyah, Rasulullah pun melakukannya pada masa jahiliyyah, sampai datang syariat puasa.

Tatkala beliau sampai di Madinah beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa.” (HR. Bukhari Muslim) “Nabi tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya: “Apa ini?” Mereka menjawab: “Sebuah hari yang baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur. Maka Rasulullah saw menjawab: “Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (Yahudi) , maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu.” (HR. Bukhari)

Ada banyak hadits yang bicara tentang puasa Asyura, antara lain: “Rasulullah ditanya tentang puasa Asyura, beliau menjawab: “Puasa itu bisa menghapuskan dosa-dosa kecil pada tahun kemarin.”(HR. Muslim).

Adapun cara berpuasa di Hari Asyura adalah berpuasa selama 3 hari dimulai dari tgl 9, 10, dan 1 1 Muharram berdasar hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan lafadz sebagaimana telah disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam al-Huda dan al-Majd Ibnu Taimiyyah dalam al-Muntaqa 2/2: “Selisihilah orang yahudi dan berpuasalah sehari sebelum dan setelahnya.”

Dan pada riwayat ath-Thahawi menurut penuturan pengarang al-Urf asy-Syadzi: “Puasalah pada hari Asyura dan berpuasalah sehari sebelum dan setelahnya dan janganlah kalian menyerupai orang Yahudi.”

Sumber: Buletin Dakwah Masjid Al-Iman Edisi ke-24, 2 Desember 2011



Akhlak Islam

Akhlaq | Monday, November 28th, 2011
akhlak islam

akhlak islam

Syari’at Islam adalah syari’at yang lengkap dan sempurna. Ia tidak hanya mengajarkan kepada manusia ‘aqidah dan ibadah yang benar saja, bahkan ia mengajarkan pula akhlak yang mulia. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala:

Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat. Akan tetapi, sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 177)

Pengajaran tentang ‘aqidah ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala, “Akan tetapi, sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi.”

Pengajaran tentang ibadah ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat;…dst.

(lanjut …)



Adab Menuntut Ilmu (Bagian 2)

Akhlaq | Thursday, November 17th, 2011

Menuntut ilmu

Menuntut ilmu

Berikut ini merupakan lanjutan adab penuntut ilmu semoga Allah menjadikannya bermanfaat, Allahumma aamiin.

Adab Penuntut Ilmu

  1. Memurajaah ilmu yang ia peroleh dari guru.
    Mu’adz bin Jabal berkata, “Pelajarilah ilmu, karena mempelajarinya karena Allah adalah rasa takut, mencarinya adalah ibadah, mengingat-ingatnya adalah tasbih, mengkajinya adalah jihad, mengajarkan kepada orang yang tidak tahu adalah sedekah dan memberikan kepada orang yang berhak adalah sebuah pendekatan diri kepada Allah.”
  2. Hendaknya waktunya lama.
    Imam Ahmad berkata, “(Menuntut ilmu) dari tempat tinta sampai ke tempat kubur.”
  3. Hendaknya memperhatikan tiga perkara dalam ilmu, yaitu Al Qur’an, As Sunnah dan Tauhid.
  4. Hendaknya ia tidak banyak berdehem atau banyak bertingkah, dan tidak bersiwak di majlis ilmu. Demikian juga hendaknya ia tidak banyak tertawa, tidak bercakap-cakap dengan kawannya, tidak merendahkan saudaranya atau mengolok-olok mereka, karena mereka adalah saudaranya.
  5. Berusaha tidak mengantuk.
  6. Tidak banyak meminta pengulangan kepada guru.
  7. Buah dari ilmu adalah mengamalkannya dan menyampaikannya.
    Allah Subhaanahu wa Ta’ala mencela orang-orang yang tidak mengamalkan ilmu mereka dan menyerupakan mereka seperti keledai yang memikul kitab-kitab, namun tidak paham isinya. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman: “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangatlah buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. Al Jumu’ah: 5)

    (lanjut …)



Adab Menuntut Ilmu (Bagian 1)

Akhlaq,Ibadah | Wednesday, November 16th, 2011
menuntut ilmu

menuntut ilmu

Ilmu memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam, bahkan ayat yang pertama turun adalah ayat yang mengajak untuk belajar. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,” (QS. Al Alaq: 1)

Allah Subhaanahu wa Ta’aala juga sampai bersumpah dengan sarana untuk memperoleh ilmu, yaitu pena. Dia berfirman, “Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,” (QS. Al Qalam: 1)

