<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Mimbar Jum&#039;at</title>
	<atom:link href="http://mimbarjumat.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mimbarjumat.com</link>
	<description>Kumpulan artikel selebaran media jum&#039;at</description>
	<lastBuildDate>Sat, 07 Jan 2012 05:53:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.2</generator>
		<item>
		<title>Kunci-kunci Rezeki</title>
		<link>http://mimbarjumat.com/archives/1413</link>
		<comments>http://mimbarjumat.com/archives/1413#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 15:36:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unduk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[beribadah]]></category>
		<category><![CDATA[hijrah]]></category>
		<category><![CDATA[kunci]]></category>
		<category><![CDATA[mensyukuri]]></category>
		<category><![CDATA[rezeki]]></category>
		<category><![CDATA[silaturrahim]]></category>
		<category><![CDATA[Taqwa]]></category>
		<category><![CDATA[taubat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mimbarjumat.com/?p=1413</guid>
		<description><![CDATA[Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan lebat kepadamu, membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun serta mengadakan (pula di dalamnya) sungai-sungai untukmu]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1414" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a href="http://lifeofplant.blogspot.com/2011/12/active-transport.html"><img class="size-full wp-image-1414" title="kunci rezeki" src="http://mimbarjumat.com/wp-content/uploads/2012/01/kunci-rezeki.jpg" alt="kunci rezeki" width="230" height="258" /></a><p class="wp-caption-text">kunci rezeki</p></div>
<p>Nabi Nuh ‘alaihis salam pernah berkata kepada kaumnya: &#8220;<em>Wahai kaumku, Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu&#8212;(yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku&#8212;Niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu (memanjangkan umurmu) sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu Mengetahui.</em>&#8221; (<a title="QS. Nuh" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/71" target="_blank">QS. Nuh</a> 2-3)</p>
<p>Nuh ‘alaihis salam juga berkata: &#8220;<em>Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun&#8212;Niscaya Dia akan mengirimkan hujan lebat kepadamu, membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun serta mengadakan (pula di dalamnya) sungai-sungai untukmu.</em>&#8221; (QS. Nuh: 10-11)</p>
<p>Dari beberapa ayat di atas terdapat beberapa pelajaran, di antaranya:</p>
<p><strong><em>Pertama</em></strong>, dakwah para nabi ushul(asas)nya adalah sama yaitu <a title="hakikat tauhid dalam kehidupan" href="http://mimbarjumat.com/archives/115" target="_blank">Tauhid</a> (menyeru beribadah kepada Allah saja dan meniadakan sesembahan selain-Nya), meskipun syari’atnya berbeda-beda.</p>
<p><strong><em>Kedua</em></strong>, dalam <a title="Konsisten Dalam Berdakwah" href="http://mimbarjumat.com/archives/50" target="_blank">berdakwah</a>, para nabi mengedepankan <em>Al Ahamm fal ahamm</em> (yang lebih terpenting di antara yang penting) yaitu Tauhid sebelum yang lain.</p>
<p><span id="more-1413"></span><strong><em>Ketiga</em></strong>, sabar adalah senjata para nabi dalam menghadapi sikap kaumnya yang semakin hari bertambah jauh dan lari.</p>
<p>Perhatikanlah kata-kata Nabi Nuh ‘alaihis salam ketika mengadu kepada Allah Jalla wa ‘Alaa tentang keadaan kaumnya:</p>
<p><em>Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)&#8212;Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.</em> (QS. Nuh: 6-7)</p>
<p>Akan tetapi Nabi Nuh ‘alaihis salam tetap bersabar dalam dakwah yang ditekuninya selama 950 tahun dan pengikut yang hanya berjumlah sedikit.</p>
<p><strong><em>Keempat</em></strong>, dengan istighfar dan <a title="Hakekat Taubat" href="http://mimbarjumat.com/archives/41" target="_blank">taubat</a>, Allah Subhaanahu wa Ta&#8217;aala akan memberikan banyak rezeki kepada kita.</p>
<p>Ibnu Abbas berkata tentang tafsir ayat &#8220;<em>membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun serta mengadakan (pula di dalamnya) sungai-sungai untukmu.</em>&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika kalian mau bertaubat kepada Allah dan menaati-Nya, maka Alllah akan memperbanyak rezeki, menurunkan hujan dari langit karena ia (langit) diberkahi dan menumbuhkan tanaman-tanaman karena bumi diberkahi&#8221;.</p>
<p><strong>Kunci-kunci Rezeki</strong></p>
<p>Dari ayat di atas dapat kita ketahui bahwa<strong><em> istighfar dan taubat adalah salah satu di antara kunci rezeki</em></strong>. Tetapi jangan sampai tujuan utama dari beristighfar dan bertaubat adalah agar mendapatkan rezeki, karena akan menodai <a title="Amaliah dan Nilai Keikhlasan di Hadapan Allah SWT" href="http://mimbarjumat.com/archives/75" target="_blank">keikhlasan</a>.</p>
<p>Kalau seseorang niatnya seimbang antara agar diberikan ganjaran ukhrawi dan ganjaran duniawi maka hanya akan mengurangi pahala keikhlasan. Tetapi, jika yang lebih besar</p>
<p>niatnya adalah agar mendapatkan ganjaran duniawi, maka ia bisa tidak memperoleh ganjaran ukhrawi, bahkan dikhawatirkan akan menyeretnya kepada <a title="Musibah Pelebur Dosa" href="http://mimbarjumat.com/archives/901" target="_blank">dosa</a>. Sebab ia telah menjadikan ibadah yang semestinya karena Allah, malah dijadikan sarana untuk mendapatkan dunia yang rendah nilainya.</p>
<p>Selain istighfar dan taubat, yang termasuk ke dalam kunci rezeki juga adalah:</p>
<ol>
<li><strong>Takwa (menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya).</strong><br />
Allah berfirman: &#8220;<em>Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar (solusi)&#8212;Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.</em>&#8221; (QS. Ath Thalaq: 2-3).<br />
Sehingga, secara umum <a title="Berbuah Taqwa" href="http://mimbarjumat.com/archives/646" target="_blank">taqwa</a> adalah salah satu pintu rezeki, sebaliknya maksiat adalah salah satu sebab terhalangnya rezeki.</li>
<li><strong>Tawakkal kepada Allah.</strong><br />
Allah Subhaanahu wa Ta&#8217;aala berfirman:<br />
&#8220;<em>Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.</em>&#8221; (<a title="QS. Ath-Thalaaq" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/65" target="_blank">QS. Ath Thalaq</a>: 3)Rasulullah shallalllahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: &#8220;<em>Kalau sekiranya kamu bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, tentu kamu akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki, berangkat pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang</em>.&#8221; (HR. Tirmidzi, ia mengatakan, &#8220;Hadits hasan shahih.&#8221;)Perlu diketahui bahwa Tawakkal itu tidaklah seperti yang dipahami oleh orang-orang yang jahil (tidak mengerti) terhadap Islam, yang mengartikan <a title="Tawakkal" href="http://mimbarjumat.com/archives/417" target="_blank">tawakkal</a> adalah membuang jauh-jauh sebab dan tidak beramal serta ridha dan rela terhadap kerendahan. Bahkan tidak demikian. Tawakkal adalah sebuah ketaatan kepada Allah <strong><em>dengan menjalankan sebab</em></strong>.&nbsp;</p>
<p>Oleh karena itu, seseorang tidaklah berharap untuk memperoleh sesuatu kecuali menjalankan sebab-sebabnya. Adapun tercapai atau tidaknya dia serahkan kepada Allah Subhaanahu wa Ta&#8217;aala sambil berharap semoga yang dicita-citakannya tercapai, karena hanya Dia-lah yang mampu mendatangkan hasilnya. Betapa banyak orang yang menjalankan sebab, namun ternyata tidak memperoleh hasil apa-apa.</li>
<li><strong><em>Menyempatkan diri untuk beribadah</em></strong><br />
Misalnya mengerjakan amalan sunat setelah amalan yang wajib. Baik yang berupa ibadah lisan seperti dzikr, membaca Al Qur’an dan mengajarkannya, dsb. maupun yang berupa perbuatan seperti shalat-shalat sunah dsb.&nbsp;</p>
<p>Rasulullah shallalllahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:<em> Tuhanmu berfirman, &#8220;Wahai anak Adam! Sempatkanlah beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi hatimu dengan rasa cukup dan Aku akan memenuhi tanganmu dengan rezeki.  Wahai anak Adam! Janganlah menjauh dari-Ku. Jika demikian, Aku akan memenuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku akan memenuhi tangan-Mu dengan kesibukan.&#8221;</em> (HR. Hakim, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihut Targhib wat Tarhib)</li>
<li><strong><em>Berhajji dan berumrah</em></strong><br />
Rasulullah shallalllahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: &#8220;<em>Sertakanlah hajji dengan umrah, karena keduanya menghilangkan kefakiran dan dosa-dosa. Sebagaimana kir menghilangkan kotoran besi, emas dan perak. Haji yang mabrur tidak ada balasannya selain surga</em>.&#8221; (HR. Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, Syaikh Al Albani menghasankannya dalam Shahihut Targhib wat Tarhib)</li>
<li><strong><em>Menyambung tali silaturrahim</em></strong><br />
Rasulullah shallalllahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: &#8220;<em>Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka sambunglah tali silaturrahim</em>.&#8221;  (HR. Bukhari)<strong><em>Silaturrahim</em></strong> adalah sebuah istilah untuk sikap ikhsan (berbuat baik) kepada kerabat yang memiliki hubungan baik karena nasab (keturunan) maupun karena ash-har (perkawinan), bersikap lemah lembut kepada mereka, memberikan kebaikan dan menghindarkan keburukan semampunya yang menimpa mereka, serta memperhatikan keadaan mereka baik agama maupun dunianya</li>
<li><strong><em>Berinfak</em></strong><br />
Allah Subhaanahu wa Ta&#8217;aala berfirman: &#8220;<em>Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.</em>&#8221; (<a title="QS. Saba" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/34" target="_blank">QS. Saba’</a>: 39)<br />
Rasulullah shallalllahu &#8216;alaihi wa sallam juga bersabda: <em>Allah berfirman, &#8220;Berinfaklah wahai anak Adam! Niscaya Aku akan berinfak kepadamu.&#8221;</em> (HR. Bukhari)Juga bersabda: &#8220;<em>Tidak ada satu hari pun, di mana seorang hamba melalui pagi harinya kecuali dua malaikat turun, yang satu berkata, &#8216;Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang berinfak &#8216;, sedangkan malaikat yang satu lagi berkata, &#8216;Ya Allah, timpakanlah kerugian kepada orang yang bakhil.&#8217;</em> &#8221; (Muttafaq &#8216;alaih)Dan bersabda: &#8220;<em>Sedekah tidaklah mengurangi harta, dan Allah tidaklah menambahkan hamba-Nya yang sering memaafkan kecuali kemuliaan. Demikian juga tidaklah seseorang bertawadhu’ karena Allah, kecuali Allah akan meninggikannya</em>.&#8221; (HR. Muslim)</li>
<li><strong><em>Berbuat baik kepada kaum dhu’afa’ (kaum lemah seperti kaum fakir-miskin)</em></strong><br />
Rasulullah shallalllahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: &#8220;<em>Bukankah kamu dibela dan diberi rezeki karena (berbuat ihsan) kepada kaum dhu’afa kamu.</em>&#8221; (HR. Bukhari)</li>
<li><strong><em>Hijrah</em></strong><br />
Allah Subhaanahu wa Ta&#8217;aala berfirman: &#8220;<em>Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.</em>&#8221; (<a title="QS. An-Nisaa" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/4" target="_blank">QS. An Nisaa</a>: 100)<br />
Hijrah secara syara’ artinya meninggalkan sesuatu yang dibenci Allah menunju hal yang dicintai Allah dan diridhai-Nya.Rasulullah shallalllahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: &#8220;<em>Orang muslim adalah orang yang bisa menjaga lisan dan tangannya dari mengganggu muslim lainnya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari perbuatan yang dilarang Allah</em>.&#8221; (HR. Bukhari)Termasuk ke dalam hal ini adalah berhijrah dari negeri <a title="Menghafal Al-Qur'an Ketika Masih Kafir" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/02/menghafal-al-quran-ketika-masih-kafir.html" target="_blank">kafir</a> (negeri tempat merajalelanya kesyirkkan atau syi’ar-syi’ar kekufuran) dan  dirinya tidak mampu menjalankan ajaran-ajaran Islam di sana, menuju negeri Islam (negeri di mana syi’ar Islam nampak seperti azan, shalat berjama’ah, shalat Jum’at dan shalat hari raya). Kecuali jika ia tidak mampu berhijrah atau ia berniat dakwah di sana, maka tidak mengapa tinggal di negeri kafir.</li>
<li><strong>Bersyukur terhadap nikmat Allah</strong><br />
