<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Mimbar Jum'at</title>
	<atom:link href="http://mimbarjumat.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mimbarjumat.com</link>
	<description>Kumpulan artikel selebaran media jum'at</description>
	<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 10:03:47 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Meminta Maaf</title>
		<link>http://mimbarjumat.com/archives/1124</link>
		<comments>http://mimbarjumat.com/archives/1124#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 10:02:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unduk</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>

		<category><![CDATA[Sosial]]></category>

		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<category><![CDATA[maaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mimbarjumat.com/?p=1124</guid>
		<description><![CDATA[Mana yang yang lebih dahulu mengulurkan tangan dan mengucapkan maaf, maka itulah seorang ksatria. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1125" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/03/ilmu-adalah-amanah.html"><img class="size-full wp-image-1125" title="minta maaf" src="http://mimbarjumat.com/wp-content/uploads/2010/03/minta-maaf.jpg" alt="minta maaf" width="230" height="312" /></a><p class="wp-caption-text">minta maaf</p></div>
<p>Pernahkah kita meminta maaf kepada anak-anak sendiri? Jika dilakukan jajak pendapat, rasa-rasanya yang menjawab &#8220;Ya&#8221; hanya sedikit.</p>
<p>Mungkin sebagian besar masyarakat kita malah akan terheran-heran kalau ada yang bertanya demikian kepadanya, karena bagaimana mungkin orang tua meminta maaf kepada anaknya.</p>
<p>Ada satu hal yang menarik perhatian dalam suatu acara akad nikah. Yaitu pada saat seorang ayah memberikan sambutan dan nasehat untuk putrinya, &#8220;Saya atas nama ayahmu dan juga atas nama ibumu dengan ini mengikhlashkan dan merestui pemikahan ananda. Sebagai orang tua, kami meminta maaf kepada ananda atas segala kekurangan dan kesalahan yang telah kami perbuat selama mendidik dan mengasuhmu sejak kecil hingga saat menyerahkan tanggungjawab itu kepada suamimu&#8221;.</p>
<p>Yang hadir dan menyaksikan peristiwa tersebut tampak terpukau dan terbawa perasaan mendengar ucapan sang ayah kepada putrinya yang saat itu baru saja melangsungkan akad nikah. Sambil mengalirkan air mata sang ayah dan ibu mengantarkan putrinya ke pelaminan.</p>
<p><span id="more-1124"></span>Dalam tradisi masyarakat kita yang lazim ditegakkan adalah prinsip patron dan clien (atasan-bawahan, bapak-anak). Orang tua adalah pemberi titah yang tidak boleh dilanggar oleh anak-anaknya. Anak wajib menurut, dan dia pun terbiasa enggan untuk melanggar atau mengkonfrontir segala apa yang jadi titah orang tuanya.</p>
<p>Orang tua memang selalu berada pada pihak yang &#8220;benar&#8221; dan &#8220;dimenangkan&#8221;, sementara anak berada di pihak yang &#8220;salah&#8221; dan cendrung &#8220;keliru&#8221;.</p>
<p>Karena tradisi itu pula jarang tampak, orang tua meminta maaf kepada anaknya, meski ia <a title="Cara Membuat Orang Tua Sadar Bahwa Kita Sudah Dewasa" href="http://carahidupkita.blogspot.com/2010/01/cara-membuat-orang-tua-sadar-bahwa-anda.html" target="_blank">sadar</a> bahwa ia telah melakukan kesalahan, apalagi kalau memang si orang tua tak merasa &#8220;bersalah&#8221; atau &#8220;khilaf&#8217; sama sekali.</p>
<p>Lihat saja pada saat lebaran, selalu yang meminta maaf adalah anak atau yang muda terlebih dahulu. Dan lazim pula saat lebaran pihak yang merasa dituakan merasa &#8220;tersinggung berat&#8221; saat kerabatnya yang lebih muda tidak hadir atau tidak mengcapkan selam lebaran dan meminta maaf terlebih dahulu, walau hanya via telepon atau <a title="Template SMS Idul Fitri" href="http://mimbarjumat.com/archives/147" target="_blank">sms</a>.</p>
<p>Kenyataannya, kalau ada yang tua meminta maaf kepada yang muda maka itu dianggap sesuatu yang tidak lazim.</p>
<p>Bila kita melihat dengan dari sudut pandang agama Islam, meminta maaf atau mengakui kesalahan itu tidak diukur dengan usia dan status, mau tua atau muda, mau anak atau orang tua, atasan atau bawahan, majikan atau pembantu. Mana yang yang lebih dahulu mengulurkan tangan dan mengucapkan maaf, maka itulah seorang ksatria.</p>
<p>Disamping meminta maaf kepada manusia adalah bagian dari jalan bertaubat, tetapi meminta maaf juga mempunyai hikmah yang lain, yang diantaranya adalah <a title="Usaha dan Doa" href="http://mimbarjumat.com/archives/609" target="_blank">usaha</a> untuk menghindari terputusnya tali kasih-sayang (silaturrahim) antar sesama.</p>
<p>Memutus tali silaturrahim itu adalah haram dan sangat dibenci oleh Allah SWT. Maka dari itu menyambung dan memeliharanya adalah suatu keharusan dan wajib hukumnya.</p>
<p>Itu pulalah kiranya mengapa Allah SWT tiada akan memaafkan seorang hamba yang khusyu&#8217; memohon keampunan-Nya atas kesalahan terhadap manusia, sebelum ia meminta maaf atas kesalahan dan kekhilafan tersebut diantara sesama mereka.</p>
<p>Do&#8217;anya hanya akan menjadi sia-sia. Lebih dari itu semua, memberi maaf dan meminta maaf adalah sarana utama bagi seorang hamba dalam rangka mendekatkan dirinya pada ketaqwaan. Sebagaimana firmanAllah SWT &#8220;<em>&#8230; dan pemaafan kamu itu lebih dekat kepada takwa</em>&#8220;. (<a title="QS. Al-Baqarah" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/2" target="_blank">QS. Al-Baqarah [2]</a>: 237).</p>
<p>Menjadi seseorang yang gemar meminta maaf dan memberi maaf adalah ciri seorang muslim. Seberapapun besar kesalahan orang terhadap kita, lalu kita beri kesempatan orang memperbaiki diri dengan pemberian maaf kita itu adalah jauh lebih utama daripada menyimpannya, apalagi sampai bersiasat untuk membalas dendam.</p>
<p>Dan salah satu ciri orang yang bertakwa yang akan mendiami surga Allah adalah orang gemar memberi maaf. Firman Allah SWT, &#8220;<em>Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema&#8217;afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan</em>&#8220;. (<a title="QS. Ali Imran" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/3" target="_blank">QS. Ali Imran [3]</a>: 133-134).</p>
<p>Namun perlu juga dipefhatikan, bahwa meminta atau memberi maaf harus disampaikan dengan tulus penuh keikhlasan. Ego dan gengsi harus dilepaskan.</p>
<p>Manakala meminta maaf tidak diiringi dengan ketulusan dan kaikhlasan, maka selamanya pengaruh positif dari meminta atau memberi maaf itu tidak akan dapat dirasakan pengaruhnya. Bahkan sebaliknya hanya akan menambah semangat bermusuhan dan balas dendam.</p>
<p><em>Sumber: Buletin Mimbar Jum&#8217;at No. 17 Th XXIII</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimbarjumat.com/archives/1124/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kaya Untuk Miskin</title>
		<link>http://mimbarjumat.com/archives/1119</link>
		<comments>http://mimbarjumat.com/archives/1119#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Mar 2010 14:10:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unduk</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>

