Hakikat Sukses

Akhlaq,Sosial | Tuesday, November 24th, 2009
sukses

sukses

Bila ingin mencapai sesuatu, katakanlah kita ingin maju, sukses dan berhasil dalam hidup, tentu kita punya kiat-kiat untuk menggapainya. Dalam buku “Unlimited Power” (Kuasa Tak Terbatas) oleh Anthony Robbins ada tujuh hal yang diperlukan untuk dapat meraih sukses itu, yartu:

Pertama, Gairah. Ini adalah langkah pertama untuk membangkitkan semangat yang berkobar dalam jiwa, sehingga timbul hasrat yang besar untuk meraih sukses tersebut.

Dahulu para pejuang bangsa ini tidak ada kata menyerah dalam merebut kemerdekaan, mereka bergairah atau berani terus menghadapi para penjajah meskipun dengan senjata seadanya. Demikian juga jago marketing yang ingin memasarkan produknya, mereka tidak bosan-bosan mensosialisasikan barang dagangannya untuk meraih perhatian pembeli.

Hal ini mengingatkan kita akan firman Allah SWT: “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap ” (QS. Alam Nasyrah: 7-8).

(lanjut …)



Membantu si Zalim

Sosial | Saturday, November 21st, 2009
Mantan Kabareskrim Polri

Mantan Kabareskrim Polri

Dalam suatu kesempatan bersama Rasulullah SAW, para sahabat tercengang oleh sabda beliau, “Bantulah orang yang zalim dan yang dizalimi.” Sebagian sahabat menyahut, “Kami tahu bahwa orang yang dizalimi harus dibantu, wahai Rasulullah; tapi bagaimana kami harus membantu si zalim?” Rasulullah menjawab, “Bantulah si zalim dengan menjauhkan dan mencegahnya dari kezaliman.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis ini tidak hanya menuntun kita untuk menumbuhkan sensitivitas dan kepedulian terhadap orang-orang yang dizalimi, tapi juga menyodorkan solusi untuk mengeliminir kezaliman yang berkembang di tengah-tengah masyarakat.

Sampai batas tertentu, kezaliman bisa jadi merupakan sisi kelam dari insting manusia. Tak seorang pun steril dari kemungkinan berbuat zalim. Oleh karena itu, menghapuskan kezaliman tidak bisa hanya dengan membantu si korban, namun perlu diiringi ikhtiar untuk mengentaskan si pelaku dari kubangan kezalimannya.

Bagi seorang pemimpin, membantu seseorang terhindar dari kezaliman bisa dengan cara tidak mengamanatkan suatu jabatan kepadanya. Terutama bila yang bersangkutan dipandang kurang cakap. Seperti yang dilakukan Rasulullah SAW terhadap dua sejawat Abu Musa al-Asy’ari, atau terhadap Abu Dzar al-Ghifari, yang meminta jabatan kepada beliau.

(lanjut …)



Klarifikasi

Akhlaq,Sosial,Syariat | Thursday, November 19th, 2009
Tim pencari fakta menyerahkan rekomendasi

Tim pencari fakta menyerahkan rekomendasi

Pada masyarakat modern, berita atau informasi tidak saja merupakan kebutuhan pokok, tetapi juga tulang punggung dari kehidupan itu sendiri. Tapi, jangan lupa, bahwa berita itu adakalanya benar dan ada pula yang bohong, bahkan ada pula berita yang hanya gosip belaka yang sengaja disiarkan oleh orang-orang jahat dan tidak bertanggung jawab.

Itu sebabnya, Allah SWT mengingatkan kaum beriman agar kritis dan pandai memilah dan memilih berita, apalagi berita besar yang disebarkan orang yang jahat (fasik).

Firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat [49]: 6).

Ayat ini, menurut riwayat yang masyhur, seperti dinukil semua pakar tafsir, turun berkenaan dengan Walid ibn Uqbah, seorang sahabat yang ditugaskan oleh Nabi untuk memungut pajak di kalangan Bani Mushthalag.