Allah Subhaanahu wa Ta&#8217;aala berfirman:&#8221;<em>Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, &#8220;Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih</em>&#8220;. (<a title="QS. Ibrahim" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/14" target="_blank">QS. Ibrahim</a>: 7)<br />
Bersyukur kepada Allah adalah dengan mengakui nikmat yang didapatkan berasal dari-Nya, memuji-Nya dan menggunakan nikmat itu untuk ketaatan kepada-Nya.</li>
<li><strong>Membantu penuntul ilmu syar’i.</strong><br />
<em>Dalam Sunan At Tirmidzi disebutkan: Ada dua orang bersaudara di zaman Rasulullah shallalllahu &#8216;alaihi wa sallam, yang satu datang kepada Nabi shallalllahu &#8216;alaihi wa sallam (untuk belajar), sedangkan yang satunya lagi bekerja. Maka orang yang bekerja ini mengeluhkan kepada Nabi shallalllahu &#8216;alaihi wa sallam tentang saudaranya. Beliau pun bersabda, &#8220;Mungkin saja kamu diberi rezeki karenanya.&#8221;</em></li>
</ol>
<p><em><br />
Penulis: Marwan Hadidi</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimbarjumat.com/archives/1413/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fitnah Dunia</title>
		<link>http://mimbarjumat.com/archives/1406</link>
		<comments>http://mimbarjumat.com/archives/1406#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 04:12:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unduk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[duniawi]]></category>
		<category><![CDATA[fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[fitnah dunia]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[kekal]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mimbarjumat.com/?p=1406</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya dunia ini manis lagi hijau (indah), dan sesungguhnya Allah  menjadikan kamu pengelolanya. Dia akan melihat apa yang kamu kerjakan, maka berhati-hatilah kamu terhadap dunia]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1407" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a href="http://masalahkesehatanwanita.blogspot.com/2010/01/hipertensi.html"><img class="size-full wp-image-1407" title="fitnah dunia" src="http://mimbarjumat.com/wp-content/uploads/2011/12/fitnah-dunia.jpg" alt="fitnah dunia" width="230" height="246" /></a><p class="wp-caption-text">fitnah dunia</p></div>
<p>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: &#8220;Sesungguhnya dunia ini manis lagi hijau (indah), dan sesungguhnya Allah  menjadikan kamu pengelolanya. Dia akan melihat apa yang kamu kerjakan, maka berhati-hatilah kamu terhadap <a title="Dunia" href="http://mimbarjumat.com/archives/292" target="_blank">dunia</a> dan berhati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah yang pertama kali menimpa bani Israil adalah karena wanita.&#8221;  (HR. Muslim)</p>
<p>Jika anda sering berjalan-jalan, terutama ke dataran tinggi dan pegunungan, tentu anda akan melihat lebih jelas indahnya dunia. <a title="Bumi Makin Panas, Badan Tetap Sehat" href="http://pelangiku.com/2009/03/bumi-makin-panas-badan-tetap-sehat/" target="_blank">Bumi</a> yang kita tempati ini penuh dengan keindahan dan hal yang sangat menarik. Di sana ada pemandangan yang indah, ada sungai-sungai, ada air terjun, ada pepohonan yang lebat, udara yang sejuk, gunung-gunung yang tinggi dan lain-lain.</p>
<p>Melihat pemandangan yang indah dan menyenangkan itu, pernah terlintas dalam hati saya -mungkin juga anda- keinginan untuk membangun rumah di tempat yang indah tersebut; tinggal bersama <a title="Islamnya Keluarga Yasir" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/04/islamnya-keluarga-yasir.html" target="_blank">keluarga</a>. Saya ingin pergi ke kota untuk bekerja agar dapat mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya yang kemudian dapat saya gunakan untuk membangun rumah di tempat yang indah tersebut.</p>
<p>Namun saya berfikir dan berfikir lagi, jika saya melakukannya apakah saya akan hidup kekal di sana dan aman dari mara <a title="Bahaya Sihir" href="http://mimbarjumat.com/archives/1306" target="_blank">bahaya</a>, kemudian bagaimana nantinya saya mencari rizki? Belum lagi dengan sarana-sarana yang kurang lengkap tidak seperti di kota. Sadarlah saya bahwa kesenangan dunia tidak sempurna; ada hidup dan ada mati, ada muda dan ada tua, ada senang dan ada sedih, ada sehat dan ada sakit, ada rasa aman dan rasa takut serta keterbatasan lainnya. Lebih dari itu, untuk memperoleh kesenangan dunia harus diraih dengan kerja keras dan usaha.</p>
<p><span id="more-1406"></span>Kemudian saya membandingkan keadaan dunia dengan akhirat; yakni surga, ternyata jauh berbeda. Saya mendapatkan dalam Al Qur&#8217;an dan As Sunnah tentang kenikmatan yang diperoleh penghuni <a title="Surga Karena Memuliakan Orang Miskin" href="http://mimbarjumat.com/archives/1199" target="_blank">surga</a>, ternyata benar-benar sempurna. Pemandangannya yang indah sampai tidak terbayangkan oleh hati, belum pernah dilihat oleh mata dan belum pernah didengar oleh telinga.</p>
<p>Penghuninya kekal dan tidak akan mati, mereka tetap muda dan tidak akan tua, mereka bersaudara tidak bermusuh-musuhan, mereka tetap senang dan tidak pernah sedih, mereka tetap <a title="Bikin Jantung (Lebih) Sehat" href="http://pelangiku.com/2009/09/bikin-jantung-lebih-sehat/" target="_blank">sehat</a> dan tidak pernah sakit, mereka senantiasa memperoleh keamanan dan tidak pernah tertimpa rasa takut dan kekhawatiran.</p>
<p>Apa yang mereka inginkan ada di hadapan tanpa perlu bekerja keras dan berusaha, belum lagi dengan makanan dan minuman enak yang dihidangkan, bidadari yang bermata jeli dan kesenangan lainnya yang amat <a title="Menyambut Ramadhan dengan Sempurna" href="http://mimbarjumat.com/archives/1322" target="_blank">sempurna</a>. Tentunya hal ini diperuntukkan bagi mereka yang beriman dan beramal shalih ketika di dunia. Mudah-mudahan kita semua dimasukkan Allah ke dalam surga, aamiin yaa Rabbal &#8216;aalamiin.</p>
<p>Saudaraku, kesenangan seperti inilah kesenangan yang sesungguhnya dan kenikmatan yang pantas untuk dikejar.</p>
<p><em>&#8220;Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.&#8221; (<a title="QS. Al-Muthaffifin" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/83" target="_blank">QS. Al Muthaffifin</a>: 26)</em></p>
<p>Namun sangat disayangkan, sedikit sekali di antara kita yang mengejarnya, bahkan kebanyakan dari kita lebih rela mengejar kesenangan dunia yang fana&#8217; ini, meninggalkan <a title="Negeri Akhirat" href="http://mimbarjumat.com/archives/195" target="_blank">negeri</a> yang kekal abadi.</p>
<p><em>&#8220;Tetapi kamu  memilih kehidupan duniawi.&#8212; Padahal kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.&#8221; (<a title="QS. Al-A'laa" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/87" target="_blank">QS. Al A&#8217;laa</a>: 16-17)</em></p>
<p>Tidak perlu jauh-jauh untuk membuktikannya, cobalah kita keluar rumah dan memperhatikan orang-orang di sekitar kita –<em>bahkan mungkin diri kita seperti itu</em>-, kita akan menyaksikan bahwa yang ada di benak mereka pada umumnya adalah cita-cita agar mereka bisa hidup enak di dunia ini, tanpa berpikir lagi tentang akhirat; <em>mau bahagia atau tidak, yang penting bisa hidup enak di dunia</em>.</p>
<p>Mereka  rela memeras akal dan pikiran serta membanting tulang sejak bangun tidur hingga tidur kembali hanya bertujuan untuk memperoleh kesenangan yang sesaat ini; <em>itu pun jika dapat dan maut belum datang</em>. Lebih dari itu, mereka tidak menyisakan sedikit pun waktunya untuk akhirat walau beberapa menit, untuk beribadah, untuk shalat berjama&#8217;ah, untuk menambah dengan amalan sunat, untuk membaca Al Qur&#8217;an, untuk berdzikr, untuk bersedekah, untuk berbakti kepada orang tua, untuk menyambung tali silaturrahim dan mengerjakan ibadah lainnya.</p>
<p>Seruan azan ibarat angin yang berlalu, ucapan hayya &#8216;alash shalaah-hayya &#8216;alal falah (marilah kita shalat-marilah menuju kebahagiaan) masuk ke telinga kanan dan keluar lewat telinga kiri. Saya tidak mengetahui, mengapa mereka seperti ini, masjid-masjid yang ada menjadi sepi, kalau pun ada hanya beberapa orang saja. Entah mengapa mereka tidak menyadari bahwa hidup di dunia hanya sementara. Padahal adakah manusia yang hidup selamanya di dunia ini? Kalau pun ada manusia yang diberi umur yang panjang, cobalah perhatikan akhirnya, ia akan tetap meninggal juga.</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya kamu akan mati dan Sesungguhnya mereka akan mati (pula).&#8221; (<a title="QS. Az-Zumar" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/39" target="_blank">Az Zumar</a>: 30)</em></p>
<p>Jika demikian, apa persiapan yang sudah kita lakukan menghadapi kematian yang sudah pasti, yang tidak melihat keadaan orang yang dijemputnya; masih muda atau sudah tua, sehat atau sakit, kaya atau miskin?</p>
<p><em>&#8220;Di mana saja kamu berada, kematian akan menjemput kamu, meskipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.&#8221; (Terj. An Nisaa&#8217;: 78)</em></p>
<p>Apakah harta-benda yang kita persiapkan menghadapi kematian, padahal ia tidak akan ikut ke dalam kubur. Apakah keluarga yang kita persiapkan, padahal keluarga tidak mendampingi kita di alam kubur ataukah <strong>amal</strong>? Ya, amal itulah yang mendampingi kita di dalam kubur.</p>
<p>Rasulullah shallalllahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>“Anak Adam akan berkata, “<em>Hartaku, hartaku”</em>, lalu dikatakan, “Hai anak Adam, bukankah harta yang kamu miliki itu sudah kamu makan lalu habis atau kamu pakai lalu rusak dan yang kamu sedekahkan, itulah yang kamu bawa.” (HR. Muslim)</p>
<p>Memang tidak mengapa bekerja keras untuk meraih kehidupan yang layak di dunia, <em>namun yang jadi masalah adalah jika berlebihan sampai tidak menyisakan waktu untuk akhirat</em>, dan seperti inilah kenyataan yang saya lihat. Saya sangat sedih ketika melihat mereka yang miskin dan hidup dalam kekurangan, kemudian ditambah dengan meninggalkan shalat, penghasilan mereka dalam sehari tidak seberapa namun anehnya berani meninggalkan shalat.</p>
<p>]Padahal apa lagi yang bisa diharap jika seseorang sudah meninggalkan shalat –selain tobat-?! Saya khawatir -<em>bukan bermaksud memvonis</em>- mereka tergolong orang yang sengsara dunia-akhirat atau diistilahkan dengan &#8220;sudah jatuh tertimpa tangga&#8221;; –hadaanallah wa iyyahum ajma&#8217;iin-. Dalam Al Qur&#8217;an disebutkan:</p>
<p><em>&#8220;Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?&#8221;&#8212;Mereka menjawab: &#8220;Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat,</em> (<a title="QS. Al-Mudatstsir" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/74" target="_blank">QS. Al Muddatstsir</a>: 42-43)</p>
<p>Saudaraku, dunia merupakan tempat beramal; ia adalah kesempatan terakhir yang setelahnya bukan kesempatan, yang ada hanyalah balasan terhadap amal yang dikerjakan.</p>
<p>Saudaraku, dunia merupakan jembatan menuju akhirat, keadaan kita di akhirat tergantung keadaan kita di dunia, barang siapa yang beramal salih ketika di dunia maka ia akan beruntung di akhirat dan barang siapa yang malah mengisi hidupnya dengan kemaksiatan, maka ia akan merasakan kerugian dan penyesalan di akhirat. Ketika itu, penyesalan tidak berguna lagi. Ketika itu, memperbaiki diri tidak berguna lagi, yang ada hanyalah nikmat atau azab,</p>
<p><em>….Di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.&#8221; (<a title="QS. Al-Hadiid" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/57" target="_blank">QS. Al Hadiid</a>: 20)</em></p>
<p>Inginkah Anda pulang ke akhirat mendapatkan nikmat atau anda lebih memilih siksa daripada nikmat! Itu terserah Anda, saya hanya bisa mengingatkan.</p>
<p>Saudaraku, mumpung anda masih diberi kesempatan hidup oleh Allah, maka perbaikilah dirimu sekarang juga. Al Fudhail pernah berkata kepada seseorang: <em></em></p>
<p><em>&#8220;Sudah berapa lama kamu menjalani hidup?&#8221;</em><br />
ia menjawab: &#8220;Enam puluh tahun.&#8221;<br />
Fudhail berkata: <em>&#8220;Sudah enam puluh tahun anda mengadakan perjalanan menuju Tuhanmu, dan sebentar lagi kamu akan sampai&#8221;</em><br />
orang itu berkata: &#8220;Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji&#8217;uun&#8221;<br />
Fudhail berkata: &#8220;<em>Tahukah anda maksud ucapan &#8220;Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji&#8217;uun&#8221;? sesungguhnya barangsiapa yang mengetahui bahwa dirinya adalah hamba Allah dan akan kembali kepada-Nya, maka hendaknya ia meyakini bahwa dirinya akan dihadapkan. Siapa saja yang meyakini bahwa dirinya akan dihadapkan, maka hendaknya ia mengetahui bahwa dirinya akan ditanya, maka persiapkanlah jawaban terhadap pertanyaan itu.</em>&#8221;<br />