		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>

		<category><![CDATA[harta]]></category>

		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<category><![CDATA[kekayaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mimbarjumat.com/?p=1119</guid>
		<description><![CDATA[sebaik-baik kekayaan adalah di tangan Muslim yang dermawan. Yakni, yang memandang keluasan harta benda sebagai penolong agama.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1120" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/02/salman-al-farisi-ra-pencari-kebenaran.html"><img class="size-full wp-image-1120" title="banyak duit" src="http://mimbarjumat.com/wp-content/uploads/2010/03/kayaraya.jpg" alt="banyak duit" width="230" height="165" /></a><p class="wp-caption-text">banyak duit</p></div>
<p>&#8220;<em>Jika kau ingin menemuiku, carilah aku di tengah-tengah orang miskin</em>,&#8221; kata Nabi Muhammad SAW. Dan beliau wafat dengan meninggalkan utang gadai baju besi kepada seorang <a title="karakter yahudi" href="http://mimbarjumat.com/archives/353" target="_blank">yahudi</a>.</p>
<p>Wasiat Rasulullah itulah yang membuat Shalahuddin Al Ayyubi memilih <a title="Islam dan kemiskinan" href="http://mimbarjumat.com/archives/91" target="_blank">miskin</a> hingga akhir hayat. Pada 1193, Sang Penakluk Aqsha (1192), meninggal dunia.</p>
<p>Ketika peti harta warisan Shalahuddin dibuka, isinya nyaris kosong. Bahkan sekadar untuk biaya pemakamannya pun tak cukup. Gaji, bagian <em>ghanimah</em> maupun <em>fa&#8217;i</em> yang diterima Jendral Shalahuddin semasa hidupnya, habis dibagikan kepada kaum dhuafa.</p>
<p>Demikianlah, Sholahuddin Al Ayyubi adalah Orang Kaya yang Kaya. Seperti dikatakan Rasulullah: <em>Bukanlah orang kaya itu yang banyak harta-benda, tapi sejatinya orang kaya adalah yang kaya jiwanya</em> (HR Al-Bukhari dan Muslim dari <a title="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/02/kiat-abu-hurairah-ra-menghafal-hadis.html" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/02/kiat-abu-hurairah-ra-menghafal-hadis.html" target="_blank">Abu Hurairah</a>).</p>
<p><span id="more-1119"></span>Orang kaya macam Shalahuddin Al Ayyubi &#8220;tidak punya waktu&#8221; untuk menikmati kekayaan harta-bendanya sendiri. Dia kaya untuk miskin. Kaum dhuafa lah yang menikmati kekayaan beliau.</p>
<p>Sesuai kata Nabi Muhammad SAW, sebaik-baik kekayaan adalah di tangan Muslim yang dermawan. Yakni, kata Abu Ishaq as Sabi&#8217;i dalam Kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin, yang memandang keluasan harta benda sebagai penolong <a title="agama-agama baru" href="http://mimbarjumat.com/archives/84" target="_blank">agama</a>.</p>
<p>Orang berjiwa kaya seperti Shalahuddin Al Ayyubi, bahkan bisa disebut sebagai &#8220;egois&#8221; bila tidak berusaha mencari <a title="harta" href="http://mimbarjumat.com/archives/1104" target="_blank">harta</a> sebanyak-banyaknya.</p>
<p>Kok?</p>
<p>Seandainya kita mau memikirkan kepentingan <a title="keluarga pemegang kunci ka'bah" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/03/keluarga-pemegang-kunci-kabah.html" target="_blank">keluarga</a> lainnya, baik keluarga sedarah maupun keluarga seiman yang dhuafa dan membutuhkan bantuan finansial, maka kita tidak akan pernah merasa cukup meskipun penghasilan kita Rp 1 Milyar perbulan!</p>
<p>Penghasilan Rp 5 juta atau 10 juta perbulan, mungkin cukup untuk makan kita dan keluarga, pendidikan anak, cicilan rumah, mobil, zakat/infaq dan sedikit tabungan.</p>
<p>Cukup memang jika kita hanya memikirkan diri dan keluarga kita saja. Tapi kita harus berusaha mendapatkan lebih banyak lagi, karena terlalu banyak <a title="kerapuhan spiritual umat islam" href="http://mimbarjumat.com/archives/36" target="_blank">umat Islam</a> yang harus dibantu secara finansial. Maka, sebanyak-banyaknya uang harus kita hasilkan, dan sebanyak-banyaknya orang harus menikmati manfaat dari yang kita hasilkan.</p>
<p>Tapi hati-hati, jangan sebaliknya malah menjadi Orang Kaya yang Miskin. Yang sudah diberi kelebihan materi, namun tidak pernah merasa cukup dan selalu merasa kurang. Bagaikan meminum air laut. Itulah yang menyebabkannya miskin.</p>
<p>Memang, setiap <a title="manusia diciptakan sebaik-baiknya" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/02/manusia-diciptakan-sebaik-baiknya.html" target="_blank">manusia</a> berpotensi untuk kemaruk harta. &#8220;<em>Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan</em>&#8221; (QS Al-Fajr: 20).</p>
<p>Rasulullah SAW pun telah memperingatkan: &#8220;<em>Seandainya anak Adam memiliki dua lembah yang dipenuhi harta kekayaan, dia pasti menginginkan lembah yang ketiga</em>&#8221; (HR Tirmidzi dari <a title="kecemerlangan ilmu ibnu abbas" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/02/kecemerlangan-ilmu-ibnu-abbas-ra.html" target="_blank">Ibnu Abbas</a>).</p>
<p>Selanjutnya, kerakusan biasanya berjalin-kelindan dengan kebakhilan. &#8220;<em>Dan sungguh dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta</em>&#8221; (<a title="QS. Al-Aadiyat" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/100" target="_blank">QS. Al-Adiyat</a>: 8). Dia sewa sepasukan bodyguard untuk melindunginya dari sentuhan kaum dhuafa. Belum cukup setengah lusin satpam yang bertugas 2 shift siang-malam menjaga rumahnya, dia bangun pagar rumah senilai milyaran rupiah.</p>
<p>Kerakusan secara <a title="menjadi manusiawi" href="http://mimbarjumat.com/archives/781" target="_blank">manusiawi</a> bahkan mengikuti laju usianya. Seperti diingatkan Nabi, &#8220;<em>Hati orang tua yang telah lanjut usia cenderung pada dua hal, yaitu umur panjang dan banyak harta</em>&#8221; (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah).</p>
<p>Orang yang kaya-rakus-bakhil, sejatinya dia orang miskin. Dia dengan segenap kekayaannya tidaklah menakutkan, tapi menyedihkan. Karena sejatinya dia tidak lebih mulia ketimbang binatang. Bahkan lebih nista lagi.</p>
<p>Firman Allah SWT: &#8220;<em>Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadikan pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat jalannya (dari binatang)</em>&#8221; (<a title="QS. Al-Furqan" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/25" target="_blank">QS. Al Furqan</a>: 43-44).</p>
<p>Orang Kaya yang Miskin, tidak menyadari bahwa dia diciptakan lebih mulia dari setan. Dia justru takluk pada setan yang &#8220;<em>&#8230; menakut-nakuti kalian dengan kemiskinan</em>&#8221; (<a title="QS. Al-Baqarah" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/2" target="_blank">QS. Al- Baqarah</a>: 268).</p>
<p><em>Naudzubillahi mindzalik!</em></p>
<p><em>Sumber: Dialog Jum&#8217;at Tabloid Republika - 29 <a title="archive januari 2010" href="http://mimbarjumat.com/archives/date/2010/01" target="_blank">Januari 2010</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimbarjumat.com/archives/1119/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Masih Bolehkah Kita Tidak Bersyukur Kepada Allah?</title>
		<link>http://mimbarjumat.com/archives/1115</link>
		<comments>http://mimbarjumat.com/archives/1115#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 15:40:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unduk</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Taqwa]]></category>

		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<category><![CDATA[syukur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mimbarjumat.com/?p=1115</guid>
		<description><![CDATA[Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1116" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a href="http://pelangiku.com/2010/03/jangan-impulsif-donk/"><img class="size-full wp-image-1116" title="bersyukur" src="http://mimbarjumat.com/wp-content/uploads/2010/03/bersyukur.jpg" alt="bersyukur" width="230" height="301" /></a><p class="wp-caption-text">bersyukur</p></div>
<p>&#8220;<em>Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang</em> &#8221; (<a title="QS. An-Nahl" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/16" target="_blank">QS. An Nahl</a>: 18)</p>
<p>Ketika kita kecil, di musholla kecil yang mungkin tempat kita pertama belajar mengaji, selalu diajarkan oleh guru kita, betapa nikmat yang diberikan Allah begitu besar. Dari bentuk tubuh kita yang sempurna sampai kemampuan kita untuk bisa <a title="cara belajar imam syafei" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/02/cara-belajar-imam-syafii.html" target="_blank">belajar</a>. Itu semua adalah karunia Allah yang harus disyukuri.</p>
<p>Bilamana tangan kita berfungsi dengan baik, kaki, <a title="mata kita jendela hati" href="http://pelangiku.com/2009/04/mata-kita-jendela-hati/" target="_blank">mata</a>, hidung, mulut, telinga, semua adalah pemberian Allah yang tidak bisa kita balas dengan apapun. Termasuk kehidupan yang kita jalani adalah kemurahan Allah pada makhluk-Nya.</p>
<p>Ketika kita berada di lingkungan keluarga yang lengkap, diberi <a title="kenapa istri saya tidak bisa hamil?" href="http://mediasehat.com/tanyajawab476" target="_blank">istri</a> atau suami yang selalu menenteramkan hati, diberi anak-anak yang menggembirakan, diberi orang tua yang menyayangi kita. Ini semua juga bentuk <a title="keajaiban kasih sayang" href="http://mimbarjumat.com/archives/864" target="_blank">kasih sayang</a> Allah pada manusia.</p>
<p><span id="more-1115"></span>Tapi terkadang kita lupa satu hal. Berterimakasih kepada-Nya, bersyukur pada-Nya. Bahkan walau hanya sekedar dengan mengucap kalimat <a title="cara sederhana menekan pengeluaran" href="http://carahidupkita.blogspot.com/2009/12/cara-sederhana-menekan-pengeluaran.html" target="_blank">sederhana</a>, &#8220;Alhamdulillahirobbil &#8216;alamiin&#8221; kita lupa mengucapkannya.</p>
<p>Coba sekali saja kita coba menuliskan semua yang telah diberikan Allah pada kita. Pasti dan sangat pasti, kita akan membutuhkan sangat banyak kertas dan sangat banyak tinta untuk menulis semua kemurahan-Nya itu, bahkan itupun hanya yang kita ingat dan kita tahu. Belum lagi yang kita lupakan atau yang kita tidak sadar bahwa Allah telah memberikannya kepada kita.</p>
<p>Atau kalaupun ternyata Allah tidak memberikan suatu hal yang orang lain miliki, misalnya kita diberi tubuh yang cacat, buta atau tuli atau pincang, itu semua pun bukan berarti Allah tidak sayang kepada kita. Tapi itu sebenarnya adalah bentuk kasih sayang Allah yang lain.</p>
<p>Allah ingin menguji <a title="kekuatan sabar" href="http://mimbarjumat.com/archives/1064" target="_blank">kesabaran hamba-Nya</a>. Jika ia bersabar dengan kekurangannya, itu sudah merupakan nilai tambah tersendiri yang akan menaikkan derajatnya dimata Allah.</p>
<p>&#8220;<em>Dan sesunggguhnya Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah kamu kerjakan</em>&#8220;. (QS An Nahl : 96).</p>
<p>Lalu, masih bolehkah kita tidak bersyukur atas semua nikmatyang Allah berikan itu?</p>
<p>&#8220;<em>Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan</em>&#8221;</p>
<p>Pada hakikatnya, kita diberi <a title="tanda kehidupan " href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/02/tanda-kehidupan.html" target="_blank">kehidupan</a> di dunia ini adalah untuk dua hal yaitu bersabar dan bersyukur. Jika ditimpa musibah kita bersabar dan jika diberi kebaikan kita bersyukur. Maka kita sudah termasuk dalam golongan kebaikan.</p>
<p>Dari Suhaib r.a, bahwa Rasulullah SAW. bersabda, &#8220;<em>Sungguh menakjubkan perkaranya orangyang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya</em>.&#8221; (HR. Muslim)</p>
<p>Sabar sendiri adalah salah satu aplikasi dari rasa syukur kita kepada Allah. Dengan bersabar dan mencoba merenungi makna dibalik ujian, maka kita telah menjadi orang yang bersyukur. Karena dibalik setiap <a title="Musibah pelebur dosa" href="http://mimbarjumat.com/archives/901" target="_blank">musibah</a> dan ujian, ada banyak kebaikan yang akan kita peroleh.</p>
<p>Sakit kita mungkin saja adalah cara Allah mengangkat dosa kita. Kehilangan harta adalah cara Allah mengingatkan akan adanya hak orang lain yang harus kita tunaikan. Kehilangan salah satu keluarga dapat mengingatkan kita bahwa kita semua tidak kekal ada di dunia.</p>
<p>Bahkan segala bentuk musibah adalah bentuk kasih sayang Allah pada kita.</p>
<p>&#8220;Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan&#8221;</p>
<p>Ketahuilah bahwa keburukan yang kita lakukan tidak akan mengurangi keagungan yang dimiliki Allah dan kebaikan yang kita lakukanpun takkan pernah menambah kemuliaan Allah sebagai pemilik alam ini. Lalu bagaimana kita mengungkapkan rasa syukur kita pada Allah?</p>
<p>Ada tiga cara yang dapat kita lakukan untuk menyatakan rasa syukur itu yaitu :</p>
<ol>
<li>Mengakui di dalam bathin</li>
<li>Mengucapkannya dengan lisan</li>
<li>Menggunakan   nikmat   sesuai   dengan kehendak pemberi nikmat.</li>
</ol>
<p>Rasa syukur kita harus meresap dalam hati, kita merasakan dan menyadari bahwa apa yang kita terima adalah benar-benar kemurahan Allah. Kita pun harus mengucapkannya dengan lisan kita yaitu dengan mengucap Hamdalah setiap kali kita mendapatkan kebaikan.</p>
<p>Bukan hanya diakui dalam hati dan diucapkan dengan lisan, kita juga harus membuktikan rasa syukur kita dengan amal perbuatan. Yaitu dengan menggunakan nikmat Allah itu untuk kebaikan juga.</p>
<p>Kita gunakan waktu hidup kita untuk hal-hal yang bermanfaat, kita gunakan harta kita untuk <a title="membangun diri" href="http://mimbarjumat.com/archives/401" target="_blank">membangun</a> bukan untuk menghancurkan, kita gunakan tubuh kita untuk beribadah kepada Allah bukan bermaksiat kepada-Nya dan kita jadikan dunia ini untuk meningkatkan kedekatan kita kepada Allah bukan sebagai tujuan hidup.</p>
<p>Lalu sebenarnya apa yang kita dapatkan dari bersyukur?</p>
<p>&#8220;<em>Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumatkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu; dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.</em>&#8221; (<a title="QS. Ibrahim" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/14" target="_blank">QS Ibrahim</a> : 7)</p>
<p>Tak ada satu zarahpun perbuatan yang tidak dibalas oleh Allah. Maka ketika kita bersyukur atas segala nikmat yang kita terima, maka janji Allah adalah menambah ni&#8217;mat itu. Tapi bagi yang <a title="Menukar nikmat" href="http://mimbarjumat.com/archives/119" target="_blank">kufur nikmat</a> tentu ada balasan juga dari Allah yaitu berupa azab yang pedih.</p>
<p>Hal ini sudah ditunjukkan Allah pada umat-umat terdahulu agar itu menjadi pelajaran bagi kita. Kisah kaum Nabi Nuh, Nabi Luth, kisah kaum Tsamud, dan &#8216;Ad. Semua adalah kisah yang harus kita jadikan tolak ukur akan balasan dari Allah atas perbuatan yang kita lakukan di dunia ini. Manfaat lain dari rasa syukur kita adalah membersihkan jiwa kita.</p>
<p>Rasa syukur akan menjadikan kita menjadi manusia yang rendah hati dan tidak sombong. Sifat penghambaan pada Allah akan melekat semakin kuat karena merasa apa yang diperolehnya di dunia ini adalah dari Allah semata.</p>
<p>Hal lain yang kita dapatkan dari rasa syukur adalah mendorong jiwa untuk beramal sholeh dan mendayagunakan kenikmatan secara baik melalui hal-hal yang dapat menumbuh kembangkan kenikmatan tersebut. Kita akan mudah berbagi dengan orang lain yang kekurangan.</p>
<p>Hal ini disebabkan kesadaran kita bahwa apa yang kita miliki hanyalah titipan Allah yang harus kita jaga yang mungkin saja Allah menyertakan hak orang lain untuk kita sampaikan kepadanya. Dan ini adalah sebuah kesempatan lain yang Allah berikan pada kita untuk berbuat kebaikan.</p>
<p>Dengan demikian rasa syukur kita juga membawa dampak <a title="Menjadi Islam Kaffah dengan Muamalah yang Islami" href="http://mimbarjumat.com/archives/236" target="_blank">muamalah kita dengan manusia</a> berjalan baik. Memperbaiki dan melancarkan berbagai bentuk interaksi dalam <a title="Masjid dan Pengurusan Masalah Sosial" href="http://mimbarjumat.com/archives/79" target="_blank">sosial masyarakat</a>, sehingga harta dan kekayaan yang dimiliki dapat terlindung dengan aman.</p>
<p>Subhanallah&#8230;</p>
<p>Dari satu hal sederhana, yaitu bersyukur, kita mendapatkan banyak hal yang bahkan mungkin tidak terpikir oleh kita bahwa kita akan mendapatkannya.</p>
<p>Membuka peluang beramal baik yang lain, Habluminallah dan <em>habluminannas</em> kita berjalan dengan seimbang, kitapun masih mendapatkan limpahan pahala dari Allah. Sungguh Maha Pemurahnya Allah pada makhluk-Nya.</p>
<p>Maka mari kita bertanya pada hati kita yang paling dalam, pada kejujuran nurani kita yang masih bersih, pada kepatutan kita sebagai seorang hamba,</p>
<p><strong>Masih bolehkah kita tidak bersyukur kepada-Nya???</strong></p>
<p><em>Sumber: Lembar Jum&#8217;at Oase, Edisi ke-7 tahun 2010</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimbarjumat.com/archives/1115/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Melepaskan Diri dari Kehinaan dan Kemiskinan</title>
		<link>http://mimbarjumat.com/archives/1111</link>
		<comments>http://mimbarjumat.com/archives/1111#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Mar 2010 01:38:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unduk</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>

