Mengolok-olok Agama

unduk | Sosial,Tauhid | Wednesday, May 25th, 2011
mengolok-olok

mengolok-olok

Remeh, tapi mematikan! Seperti setetes tuba yang tercampur dalam genangan air susu, merusak semuanya. Tak ada beda, sengaja ataupun tidak keduanya tercampurkan.

Dan ada “setetes” yang sangat berbahaya bagi eksistensi keimanan seseorang: “Istihza”, yaitu mengolok-olok sesuatu dari agama yang mulia ini. Baik dengan sengaja maupun hanya sekedar bersenda gurau. Baik dengan lisan, maupun dengan gerakan anggota badan, seperti kedipan, sunggingan bibir dan lain sebagainya.

Istihza’ (mengolok) terhadap Allah, al-Qur’an dan Rasul-Nya hari ini dipandang sebagai hal remeh dan tidak berdampak apa-apa. Justru dari peremehan inilah, ia menjelma menjadi sebuah monster kekafiran yang kadang tersembunyi dalam selimut yang berlabel iman.

Atau mungkin, ada sebagian orang yang kebangetan pintemya, mencoba mengartikan lain, “bukan mengolok-olok, ini adalah mengkritisi, memberikan wacana agar kaum Muslimin mendapat pencerahan, sehingga tidak selalu berwatak tradisionalis dan jumud”

(lanjut …)



Taqrib, Kewajiban yang Terabaikan

unduk | Sosial | Thursday, May 19th, 2011
taqrib

taqrib

Suatu hari, di Masjid Nabawi, para sahabat sedang duduk berkumpul dan berbincang-bincang dengan akrab. Di salah satu bagian masjid, para sahabat yang berbincang-bincang itu adalah mereka yang tadinya berasal dari Kabilah Aus dan Khazraj.

Sungguh pemandangan yang sangat indah dan menenteramkan. Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW telah merekatkan hati yang sebelumnya tercerai-berai, memadamkan api dendam yang tadinya menyala-nyala, serta menumbuhkan benih-benih keharmonisan yang sebelumnya terkurung di kegelapan lipatan sekat-sekat perpecahan.

Aus dan Khazraj adalah dua kabilah yang pernah terlibat peperangan selama sekitar 120 tahun. Ada banyak perang yang mereka jalani. Yang paling terkenal adalah Perang Bu’ats. Pada perang ini, kemenangan silih berganti diraih oleh kedua pihak. Kemenangan di satu pihak artinya kekalahan di pihak lain.

(lanjut …)



Prinsip Dasar Dalam Memahami Al-Qur’an

unduk | Syariat | Thursday, May 12th, 2011
memahami al-qur'an

memahami al-qur'an

Di antara bukti kasih sayang Allah terhadap hamba-hamba-Nya ialah Dia tidak hanya menganugerahkan fitrah yang suci yang dapat membimbingnya kepada kebaikan, bahkan dari zaman ke zaman mengutus seorang Rasul yang membawa Kitab sebagai pedoman hidup dari Allah, menyeru kepada tauhid, mengajak agar beribadah hanya kepada Allah semata.

Menyampaikan kabar gembira dan memberi peringatan sehingga tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah datangnya para rasul. Allah berfirman, “(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [QS. al-Nisa' (4): 165]

Al-Qur’an adalah risalah dari Allah untuk selurah umat manusia. Banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang masalah ini, di antaranya, “Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Menghidupkan dan Mematikan. Maka berimanlah kepada Alloh dan kepada kalimat-kalimat-Nya (Kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kalian mendapat petunjuk.” [QS. al-A'raf (7): 158]

(lanjut …)



Meraih Kemuliaan

unduk | Taqwa,Tauhid | Friday, May 6th, 2011
Meraih Kemuliaan

Meraih Kemuliaan

Dalam sebuah hadits, Rasululloh SAW bersabda: “Rasa iman akan lezat bagi orang yang ridho Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai Rasulnya” (HR. Muslim)

Iman adalah pokok dan asas kemuliaan yang sesungguhnya bagi manusia, karena imanlah ukuran nilai yang ada disisi Allah SAW. Dengan iman, manusia akan meraih ‘izzah (kemuliaan) dan kehormatan. Sebaliknya, tanpa iman manusia hanya akan mendapat kehinaan dan kerendahan.

Iman bukan hanya berada di dalam hati, yang berisi ilmu yang diyakini atau irodah (niat, kehendak) kecintaan, ketundukan dan kepatuhan. Iman bukan pula hanya terbatas pada ikrar lisan dengan ucapan syahadatain.

Iman berarti pula sikap yang ada dalam amal zhohir anggota tubuh manusia, seperti: Shalat, menerapkan hukum Allah SAW, jihad dan seluruh amal perbuatan lainnya secara global. Dalam ketiga unsur ini pula iman dapat bertambah dengan berbagai ketaatan dan berkurang dengan berbagai kemaksiatan.

(lanjut …)