Orang itu pun bertanya, &#8220;Lalu bagaimana jalan keluarnya?&#8221;<br />
Fudhail menjawab: &#8220;Mudah&#8221;<br />
orang itu bertanya: &#8220;Apa itu?&#8221;<br />
Fudhail menjawab: <em>&#8220;Kamu perbaiki amalmu sekarang, niscaya amalmu di masa lalu akan diampuni. Hal itu, karena jika kamu malah memperburuk amalmu di masa sekarang, maka kamu akan diberi hukuman berdasarkan amal burukmu yang dahulu dan yang sekarang, dan amalan yang diperhatikan adalah amalan di akhir hayatnyaan amalan yang diperhatikan adalah akhirnya.&#8221;nya raaji&#8217;uun&#8221;.&#8221;</em></p>
<p><strong>Fitnah Dunia</strong></p>
<p>Saudaraku, hidup di dunia penuh dengan godaan. Godaan dunia ibarat sebuah arus yang deras, yang membawa pergi dan menghanyutkan apa saja yang ada di hadapan. Kemudian tahukah kamu, ke arah mana arus itu membawa pergi? <em>Jurang</em>; ke sanalah arahnya. Tetapi wahai saudaraku, jurang ini bukanlah jurang yang ringan. Ia adalah jurang yang paling dalam dan di bawahnya terdapat api yang membakar, itulah jurang neraka –wal &#8216;iyaadz billah-.</p>
<p>Oleh karena itu, Nabi kita shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengingatkan agar kita tetap waspada terhadap godaan dunia yang sangat menyilaukan, demikian juga mengingatkan kita agar berhati-hati terhadap godaan wanita. Belum lagi dengan godaan syubhat yang dicetuskan oleh Iblis, banyak amal yang menjadi sia-sia karena syubhat yang disodorkannya; ia tunjukkan kepada manusia sesuatu yang nampaknya baik, padahal tidak ada kebaikan di dalamnya. Inilah rahasia mengapa Allah mewajibkan membaca surat Al Fatihah di dalam shalat di setiap rak&#8217;at, karena butuhnya kita terhadap hidayah dan taufiq-Nya dalam meniti hidup yang penuh cobaan dan godaan ini di samping keadaan hati yang lemah mudah berbalik.</p>
<p>Saudaraku, shalat merupakan pegangan yang paling kuat agar seseorang tidak terbawa oleh arus fitnah (godaan) yang begitu deras.</p>
<p>Tidakkah anda memperhatikan, bahwa dalam surat Al Fatihah terdapat ayat yang berbunyi &#8220;<em>Ihdinash shiraathal mustaqiim&#8221;</em>, di sana Anda meminta kepada Allah agar ditunjukkan mana jalan yang lurus, meminta juga kepada-Nya agar dibantu menempuh jalan yang lurus itu serta meminta kepada-Nya agar dapat beristiqamah di atasnya hingga akhir hayat. Maka beruntunglah mereka yang tetap mendirikan shalat, karena mereka masih memiliki pegangan, mereka masih memiliki hubungan dengan Allah Ta&#8217;ala Sang Pencipta. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>&#8220;Janganlah kamu meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja. Barang siapa yang meninggalkannya dengan sengaja, maka hubungannya telah lepas.&#8221; (Hasan lighairih, HR. Ibnu Majah dan Baihaqi, lihat Shahihut Targhib wat Tarhib no. 567)</p>
<p><em>Penulis: Marwan Hadidi</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimbarjumat.com/archives/1406/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dampak Negatif Kemaksiatan</title>
		<link>http://mimbarjumat.com/archives/1402</link>
		<comments>http://mimbarjumat.com/archives/1402#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 10:37:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unduk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[dosa]]></category>
		<category><![CDATA[dosa-dosa]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[kejahatan]]></category>
		<category><![CDATA[kemaksiatan]]></category>
		<category><![CDATA[maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[nabi]]></category>
		<category><![CDATA[neraka]]></category>
		<category><![CDATA[neraka jahanam]]></category>
		<category><![CDATA[rasulullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mimbarjumat.com/?p=1402</guid>
		<description><![CDATA[Kemaksiatan ini memiliki bahaya yang sangat besar bagi hati. sama seperti bahaya racun terhadap tubuh dalam tingkat bahaya yang berbeda-beda, dan tidakkah di dunia ini muncul suatu kejahatan dan penyakii kecuali disebabkan oleh kemaksiatan dan dosa-dosa.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1403" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a href="http://masalahkesehatanwanita.blogspot.com/2010/02/carpal-tunnel-syndrome-cts.html"><img class="size-full wp-image-1403" title="kemaksiatan" src="http://mimbarjumat.com/wp-content/uploads/2011/12/kemaksiatan.jpg" alt="kemaksiatan" width="230" height="293" /></a><p class="wp-caption-text">kemaksiatan</p></div>
<p>Di antara bencana yang banyak menimpa <a title="Kaum Muslimin yang Tertindas" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/03/kaum-muslimin-yang-tertindas.html" target="_blank">kaum muslimin</a> pada zaman sekarang ini adalah merajalelanya kemaksiatan dan dosa, serta menyebarnya kemungkaran dengan berbagai tingkatannya. Tidak sedikit di antara mereka yang bahkan menganggap remeh dan ringan urusan dosa. Padahal kemaksiatan tersebut sangat berbahaya, baik bagi individu maupun masyarakat.</p>
<p>Bahayanya sangatlah banyak. Jika kita mau merenungkan <a title="Bahaya di Balik Laptop" href="http://pelangiku.com/2009/03/bahaya-di-balik-laptop/" target="_blank">bahaya</a> dan dampak buruk dari kemaksiatan tersebut niscaya kita akan berusaha sekuat tenaga untuk menjauhi kemaksiatan itu.</p>
<p>Ibnul Qoyyim berkata, &#8220;Kemaksiatan ini memiliki bahaya yang sangat besar bagi hati. Sama seperti bahaya racun terhadap tubuh dalam tingkat bahaya yang berbeda-beda, dan tidakkah di dunia ini muncul suatu kejahatan dan penyakit kecuali disebabkan oleh kemaksiatan dan dosa-dosa. Sebab apakah yang mengeluarkan bapak manusia dari <a title="Hidup Lebih Lama, Mati Masuk Surga" href="http://pernik-kehidupan.blogspot.com/2011/09/hidup-lebih-lama-mati-masuk-surga.html" target="_blank">surga</a>. tempat kelezatan, kenikmatan, kemegahan, dan kesenangan menuju alam yang penuh penyakit, kesedihan dan musibah.</p>
<p>Apakah yang mengeluarkan <a title="Kesaksian Iblis" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/04/kesaksian-iblis.html" target="_blank">Iblis</a> dari alam langit, diusir dan dilaknat. Rahmat berubah menjadi laknat serta keimanan berubah menjadi kekafiran? Lalu sebab apakah yang menenggelamkan seluruh penghuni bumi sehingga air melampaui puncak gunung-gunung? Dan sebab apakah yang menjadikan angin menguasai kaum &#8216;Ad sehingga mereka bergelimpangan mati di permukaan bumi. Sehingga mereka seperti pohon-pohon kurma yang tumbang?</p>
<p><span id="more-1402"></span>Sebab apakah yang menyebabkan terjadinya siksa yang menyebabkan hati-hati mereka terputus dari tenggorokan-tenggorokan mereka, sehingga hati dan tenggorokan mereka berserakan dan mereka tewas? Sebab apakah yang menyebabkan Fir&#8217;aun tenggelam bersama kaumnya, lalu ruh-ruh mereka kembali berpindah ke <a title="Tiga Golongan yang Dilempar ke Neraka" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/02/tiga-golongan-yang-dilempar-ke-neraka.html" target="_blank">neraka</a> jahanam? Tubuh mereka tenggelam sementara ruh-ruh mereka terbakar. Sebab apakah yang mengubur Qarun dan rumahnya beserta seluruh hartanya? Sungguh semuanya disebabkan oleh kemaksiatan dan dosa-dosa&#8221;</p>
<p>Satu kemaksiatan menjadi sebab kekalahan para shahabat dalam perang Uhud, yaitu pada saat Nabi, memerintahkan mereka agar tidak turun dari gunung, namun mereka tidak mentaati perintah beliau. Akhirnya 70 <a title="Abdurrahman bin Auf r.a, Sahabat Terpercaya" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/03/abdurrahman-bin-auf-ra-sahabat.html" target="_blank">sahabat</a> terbunuh pada perang itu, sebagaimana disebutkan di dalam siroh, (lihat siroh Ibnu Hisatn atau ar-Rohiq al-Makhtum)</p>
<p>Bahkan terkadang seseorang menganggap enteng kata-kata yang keluar dari mulutnya tanpa berpikir tentangnya, sehingga menjadi sebab dirinya terjerumus ke dalam neraka.</p>
<p>Diriwayatkan dari Abu Huroiroh bahwa Nabi saw bersabda, &#8220;<em>Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang tidak jelas baginya, namun dia terperosok karenanya ke dalam jurang neraka, bahkan lebih dalam dari jarak antara Timur dan Barat</em>.&#8221; (HR. al-Bukhori dan Muslim)</p>
<p>Satu kemaksiatan telah mengeluarkan Adam as dari Surga. Seorang penyair berkata:<br />
&#8220;Engkau menambah dosa dengan dosa. lalu dirimu mengharap tingkatan-tingkatan surga dan kemenangan seorang ahli <a title="Niat Buruk di Balik Ibadah Khusyu'" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/02/niat-buruk-di-balik-ibadah-khusyu.html" target="_blank">ibadah</a>?<br />
Apakah kau lupa Robb-mu saat Dia mengeluarkan Adam dari surga menuju dunia hanya disebabkah karena satu dosa.&#8221;</p>
<p>Kita sering mendengar banyak orang yang mengeluh akan kerasnya hati. hilangnya keberkahan, godaan setan dan sibuk dengan dunia (sehingga lalai tuntunan agama). Mereka lupa dengan firman Allah swt:<br />
&#8220;<em>Dan janganlah sekali-kali kamu mengira. bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zholim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata-mata mereka terbelalak (hari kiamat)</em>.&#8221; (<a title="QS. Ibrahim" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/14" target="_blank">QS. Ibrahim [14]</a>: 42)</p>
<p>Berkata Maimun bin Harun tentang ayat ini : &#8220;Ini adalah pelipur lara bagi orang yang dizholimi dan ancaman bagi orang yang zholim&#8221;.</p>
<p>Tentang firman Allah, &#8220;<em>Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendlri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)</em>.&#8221; (<a title="QS. Asy-Syuuraa" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/42" target="_blank">QS. Asy-Syuuraa [42]</a>: 30)</p>
<p>Ibrohim bin Adham berkata. &#8220;Kita adalah keturunan penduduk surga, akan tetapi Iblis telah mengeluarkan kita dari surga dengan kemaksiatan. Maka sudah selayaknya bagi orang yang berbuat dosa agar tidak tentram dengan kehidupannya sampai ia kembali ke tanah airnya (surga).&#8221;</p>
<p>Kalau demikian halnya, maka ini tidak lain kecuaii pengaruh buruk dari maksiatan. Allah berfirman:</p>
<p>&#8220;<em>Apakah orang-orang yang terbuai kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang sholeh, yaitu sama anfara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu</em>&#8221; (<a title="QS. Al-Jaatsiyah" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/14" target="_blank">QS. al-Jatsiyah [45]</a>: 21)</p>
<p>Berkata Ibnui Qayyim, &#8220;Dosa-dosa ibarat luka-luka, dan bisa jadi sebuah luka menyebabkan kematian.&#8221;</p>
<p>Maksiat sangat berpengaruh buruk bagi hati dan badan, di dunia rnaupun akhirat. Di antaranya adalah:</p>
<ol>
<li>Terhindar dari <a title="Kekurangan Ilmu" href="http://mimbarjumat.com/archives/448" target="_blank">ilmu</a>, karena ilmu adalah cahaya yang Allah berikan pada hati, sedangkan maksiat mematikannya.</li>
<li>Kerisauan yang dirasakan orang yang bermaksiat dalam hatinya antara dirinya dengan Allah sehingga tidak didapati rasa ketenangan sama sekali.</li>
<li>Kerisauan yang ia rasakan antara dirinya dengan manusia. Terutama orang-orarig yang baik dan istiqomah.</li>
<li>Urusannya menjadi rumit, apa yang akan ia lakukan seakan tertutup atau sulit baginya.</li>
<li>Kegelapan yang ia dapatkan dalam hatinya. Sehingga <a title="Menghindari Penyakit Hati" href="http://mimbarjumat.com/archives/189" target="_blank">hati</a> dan badannya menjadi lemah serta ia diharamkan (tercegah) dari ketaatan.</li>
<li>Kemaksiatan mengurangi umur dan menghilangkan keberkahannya untuk selamanya, Na&#8217;udzubillah.</li>
<li>Kemaksiatan menimbulkan maksiat lainnya, sehingga seorang hamba sulit untuk meninggalkannya.</li>
<li>Dampak negatif paling samar yang akan menimpanya adalah kemaksiatan akan melemahkan keinginannya, sehingga maksiat menjadi kuat dan taubat menjadi lemah.</li>
<li>Hati menganggap kemaksiatan sebagai hal biasa bahkan bisa jadi ia merasa bangga dengan kemaksiatan tersebut. maka ia pun sulit melepaskan diri darinya.</li>
<li>Maksiat dapat mematikan rasa ghiroh dalam hati dan menghilangkan rasa malu, padahal ialah yang menjadikan hati menjadi hidup.</li>
<li>Pelaku maksiat akan termasuk ke dalam mereka yang dilaknat oleh Rasulullah. Na&#8217;udzubillah.</li>