		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<category><![CDATA[kemiskinan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mimbarjumat.com/?p=1111</guid>
		<description><![CDATA[Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1112" class="wp-caption alignleft" style="width: 237px"><a href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/02/nabi-daud-as-membuat-pakaian-perang.html"><img class="size-full wp-image-1112" title="kemiskinan indonesia" src="http://mimbarjumat.com/wp-content/uploads/2010/03/miskin02.jpg" alt="anak miskin" width="227" height="343" /></a><p class="wp-caption-text">anak miskin</p></div>
<p>Sebagaimana telah sama-sama kita yakini bahwa Islam adalah agama yang sangat menekankan pentingnya tanggung jawab sosial kemasyarakatan, di samping penguatan hubungan dengan Allah SWT.</p>
<p>Sebab, pada dasarnya <a title="Kita tidak hidup sendiri" href="http://mimbarjumat.com/archives/923" target="_blank">manusia tidak bisa hidup sendiri</a>, akan tetapi harus saling mengenal, berinteraksi, berhubungan, dan saling menolong antara yang satu dan lainnya.</p>
<p>Karena itu, refleksi dan manifestasi keimanan seseorang terletak pada dua aspek utama, yaitu ketundukan dan kepatuhan pada aturan Allah SWT serta keharmonisan hubungan sosial dengan sesama manusia.</p>
<p>Kedua kekuatan hubungan yang bersifat vertikal dan horizontal inilah yang akan melepaskan manusia dari kehinaan dan kemiskinan.</p>
<p>Allah SWT berfirman, &#8220;<em>Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah&#8230;</em>&#8221; (<a title="QS. Ali Imran" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/3" target="_blank">QS Ali Imran [3]</a>:112).</p>
<p><span id="more-1111"></span>Terdapat banyak lagi tuntunan agama yang mengaitkan antara keimanan dan perilaku sosial seseorang. Mulai dari masalah yang dianggap sederhana, tapi punya dampak yang besar, seperti penghormatan kepada tamu, kepedulian terhadap <a title="Cara Hidup Kita: Masalah Bertetangga dan Cara Mengatasinya" href="http://carahidupkita.blogspot.com/2010/01/masalah-bertetangga-dan-cara.html" target="_blank">tetangga</a>, menumbuhkembangkan silaturahim antara keluarga dan sahabat, sampai kepada masalah yang dianggap kompleks dan berat, yang memerlukan pemikiran serius dan terencana serta sarana dan prasarana yang cukup, seperti pengentasan kemiskinan dan pemberantasan kebodohan.</p>
<p>Rasulullah SAW bersabda, &#8220;<em>Amal perbuatan yang paling utama setelah beriman kepada Allah SWT, adalah saling berkasih sayang dengan sesama manusia</em>.&#8221; (HR Thabrani). &#8220;<em>Sedekah yang paling utama adalah engkau memberikan makan pada orang yang sedang kelaparan</em>.&#8221; (HR Baihaqy dari Anas).</p>
<p>Di tengah-tengah berbagai persoalan berat yang dihadapi masyarakat dan bangsa kita saat ini, <a title="empat tanda keimanan" href="http://mimbarjumat.com/archives/197" target="_blank">penguatan keimanan</a> kepada Allah SWT dan penguatan hubungan <a title="masjid dan pengurusan masalah sosial" href="http://mimbarjumat.com/archives/79" target="_blank">sosial kemasyarakatan</a> melalui aksi-aksi nyata dan konkret yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, merupakan suatu keharusan dalam rangka melepaskan diri dari kungkungan kehinaan dan kemiskinan, baik yang bersifat natural, struktural, maupun kultural.</p>
<p>Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan <a title="hidayah dan kenikmatan beribadah" href="http://mimbarjumat.com/archives/110" target="_blank">hidayah-Nya</a> kepada kita semua. Sehingga, kita menjadi bangsa yang semakin memiliki kekuatan keimanan yang termanifestasikan dalam kesalehan pribadi (individual) ataupun kesalehan sosial.</p>
<p><em>Penulis: KH. Didin Hafidhuddin</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimbarjumat.com/archives/1111/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menggapai Ketenangan Hidup</title>
		<link>http://mimbarjumat.com/archives/1107</link>
		<comments>http://mimbarjumat.com/archives/1107#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 09:54:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unduk</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Taqwa]]></category>

		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<category><![CDATA[dzikir]]></category>