As Sunnah juga menguatkan kedudukan ilmu sampai-sampai menjadikan usaha ntuk memperoleh ilmu sebagai jalan ke surga. Rasulllah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Apabila seseorang meninggal, maka terputuslah amalnya selain tiga perkara; sedekah jaariyah, ilmu yang dimanfaatkan atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Para penuntut Ilmu juga merupakan wasiat Rasulllah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dimana para pengajar diperintahkan berbuat baik kepada mereka. Beliau bersabda: “Akan datang kepadamu orang-orang yang mencari ilmu, maka apabila kamu melihat mereka, ucapkanlah kepada mereka, ‘Selamat datang kepada wasiat Rasulllah shallallahu ‘alaihi wa sallam’, dan berilah fatwa kepada mereka.” (HR. Ibnu Majah dari Abu Sa’id, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3651)

(lanjut …)



Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail

Kisah,Tauhid | Wednesday, October 26th, 2011
kambing kurban

kambing kurban

Kisah keluarga Nabi Ibrahim adalah kisah teladan bagi setiap rumah tangga Muslim dalam menjalani problematika rumah tangga. Serentetan ujian yang bergulir tiada henti dalam kehidupannya. Namun semua itu tidak menjadikan bahtera rumah tangganya goncang bahkan semakin bertambah kuat perkasa.

Sekian tahun lamanya keluarga Ibrahim menanti sang buah hati. Telah banyak linangan air mata dalam doanya untuk di karuniai seorang putra sebagai penerus perjuangannya. Ketika sang buah hati telah hadir dan merekah dalam hatinya, maka Allah hendak menguji keimanan nabi Ibrahim dengan sang buah hatinya. Allah berfirman dalam al-Qur’an.

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’.” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Siapapun pasti akan merasa berduka ketika buah hatinya sakit dan terluka. Apalagi anak semata wayang yang sekian tahun dinanti kehadirannya diperintahkan untuk disembelih sebagai bukti keimanannya. Meski demikian Nabi Ibrahim yakin bahwa mimpi yang dialaminya adalah wahyu dari Allah bukan sekedar halusinasi dan bisikan setan. Akhirnya iapun bertekad melaksanakan perintah Allah tersebut bersama anaknya.

(lanjut …)



Al-Lathif

Akhlaq | Tuesday, October 11th, 2011
al-lathif

selembut kabut

Semoga Allah mengaruniakan kita kepekaan, karena orang-orang yang peka Insya Allah akan bisa berbuat lebih banyak dibanding orang yang tidak peka terhadap keadaan.

Salah satu sifat Allah “Al-Lathif” bermakna Allah yang Maha Lembut. Termasuk didalamnya halus, lembut, amat kecil halus tersembunyi. Namun dalam pengertian ini adalah Allah Subhanahu wa ta’ala halus sekali caranya, hingga tercapai apa yang diinginkan-Nya dengan cara yang tersembunyi dan tak terduga.

Allah menciptakan kita dan Dialah Allah yang Maha Tahu dengan detil siapa diri kita. Allah-lah yang tahu kebutuhan fisik kita. Allah tahu akan kebutuhan kita bahkan lebih tahu dari diri kita sendiri, tidak mintapun kebutuhan kita sudah dipenuhi.

Siapa yang mengurus kita mulai dari janin di perut ibu. Kita tidak pernah mempertimbangkan berapa kebutuhan zat-zat pembentuk tulang, otak dan jantung. Dialah yang Maha Lembut, Dialah Allah yang Maha Sempurna. Pada saat bayi lahir ke bumi langsung berteriak tidak ada yang mengajarinya menangis tapi bayi menangis.

(lanjut …)



Polemik Makna Syawal

Ibadah | Friday, September 23rd, 2011
grebek syawal

grebek syawal

Dalam kalender Hijriyah, bulan yang mengiringi Ramadhan dinamai Syawal, bulan ini adalah merupakan bulan yang kesepuluh. Banyak orang memaknai Syawal sebagai bulan peningkatan, benarkah asumsi tersebut?… mengenai hal ini terdapat pro kontra yang menyebar di masyarakat Indonesia, untuk mengetahui lebih lanjut mari kita simak paparan di bawah ini.

Kelompok pertama menyebutkan bahwa Syawal adalah bulan peningkatan, mereka berdalil dengan makna dari Syawal itu sendiri yaitu irtifa’, naik dan meningkat.

Kemudian ada dua alasan yang lainnya adalah: pertama, meningginya derajat kaum Muslimin setelah mereka ikhlas dalam menunaikan shaum Ramadhan dan mendapatkan maghfiroh ampunan dari Allah, sebagaimana sabda Nabi:

Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan tulus karena Allah, maka dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah.” (HR. al-Bukhori dan Muslim)

Kedua, karena secara moral dan spiritual kaum Muslim harus mempertahankan dan meningkatkan nilai-nilai amaliyah Ramadhan pada bulan ini dan bulan-bulan berikutnya hingga datang Ramadhan tahun depan.

(lanjut …)







« Previous Page | Next Page »