<li>Pelaku maksiat terhindar dari doa Rasulullah dan doa para malaikat <a title="Cita-cita Mulia" href="http://mimbarjumat.com/archives/152" target="_blank">mulia</a> yang berdoa bagi orang-orang yang beriman.</li>
<li>Menyebabkan Allah melupakan hamba tersebut. dan inilah suatu kebinasaan.</li>
<li>Apabila dosa sudah menumpuk, maka hati akan di stempel menjadi orang yang lalai. &#8220;<em>Sekali-kali tidak (demikian). sebenarnya apa yang selalu mereka kerjakan itu (dosa-dosa) telah menutup hati mereka</em>.&#8221; (<a title="QS. Al-Muthaffifin" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/83" target="_blank">QS al-Muthaffifin [83]</a>: 14)</li>
<li>Termasuk dari hukuman bagi pelaku maksiat, apa yang Allah timpakan berupa rasa takut dalam hatinya. karena ketaatan adalah benteng-Nya yang kokoh.</li>
<li>Seorang hamba yang terbiasa melakukan maksiat bisa tidak mendapatkan taufik (petunjuk) Allah dalam saat-saat yang sulit dan berat, terutama ketika sakarotul maut, sehingga ia mengakhiri hidupnya dengan kuburukan (su&#8217;ul khotimah).</li>
</ol>
<p>Demikianlah beberapa keburukan maksiat. Semoga Allah membantu kita untuk menjauhi seluruh kemaksiatan, menganugerahkan kepada kita kemanisan iman dan menetapkan bagi kita hidayah hingga saat kepergian.</p>
<p><em>Sumber: Buletin Dakwah Hasmi &#8211; E. 44, 9 Desember 2011</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimbarjumat.com/archives/1402/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menikmati Malam</title>
		<link>http://mimbarjumat.com/archives/1399</link>
		<comments>http://mimbarjumat.com/archives/1399#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Dec 2011 07:39:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unduk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[malam]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[nabi]]></category>
		<category><![CDATA[rasul]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mimbarjumat.com/?p=1399</guid>
		<description><![CDATA[Subhanallah. Sebuah malam keintiman seorang hamba dengan Sang Pencipta. Kalau bukan dari golongan manusia pilihan dan bukan dari orang-orang besar, berlalunya malam mungkin hanya perjalanan sebuah waktu. Tidak lebih dari itu. Padahal, tak sedikit orang yang beribadah pada waktu malam mendapatkan keberkahan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1400" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a href="http://lifeofplant.blogspot.com/2011/12/ascomycetes.html"><img class="size-full wp-image-1400" title="menikmati malam" src="http://mimbarjumat.com/wp-content/uploads/2011/12/menikmati-malam.jpg" alt="menikmati malam" width="230" height="285" /></a><p class="wp-caption-text">menikmati malam</p></div>
<p>Saat itu malam masih tersisa. Bulan masih berenang dalam ruang semesta. Dan, bintang-gemintang masih setia bergelantungan. Dan dalam keheningannya ini, di salah satu bilik yang sangat <a title="Cara Sederhana Menekan Pengeluaran" href="http://carahidupkita.blogspot.com/2009/12/cara-sederhana-menekan-pengeluaran.html" target="_blank">sederhana</a>, terdengar suara berbisik. &#8220;Wahai istriku, ikhlaskah dirimu jika malam ini aku beribadah kepada Allah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Wahai suamiku, kekasih Allah. Sesungguhnya (jika menuruti kata hati) aku merasa nyaman jika selalu berada di sampingmu. Namun, aku ikhlas dengan apa yang engkau sukai. Engkau sangat gemar beribadah kepada Allah. Bagaimana mungkin aku tidak mengikhlaskanmu.&#8221; sahut Aisyah lembut.</p>
<p>Sejurus kemudian, pasangan suami istri agung ini berwudhu. Keduanya lalu tegak dalam kesalihan malam bak Jabal Rahmah yang memancang kuat menembus lazuardi imani. Takbirnya melesat bersama keagungan Sang Pencipta. Rapalan firman-firman-Nya bergetar bersama <a title="Hikmah di Balik Air Mata" href="http://mimbarjumat.com/archives/1249" target="_blank">air mata</a> yang memburai berharap rida Allah. Begitu juga dengan gerak rukuk dan sujudnya, lekat dalarn harmoni gerak jagad raya. Demikian ikhlas keduanya memenuhi panggilan suci untuk menjadikannya lebih mulia dalam menggapai maqamam mahmuda (tempat terhormat).</p>
<p>Inilah sepenggal peristiwa malam yang dikisahkan oleh Aisyah RA kepada Atha&#8217; saat ia dan temannya bertandang ke rumah ummul mukminin. Cerita yang dituturkan melalui jalur Ibnu Mardawih ini merupakan satu dari sekian <a title="Kisah Nabi Daud" href="http://mimbarjumat.com/archives/98" target="_blank">kisah</a> mengesankan Rasulullah dalam upaya menghidupkan sisa-sisa malamnya.</p>
<p><span id="more-1399"></span>Subhanallah, malam itu Rasulullah dan Aisyah shalat dengan cukup lama. Bahkan hingga menjelang azan Subuh. &#8220;Tak biasa Rasul datang terlambat ke <a title="Masjid dan Pengurusan Masalah Sosial" href="http://mimbarjumat.com/archives/79" target="_blank">masjid</a>. Ada apakah gerangan?&#8221; tanya Bilal kepada para jamaah. Ia pun kemudian diutus menuju rumah Rasulullah.</p>
<p>Sesampai di rumah, didapatinya sang Nabi pembawa rahmat itu sedang dalam keadaan menangis. &#8220;Wahai Nabi Allah, mengapa engkau menangis. Bukankah Allah telah mengampuni semua <a title="5 Dosa Wanita Kantoran" href="http://pelangiku.com/2009/09/5-dosa-wanita-kantoran/" target="_blank">dosa</a> dan kesalahanmu?&#8221; tanya Bilal heran.</p>
<p>&#8220;Bagaimana mungkin aku tidak menangis, wahai sahabatku. Semalam wahyu turun kepadaku, surah <a title="QS. Ali Imran" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online" target="_blank">Ali Imran [3]</a>: 190-191. Merugilah orang yang membaca ayat ini tapi tidak menghayati kandungannya,&#8221; jawab Rasul SAW kepada Bilal.</p>
<p>Subhanallah. Sebuah malam keintiman seorang hamba dengan Sang Pencipta. Kalau bukan dari golongan <a title="Manusia Diciptakan Sebaik-baiknya" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/02/manusia-diciptakan-sebaik-baiknya.html" target="_blank">manusia </a>pilihan dan bukan dari orang-orang besar, berlalunya malam mungkin hanya perjalanan sebuah waktu. Tidak lebih dari itu. Padahal, tak sedikit orang yang beribadah pada waktu malam mendapatkan keberkahan.</p>
<p>Berbagai peristiwa besar, juga terjadi di waktu malam. Di samping tahajud, ada nuzulul Quran, lailatul qadar, Isra Mi&#8217;raj, dan hijrah dari Makkah ke Madinah. Semua itu telah mengubah perjalanan peradaban manusia.</p>
<p>Malam adalah makhluk Allah yang sangat <a title="Dendeng Kornet Spesial" href="http://bumbudapur.com/2011/08/dendeng-kornet-spesial/" target="_blank">spesial</a>. Malam bukan sebatas kumpulan waktu atau bergulirnya gerak alam. Tapi, dengan bergeraknya malam diciptakannya waktu senyap menjadi hidup. Dan alam turut berotasi dalam gerak zikir membesarkan asma-Nya.</p>
<p>Tampaknya malam memang diprogram untuk menerima estetika hidup yang luhur. Ingat, Allah telah bersumpah dengan makhluk-Nya yang bernama malam ini. (QS al-Lail [92]. Hal itu menggambarkan betapa eksotisnya waktu malam. Bacaan Al-Quran dan aktivitas memahami serta merenungi <a title="Tanda Kehidupan" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/02/tanda-kehidupan.html" target="_blank">kehidupan</a>, juga sangat berkesan jika dilakukan pada malam hari. (QS al-lsra [17]: 78).</p>
<p><em>Sumber: Kolom Hikmah Republika, Jum&#8217;at 9 Desember 2011</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimbarjumat.com/archives/1399/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puasa Asyura</title>
		<link>http://mimbarjumat.com/archives/1391</link>
		<comments>http://mimbarjumat.com/archives/1391#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 13:04:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unduk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Syariat]]></category>
		<category><![CDATA[asyura]]></category>
		<category><![CDATA[berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[hari asyura]]></category>
		<category><![CDATA[muharram]]></category>
		<category><![CDATA[musa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mimbarjumat.com/?p=1391</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya hari Asyura (10 Muharram) merupakan hari bersejarah dan diagungkan. Orang-orang Quraisy biasa berpuasa pada hari asyura di masa jahiliyyah, Rasulullah pun melakukannya pada masa jahiliyyah, sampai datang syariat puasa. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1392" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a href="http://pernik-kehidupan.blogspot.com/2011/08/kompromi-penuh-cinta.html"><img class="size-full wp-image-1392" title="puasa asyura" src="http://mimbarjumat.com/wp-content/uploads/2011/12/puasa-asyura.jpg" alt="puasa asyura" width="230" height="266" /></a><p class="wp-caption-text">puasa asyura</p></div>
<p>Sesungguhnya hari Asyura (10 Muharram) merupakan hari bersejarah dan diagungkan. Orang-orang Quraisy biasa <a title="Kiat Sehat dan Bugar Berpuasa" href="http://tipskecantikanonline.com/2010/09/kiat-sehat-dan-bugar-berpuasa/" target="_blank">berpuasa</a> pada hari asyura di masa jahiliyyah, Rasulullah pun melakukannya pada masa jahiliyyah, sampai datang syariat puasa.</p>
<p>Tatkala beliau sampai di Madinah beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa.&#8221; (HR. Bukhari Muslim) &#8220;Nabi tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya: &#8220;Apa ini?&#8221; Mereka menjawab: &#8220;Sebuah hari yang baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka <a title="Nabi Musa a.s Berguru kepada Nabi Khidr a.s" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/02/nabi-musa-as-berguru-kepada-nabi-khidr.html" target="_blank">Musa</a> berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur. Maka Rasulullah saw menjawab: &#8220;Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (Yahudi) , maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu.&#8221; (HR. Bukhari)</p>
<p>Ada banyak hadits yang bicara tentang <a title="Puasa Untuk Kebajikan Sosial" href="http://mimbarjumat.com/archives/850" target="_blank">puasa</a> Asyura, antara lain: &#8220;Rasulullah ditanya tentang puasa Asyura, beliau menjawab: &#8220;Puasa itu bisa menghapuskan dosa-dosa kecil pada tahun kemarin.&#8221;(HR. Muslim).</p>
<p>Adapun cara berpuasa di Hari Asyura adalah berpuasa selama 3 hari dimulai dari tgl 9, 10, dan 1 1 Muharram berdasar hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan lafadz sebagaimana telah disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam al-Huda dan al-Majd Ibnu Taimiyyah dalam al-Muntaqa 2/2: &#8220;Selisihilah orang <a title="Karakter Yahudi" href="http://mimbarjumat.com/archives/353" target="_blank">yahudi</a> dan berpuasalah sehari sebelum dan setelahnya.&#8221;</p>
<p>Dan pada riwayat ath-Thahawi menurut penuturan pengarang al-Urf asy-Syadzi: &#8220;Puasalah pada hari   Asyura dan berpuasalah sehari sebelum dan setelahnya dan janganlah kalian menyerupai orang Yahudi.&#8221;</p>
<p><em>Sumber: Buletin Dakwah Masjid Al-Iman Edisi ke-24, 2 Desember 2011</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimbarjumat.com/archives/1391/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akhlak Islam</title>
		<link>http://mimbarjumat.com/archives/1386</link>
		<comments>http://mimbarjumat.com/archives/1386#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 14:14:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unduk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak islam]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak islami]]></category>
		<category><![CDATA[akhlaq islami]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mimbarjumat.com/?p=1386</guid>
		<description><![CDATA[Syari'at Islam adalah syari'at yang lengkap dan sempurna. Ia tidak hanya mengajarkan kepada manusia 'aqidah dan ibadah yang benar saja, bahkan ia mengajarkan pula akhlak yang mulia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1387" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a href="http://mimbarjumat.com/wp-content/uploads/2011/11/akhlak-islam.jpg"><img class="size-full wp-image-1387" title="akhlak islami" src="http://mimbarjumat.com/wp-content/uploads/2011/11/akhlak-islam.jpg" alt="akhlak islam" width="230" height="305" /></a><p class="wp-caption-text">akhlak islam</p></div>
<p>Syari&#8217;at Islam adalah syari&#8217;at yang lengkap dan sempurna. Ia tidak hanya mengajarkan kepada <a title="Manusia Diciptakan Sebaik-baiknya" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/02/manusia-diciptakan-sebaik-baiknya.html" target="_blank">manusia</a> &#8216;aqidah dan ibadah yang benar saja, bahkan ia mengajarkan pula akhlak yang mulia. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta&#8217;ala:</p>