		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<category><![CDATA[kematangan jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mimbarjumat.com/?p=1107</guid>
		<description><![CDATA[Aku tinggalkan kepada kalian dua hal, Kalian tidak akan tersesat bila kalian berpegang teguh kepadanya yakni: Kitabullah (Al-Quran) dan Sunnahku (Hadits)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1108" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/02/kecerdasan-imam-bukhari.html"><img class="size-full wp-image-1108" title="selalu ingat kepada Allah" src="http://mimbarjumat.com/wp-content/uploads/2010/02/al-quran-02.jpg" alt="selalu ingat kepada Allah" width="230" height="251" /></a><p class="wp-caption-text">selalu ingat kepada Allah</p></div>
<p>Allah SWT berfirman: &#8220;<em>Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih </em>&#8221; (<a title="QS. Ibrahim" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/14" target="_blank">QS Ibrahim</a> : 7).</p>
<p>Rasulullah saw bersabda : &#8220;<em>Orang dermawan, dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dan dekat dengan syurga, sedangkan orang bakhil (pelit), jauh dari Allah, jauh dari manusia dan dekat dengan Neraka. Sungguh Allah SWT lebih mencintai hambanya yang bodoh tapi dermawan, dibandingkan dengan ahli ibadah (pandai) tapi pelit (bakhil)</em> &#8221; (Al Hadits-Riwayat <a title="kiat abu hurairah menghafal hadist" href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/02/kiat-abu-hurairah-ra-menghafal-hadis.html" target="_blank">Abu Hurairah</a>).</p>
<p>Rasulullah saw bersabda: &#8220;<em>Aku tinggalkan kepada kalian dua hal, Kalian tidak akan tersesat bila kalian berpegang teguh kepadanya yakni: Kitabullah (Al-Quran) dan Sunnahku (Hadits)</em>&#8220;. (HR Muslim).</p>
<p>Hidup ini memang seperti pergantian siang dan malam. Siang dengan ciri khasnya terang dan malam dengan ciri khasnya gelap. Bagi orang yang sudah tahu <a title="ilmu" href="http://mimbarjumat.com/archives/158" target="_blank">ilmunya</a>, tentu tidak ada masalah dengan pergantian siang dan malam.</p>
<p><span id="more-1107"></span>Misalnya, ketika sudah tahu bahwa siang itu harus bekerja dan beraktivitas, maka ditunggulah siang. Dan karena tahu bahwa malam itu waktunya tidur, istirahat atau berusaha shalat tahajjud, maka datangnya malam sangat dinantikan.</p>
<p>Memang alangkah indahnya jika kita senantiasa mengetahui apa yang harus dilakukan terhadap apa yang akan kita hadapi, karena yang kasihan adalah orang yang tidak siap menghadapi siang ataupun malam. Misalnya, siang takut terkena tagihan dan malam takut tidak bisa tidur.</p>
<p>Begitu pula dalam menghadapi hidup ini. Orang yang tidak tahu rumusnya, maka dia akan selalu tegang. Mempunyai uang takut hilang, tidak punya uang takut tidak bisa membeli apa-apa. Musim mutasi takut <a title="Diantara Ujian Manusia pada Harta dan Jabatan" href="http://mimbarjumat.com/archives/32" target="_blank">kehilangan jabatan</a>, sudah punya jabatan takut dipindahkan lagi.</p>
<p>Belum punya suami takut tidak punya suami, sudah punya takut suami menikah lagi. Belum punya usaha takut tidak punya penghasilan, sudah punya usaha takut usahanya ambruk. Selalu takut, takut, dan terus ketakutan, lalu sesudah itu mati. Lantas, kapan bahagianya?</p>
<p>Sesungguhnya, setiap orang pasti mendambakan ketenangan batin. Sebab jika hati tenang, maka kita akan merasa lebih nyaman dalam melakukan berbagai macam aktivitas baik duniawi maupun ukhrowi.</p>
<p>Sebenarnya, Allah SWT telah mengajarkan pada kita langkah nyata untuk mendapatkan ketenangan hati, yaitu dengan dzikir. Sebagaimana firman-Nya, &#8220;<em>Ingatlah dengan dzikir mengingati Allah, hati akan tenteram</em>.&#8221; (<a title="QS. Ar-Ra'd" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/13" target="_blank">QS Ar Ra&#8217;d</a>: 28).</p>
<p>Dengan selalu mengingat Allah, hati akan tenteram. Sebaliknya, ketika kita jarang ingat pada Allah, hati akan kering dan gersang. Dengan kata lain, sejauh mana kita sungguh-sungguh ingin hidup dalam tenterarn hati akan sangat terlihat dari berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk berdzikir kepada Allah.</p>
<p>Orang-orang yang tertambat hatinya kepada Allah, apa pun yang ia lihat, ia dengar, dan ia rasakan, selalu dikorelasikan dengan Dzat Pencipta alam semesta ini. Seorang ahli dzikir akan jatuh dalam damai yang mendalam ketika merenungi hakikat pertumbuhan hidup manusia, sejak masih dalam rahim kemudian lahir hingga saat ajal tiba.</p>
<p>Ketika dalam rahim, janin manusia, sejak masih dalam rahim kemudian lahir hingga saat ajal tiba. Ketika dalam rahim, janin manusia lemah tidak berdaya, namun semakin besar semakin kuat hingga sampai di puncak kekuatannya. Dan ketika semakin tua kekuatan itu mulai pudar, hingga manusia seolah kembali ke tingkat kekuatan bayi yang lemah. Semua ini tidak terjadi melainkan karena kuasa Allah SWT.</p>
<p>Semakin banyak mengingat Allah, maka kadar keimanannya akan semakin bertambah. la tidak akan takut diancam oleh apa dan siapa pun makhluk yang ada di dunia ini. la hanya merasa takut akan ancaman dan murka Allah.</p>
<p>Orang yang telah mencapai derajat ini tidak pernah merasa waswas dalam bertindak. Tiap-tiap sesuatu yang dia hadapi dijadikan sebagai ladang amal. Bahkan dalam bertransaksi sekalipun ia akan memikirkan keuntungan bagi orang lain, la tidak khawatir dengan harga yang dipatok pedagang.</p>
<p>la akan merasa bahagia jika mampu berbagi <a title="maha menjamin rezeki" href="http://mimbarjumat.com/archives/542" target="_blank">rezeki</a> dengan orang lain, la sangat yakin bahwa yang mengatur rezeki adalah Allah dan ia akan berjuang sekuat tenaga agar rezeki itu jatuh ke tempat yang barakah. la tidak takut hartanya akan habis, sebab yakin bahwa Allah akan memberi kelapangan rezeki bagi siapa pun yang berhati murah dengan banyak berderma.</p>
<p>Tentu saja, berdzikir harus senantiasa dilakukan setiap saat, sebab bila seseorang hanya mengingat Allah ketika <a title="shalat jamaah" href="http://mimbarjumat.com/archives/94" target="_blank">shalat</a> saja, maka ia akan selalu gelisah di luar shalat.</p>
<p>Ada yang ingat Allah hanya ketika ia mendapat ancaman saja. Bahkan ada yang benar-benar tidak tahu siapa itu Allah selama hidupnya. <em>Naludzubillahi min dzalik</em>. Orang yang tidak kenal Allah, sehebat apa pun ia, sebanyak apa pun harta yang dimilikinya, serta setinggi apa pun derajatnya di mata manusia, sungguh ia akan selalu dicekam gelisah.</p>
<p>Upaya untuk terus berdzikir hendaknya diiringi dengan <a title="kekuatan sabar" href="http://mimbarjumat.com/archives/1064" target="_blank">sabar</a> dan syukur. Sebab kedua aspek tersebut dapat menghindarkan kita dari kebiasaan <a title="marah" href="http://mimbarjumat.com/archives/187" target="_blank">marah</a> terhadap sesuatu yang telah mengecewakan hati.</p>
<p>Padahal kemarahan yang kita luapkan bisa jadi karena tidak tercapainya keinginan atau harapan tinggi yang kita miliki. Memang, jika kita terlalu berharap untuk mendapatkan sesuatu, kita akan kecewa saat tidak mendapatkannya. Makin banyak keinginan, maka makin banyak peluang kita untuk marah.</p>
<p>Semestinya, kita harus siap menerima kenyataan, bahwa hidup ini penuh risiko dan tidak selamanya sesuai dengan apa yang kita inginkan. Mengapa? Sebab ketika kita mempunyai rencana, maka Allah juga mempunyai rencana.</p>
<p>Dalam <a title="QS. Al-Hadiid" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/57" target="_blank">Al Quran surat Al Hadiid</a> ayat 22-23, Allah SWT berfirman, &#8220;<em>Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri meiainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita&#8217;terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri</em>.&#8221;</p>
<p>Secara sederhana, ayat di atas menyiratkan bahwa sesungguhnya apa pun yang terjadi di dalam dunia dan kehidupan setiap manusia sesungguhnya telah Allah tentukan. Dengan demikian, maka kita tidak perlu terlalu bersedih ketika ditimpa sesuatu yang tidak menyenangkan. Sebaliknya, kita juga tidak boleh terlalu gembira melampaui batas ketika memperoleh kesenangan.</p>
<p>Namun, jika Allah telah menentukan semua hal, lantas apakah kita sudah tidak memiliki pilihan lagi? Tentu saja tidak demikian, karena Allah telah melengkapi manusia dengan software untuk memilih apa yang ingin kita pilih.</p>
<p>Setiap <a title="manusia pelaku peradaban" href="http://mimbarjumat.com/archives/442" target="_blank">manusia</a> memiliki potensi untuk menjadi baik maupun untuk menjadi buruk. Mau lurus maupun bengkok, mau di jalan Allah atau di jalan sesat.</p>
<p>Jika harapan tidak sesuai dengan kenyataan, berarti kita harus meyakini bahwa itulah takdir terbaik dari Allah. Sepanjang kita sudah berusaha meluruskan niat dan menyempurnakan ikhtiar, tentu apa pun yang kita peroleh tidak akan sia-sia.</p>
<p>Bukankah tidak sedikit orang yang ikhtiarnya sangat luar biasa namun belum juga memperoleh keberhasilan? Tugas kita hanya dua, luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar.</p>
<p>Betapapun luar biasanya kecintaan seseorang terhadap dunia, sadarilah bahwa semua itu fana belaka. Kita tidak akan hidup selamanya, ada <a title="negeri akhirat" href="http://mimbarjumat.com/archives/195" target="_blank">kampung akhirat</a> yang senantiasa menanti. Karena itu, sudah sewajarnya bila setiap episode kehidupan kita jalani dengan penuh rasa syukur.</p>
<p>Episode mempunyai kekayaan, jalani dengan <a title="menyegerakan bersedekah" href="http://mimbarjumat.com/archives/701" target="_blank">ahli sedekah</a>. Episode tidak memiliki <a title="harta" href="http://mimbarjumat.com/archives/1104" target="_blank">harta kekayaan</a>, jagalah diri kita dengan terus bekerja sebaik-baiknya dan tidak <a title="peminta-minta" href="http://mimbarjumat.com/archives/894" target="_blank">meminta-minta belas kasih</a> orang lain. Saat datang episode dipuji, kita berusaha sekuat tenaga agar senantiasa rendah hati.</p>
<p>Episode dihina, bersyukur karena itu mungkin pertolongan Ailah agar kita mau mengevaluasi diri. Episode sehat, perbanyaklah ibadah. Episode sakit, tingkatkan kesabaran sebab bisa jadi itu adalah lahan penggugur dosa.</p>
<p>Kita harus senantiasa ber-husnudzhan terhadap ketentuan-ketentuan Allah yang menimpa diri kita, Jika kita merasa banyak berbuat kekhilafan dan <a title="aroma dosa" href="http://mimbarjumat.com/archives/658" target="_blank">dosa</a>, yakinlah bahwa <a title="pintu ampunan Allah" href="http://mimbarjumat.com/archives/933" target="_blank">ampunan Allah</a> lebih besar lagi daripada dosa-dosa yang kita perbuat.</p>
<p>Kita harus optimis bahwa Allah akan mengampuni kita. Dan tentu saja, kita juga harus optimis bahwa kita mampu terus memperbaiki diri. Justru sikap optimis itulah etika kita kepada Allah, sebab ketika kita diuji oleh Allah dengan aneka kesulitan justru supaya kita berpegang teguh kepada pertolongan Allah.</p>
<p>Strategi berikutnya, kita harus selalu berlatih mengenal diri sendiri. Sebab jika seseorang ingin baik, maka ia terlebih dahulu harus mengetahui sesuatu yang ingin dia rubah menjadi baik. Pengetahuannya bisa ia dapatkan dari perenungan, dan jawaban dari orang yang kita tanyai tentang diri kita.</p>
<p>Latihan kedua adalah upaya untuk memperbaiki. Setelah kita tahu kondisi kita, maka kita usahakan untuk meminimalisasi bahkan menghilangkan kekurangan yang kita miliki. Bila perlu, kita tulis dalam daftar semua keburukan yang kita miliki dan rumuskan formula-formula untuk memperbaikinya.</p>
<p><em>Sumber : Buletin Al-Salaam, Februari 2010</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimbarjumat.com/archives/1107/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Harta</title>
		<link>http://mimbarjumat.com/archives/1104</link>
		<comments>http://mimbarjumat.com/archives/1104#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 10:14:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unduk</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>

		<category><![CDATA[Sosial]]></category>

		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>

		<category><![CDATA[harta]]></category>

		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mimbarjumat.com/?p=1104</guid>
		<description><![CDATA[Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1105" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/02/salman-al-farisi-ra-pencari-kebenaran.html"><img class="size-full wp-image-1105" title="harta" src="http://mimbarjumat.com/wp-content/uploads/2010/02/uank.jpg" alt="harta" width="230" height="153" /></a><p class="wp-caption-text">harta</p></div>
<p>Sewaktu Rasulullah baru saja berhijrah ke Yatsrib (Madinah), setelah melak-sanakan sholat Jum&#8217;at berjamaah, beliau menyampaikan pidato di hadapan jamaah kaum muslimin, dalam pidatonya antara lain beliau mengatakan:</p>
<p>&#8220;<em>Maka barang siapa yang dapat memelihara mukanya (menyelamatkan dirinya) dari (siksa) api. nereka, meskipun hanya dengan sebutir buah korma, maka hendaklah ia lakukan. Dan barang siapa yang tidak mendapatkan (buah korma), maka hendaklah dengan kata-kata yang baik</em>&#8220;.</p>
<p>Perkataan beliau tersebut mengandung pesan bahwa kebajikan itu adalah sebagai upaya memelihara diri dari siksa api nereka. Tidak dipermasalahkan berapa banyaknya dan tidak pula dipersoalkan apakah dalam bentuk materi ataukah bukan.</p>
<p><span id="more-1104"></span>Bahkan, hanya dengan mengucapkan kata-kata yang baik-jika tidak mampu dalam bentuk materi sudah termasuk suatu kebajikan. Yang terpenting adalah hasrat dan kemauan hati yang mendorong untuk berbuat kebajikan kepada sesama makhluk dalam rangka terciptanya hubungan horizontal secara baik.</p>
<p>Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, melainkan juga mengatur hubungan manusia dengan sesamanya. Itulah sebabnya, setiap ibadah dalam Islam, disamping bersifat pengabdian kepada Allah SWT, juga mengandung unsur mu&#8217;amalah atau intraksi sosial.</p>
<p>Diantaranya yang penting ialah unsur perikemanusiaan, seperti sifat penyantun, kasih sayang, tolong menolong, persaudraan, kejujuran, pemaaf, keadilan dan sifat-sifat terpuji lainnya.</p>
<p>Dalam menghadapi kehidupan ini Islam mengajarkan setiap pemeluknya untuk senantiasa menumbuhkan sifat dan sikap saling tolong, terutama dalam hal berbuat kebajikan dan ketakwaan, dan melarang untuk tolong-menolong dalam melakukan perbuatan dosa dan permusuhan (QS. <a title="QS. Al-Maidah" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/5" target="_blank">Al-Maidah [5]</a>: 2).</p>
<p>Ini merupakan salah satu prinsip dasar dari ajaran <a title="islam" href="http://mimbarjumat.com/archives/1075" target="_blank">Islam</a>. Tolong menolong antara sesama manusia merupakan fitrah dan naluri setiap individu, sebab, walau bagaimana hebat dan kuasanya seseorang, ia tidak akan dapat membebaskan dirinya dari sifat ketergantungan kepada orang lain.</p>
<p>Banyak orang beranggapan bahwa <a title="kunci keberkahan harta" href="http://mimbarjumat.com/archives/963" target="_blank">harta kekayaan</a> yang dimilikinya 100% mutlak kepunyaannya. Sehingga tindakan apapun yang akan dilakukan terhadap hartanya itu, adalah haknya.</p>
<p>Tidak seorang pun yang berhak melarangnya. Anggapan semacam ini jelas merupakan gambaran individualis yang sekuler, yang bertentangan secara diametral dengan konsep ajaran dalam Islam.</p>
<p>Al-Quran telah menggariskan dengan jelas, prinsip-prinsip hukum mengenai harta benda, yang pada hakekatnya merupakan<br />
suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh pemiliknya, antara lain kewajiban memelihara dan menjaga harta kekayaannya sebagai <a title="amanah vs khianat" href="http://mimbarjumat.com/archives/988" target="_blank">amanah </a>dan titipan Allah SWT yang telah digariskan.</p>
<p>&#8220;<em>Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan</em>.&#8221; (<a title="QS. Al-Kahfi" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/18" target="_blank">QS. Al-Kahfi[18]</a>:46).</p>
<p>Pemilik harta dilarang menghambur-hamburkan hartanya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, apalagi hal-hal yang menjurus kepada perbuatan maksiat dan durhaka kepada Allah.</p>
<p>&#8220;<em>Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros</em>.&#8221; (<a title="QS. Al-Isra'" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/17" target="_blank">QS. Al-Isra&#8217; [17]</a>: 26).</p>
<p>Seseorang yang memiliki harta benda akan dituntut pertanggung-jawabannya di akhirat kelak, dari mana harta itu didapat dan dengan cara bagaimana ia memperolehnya, serta untuk apa harta itu dibelanjakan.</p>
<p>Dengan demikian para hartawan pada dasarnya dibebani kewajiban mencari harta dengan cara legal dan halal serta dengan cara-cara yang baik dan bersih, dan dalam mempergunakannya pun harus dilakukan secara baik dan halal pula. Hal ini sesuai dengan penegasan <a title="buah mengikuti Rasulullah" href="http://mimbarjumat.com/archives/85" target="_blank">Rasulullah Saw</a> dalam salah satu sabdanya.</p>
<p>&#8220;<em>Dua telapak kaki seorang hamba (manusia), tidak akan dapat digerak-kan untuk melangkah pada hari Kiamatkelak, sebelum terlebih dahulu ditanyakan kepadanya tentang empat hak, &#8230; tentang harta kekayaannya dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan</em>&#8220;. (HR. Al-Bazzar dan Thabrani).</p>
<p>Bertitik tolak dari prinsip bahwa kepemilikan harta kekayaan itu tidak<br />
mutlak, maka menurut konsep Islam, setiap pribadi muslim pemilik harta, secara individu ia bertanggungjawab kepada Allah kelak di <a title="negeri akhirat" href="http://mimbarjumat.com/archives/195" target="_blank">akhirat</a>, dan secara sosial kemasyarakatan, ia bertanggungjawab kepada sesama anggota masyarakatnya.</p>
<p>Dan tanggungjawab sosial itu dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk. Ada yang bersifat wajib, seperti zakat harta dan <a title="zakat fitrah" href="http://mimbarjumat.com/archives/151" target="_blank">zakat fitrah</a>, ada yang merupakan keharusan seperti infak, <a title="menyegerakan bersedekah" href="http://mimbarjumat.com/archives/701" target="_blank">sedekah</a> dan wakaf.</p>
<p><em>Sumber : Buletin <a title="kategori mimbar jum'at" href="http://mimbarjumat.com/archives/category/mimbar-jumat" target="_blank">Mimbar Jum&#8217;at</a> No. 04 Th. XXIII</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimbarjumat.com/archives/1104/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Efektifkan Dakwah Ditengah Kemajuan Zaman</title>
		<link>http://mimbarjumat.com/archives/1097</link>
		<comments>http://mimbarjumat.com/archives/1097#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Feb 2010 03:13:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unduk</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>