<p>&#8220;<em>Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat. Akan tetapi, sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa</em>.&#8221; (<a title="QS. Al-Baqarah" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/2" target="_blank">QS. Al Baqarah</a>: 177)</p>
<p>Pengajaran tentang &#8216;aqidah ditunjukkan oleh firman Allah Ta&#8217;ala, &#8220;<em>Akan tetapi, sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi</em>.&#8221;</p>
<p>Pengajaran tentang ibadah ditunjukkan oleh firman Allah Ta&#8217;ala, mendirikan shalat, dan menunaikan <a title="Zakat, Penyelamat Kehidupan" href="http://mimbarjumat.com/archives/1211" target="_blank">zakat</a>;…dst.</p>
<p><span id="more-1386"></span>Sedangkan pengajaran tentang akhlak <a title="Menjadi Islam Kaffah dengan Muamalah yang Islami" href="http://mimbarjumat.com/archives/236" target="_blank">islami</a> ditunjukkan oleh firman Allah Ta&#8217;ala, &#8220;<em>Dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan…dst</em>.&#8221;</p>
<p>Ayat di atas menunjukkan bahwa orang yang baik di sisi Allah adalah orang yang hubungannya dengan Allah baik dan hubungannya dengan manusia pun baik. Tidaklah dinamakan orang yang baik di sisi Allah, jika dalam bergaul dengan manusia ia bergaul dengan cara yang baik, tetapi hubungannya dengan Allah tidak baik, atau hubungannya dengan Allah baik, tetapi akhlaknya terhadap manusia buruk. Dengan demikian, <a title="Membahayakan Aqidah" href="http://mimbarjumat.com/archives/19" target="_blank">Aqidah</a> dan ibadah memiliki hubungan yang erat dengan akhlak islam, oleh karena itu Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>&#8220;<em>Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya</em>.&#8221; (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Hibban dan Hakim, Shahihul Jaami&#8217; no. 1230)</p>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa semakin tinggi <a title="Iman" href="http://mimbarjumat.com/archives/910" target="_blank">iman</a> seseorang, maka semakin baik pula akhlaknya, dan bahwa akhlak yang buruk menunjukkan kekurangan pada imannya. Demikian juga menunjukkan bahwa akhlak islam merupakan refleksi keimanan dan buahnya.</p>
<p><strong>Beberapa Akhlak Islam</strong></p>
<ol>
<li><strong>Berlaku jujur apa adanya</strong><br />
Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: &#8220;<em>Hendaklah kamu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan membawa seseorang ke <a title="Orang-orang yang Dijamin Masuk Surga" href="http://mimbarjumat.com/archives/779" target="_blank">surga</a>, dan jika seseorang selalu berlaku jujur serta memilih kejujuran sehingga akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur</em>. &#8221; (HR. Bukhari-Muslim)</li>
<li><strong>Menunaikan amanah</strong><br />
Allah Subhaanahu wa Ta&#8217;aala berfirman: &#8220;<em>Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…dst</em>.&#8221; (<a title="QS. An-Nisaa" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/4" target="_blank">QS. An Nisaa&#8217;</a>: 58)<br />
Amanat artinya setiap yang dibebankan kepada manusia dan mereka diperintahkan memenuhinya. Allah Subhaanahu wa Ta&#8217;aala memerintahkan hamba-hamba-Nya menunaikan amanat secara sempurna tanpa mengurangi.<br />
Termasuk ke dalam amanat adalah amanat beribadah (seperti shalat, zakat, puasa dsb.), amanat harta, amanat untuk dirahasiakan dsb. Contoh menunaikan amanat dalam hal harta adalah dengan menjaganya dan mengembalikan kepada pemiliknya secara utuh, sedangkan <a title="Amanat Jabatan" href="http://mimbarjumat.com/archives/954" target="_blank">amanat</a> dalam rahasia adalah dengan menyembunyikannya; tidak membukanya.</li>
<li><strong>Menepati janji</strong>.<br />
Allah Azza wa Jalla berfirman: &#8220;<em>Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggung jawabannya</em>.&#8221; (QS. Al Israa&#8217;: 34)<br />
Menyalahi janji adalah salah satu ciri orang munafik. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: &#8220;<em>Tanda orang munafik itu tiga; jika berbicara berdusta, jika berjanji menyalahi dan jika dipercaya <a title="Amanah vs Khianat" href="http://mimbarjumat.com/archives/988" target="_blank">khianat</a></em>.&#8221; (HR. Bukhari-Muslim, dan dalam riwayat keduanya dari hadits Abdullah bin ‘Amr ada tambahan &#8220;<em>Dan jika bertengkar berbuat jahat</em>.&#8221;)</li>
<li><strong>Tawadhu&#8217; (berendah diri)</strong>.<br />
Allah Azza wa Jalla berfirman: &#8220;<em>Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman</em>.&#8221; (<a title="QS. Al-Hijr" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/15" target="_blank">QS. Al Hijr</a>: 88)<br />
Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: &#8220;<em>Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku untuk bertawadhu’, sehingga tidak ada lagi orang yang bersikap sombong  dan angkuh terhadap yang lain</em>.&#8221; (HR.  Muslim)</li>
<li><strong>Berbakti kepada orang tua</strong>.<br />
&#8220;<em>Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.&#8212;Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik…dst</em>.&#8221; (<a title="QS. Luqman" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/31" target="_blank">QS. Luqman</a>: 14-15)</li>
<li><strong>Menyambung tali silaturrahim (hubungan kekeluargaan)</strong>.<br />
Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: &#8220;<em>Barang siapa yang ingin dilapangkan rezkinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturrahim</em>.&#8221; (HR. Bukhari)</li>
<li><strong>Berlaku baik kepada tetangga</strong></li>
<li><strong>Memuliakan tamu</strong>.<br />
Dalil berbuat baik kepada <a title="Cara Bertemu dengan Tetangga" href="http://carahidupkita.blogspot.com/2010/01/cara-bertemu-dengan-tetangga.html" target="_blank">tetangga</a> dan memuliakan tamu disebutkan dalam hadits berikut: &#8220;<em>Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berkata yang baik atau diam. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia muliakan tetangganya, dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia memuliakan tamunya</em>.&#8221; (HR. Bukhari-Muslim)</li>
<li><strong>Dermawan</strong>.<br />
Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: &#8220;<em>Sesungguhnya Allah Ta&#8217;alah Maha Pemurah, Dia mencintai sifat pemurah (dermawan), Dia mencintai akhlak yang tinggi dan membenci akhlak yang <a title="Rendah Hati dalam Menuntut Ilmu" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/02/rendah-hati-dalam-menuntut-ilmu.html" target="_blank">rendah</a></em>.&#8221; (HR. Baihaqi dalam Syu&#8217;abul Iman, dan Abu Nu&#8217;aim dalam Al Hilyah, Shahihul Jaami&#8217; no. 1744)</li>
<li><strong>Santun dan pemaaf</strong>.<br />
Allah Azza wa Jalla berfirman: &#8220;<em>Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?</em>&#8221; (QS. An Nuur: 22)<br />
Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: &#8220;<em>Sedekah tidaklah mengurangi <a title="Harta dan Rahmat Ilahi" href="http://mimbarjumat.com/archives/134" target="_blank">harta</a>. Allah tidaklah menambahkan hamba-Nya yang selalu memaafkan kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang bertawadhu’ karena Allah kecuali Allah akan meninggikannya</em>.&#8221; (HR. Muslim)</li>
<li><strong>Mendamaikan manusia</strong>.<br />
Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: &#8220;<em>Maukah kamu aku beritahukan hal yang lebih utama dari derajat puasa, <a title="Shalat Jamaah" href="http://mimbarjumat.com/archives/94" target="_blank">shalat</a> dan sedekah (sunat)? Yaitu mendamaikan orang yang bermusuhan, karena merusak hubungan adalah yang memangkas (agama)</em>.&#8221; (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani no. 2595)</li>
<li><strong>Malu</strong>.<br />
Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: &#8220;<em>Malu termasuk bagian dari iman</em>.&#8221; (HR. Bukhari-Muslim)<br />
&#8220;<em>Malu tidaklah mendatangkan selain kebaikan</em>.&#8221; (HR. Bukhari-Muslim)</li>
<li><strong>Berkasih sayang</strong><br />
Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: &#8220;<em>Sayangilah <a title="Membela Hak Makhluk Allah" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/03/membela-hak-makhluk-allah.html" target="_blank">makhluk</a> yang ada di bumi, niscaya yang ada di atas langit (Allah) akan menyayangimu</em>.&#8221; (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Hakim, Shahihul Jami&#8217; no. 3522)</li>
<li><strong>Berlaku adil</strong>.<br />
Allah Ta&#8217;ala berfirman: &#8220;<em>Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan, memberi kepada kaum kerabat, dan melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran</em>.&#8221; (<a title="QS. An-Nahl" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/16" target="_blank">QS. An Nahl</a>: 90)</li>
<li><strong>Menjaga kesucian diri (iffah)</strong>.<br />
Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: &#8220;<em>Berjanjilah untukku untuk melakukan enam perkara, niscaya aku akan menjanjikan kamu surga; berkatalah yang benar ketika kamu <a title="Hak Berbicara untuk Menuntut Hak Miliknya" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/03/hak-berbicara-untuk-menuntut-hak.html" target="_blank">berbicara</a>, penuhilah janji ketika kamu berjanji, tunaikanlah amanat ketika kamu diamanati, jagalah kehormatanmu, tundukkanlah pandanganmu dan tahanlah tanganmu (dari melakukan yang tidak dibolehkan secara syara&#8217;)</em>.&#8221; (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Hakim dan Baihaqi dalam Asy Syu&#8217;ab, dan dihasankan oleh Al Albani dalam Shahihul Jaami&#8217; no. 1018).</li>
</ol>
<p><em>Penulis: Marwan Hadidi</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimbarjumat.com/archives/1386/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adab Menuntut Ilmu (Bagian 2)</title>
		<link>http://mimbarjumat.com/archives/1381</link>
		<comments>http://mimbarjumat.com/archives/1381#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 13:42:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unduk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[hadist]]></category>
		<category><![CDATA[hormat]]></category>
		<category><![CDATA[menuntut ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[penuntut ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[rasulullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mimbarjumat.com/?p=1381</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini merupakan lanjutan adab penuntut ilmu semoga Allah menjadikannya bermanfaat, Allahumma aamiin.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_1383" class="wp-caption alignright" style="width: 240px"><a href="http://bumbudapur.com/2011/11/gulai-ayam/"><img class="size-full wp-image-1383" title="Menuntut ilmu" src="http://mimbarjumat.com/wp-content/uploads/2011/11/Menuntut-ilmu-juga.jpg" alt="Menuntut ilmu" width="230" height="268" /></a><p class="wp-caption-text">Menuntut ilmu</p></div>Berikut ini merupakan lanjutan adab penuntut ilmu semoga Allah menjadikannya bermanfaat, Allahumma aamiin.</p>
<p><strong>Adab Penuntut Ilmu</strong></p>
<ol>
<li>Memurajaah ilmu yang ia peroleh dari guru.<br />
Mu’adz bin Jabal berkata, &#8220;Pelajarilah ilmu, karena mempelajarinya karena Allah adalah rasa <a title="Gila Dunia dan Takut Mati" href="http://mimbarjumat.com/archives/16" target="_blank">takut</a>, mencarinya adalah ibadah, mengingat-ingatnya adalah tasbih, mengkajinya adalah jihad, mengajarkan kepada orang yang tidak tahu adalah sedekah dan memberikan kepada orang yang berhak adalah sebuah pendekatan diri kepada Allah.&#8221;</li>
<li>Hendaknya waktunya lama.<br />
Imam Ahmad berkata, &#8220;(Menuntut ilmu) dari tempat tinta sampai ke tempat kubur.&#8221;</li>
<li>Hendaknya memperhatikan tiga perkara dalam <a title="Ilmu Lalu Amal" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/02/ilmu-lalu-amal.html" target="_blank">ilmu</a>, yaitu Al Qur’an, As Sunnah dan Tauhid.</li>
<li>Hendaknya ia tidak banyak berdehem atau banyak bertingkah, dan tidak bersiwak di majlis ilmu. Demikian juga hendaknya ia tidak banyak tertawa, tidak bercakap-cakap dengan kawannya, tidak merendahkan saudaranya atau mengolok-olok mereka, karena mereka adalah saudaranya.</li>
<li>Berusaha tidak mengantuk.</li>
<li>Tidak banyak meminta pengulangan kepada <a title="Nasihat untuk Para Guru dan Anak-Anak" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/02/nasihat-untuk-para-guru-dan-anak-anak.html" target="_blank">guru</a>.</li>
<li>Buah dari ilmu adalah mengamalkannya dan menyampaikannya.<br />
Allah Subhaanahu wa Ta’ala mencela orang-orang yang tidak mengamalkan ilmu mereka dan menyerupakan mereka seperti keledai yang memikul kitab-kitab, namun tidak paham isinya. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman: &#8220;<em>Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangatlah buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim</em>.&#8221; (QS. Al Jumu’ah: 5)</p>
<p><span id="more-1381"></span>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: &#8220;<em>Tidaklah bergeser dua kaki seorang hamba pada hari Kiamat sampai ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan. Tentang ilmunya, untuk apa ia berbuat, tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan ke mana ia keluarkan, serta tentang badannya untuk apa ia letihkan?</em>&#8221; (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 7300)</li>
<li>Hendaknya ia berusaha mengikat dhawabith (kaidah dalam satu masalah) dan kaidah kulliyyah (yang menyeluruh), memilah hadits yang shahih dengan yang dha’if dan mencatat masalah-masalah furu’.</li>
<li>Jika seorang penuntut ilmu hendak pindah ke guru yang lain, hendaknya ia beritahukan, dan bahwa berpindahnya itu bukan maksudnya karena merasa tidak butuh kepadanya, dan hal ini dilakukan dengan penuh adab dan hormat.</li>
<li>Hendaknya ia menjauhi berbicara dengan guru menggunakan kalimat yang menunjukkan kesombongan, seperti &#8220;menurut saya&#8221; atau &#8220;saya lebih menguatkannya,&#8221; dsb.</li>
<li>Jika seorang guru salah ucap tanpa disadari, maka silahkan meluruskan dengan penuh hormat.</li>
<li>Hendaknya ketika ia berdahak atau bersin tidak mengeraskan suaranya. Dan untuk bersin, hendaknya ia tutup mukanya dengan bajunya sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam (HR. Abu Dawud dan Hakim dengan sanad shahih).</li>
<li>Hendaknya ia tidak mendesak seorang guru ketika guru sedang lelah.</li>
<li>Tidak patut bagi penuntut ilmu memutuskan penjelasan guru ketika menerangkan pelajaran.</li>
<li>Abu Hanifah rahimahullah berkata, &#8220;<em>Sesungguhnya saya mendapatkan ilmu dengan memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya. Setiap kali aku paham dan diberitahukan fiqh dan hikmah, aku berkata &#8216;Al Hamdulillah&#8217;, maka bertambahlah ilmuku</em>.&#8221;</li>
</ol>
<p>Demikianlah sepatutnya seorang penuntut ilmu, ia menyibukkan diri dengan bersyukur baik dengan lisan, <a title="Rendah Hati dalam Menuntut Ilmu" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/02/rendah-hati-dalam-menuntut-ilmu.html" target="_blank">hati</a>, anggota badan maupun keadaan. Dia yakin bahwa pemahaman, ilmu dan taufiq yang didapatkannya adalah berasal dari Allah Ta’ala. Ia pun meminta hidayah-Nya dengan berdoa dan bertadharru’ (merendahkan diri) kepada-Nya, karena Allah Ta’ala akan menunjuki orang yang meminta hidayah kepadanya.</p>
<p><strong>Kaum salaf dalam menuntut ilmu</strong></p>
<p>Setelah Rasulllah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam wafat, maka Ibnu &#8216;Abbas banyak bertanya kepada para sahabat Rasulllah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tentang apa yang disabdakan Rasulllah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>Setiap kali ia mengetahui ada seorang yang mengetahui hadits Rasulllah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, maka ia segera pergi kepadanya. Jika ia mendapati sahabat tersebut sedang <a title="Tidur Membuat Awet Muda Lho ..." href="http://pelangiku.com/2009/06/tidur-membuat-awet-muda-lho/" target="_blank">tidur</a> siang, maka ia duduk di pintunya dan menunggunya hingga bangun, sampai-sampai ia tertimpa debu-debu yang diterbangkan oleh angin yang bertiup di gurun.</p>
<p>Ketika sahabat itu keluar dan melihat Ibnu ‘Abbas, maka ia berkata, &#8220;Wahai keponakan Rasulllah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, kenapa engkau datang ke sini? Tidakkah engkau kirim seseorang kepadaku, biarlah aku yang datang kepadamu?&#8221;</p>
<p>Ibnu ‘Abbas menjawab, &#8220;Tidak, saya lebih berhak datang kepadamu untuk menanyakan hadits kepadamu?&#8221; (HR. Hakim)</p>
<p>Jabir bin Abdillah berkata, &#8220;Telah sampai kepadaku sebuah hadits dari seseorang yang ia dengar dari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, maka aku beli seekor unta untuk pergi mendatanginya, maka aku pergi kepadanya dalam waktu sebulan hingga aku sampai di Syam, lalu aku mendapatinya yaitu Abdullah bin Unais radhiyallahu ‘anhu, maka aku berkata kepada penjaga pintu, &#8220;Katakan kepadanya bahwa Jabir ada di pintu.&#8221;<br />
Maka Abdullah bin Unais berkata, &#8220;Apakah putera Abdullah?&#8221;<br />
Aku menjawab, &#8220;Ya.&#8221;<br />
Maka ia pun segera keluar menemuinya, lalu ia memelukku dan aku pun memeluknya, maka aku berkata, &#8220;Ada sebuah hadits yang sampai kepadaku darimu; bahwa engkau mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang qishas, maka aku khawatir kamu wafat atau aku wafat sebelum aku mendengarnya, maka Abdulllah bin Unais menyampaikan hadits itu kepadanya.&#8221; (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani)</p>
<p>Ubaidullah bin ‘Addiy berkata, &#8220;<em>Telah sampai kepadaku sebuah hadits yang ada pada ‘Ali (bin Abi Thalib), maka aku khawatir jika ia wafat, lalu aku tidak memperolehnya pada orang lain. Oleh karena itu, aku mengadakan perjalanan untuk menemuinya sehingga aku menemuinya di Irak</em>.&#8221; (Diriwayatkan oleh Al Khathib)</p>
<p>Ibnu Mas’ud berkata, &#8220;<em>Kalau sekiranya ada orang yang dapat dicapai oleh unta, dimana orang tersebut ternyata lebih tahu tentang apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku akan mendatanginya sehingga ilmuku bertambah</em>.&#8221; (Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir)</p>
<p><em>Penulis: Marwan Hadidi</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimbarjumat.com/archives/1381/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adab Menuntut Ilmu (Bagian 1)</title>
		<link>http://mimbarjumat.com/archives/1376</link>
		<comments>http://mimbarjumat.com/archives/1376#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 14:54:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unduk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu yang bermanfaat]]></category>
		<category><![CDATA[kedudukan ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[majlis]]></category>
		<category><![CDATA[menuntut ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mimbarjumat.com/?p=1376</guid>
		<description><![CDATA[Orang-orang yang hadir di majlis ilmu itu banyak, namun mengapa yang keluar (berhasil) hanya sedikit? Hal itu, karena kebanyakan mereka tidak mengerjakan adab penuntut ilmu]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1378" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a href="http://pelangiku.com/2009/11/makanan-tepat-tambah-semangat/"><img class="size-full wp-image-1378" title="menuntut ilmu" src="http://mimbarjumat.com/wp-content/uploads/2011/11/menuntut-ilmu.jpg" alt="menuntut ilmu" width="230" height="266" /></a><p class="wp-caption-text">menuntut ilmu</p></div>
<p>Ilmu memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam, bahkan ayat yang pertama turun adalah ayat yang mengajak untuk <a title="Cara Belajar Tanpa Biaya" href="http://carahidupkita.blogspot.com/2009/12/cara-belajar-tanpa-biaya.html" target="_blank">belajar</a>. Allah Subhaanahu wa Ta&#8217;aala berfirman, &#8220;Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,&#8221; (<a title="QS. Al-Alaq" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/96" target="_blank">QS. Al Alaq</a>: 1)</p>
<p>Allah Subhaanahu wa Ta&#8217;aala juga sampai bersumpah dengan sarana untuk memperoleh ilmu, yaitu pena. Dia berfirman, &#8220;Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,&#8221; (<a title="QS. Al-Qalam" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/68" target="_blank">QS. Al Qalam</a>: 1)</p>
<p>As Sunnah juga menguatkan kedudukan ilmu sampai-sampai menjadikan usaha ntuk memperoleh ilmu sebagai jalan ke surga. Rasulllah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: &#8220;<em>Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga</em>.&#8221; (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Tirmidzi)</p>
<p>&#8220;<em>Apabila seseorang meninggal, maka terputuslah amalnya selain tiga perkara; sedekah jaariyah, ilmu yang dimanfaatkan atau anak saleh yang mendoakannya</em>.&#8221; (HR. Muslim)</p>
<p>Para penuntut Ilmu juga merupakan wasiat Rasulllah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, dimana para pengajar diperintahkan berbuat baik kepada mereka. Beliau bersabda: &#8220;<em>Akan datang kepadamu orang-orang yang mencari ilmu, maka apabila kamu melihat mereka, ucapkanlah kepada mereka, &#8216;Selamat datang kepada wasiat Rasulllah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam&#8217;, dan berilah fatwa kepada mereka</em>.&#8221; (HR. Ibnu Majah dari Abu Sa&#8217;id, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami&#8217; no. 3651)</p>
<p><span id="more-1376"></span>Ilmu juga merupakan jalan bagi seorang muslim untuk mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Oleh karena itu, ahli <a title="Ilmu adalah Amanah" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/03/ilmu-adalah-amanah.html" target="_blank">ilmu</a> adalah orang yang paling takut kepada Allah (lihat surat <a title="QS. Fathir" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/35" target="_blank">Fathir</a>: 28).</p>
<p><strong>Pembagian ilmu</strong></p>
<p>Ilmu terbagi menjadi dua bagian; fardhu ‘ain dan fardhu kifayah.<br />
Fardhu ‘ain adalah ilmu yang setiap muslim wajib mengetahuinya, seperti ilmu tentang Tuhannya, agamanya dan Nabinya shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Adapun yang fardhu kifayah adalah llmu yang harus ada di kalangan <a title="Kaum Muslimin yang Tertindas" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/03/kaum-muslimin-yang-tertindas.html" target="_blank">kaum muslimin</a> untuk menopang kehidupan mereka, seperti ilmu kedokteran, industri, dsb.</p>
<p><strong>Adab menuntut ilmu</strong></p>
<p>Dalam menuntut ilmu ada beberapa adab yang perlu diperhatikan, namun sebelumnya perlu kiranya dketahui tentang pentingnya adab tersebut.</p>
<p>Burhanuddin Az Zarnuuji berkata, &#8220;Orang-orang yang hadir di majlis ilmu itu banyak, namun mengapa yang keluar (berhasil) hanya sedikit? Hal itu, karena kebanyakan mereka tidak mengerjakan adab penuntut ilmu.&#8221;</p>
<p>Ibnul Mubarak berkata, &#8220;Aku belajar ilmu selama dua puluh tahun, dan aku belajar adab ilmu selama tiga puluh tahun.”</p>
<p>Ibnul Kharrath Al Isybiliy menyebutkan dari sebagian ahli ilmu, ia berkata, &#8220;Janganlah meremehkan adab, karena barang siapa yang meremehkan adab, maka ia akan meremehkan sunnah-sunnah, dan barang siapa yang meremehkan sunnah-sunnah, maka ia akan meremehkan yang wajib-wajib.&#8221;</p>
<p>Berikut ini beberapa adab penuntut ilmu yang perlu diperhatikan:</p>
<ol>
<li>Jujur dan ikhlas.<br />
Allah Subhaanahu wa Ta&#8217;aala berfirman, &#8220;Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.&#8221; (<a title="QS. At-Taubah" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/9" target="_blank">QS. At Taubah</a>: 119)&nbsp;</p>
<p>Rasulllah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “<em>Sesungguhnya amal itu tergantung niat, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai yang ia niatkan</em>.” (HR. Bukhari)</p>
<p>Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam juga memberitahukan, bahwa orang yang pertama kali menjadi bahan bakar <a title="Hakikat Neraka" href="http://mimbarjumat.com/archives/734" target="_blank">neraka</a> adalah tiga orang, yang salah satunya adalah orang yang belajar agama dan mengajarkannya agar disebut sebagai orang &#8216;alim, dan orang yang membaca Al Qur&#8217;an agar disebut qari&#8217; (sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim),  nas&#8217;alullahas salaamah wal &#8216;aafiyah.</p>