		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[dakwah]]></category>

		<category><![CDATA[efektifitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mimbarjumat.com/?p=1097</guid>
		<description><![CDATA[Dakwah menjadi langkah penting dalam penyebaran ajaran Islam. Ini terkait dengan bagaimana umat Islam mampu memahami ajarannya dan melaksanakannya dalam laku kehidupan sehari-hari. Meski jalan dakwah memang tak semudah yang dibayangkan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1098" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a href="http://mimbarjumat.com/archives/981"><img class="size-full wp-image-1098" title="dai sejuta umat" src="http://mimbarjumat.com/wp-content/uploads/2010/02/daisejuta.jpg" alt="dai sejuta umat" width="230" height="185" /></a><p class="wp-caption-text">dai sejuta umat</p></div>
<p>Dakwah menjadi langkah penting dalam penyebaran <a title="islam" href="http://mimbarjumat.com/archives/1075" target="_blank">ajaran Islam</a>. Ini terkait dengan bagaimana umat Islam mampu memahami ajarannya dan melaksanakannya dalam laku kehidupan sehari-hari. Meski <a title="Mewaspadai Upaya Mengaitkan Dakwah dengan Terorisme" href="http://mimbarjumat.com/archives/844" target="_blank">jalan dakwah</a> memang tak semudah yang dibayangkan.</p>
<p>Jalan dakwah mesti ditempuh dengan cara-cara yang sesuai dengan kondisi masyarakat. Lalu apa sebenarnya dakwah itu dan bagaimana pula dakwah itu harus dilakukan.</p>
<p>mengenai hal ihwal dakwah: Dakwah merupakan proses untuk mengubah <a title="manusia pelaku peradaban" href="http://mimbarjumat.com/archives/442" target="_blank">kehidupan manusia</a> atau masyarakat dari yang tidak Islami ke kehidupan yang Islami. Bagi yang belum Islam diajak menjadi Muslim dan bagi mereka yang telah Islam diajak untuk menyempumakan kelslamannya.</p>
<p>Dalam praktiknya, dakwah itu mestinya dilakukan tak sebatas penyampaian yang dilakukan dari mulut ke telinga. Namun, harusnya dakwah itu dari hati ke hati.</p>
<p><span id="more-1097"></span>Ini merupakan upaya untuk memanggil kembali hati nurani guna menghilangkan sifat-sifat yang buruk. Selain itu, dakwah juga mestinya dilakukan dengan cara yang moderat dan bersifat kontekstual.</p>
<p>Dalam sejarah perkembangan Islam, bagaimana dakwah Islam dilakukan?</p>
<p>Kini, Islam menjadi agama yang membumi dan menjelma menjadi kekuatan pembebas bagi umat manusia. Kondisi seperti ini terwujud karena metode-metode dakwah yang dilakukan oleh <a title="Muhammad Kekasih Allah SWT" href="http://mimbarjumat.com/archives/39" target="_blank">Nabi Muhammad </a>dan para sahabatnya. Ajaran Islam mereka sebarkan dengan cara yang begitu menyentuh.</p>
<p>Mereka dengan santun menyampaikan ajaran Islam, menebar empati, berpihak pada kaum yang lemah sehingga mengakar di kalangan bawah. Tak kalah pentingnya, dalam upaya penyebaran ajaran Islam, mereka menghindari cara-cara kekerasan dan pemaksaan kehendak.</p>
<p>Berdasarkan pengalaman sejarah tersebut, bagaimana mestinya dakwah Islam dilakukan?</p>
<p>Ada tiga cara dakwah yang dapat kita lakukan dalam menjalankan kegiatan dakwah. <strong>Pertama</strong> adalah hikmah, yaitu berdakwah dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi sasaran dakwah. Artinya, dakwah dilakukan sesuai dengan tingkat intelektualitas, kondisi budaya, maupun kebiasaan kelompok masyarakat yang didakwahi.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, dakwah mestinya dilakukan secara mau&#8217;izhah hasanah. Ini berarti kegiatan dakwah dilakukan melalui penyampaian nasihat-nasihat atau ajaran Islam dengan rasa kasih sayang. Sehingga apa yang disampaikan itu dapat menyentuh hati.</p>
<p>Sedangkan yang <strong>ketiga</strong> yaitu mujadalah. Kegiatan dakwah dilakukan melalui cara bertukar pikiran dan melakukan pembantahan dengan cara yang baik dan santun.</p>
<p>Agar dakwah tetap relevan dengan kehidupan yang mengalami perubahan begitu cepat, hal apa yang penting diperhatikan ?</p>
<p>Pada dasarnya, dakwah itu tak sekadar mengajak umat Islam untuk mengakui keberadaan akan Tuhannya. Tetapi juga bagaimana dakwah mampu melahirkan kesadaran bagi umat Islam untuk mengaktualisasikan akidah, akhlak, maupun syariah dalam kehidupannya sehari-hari.</p>
<p>Dengan demikian, isi dari dakwah akan sangat memberikan pengaruh atas keberhasilan sebuah kegiatan dakwah. Ini berarti bahwa dakwah Islam tak hanya melulu berisikan bagaimana cara <a title="shalat jamaah" href="http://mimbarjumat.com/archives/94" target="_blank">menjalankan shalat</a> atau <a title="optimalisasi potensi zakat" href="http://mimbarjumat.com/archives/929" target="_blank">zakat</a>, tetapi juga harus bermuatan wawasan kontemporer yang dihadapi umat Islam.</p>
<p>Dampak apa yang mungkin muncul ketika hal tersebut diabaikan ?</p>
<p>Dampaknya akan sangat besar. Bila isi pesan dakwah hanya bersifat monoton dan tak mampu memperhias wawasan umat Islam maka dakwah hanya akan melahirkan daya khayal, bukan daya amal.</p>
<p>Dakwah mestinya mampu mengasah intelektualitas objek dakwahnya. Mestinya, dakwah mampu menggerakkan umat Islam untuk mengamalkan ajaran agamanya dengan baik. Selain itu, dakwah Islam juga mestinya mampu menggerakkan umat Islam untuk merespons kondisi zamannya sesuai dengan ajaran-ajaran Islam.</p>
<p>Dengan tantangan zaman yang ada sekarang ini, apa langkah yang harus ditempuh seorang dai atau lembaga dakwah agar bisa berdakwah secara efektif ?</p>
<p>Mereka harus meningkatkan profesionalitas. Baik dalam artian manajemen maupun sumber daya manusianya. Ini dilakukan agar, penyampaian dakwah dapat sesuai dengan kondisi masyarakat yang memiliki pemikiran yang begitu kompleks dan munculnya kemajuan di berbagai bidang.</p>
<p>Selain itu, lembaga dakwah pada khususnya, mestinya mampu menggandeng para pakar teknologi komunikasi dan informasi Muslim untuk bergabung dalam bazisan dakwah. Yakinlah, mereka dapat membantu untuk mengembangkan metode dakwah yang memadai.</p>
<p>Perlu juga adanya dorongan agar generasi-generasi muda Islam untuk lebih banyak menguasai teknologi komunikasi dan informasi. Termasuk dengan mengembangkan bidang teknologi dan informasi di lembaga pendidikan Islam.</p>
<p><em>Sumber: Buletin An-Nadwah Edisi 671/Thn XIV</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimbarjumat.com/archives/1097/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Memilih Esok di Hari Ini</title>
		<link>http://mimbarjumat.com/archives/1092</link>
		<comments>http://mimbarjumat.com/archives/1092#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Feb 2010 14:32:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unduk</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>