<p>Oleh karena itu, hendaknya seorang penuntut ilmu meniatkan di hatinya untuk menggapai ridha Allah dan mendapatkan <a title="Negeri Akhirat" href="http://mimbarjumat.com/archives/195" target="_blank">negeri akhirat</a>, menyingkirkan kebodohan dari dirinya serta menghilangkan kebodohan yang menimpa orang lain. Dia pun hendaknya berniat untuk menegakkan agama Islam dan menjaganya, karena Islam terjaga dengan ilmu. Sikap zuhud dan takwa pun tidak mungkin dicapai dengan kebodohan.</li>
<li>Mencari ilmu yang bermanfaat<br />
Di antara doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, &#8220;<em>Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyu’, dari doa yang tidak didengar, dari jiwa yang tidak puas dan dari ilmu yang tidak bermanfaat.  Aku berlindung dari empat hal itu kepada-Mu</em>.&#8221; (HR. Tirmidzi dan Nasa&#8217;i dari Ibnu &#8216;Amr, dan diriwayatkan oleh Abu Dawud, Nasa&#8217;i, Ibnu Majah dan Hakim dari Abu Hurairah, dan Nasa&#8217;i dari Anas, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami&#8217; no. 1297).&nbsp;</p>
<p>Seorang penyair berkata:<br />
<em>Alangkah banyak ilmu itu dan alangkah luasnya</em><br />
<em>Siapakah yang dapat mengumpulkannya</em><br />
<em>Jika kamu harus mencari dan berusaha kepadanya,</em><br />
<em>Maka carilah yang bermanfaat darinya.</em></li>
<li>Menyiapkan alat tulisnya.<br />
Imam Syafi’i berkata, &#8220;Sesungguhnya di antara penyebab terhalangnya ilmu adalah menghadiri majlis ilmu tanpa menyalinnya.&#8221;&nbsp;</p>
<p>Ada yang berkata, &#8220;Ikatlah ilmu dengan tulisan.&#8221; Ada pula yang berkata, &#8220;Ilmu itu binatang buruan, dan talinya adalah mencatat.&#8221;</p>
<p>Ada atsar (riwayat) dari Thawus, bahwa ketika ia menghadiri (majlis) Ibnu &#8216;Abbas radhiyallahu &#8216;anhuma, maka ia selalu menulis, sampai suatu ketika ia tidak memperoleh sesuatu untuk menulis, maka ia menulis di tangannya.</li>
<li>Fokus kepada ilmu tersebut.<br />
Ada seorang yang berkata, &#8220;Ilmu tidak akan memberikan sebagiannya kepadamu sampai kamu memberikan bagianmu semua kepadanya.&#8221;</li>
<li>Membersihkan jiwa dari akhlak yang buruk.<br />
Ilmu yang bermanfaat adalah cahaya dari Allah yang diberikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Oleh karena itu, hendaknya seorang penuntut ilmu menjauhi dirinya dari hasad, riya&#8217;, ujub, dan semua akhlak tercela. Imam Syafi&#8217;i berkata: &#8220;Aku pernah mengeluh kepada Waki&#8217; tentang buruknya hapalanku, Maka ia menunjukiku agar meninggalkan maksiat. Karena hapalan adalah karunia Allah. Dan karunia Allah itu tidak diberikan kepada pelaku maksiat&#8221;.</li>
<li>Manfaatkanlah usia muda untuk menuntut ilmu, meskipun usia tua bukan penghalang menuntut ilmu.<br />
Hal itu, karena belajar di masa kecil seperti mengukir di atas batu, sedangkan belajar di masa tua seperti mengukir di atas air, karena disibukkan oleh banyak urusan. Meskipun begitu, Allah Subhaanahu wa Ta’ala berkuasa menjadikan seseorang kuat hapalan walaupun usianya telah lanjut.</li>
<li>Hendaknya penuntut ilmu hadir dalam keadaan yang rapi dan baik.<br />
Oleh karena itu, hendaknya ia tidak datang dalam keadaan menahan buang air, lapar, pikiran sedang risau dan sebagainya.</li>
<li>Bekerja tidaklah menghalangi untuk belajar.<br />
Para sahabat semuanya bekerja, namun setelah mereka bekerja, maka sisa waktunya mereka gunakan untuk belajar agama. Abu Sa’id berkata, &#8220;<em>Kami berperang dan membiarkan seorang atau dua orang untuk mendengar hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu keduanya menceritakan kepada kami sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kami juga menceritakan; kami katakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda</em>.&#8221; (HR. Ibnu ‘Asakir).</li>
<li>Bertahap dalam menuntut ilmu.<br />
Hendaknya seorang penuntut ilmu mendahulukan yang terpenting di antara sekian ilmu, seperti ilmu tentang ‘Aqidah dan ibadah, serta yang dibutuhkan pada saat itu.</li>
<li>Harus sabar.<br />
Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dari Yahya bin Katsir, ia berkata, &#8220;Ilmu tidaklah diperoleh dengan jiwa-raga yang santai.&#8221;</li>
<li>Demikian juga hendaknya seorang murid, tidak memilih jenis ilmu menurut dirinya sendiri. Bahkan hendaknya ia serahkan masalah itu kepada guru. Karena <a title="Nasihat untuk Para Guru dan Anak-Anak" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/02/nasihat-untuk-para-guru-dan-anak-anak.html" target="_blank">guru</a> memiliki pengalaman tentang hal itu.</li>
<li>Duduk yang sopan.<br />
Oleh karena itu, hendaknya ia tidak bersandar. Demikian juga hendaknya ia tidak duduk dengan duduk orang yang sombong, yaitu dengan menaruh <a title="Jalan Kaki (Tidak) Bebas Keluhan" href="http://pelangiku.com/2010/03/jalan-kaki-tidak-bebas-keluhan/" target="_blank">kaki</a> yang satu di atas kaki yang lain.</li>
<li>Hendaknya ia bertanya dengan baik, dan lebih baik lagi jika ia awali dengan mendoakannya, seperti mengucapan &#8220;Semoga Allah mengampuni engkau&#8221; dan menggunakan kata-kata yang lembut terhadapnya.Imam Malik berkata, &#8220;Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf pernah mendebat Ibnu Abbas sehingga banyak ilmu yang terhalang baginya.&#8221; Adh Dhahhak berkata, &#8220;Aku tidaklah mengambil ilmu ini dari para ulama kecuali dengan bersikap lembut kepada mereka.&#8221;</li>
<li>Tidak malu dalam bertanya.<br />
Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, &#8220;Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,&#8221; (<a title="QS. An-Nahl" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/16" target="_blank">QS. An Nahl</a>: 43)<br />
Aisyah berkata, &#8220;Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, dimana rasa malu tidak menghalangi mereka belajar agama.&#8221;<br />
Oleh karena itu, hendaknya seorang penuntut ilmu tidak malu bertanya, karena ilmu itu perbendaharaan, sedangkan kuncinya adalah bertanya.<br />
Meskipun begitu, hendaknya ia tidak banyak bertanya kecuali jika dibutuhkan, tentunya dengan sikap sopan dan beradab.</li>
<li>Hadir di majlis sebelum guru datang.</li>
<li>Tidak memotong pembicaraannya.</li>
<li>Hendaknya ia memuliakan guru tanpa berlebihan. Hal itu, karena ia membawa kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</li>
<li>Diam memperhatikan apa yang disampaikan oleh guru.<br />
Sufyan Ats Tsauriy rahimahullah pernah berkata: &#8220;Ilmu diawali dengan mendengarkan, lalu memperhatikan, kemudian menghapalnya, lalu mengamalkan kemudian menyebarkan.&#8221;</li>
</ol>
<p><em>Penulis: Marwan Hadidi</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimbarjumat.com/archives/1376/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail</title>
		<link>http://mimbarjumat.com/archives/1368</link>
		<comments>http://mimbarjumat.com/archives/1368#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Oct 2011 03:44:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unduk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[disembelih]]></category>
		<category><![CDATA[Ibrahim]]></category>
		<category><![CDATA[Ismail]]></category>
		<category><![CDATA[kecintaan]]></category>
		<category><![CDATA[melaksanakan]]></category>
		<category><![CDATA[perintah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mimbarjumat.com/?p=1368</guid>
		<description><![CDATA[Kisah keluarga Nabi Ibrahim adalah kisah teladan bagi setiap rumah tangga Muslim dalam menjalani problematika rumah tangga. Serentetan ujian yang bergulir tiada henti dalam kehidupannya. Namun semua itu tidak menjadikan bahtera rumah tangganya goncang bahkan semakin bertambah kuat perkasa.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1369" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a href="http://bumbudapur.com/2011/10/tumis-bunga-pepaya/"><img class="size-full wp-image-1369" title="kambing kurban" src="http://mimbarjumat.com/wp-content/uploads/2011/10/kambing-kurban.jpg" alt="kambing kurban" width="230" height="216" /></a><p class="wp-caption-text">kambing kurban</p></div>
<p>Kisah <a title="Islamnya Keluarga Yasir" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/04/islamnya-keluarga-yasir.html" target="_blank">keluarga</a> Nabi Ibrahim adalah kisah teladan bagi setiap rumah tangga Muslim dalam menjalani problematika rumah tangga. Serentetan ujian yang bergulir tiada henti dalam kehidupannya. Namun semua itu tidak menjadikan bahtera rumah tangganya goncang bahkan semakin bertambah kuat perkasa.</p>
<p>Sekian tahun lamanya keluarga <a title="Kisah Nabi Ibrahim s.a dan Siti Sarah" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/04/kisah-nabi-ibrahim-sa-dan-siti-sarah.html" target="_blank">Ibrahim</a> menanti sang buah hati. Telah banyak linangan air mata dalam doanya untuk di karuniai seorang putra sebagai penerus perjuangannya. Ketika sang buah hati telah hadir dan merekah dalam hatinya, maka Allah hendak menguji <a title="Musibah Sebagai Ujian Keimanan" href="http://mimbarjumat.com/archives/1149" target="_blank">keimanan</a> nabi Ibrahim dengan sang buah hatinya. Allah berfirman dalam al-Qur&#8217;an.</p>
<p>&#8220;<em>Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: &#8216;Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!&#8217; Ia menjawab: &#8216;Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar&#8217;</em>.&#8221; (QS. Ash-Shaffat: 102)</p>
<p>Siapapun pasti akan merasa berduka ketika buah hatinya sakit dan terluka. Apalagi anak semata wayang yang sekian tahun dinanti kehadirannya diperintahkan untuk disembelih sebagai bukti keimanannya. Meski demikian Nabi Ibrahim yakin bahwa <a title="Mimpi Besar Indonesia Makmur Tahun 2011" href="http://mimbarjumat.com/archives/101" target="_blank">mimpi</a> yang dialaminya adalah wahyu dari Allah bukan sekedar halusinasi dan bisikan setan. Akhirnya iapun bertekad melaksanakan perintah Allah tersebut bersama anaknya.</p>
<p><span id="more-1368"></span><strong>Kebersamaan Ibrahim dan Ismail dalam Menjalankan Perintah Allah</strong></p>
<p>Setelah Nabi Ibrahim mengetahui bahwa hal tersebut adalah wahyu dari Allah, maka segera ia kabarkan kepada Ismail putranya tercinta seraya meminta pendapatnya. Sungguh dia seorang anak yang berbakti pada orang tuanya. Begitu juga santun <a title="Akhlak" href="http://mimbarjumat.com/archives/29" target="_blank">akhlak</a> dan budi pekertinya.</p>
<p>Ketika mendengar hal tersebut adalah wahyu Allah yang disampaikan pada ayahnya tercinta, maka ia tidak lagi berpikir <a title="Cara Sederhana Membuat Hari Kita Lebih Panjang" href="http://carahidupkita.blogspot.com/2010/01/cara-sederhana-membuat-hari-kita-lebih.html" target="_blank">panjang</a> memberikan jawaban untuk melaksanakan perintah Allah. Isma&#8217;il yang masih belia itu dengan tegas mengatakan pada ayahnya.</p>
<p>&#8220;Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.&#8221;</p>
<p>Subhanallah&#8230; Iman setebal apakah yang menghiasi keluarga Nabi Ibrahim hingga ujian seberat itu dihadapi dengan penuh kesabaran? Kita benar-benar terheran dan takjub dengan keduanya yang bertekad kuat bersama-sama melaksanakan perintah Allah meskipun seolah tak tertahankan oleh jiwa.</p>
<p>Begitulah ketika orang tua tulus berdoa kepada Allah untuk anaknya kemudian mendidik dengan ajaran-ajaran <a title="Hakikat Tauhid Dalam Kehidupan" href="http://mimbarjumat.com/archives/115" target="_blank">tauhid</a> maka anak akan tumbuh dengan pribadi shalih yang berbakti pada orang tuanya.</p>
<p><strong>Kisah Penyembelihan</strong></p>
<p>Tak terbayangkan suasana tatkala Nabi Ibrahim hendak melaksanakan perintah Allah. Haru-biru dan menegangkan bergejolak dalam jiwa sang ayah yang begitu <a title="Kisah Cinta Penjual Buah Dengan Penjual Sayur" href="http://pelangiku.com/2010/10/kisah-cinta-penjual-buah-dengan-penjual-sayur/" target="_blank">cinta</a> pada anak semata wayangnya. Keraguan pun terkadang menggelayuti di dalam benak Ibrahim.</p>
<p>Namun setiap setan kali datang menghampiri segera ia tepis dan meminta perlindungan kepada Allah. Ibrahim dan Isrnail pun berserah diri, Kecintaan Ibrahim pada Allah telah mengalahkan kecintaan pada anaknya.</p>
<p>Begitu juga kecintaan Ismail pada Allah mengalahkan kecintaan pada dirinya sehingga rela mengorbankan nyawanya. Maka dimulailah pelaksaan perintah Allah sebagaimana firman-Nya: &#8220;<em>Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, nyatalah kesabaran keduanya</em>. &#8220;(QS. ash-Shoffat:103)</p>
<p>Ibnu Katsir berkata dalam menafsirkan ayat ini, &#8220;Ia (Ibrahim) telungkupkan ke tanah untuk disembelih dari arah tengkuknya tanpa melihat wajahnya saat disembelih agar lebih ringan bagi perasaannya.&#8221;</p>