		<category><![CDATA[Sosial]]></category>

		<category><![CDATA[kesempatan]]></category>

		<category><![CDATA[perencanaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mimbarjumat.com/?p=1092</guid>
		<description><![CDATA[Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1093" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a href="http://masalahkesehatanwanita.blogspot.com/2010/01/pencernaan-terganggu.html"><img class="size-full wp-image-1093" title="memilih esok" src="http://mimbarjumat.com/wp-content/uploads/2010/02/memilih-esok.jpg" alt="memilih esok" width="230" height="177" /></a><p class="wp-caption-text">memilih esok</p></div>
<p>&#8220;<em>Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok&#8230;.</em>&#8221; (<a title="QS. Al-Hasyr" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/59" target="_blank">QS. Al-Hasyr</a>: 18)</p>
<p>Bersyukurlah orang-orang yang beriman. Hidupnya begitu mudah, tenang, dan membahagiakan. Kesulitan-kesulitan hidup, tak lebih hanya kerikil-kerikil <a title="Diantara Ujian Manusia pada Harta dan Jabatan" href="http://mimbarjumat.com/archives/32" target="_blank">ujian</a> yang sesekali mengguncang jalan.</p>
<p>Kadang terasa kecil, dan tak jarang lumayan besar. Besar kecil guncangan sangat berbanding lurus dari bagaimana teknik kesiapan diri menghadapi jalan hidup.</p>
<p>Di antara teknik kesiapan itu adalah kemampuan kita menata hari esok. Hidup perlu perencanaan. Kitalah yang menyiapkan, apa warna hari esok. Kelak, Allah-lah yang menentukan, apa warna yang cocok buat kita.</p>
<p><span id="more-1092"></span>Ketentuan Allah selalu yang terbaik buat sang hamba. Dan segala upaya perencanaan itu tak akan pemah sia-sia di sisi Allah. &#8220;<em>&#8230;.Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan sesungguhnya, pahala di akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa</em>.&#8221; (<a title="QS. Yusuf" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/12" target="_blank">QS. Yusuf</a>: 56-57)</p>
<h2>Kesempatan tak Berkunjung Dua Kali</h2>
<p>Salah satu nikmat Allah yang teramat mahal adalah kesempatan. Di antara wujud kesempatan buat seorang manusia adalah hidup sebelum matinya, sehat sebelum sakitnya, waktu luang sebelum sibuknya, muda sebelum tuanya, dan kaya sebelum miskinnya.</p>
<p>Sayangnya, tak sedikit orang yang akhirnya menyadari bahwa sesuatu adalah kesempatan ketika sesuatu itu telah pergi. Dan kepergiannya itu merupakan kehilangan besar. Saat itulah barui terasa kalau luputnya sang kesempatan merupakan kerugian yang teramat besar.</p>
<p>Seperti itulah, mungkin, ketika orang-orang yang durhaka kepada Allah menghadapi dahsyatnya neraka. Mereka berujar, &#8220;Andai kami dulu termasuk orang-orang yang bertakwa. Andai kami tidak mendurhakai Rasul. Andai kehidupan bisa terulang diua kal. Andai&#8230;.&#8221;</p>
<p>Dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, &#8220;<em>Ada dua nikmat di mana manusia banyak tertipu karenanya: kesehatan dan kesempatan</em>.&#8221; (HR. Bukhari)</p>
<p>Keadaan hari esok, sejenak apa pun waktu yang dibutuhkan, merupakan rahasia Allah. Tak seorang pun yang tahu bagaimana nasibnya di hari esok. Bahagiakah, dukakah, kemudahankah, atau kesulitan dan musibah.</p>
<p>Dan persiapan diri dalam menghadapi segala kemungkinan itu adalah modal yang luar biasa. Masalahnya, bagaimana mungkin persiapan bisa teraih tanpa menyiasati kesempatan yang hampir berlalu.</p>
<p>Di situlah, seorang hamba Allah tak boleh menyia-nyiakan nikmat kesempatan. Sebentar apa pun kesempatan itu hinggap. Dan sekecil apa pun takaran kesempatan terlihat.</p>
<p>Ketika masih ada nikmat hidup, persiapkanlah ia buat menghadapi mati. Ketika sehat masih melekat, persiapkanlah ia buat datangnya safcit. Ketika waktu luang menyambang, persiapkan ia untuk menyongsong sibuk.</p>
<p>Ketika muda masih ada, persiapkanlah ia buat masa tua. Ketika kaya masih jaya, sisihkanlah ia buat datangnya miskin. Dan, tak ada kemiskinan yang paling menyusahkan selain miskin amal di saat hari kebangkitan.</p>
<h2>Perencanaan mengikis penyesalan</h2>
<p>Orang-orang yang malas mengelola kesempatan selalu bersembunyi di balik <a title="tawakal" href="http://mimbarjumat.com/archives/417" target="_blank">tawakal</a>. &#8220;Nggak perlu persiapan, tawakal ajalah,&#8221; begitulah mungkin kilah mereka.</p>
<p>Saat itulah, orang-orang yang meyakini hal itu sedang terjebak dalam kebodohannya sendiri. Islam tidak pernah memposisikan tawakal sebagai legitimasi kemalasan. Siapakah hamba Allah yang paling tawakal selain Rasulullah saw.</p>
<p>Beliau bersusah payah mencari penghasilan sebelum memasuki gerbang <a title="resep jitu pernikahan" href="http://nuansawanita.com/2009/12/resep-jitu-pernikahan/" target="_blank">pernikahan</a>. Beliau menanam Mush&#8217;ab bin Umair di Madinah sebelum kaum muslimin Mekah hijrah ke sana. Beliau memerintahkan para sahabat untuk berlatih kemiliteran sebelum memasuki arena peperangan.</p>
<p>Sekecil apa pun perencanaan, setidaknya, ia akan menjadikan seseorang siap menghadapi rumitnya hari esok. Karena kumpulan hari-hari esok tak lain adalah ladang ujian. Semakin banyak hari esok yang kita lalui, akan banyak dan meningkat pula ujian yang akan kita hadapi.</p>
<p>Hidup bagaikan meniti anak tangga. Semakin banyak anak tangga yang kita lalui, semakin berat beban yang kita bawa, dan semakin besar risiko jatuh. Dengan begitu, semakin jauh hari esok yang kita rencanakan, semakin matang perhitungan-perhitungan yang mesti kita siapkan.</p>
<p>Penyesalan selalu datang kemudian. la bisa menghapus segala nikmat kesempatan yang telah berlalu. Dan rasanya begitu menyakitkan. Jika penyesalan tak segera berubah perencanaan, maka penyesalan akan selalu muncul di hari esok. Tak ada kata terlambat buat melawan penyesalan selama nikmat kesempatan hidup masih tersedia.</p>
<p>Seorang mukmin tak patut merundung penyesalan yang berkepanjangan. la harus bangkit, siap menyongsong kasih sayang Allah selanjutnya. Inilah ucapan Nabi Ya&#8217;qub kepada anak-anaknya yang diabadikan Al-Quran dalam <a title="QS. Yusuf" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/12" target="_blank">Surah Yusuf</a> ayat 87.</p>
<p>&#8220;<em>Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir</em>.&#8221;</p>
<h2>Pagari hidup dengan muhasabah</h2>
<p>Muhasabah adalah pelengkap lain dari kesiapan seorang hamba Allah menghadapi hari esok. Boleh jadi, ada rute hidupnya yang nyaris melenceng dari rel perencanaan. Saat itulah, rute itu bisa diluruskan.</p>
<p>Orang yang hidupnya akrab dengan muhasabah menjadikan hatinya senantiasa hidup dan terjaga. Tidak mati dan lalai. la selalu menghitung-hitung prestasinya di hari ini dengan kemampuannya di hari kemarin. Meningkatkah, sama, atau kian berkurang? Beruntunglah orang yang hari ini lebih baik dari kemarin. Merugilah orang yang hari ini sama dengan kemarin. Dan celakalah mereka yang hari ini lebih buruk dari kemarin.</p>
<p>Umar bin Khaththab adalah di antara sahabat Rasul yang sukses menata hari-harinya. Sebagai apa pun, termasuk seorang khalifah. Di masa kekhalifahannyalah, dunia kian mengenal Islam dengan sukarela atau terpaksa.</p>
<p>Dan muhasabah, adalah di antara kunci suksesnya. Beliau r.a. pernah mengatakan, hisablah diri sebelum dihisab orang lain. Atau, <a title="evaluasi diri" href="http://mimbarjumat.com/archives/1" target="_blank">evaluasilah diri</a>, sebelum dievaluasi orang lain.</p>
<p>Ketika kita mampu menatap hari esok di hari ini, tataplah dengan penuh perhitungan. Karena hari ini adalah rangkaian buat hari esok. Hari kemarin telah menghilang, dan hari ini tak akan berulang. Pilihlah mutu hari esok ketika ia bisa dipilih di hari ini.</p>
<p><em>Sumber : Buletin An-Nadwah Edisi 673 Thn XIV</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimbarjumat.com/archives/1092/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menegakkan Hukum dan Keadilan menurut Syariat Allah SWT</title>
		<link>http://mimbarjumat.com/archives/1087</link>
		<comments>http://mimbarjumat.com/archives/1087#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 08:06:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unduk</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mimbarjumat.com/?p=1087</guid>
		<description><![CDATA[Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi hukum dan keadilan. Hal itu ditegaskan dalam al-Qur&#8217;an; &#8220;Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ? &#8221; (QS. Al-Maidah, 5:50) .
Dalam ayat lain Allah SWT berfirman; &#8220;Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1088" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a href="http://masalahkesehatanwanita.blogspot.com/2010/01/sistitis.html"><img class="size-full wp-image-1088" title="keadilan" src="http://mimbarjumat.com/wp-content/uploads/2010/02/suara-keadilan.jpg" alt="keadilan" width="230" height="268" /></a><p class="wp-caption-text">keadilan</p></div>
<p>Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi hukum dan keadilan. Hal itu ditegaskan dalam al-Qur&#8217;an; &#8220;<em>Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?</em> &#8221; (<a title="QS. Al-Maidah" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/5" target="_blank">QS. Al-Maidah, 5</a>:50) .</p>
<p>Dalam ayat lain Allah SWT berfirman; &#8220;<em>Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dariperbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran</em>&#8221; (<a title="QS. An-Nahl" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/16" target="_blank">an-Nahl</a>; 90)</p>
<p>Dalam ayat lain ditegaskan agar keadilan tetap ditegakkan dengan melawan segala kecenderungan menyimpang yang disebabkan oleh kebencian atau sebab-sebab lainnya.</p>
<p>Allah SWT berfirman, &#8220;<em>Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebendanmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidakadil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekatkepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan</em>&#8220;. (<a title="QS. Al-Maidah" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/5" target="_blank">al-Maidah 5</a>:8)</p>
<p><span id="more-1087"></span>Konsep hukum dalam urusan-urusan privat dan kemasyarakan sangat kompleks, sehingga seorang hakim harus memiliki wawasan iuas dan ilmu-ilmu yang mendukungnya dalam memberikan keputusan hukum. Seorang hakim tidak boleh hanya bertumpu kepada bukti-bukti nyata dan kondisi krusial yang terjadi.</p>
<p>Namun lebih dari itu seorang <a title="hakim syuraih" href="http://mimbarjumat.com/archives/78" target="_blank">hakim</a> harus memutuskan sesuatu dengan pertimbangan firasat yang benar, dan tanda-tanda dan bantuan faktor-faktor lainnya sehingga kebenaran itu menjadi nyata dan boleh jadi dia menggunakan isyarat-isyarat dalam berhukum.</p>
<p>Seorang hakim bisa saja mengancam salah satu pihak dengan apa saja yang menurutnya berada pada pihak yang salah dan dalam posisi yang <a title="membantu si zalim" href="http://mimbarjumat.com/archives/997" target="_blank">zalim</a>, dan bertanya dengan pertanyaan yang beraneka ragam hingga kebenaran menjadi nyata.</p>
<p>Secara umum hakim harus memiliki dua bekal fikih; ilmu fikih tentang hukum-hukum kejadian dan perkara yang umum dan <a title="pengetahuan" href="http://mimbarjumat.com/archives/889" target="_blank">ilmu pengetahuan </a>tentang kasus tertentu dan <a title="manusia pelaku peradaban" href="http://mimbarjumat.com/archives/442" target="_blank">karakter-karakter manusia</a>. Ilmu tentang karakter-karakter orang yang sedang bersengketa sangat penting untuk membedakan antara orang-orang yang benar dengan yang salah, dan orang-orang yang jujur dengan yang dusta.</p>
<p>Sehingga dengan demikian dia memutuskan hukuman atas kejadian dengan benardan sesuai dengan kenyataan dan tidak menempatkan keputusan hukum di luar kenyataan dan fakta yang terjadi.</p>
<p>Dan bila seorang hakim tidak memiliki pemahaman tentang isyarat-isyarat, tanda-tanda, bukti-bukti, kaitan-kaitan dan hubungan-hubungan kondisi dan perkataan tertentu, dan tidak memiliki pemahaman detail dan general tentang suatu masalah, maka pasti dia memutuskan keputusan hukum yang menghilangkan hak-hak orang dan pasti diketahui bahwa hukum itu batal dan tidak mendasar.</p>
<p>Renungkanlah bagaimana nabi Sulaiman memutuskan perkara antara dua orang wanita yang bersengketa tentang kepemilikan bayi. Pada awalnya <a title="kisah nabi daud" href="http://mimbarjumat.com/archives/98" target="_blank">Daud</a> menghukumnya untuk yang besar. Maka Sulaiman berkata; ambillah pisau agar aku membelahnya bagi kalian berdua. Yang besar membolehkan hal itu, namun yang kecil berkata; &#8220;jangan anda lakukan hal itu, semoga Allah Swt. merahmatimu. la adalah anaknya&#8221;. Maka nabi Sulaiman memutuskan bahwa anak itu milik wanita yang kecil.</p>
<p>Lihatlah bagaimana Sulaiman melihat kaitan dan hubungan yang jelas dan tampak dari kasus ini. Beliau menjadikan bukti kerelaan wanita yang besar atas hal itu, dan ia benar-benar ingin melibatkan wanita yang kecil dalam kesedihannya disebabkan kehilangan anak.dan sikap wanita yang kecil menguatkan keputusannya ketika dia tidak rela dengan keputusan itu karena dia sangat sayang kepada anaknya dan rnerelakannya agar diasuh oleh wanita yang tua.</p>
<p>Hal itu merupakan tabiat yang diletakkan oleh Allah Swt. Dalam hati seorang ibu yang pasti menyayangi dan mencintai anaknya. Semua itu menunjukkan bahwa wanita yang kecillah yang sejatinya memiliki anak itu.</p>
<p>Hubungan dan kaitannya ini lebih diutamakan oleh Nabi Sulaiman dalam memutuskan perkara ini dibanding pengakuan langsung dari wanita yang iebih tua itu atau atas pengakuan wanita yang kecil ketikadia berkata; &#8220;&#8230;bahwa anak itu adalah anak wanita yang tua&#8221;. Karena bila pengakuan yang disebabkan oleh suatu hal yang memaksa dan diketahui oleh hakim, tidak boleh dijadikan sebagai bukti.</p>
<p>Oleh karena itu syariat tidak menganggap dan memperhitungkan pengakuan seorang yang sakit dan sakit tersebut adalah sakit yang membawanya kepada kematian bahwa harta bendanya adalah milik salah satu warisnya saja, karena pada saat itu dia berada dalam kondisi meragukan dan disandarkan kepada kemungkinan bahwa maksudnya untuk mengkhususkan waris itu sendiri dan tidak membangikannnya kepada ahli waris yang lain.</p>
<p>Menegakkan keadilan merupakan salah satu misi utama dari syariah. la berfungsi untuk menetapkan kebenaran dan menghapus kebatilan. Jadi siasat yang adil merupakan bagian dari syariat dan keputusan hukumnya.</p>
<p>Dalam banyak kasus yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini, dengan mata telanjang kita menyaksikan ketidakadilan dalam penegakan hukum. Orang yang mencuri semangka, kapas dan lain-lain yang dilakukan untuk menyambung hidup dan hanya berskala kecil dihukum berat dan diproses dengan cepat di pengadilan.</p>
<p>Namun kasus yang besar seperti korupsi pejabat publik, kasus bank Century dan lain-lain kita belum melihat keseriusan dan kesungguhan penegak hukum dalam memproses peradilannya. Inilah salah satu fenomena yang ditakutkan oleh Rasulullah saw. terjadi pada umatnya.</p>
<p>Disebutkan dalam riwayat Bukhori dan Muslim bahwa Rasulullah saw. bersabda; &#8220;<em>Wahai manusia Sesungguhnya yang menghancurkan orang-orang yang sebelum kalian adalah sikap mereka yang bila yang melakukan kejahatan mencuri adalah orang yang terpandang mereka membiarkannya (tidak menghukumnya). Namun bila yang mencuri di tengah mereka adalah orang yang lemah, maka mereka menegakkan hukum atasnya. Demi Allah SWT seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, maka aku sendiri yang akan memotong tangannya</em>.&#8221;</p>
<p>Demikianlah Rasulullah saw. mencontohkan penegakan hukum dan keadilan, walaupun korbannya adalah putri beliau yang paling dicintainya. Mari kita hindarkan negeri ini dari kutukan dan azab dengan menegakkan hukum seadil-adilnya terhadap setiap orang yang bersalah dan melakukan kejahatan.</p>
<p>Renungkanlah firman Allah SWT berikut ini; &#8220;<em>dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya</em>&#8220;. (al-Anfal; 25).</p>
<p><em>Sumber: Ikadi Tafakkur Edisi 5 Th XI Februari 2010</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimbarjumat.com/archives/1087/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Waladun Shaleh</title>
		<link>http://mimbarjumat.com/archives/1083</link>
		<comments>http://mimbarjumat.com/archives/1083#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 17:51:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unduk</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>

		<category><![CDATA[Mimbar Jum'at]]></category>

		<category><![CDATA[Parenting]]></category>

		<category><![CDATA[Sosial]]></category>

		<category><![CDATA[amanah]]></category>

		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mimbarjumat.com/?p=1083</guid>
		<description><![CDATA[Anak dalam bahasa Arab disebut waladun, suatu kata yang mengandung penghormatan sebagai makhluk Allah yang tengah menempuh perkembangan menjadi abdi Allah yang shaleh.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1084" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a href="http://mimbarjumat.com/archives/810"><img class="size-full wp-image-1084" title="santri cilik belajar komputer" src="http://mimbarjumat.com/wp-content/uploads/2010/01/santricilik.jpg" alt="santri cilik belajar komputer" width="230" height="181" /></a><p class="wp-caption-text">santri cilik belajar komputer</p></div>
<p><a title="anak, hormatkah kita padanya ?" href="http://mimbarjumat.com/archives/428" target="_blank">Anak</a> dalam bahasa Arab disebut <em>waladun</em>, suatu kata yang mengandung penghormatan sebagai makhluk Allah yang tengah menempuh perkembangan menjadi abdi Allah yang shaleh.</p>
<p>Anak menurut ajaran <a title="islam" href="http://mimbarjumat.com/archives/1075" target="_blank">Islam </a>adalah <a title="amanah vs khianat" href="http://mimbarjumat.com/archives/988" target="_blank">amanah</a> Allah yang dititipkan kepada orang tuanya. Amanah tersebut menuntut adanya keharusan <a title="tips membantu orang tua saat mereka tua" href="http://carahidupkita.blogspot.com/2010/01/tips-membantu-orang-tua-saat-mereka-tua.html" target="_blank">orang tua</a> menghadapi dan memperlakukannya dengan sungguh-sungguh, hati-hati, teliti dan cermat. Sebagai amanah anak harus dijaga, dibimbing dan diarahkan selaras dengan apa yang diamanahkan.</p>
<p>Memandang <a title="tips mengasuh dan mendidik anak" href="http://carahidupkita.blogspot.com/2010/01/tips-mengasuh-dan-mendidik-anak.html" target="_blank">anak</a> dalam kaitan dengan pase perkembangan membawa arti bahwa,</p>
<ol>
<li>Anak diberikan tempat khusus yang berbeda dunia dan kehidupannya dengan orang dewasa,</li>
<li>Anak memerlukan perhatian dan perlakuan khusus dari orang dewasa dan para pendidiknya. Oleh sebab itu, <a title="pandangan islam terhadap alam" href="http://mimbarjumat.com/archives/283" target="_blank">Islam memandang </a>anak secara riil dan lebih professional. Artinya <a title="kehidupan tauhidi" href="http://mimbarjumat.com/archives/25" target="_blank">kehidupan</a> anak tidak boleh dilepaskan dari dunianya serta berbagai dimensinya.</li>
</ol>
<p><span id="more-1083"></span>Anak <a title="melahirkan" href="http://masalahkesehatanwanita.blogspot.com/2010/01/melahirkan.html" target="_blank">dilahirkan</a> tidak dalam keadaan lengkap dan tidak pula dalam keadaan kosong. la dilahirkan dalam keadaan tidak tahu apa-apa, akan tetapi ia telah dibekali dengan pendengaran, penglihatan, dan kata hati.</p>
<p>Semua itu menjadi modal yang harus dikembangkan dan diarahkan menjadi <a title="manusia pelaku peradaban" href="http://mimbarjumat.com/archives/442" target="_blank">manusia</a> yang bermartabat mulia, yang mengisi dan menjadikan kehidupannya sebagai sarana untuk menjadi orang yang bertakwa kepada Allah SWT. &#8220;<em>&#8230; Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamn di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu &#8230;</em>&#8220;  (<a title="QS. Al-Hujurat" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/49" target="_blank">QS. Al-Hujurat [49]</a>: 13).</p>
<p>Untuk pengembangan modal tersebut, kehidupan dan perkembangan anak diletakkan dalam tanggungjawab kedua orang tuanya. Kedua orang tuanyalah yang membuat anak itu seperti orang <a title="karakter yahudi" href="http://mimbarjumat.com/archives/353" target="_blank">Yahudi</a>, Nasrani, atau Majusi.</p>
<p>Dengan kata lain, anak dilahirkan dalam <a title="sesuai fitrahnya" href="http://mimbarjumat.com/archives/345" target="_blank">keadaan fitrah</a> dapat saja berubah ke arah yang tidak diharapkan. Adalah orang tua yang memikul tanggungjawab agar hidup anak tidak menyimpang dari garis yang lurus itu.</p>
<p>Bila kedua orang tua berhasil merealisasikan tanggungjawabnya sebagai orang tua, sebagai pendidik pertama, maka anak akan tampil dalam wajah yang ketiga, yaitu anak sebagai hiasan kehidupan di dunia.</p>
<p>Firman Allah SWT, &#8220;<em>Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan</em>&#8221; (<a title="QS. Al-Kahfi" href="http://mimbarjumat.com/al-quran-online/18" target="_blank">QS. Al-Kahfi [18]</a>: 46).</p>
<p>Sekaligus pula anak akan menghiasi orang tuanya. la akan tampil sebagai waladun shaleh yang memberikan kebahagiaan kepada orang tua, karena sedap dipandang dan nyaman pula untuk diamati prilakunya dan sesuai dengan apa yang digariskan Allah SWT.</p>
<p>Manakala orang tua <a title="meminta maaf kepada orang yang sudah meninggal dunia" href="http://mimbarjumat.com/archives/897" target="_blank">sudah meninggal</a>, waladun sholeh akan mendoakan dan memintakan ampunan kepada Allah untuk kedua orang tuanya itu. Hadits Nabi Saw yang berbunyi, &#8220;<em>Apabila seorang anak Adam telah telah meninggal dunia maka putuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu: amal jariyah, ilmuyang bermanfaat dan anak sholeh yang senantiasa mendoakannya</em> &#8220;.</p>
<p>Supaya anak dapat tetap terpelihara dalam fitrahnya, maka Islam menetapkan tugas institusi keorangtuaan (keluarga) dalam pendidikan anak meliputi:</p>
<ol>
<li><strong>Menegakkan ketentuan hukum Allah</strong>.<br />
Artinya hidup dan kehidupan mereka dalam suatu keluarga didasarkan pada upaya menunaikan pengabdian kepada Allah SWT, sebagai tujuan hidup. Dengan demikian, anak dalam binaan keluarga muslim dapat tumbuh dan berkembang menjadi dewasa dalam lingkungan yang dibangun berdasarkan <a title="menjaga ketakwaan" href="http://mimbarjumat.com/archives/906" target="_blank">takwa kepada Allah</a>. Dalam suasana demikian, seorang anak mempelajari hal-hal secara wajar. la akan menyerap adat kebiasaan dari orangtuanya secara taklid.</li>
<li><strong>Mewujudkan ketentraman jiwa</strong>.<br />
Artinya suami istri yang bersatu atas dasar kasih sayang (berdasarkan kerelaan) dapat mewujudkan rasa aman dan tentram. Dengan demikian anak dapat hidup dalam suasana <a title="orang-orang bahagia" href="http://mimbarjumat.com/archives/3" target="_blank">bahagia</a> yang diliputi oleh rasa percaya diri sehingga mereka terhindar dari kegelisahan, keterkekangan dan hal-hal yang dapat melemahkan kepribadiannya.</li>
<li><strong>Mewujudkan kecintaan kepada anak</strong>.<br />
Artinya <a title="keajaiban kasih sayang" href="http://mimbarjumat.com/archives/864" target="_blank">kasih sayang</a> kepada anak sebagai naluri yang difitrahkan Allah kepada ibu bapak sangat penting untuk pertumbuhan mental anak secara baik, karena kasih sayang merupakan asas pertumbuhan biologis, psikologi dan sosial.</li>
<li><strong>Menjaga fitrah anak agar tidak terpengaruh oleh hal-hal negatif</strong>.<br />
Artinya keluarga adalah tanggung jawab utama terpeliharanya fitrah anak. Dengan demikian penyimpangan yang dilakukan anak-anak lebih disebabkan oleh kelalaian orang tua terhadap perkembangan anak, &#8220;<em>Setiap orang itu dilahirkan bersama fitrah yang suci. Orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau Majusi</em> &#8220;. (Hadits).</li>
</ol>
<p>Untuk merealisasikan tugas-tugas institusi keorangtuaan (keluarga) tersebut di atas, maka diperlukan berbagai pendekatan, metode dan teknik yang efektif, yang dapat memotivasi anak untuk menerima petunjuk ilahi, seperti <a title="pentingnya keteladanan para pemimpin" href="http://mimbarjumat.com/archives/90" target="_blank">keteladanan</a>, pembiasaan dan dialog agar mereka menjadi waladun shaleh.</p>
<p><em>Sumber : Buletin <a title="kategori mimbar jum'at" href="http://mimbarjumat.com/archives/category/mimbar-jumat" target="_blank">Mimbar Jum&#8217;at</a>, No. 07 Th. XXIII</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimbarjumat.com/archives/1083/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