<p>Ketika telah sempurna merebahkan putranya dan mata pisau mulai dipancangkan untuk di ayurikan ke leher Ismail. Saat itu Allah mengetahui kejujuran Ibrahim dan Ismail. Allah berfirman memuji Ibrahim.</p>
<p>&#8220;<em>Dan Kami panggillah dia: &#8216;Hai Ibrohim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik&#8217;</em>. &#8221; (QS. ash Shaffat: 104-105)</p>
<p>Akhirnya Allah pun menjadikan jalan keluar dari ujian mereka berdua. Allah ganti Ismail dengan seekor sembelihan yang besar. Allah berfirman, &#8220;<em>Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar</em>.&#8221; (QS. ash-Shaffat:104-105)</p>
<p>Haru biru telah memenuhi ruang <a title="Mata Kita, Jendela Hati" href="http://pelangiku.com/2009/04/mata-kita-jendela-hati/" target="_blank">hati</a> Ibrahim dan Ismail. Perasaan gemuruh telah berubah menjadi samudra kebahagian. Gelombang ujian yang begitu dahsyat telah pecah dengan tekad mereka yang tegar bagai karang di tengah lautan. Tak pernah goyang meskipun diterjang kuatnya badai dan gelombang.</p>
<p>Sungguh kisah mereka teladan abadi keluarga muslim sepanjang zaman.</p>
<p><strong>Pelajaran dari Kisah Ismail bagi Seorang Muslim</strong></p>
<p>Dalam kisah Ismail banyak sekali terdapat ibrah dan nasihat yang dapat dijadikan oleh para da&#8217;i sebagai topik <a title="Efektifkan Dakwah Ditengah Kemajuan Zaman" href="http://mimbarjumat.com/archives/1097" target="_blank">dakwah</a> di seluruh lini masyarakat, diantara ibrah dan nasihat yang bisa kita petik dari kisah Nabi Ismail adalah:</p>
<ol>
<li> Mengikat diri dalam perintah Allah dan segala perintah-Nya bukanlah dalam rangka menzholimi dan menyusahkan seorang hamba.</li>
<li>Ismail adalah suri tauladan bagi pemuda muslim dalam berbakti pada orang tua terlebih ketaatannya kepada perintah Allah.</li>
<li>Menghilangkan lara kesedihan dengan taat pada Allah. Itulah obat mujarab. Barangsiapa yang bersedih hati hendaklah mendekatkan diri pada Allah dengan <a title="Ketaatan Anak Saleh" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/03/ketaatan-anak-saleh.html" target="_blank">ketaatan</a>.</li>
<li>Cobaan Allah terhadap hamba-hamba-Nya yang <a title="Menyelamatkan Seorang Mukmin dari Kejaran Musuh" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/04/menyelamatkan-seorang-mukmin-dari.html" target="_blank">mukmin</a> menunjukkan bukti kecintaan Allah. Ketika Allah menguji hamba-Nya hakikatnya Dia sedang mencintainya.</li>
<li>Berhias dengan akhlak yang Islami yaitu dengan senantiasa menepati <a title="Janji Adalah Utang" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/04/janji-adalah-utang.html" target="_blank">janji</a> dan berhusnuzhon kepada Allah.</li>
<li>Memenuhi hak keluarga seperti bermusyawarah kepada anak ketika hendak mengerjakan suatu perkara yang berkaitan dengannya begitu juga kebersamaan dalam melaksanakan perintah Allah.</li>
<li>Tidak boleh bermaksiat kepada Allah dengan alasan memenuhi hak keluarga.</li>
<li>Perintah berkorban kepada Allah dengan <a title="Mencuri Harta Rampasan" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/03/mencuri-harta-rampasan.html" target="_blank">harta</a> dan jiwa. Dan dari kisah Nabi Ibrahim dan Ismail di syariatkan bagi umat islam berkurban dengan menyembelih kambing.</li>
<li>Kesabaran dan tekad yang kuat dalam menjalankan perintah Allah membuahkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.</li>
<li>Hendaknya bagi seorang Muslim senantiasa menepis dan membuang keraguan dan bisikan setan ketika hendak menjalankan ketaatan kepada Allah</li>
</ol>
<p>Demikian beberapa hikmah dari kisah Ibrahim dan Ismail dalam kehidupan seorang Muslim. Sungguh kalau kita mau menggali masih banyak sekali hikmah yag terkandung di dalamnya. Wallahu a&#8217;lam bishawab.</p>
<p><em>Sumber: Buletin Dakwah Hasmi, E. 36 &#8211; 14 Oktober 2011</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimbarjumat.com/archives/1368/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Al-Lathif</title>
		<link>http://mimbarjumat.com/archives/1360</link>
		<comments>http://mimbarjumat.com/archives/1360#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Oct 2011 16:15:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unduk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Lathif]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[halus]]></category>
		<category><![CDATA[lembut]]></category>
		<category><![CDATA[sifat Allah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mimbarjumat.com/?p=1360</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu sifat Allah Al-Lathif bermakna Allah yang Maha Lembut. Termasuk didalamnya halus, lembut, amat kecil halus tersembunyi. Allah halus sekali caranya, hingga tercapai apa yang diinginkan-Nya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1361" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a href="http://bumbudapur.com/2011/05/jamur-crispy/"><img class="size-full wp-image-1361" title="al-lathif" src="http://mimbarjumat.com/wp-content/uploads/2011/10/al-lathif.jpg" alt="al-lathif" width="230" height="267" /></a><p class="wp-caption-text">selembut kabut</p></div>
<p>Semoga Allah mengaruniakan kita kepekaan, karena orang-orang yang peka Insya Allah akan bisa berbuat lebih <a title="Terlalu Banyak Minum Susu, Amankah?" href="http://bayibalita.com/2010/08/terlalu-banyak-minum-susu-amankah/" target="_blank">banyak</a> dibanding orang yang tidak peka terhadap keadaan.</p>
<p>Salah satu sifat Allah &#8220;Al-Lathif&#8221; bermakna Allah yang Maha Lembut. Termasuk didalamnya halus, lembut, amat kecil halus tersembunyi. Namun dalam pengertian ini adalah Allah Subhanahu wa ta&#8217;ala <a title="Tips Latihan Motorik Halus" href="http://bayibalita.com/2010/10/tips-latihan-motorik-halus/" target="_blank">halus</a> sekali caranya, hingga tercapai apa yang diinginkan-Nya dengan cara yang tersembunyi dan tak terduga.</p>
<p>Allah menciptakan kita dan Dialah Allah yang Maha Tahu dengan detil siapa diri kita. Allah-lah yang tahu kebutuhan <a title="Cantik Bukan Cuma Fisik" href="http://pelangiku.com/2009/09/cantik-bukan-cuma-fisik/" target="_blank">fisik</a> kita. Allah tahu akan kebutuhan kita bahkan lebih tahu dari diri kita sendiri, tidak mintapun kebutuhan kita sudah dipenuhi.</p>
<p>Siapa yang mengurus kita mulai dari janin di perut ibu. Kita tidak pernah mempertimbangkan berapa kebutuhan zat-zat pembentuk <a title="Bodyguard Tulang" href="http://pelangiku.com/2009/03/bodyguard-tulang/" target="_blank">tulang</a>, otak dan jantung. Dialah yang Maha Lembut, Dialah Allah yang Maha Sempurna. Pada saat bayi lahir ke bumi langsung berteriak tidak ada yang mengajarinya menangis tapi bayi menangis.</p>
<p><span id="more-1360"></span>Kita lihat lukisan kuda, kita terpesona kepada pelukisnya bahkan memujinya. Akan tetapi kenapa kalau lihat kuda betulan tidak terpesona kepada penciptanya.</p>
<p>Melihat patung yang dibuat dari lilin yang mirip sekali, kita puji pembuatnya. Kenapa kepada yang membuat pembuat patung kita tidak terpesona. Seharusnya kekaguman kita tiada henti hanya kepada Allah yang Maha Pencipta, sebetulnya keterpesonaan kepada Allah sudah dapat menghabiskan waktu kita.</p>
<p>Allah yang memberi rizki kepada kita, tapi rizki tidak harus identik dengan uang. Kalau cita-cita kita hidup di <a title="Dunia" href="http://mimbarjumat.com/archives/292" target="_blank">dunia</a> ini hanya mencari isi perut, terlalu rendah kita ini. Kalau orang bekerja hanya mencari isi perut, maka derajat dia tidak jauh beda dengan yang keluar dari isi perut.</p>
<p>Allah Maha Tahu, bahwa kita lapar karena Dia yang menciptakan lapar. Logikanya sederhana: masa Allah menciptakan perut tidak ada isinya, kuncinya adalah ikhtiar mencari rizki yang halal semata-mata karena Allah.</p>
<p>Ada yang lebih halus lagi yaitu Allah memberikan ide kepada kita. pikiran kita sangat tertutup tiba-tiba ada ide jadi tahu jalan keluarnya, membaca satu suku kata tiba-tiba paham dan menghayati. Itu semua Allah yang membukakan <a title="Menuju Pintu Ampunan Allah" href="http://mimbarjumat.com/archives/933" target="_blank">pintu</a> hikmah hingga kita nendapat hidayah.</p>
<p>Suami, istri rukun itu karena Allah yang membalikkan hatinya. Timbul kesadaran saling nenasehati itu terjadi hanya oleh kekuasaan Allah. Maka jangan risau dengan kebutuhan dan <a title="Masjid dan Pengurusan Masalah Sosial" href="http://mimbarjumat.com/archives/79" target="_blank">masalah</a>, jangan risau oleh harapan kita dan Allah Maha Tahu jalan untuk menggapai segala kebutuhan itu. Masalah kita adalah apakah harapan, kebutuhan, keinginan, ketakutan bisa membuat kita dekat dengan Allah atau tidak? Itu intisari dan poinnya.</p>
<p>Tidak jarang <a title="Jerat Hutang" href="http://mimbarjumat.com/archives/683" target="_blank">hutang</a> membuat orang jadi shaleh dan lunas membuat orang tidak shaleh. Jangan panik menghadapi hidup ini. Apakah suatu ancaman dan ketakutan itu akan membuat kita semakin dekat dengan Allah, itulah yang sangat penting.</p>
<p>Maka dalam situasi sepelik apapun, teruslah ingat bahwa Allah Maha Peka terhadap diri kita. Allah Maha Tahu keadaan diri kita. Allah Maha Tahu kita dihina, akan tetapi tidak menjadi sengsara.</p>
<p>Siapa tahu penghinaan ini datang sebagai teguran dari Allah. Orang-orang yang berhasil adalah yang selalu mengaitkan sesuatu yang terjadi dengan kepekaan, kemahalembutan Allah.</p>
<p>Kebahagiaan terbesar dalam hidup ini adalah ketika kita mulai yakin kepada Allah. sehingga kita meniru sifat &#8220;al-Latif&#8221; ini dengan belajar peka terhadap keadaan. Hati yang <a title="Si Bening Menyehatkan" href="http://pelangiku.com/2009/04/si-bening-menyehatkan/" target="_blank">bening</a> jika sedikit saja berbuat dosa akan peka merasakannya. Bila hati bening seberkas cahaya ilmu saja akan masuk menerangi hatinya dan orang lain di sekitarnya.</p>
<p>Itulah orang yang berhati bening. Tetapi bila orang berhati keruh, diperciki cahaya tidak akan masuk kedalam hatinya apalagi mencahayai orang lain. Hati yang keruh meskipun banyak <a title="Ilmu adalah Amanah" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/03/ilmu-adalah-amanah.html" target="_blank">ilmu</a>, ilmunya tidak menjadi cahaya bagi dirinya juga tidak mencahayai yang lain.</p>
<p>Orang yang berhati bersih peka semuanya jadi ilmu. Peka semuanya jadi ladang amal. Sedang jalan tiba-tiba ada orang bersin, ucapkan &#8220;Yarhamukallah&#8221;. Itulah kepekaan ladang amal. Kita tidak akan <a title="Cita-cita Mulia" href="http://mimbarjumat.com/archives/152" target="_blank">mulia</a> dengan keserakahan. Tidak ada satu pengorbananpun yang disia-siakan kalau ikhlas. Kalau tujuan kita karena Allah, sudah lewat itu namanya egois, tinggi hati dan sebagainya.</p>
<p>Tanda orang peka adalah bersedekah sebelum orang lain minta. Jangan sampai orang duluan minta, tapi kita yang memberi terlebih dahulu. Seorang suami yang bijak, dengan tambahnya usia <a title="Kepekaan Seorang Istri" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/02/kepekaan-seorang-istri.html" target="_blank">istri</a> harus peka dan bijak.</p>
<p>Siti Khadijah semakin tua, semakin bening hatinya, lewat itu kecantikan tubuhi berganti kemuliaan akhlak. Allah Maha Adil, tidak mungkin ketuaan kita menjadi kehinaan, tapi masih ada kemuliaan lain yaitu kemuliaan akhlak.</p>
<p>Kita harus peka terhadap tetangga. Siapa <a title="Cara Bertemu dengan Tetangga" href="http://carahidupkita.blogspot.com/2010/01/cara-bertemu-dengan-tetangga.html" target="_blank">tetangga</a> kita yang miskin, yang tidak makan, yang anaknya tidak sekolah, itu tandanya peka. Jangan sampai menikmati hasil sendiri karena kekayaan sesungguhnya adalah bukan yang kita kumpulkan tapi yang kita nafkahkan. Seorang pimpinan harus peka terhadap karyawan, jangan sampai karyawan berat dengan kehidupannya, sedangkan pimpinan hidup dengan segala kemewahannya.</p>
<p>Musuh terbesar tentara adalah bukan dari luar, tapi musuh terbesar tentara adalah ketika tidak dicintai oleh rakyatnya. Komandan harus peka terhadap keadaan, sejahterakan prajurit. Komandan asli bukan pada mobilnya, tapi pada hati dan akhlaknya. Mari kita bangkitkan bangsa ini dengan kekayaan hati.</p>
<p><em>Sumber: Buletin Qolbun Salim, Edisi 130 &#8211; 7 Oktober 2011</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimbarjumat.com/archives/1360/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