(lanjut …)



Amanah vs Khianat

Akhlaq,Sosial | Wednesday, November 18th, 2009
amanah vs khianat

amanah vs khianat

Amanah dan khianat adalah dua sifat dan perilaku yang antagonistik dan bertentangan satu dengan yang lainnya, yang banyak diungkapkan di dalam Al-Quran maupun di dafam hadis Nabi SAW.

Amanah termasuk sifat terpuji yang harus melekat pada setiap pribadi orang yang beriman, kapan dan di mana pun, serta apa pun posisi, profesi, jabatan, dan kedudukannya. Sedangkan khianat termasuk sifat yang buruk (akhlaq madzmumah) yang harus dihindari, dijauhi, dan ditinggalkan oleh orang-orang yang beriman.

Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS Al-Anfal [8]: 27).

Betapa pentingnya sifat amanah ini. Dalam sebuah hadis riwayat Ibn Hibban, Rasulullah SAW menyatakan tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki sifat amanah dan tidak ada agama bagi orang yang tidak pernah menepati janji.

(lanjut …)



Hakikat Kemanusiaan Kita

Taqwa,Tauhid | Tuesday, November 17th, 2009
merenung sendiri

merenung sendiri

Pada hakikatnya, Allah menciptakan manusia dalam keadaan suci. Takdir kesucian tersebut bersumber dari dorongan untuk selalu menyembah dan mengabdi kepada-Nya. Dorongan tersebut tertanam kuat di alam bawah sadar, hingga ia terkadang tidak disadari sepenuhnya oleh manusia.

Allah SWT berfirman, “Ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi!’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kia-mat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)’.” [QS. al-A'raf (7): 172].

Setiap manusia memiliki kerinduan untuk kembali kepada Tuhan, memenuhi janjinya dalam ayat persaksian tersebut. Inilah dorongan yang mendasari lahirnya agama, yang oleh Ibnu Maskawayh disebut al-Hikmah al-Khalidah atau ‘Kearifan Abadi’. Dengan demikian, penolakan terhadap dorongan itu merupakah sikap melawan hakikat penciptaan manusia itu sendiri.

(lanjut …)



Antara Riba dan Zakat

ekonomi,Sosial,Syariat | Wednesday, November 11th, 2009
gedung bank indonesia

gedung bank indonesia

Secara bahasa ada kemiripan arti dan makna antara riba dan zakat, yaitu sama-sama bertambah. Hanya saja, riba itu tambahan yang bersifat batil. Karena itu, tidak diridai Allah sehingga jika dilakukan akan berakibat kehancuran serta kerusakan hidup (QS. Al-Baqarah [2]: 275 dan QS. Ar-Rum [30]: 39).

Dan jika ada orang, kelompok, atau bangsa tetap saja melaksanakan kegiatan riba, padahal sudah diketahuinya bahwa riba/bunga itu haram, maka dianggap sama dengan menentang atau mengajak berperang dengan Allah SWT.

Perhatikan firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah [2] ayat 279, “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya-Nya.”

Sebaliknya, mengeluarkan zakat yang walaupun secara lahiriah kelihatannya akan mengurangi harta, tetapi ternyata justru sebaliknya, akan menyucikan, mengembangkan, dan memberkahkan harta yang dimiliki.

Perhatikan firman-Nya dalam QS. Ar-Rum [30] ayat 39, “Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat-gandakan (pahalanya).”

(lanjut …)



Fitrah Perbuatan Baik

Akhlaq,Ibadah,Sosial | Saturday, November 7th, 2009
menolong nenek menyeberang jalan

menolong nenek menyeberang jalan

Banyak publikasi ilmiah menjelaskan bahwa salah satu sumber kebahagiaan manusia adalah berbuat baik kepada orang lain. Kebahagiaan itu bukan sekedar efek samping dari perbuatan tersebut, melainkan secara intrinsik sudah merupakan bagian darinya.

Mungkin kita masih sering berpikir bahwa setiap pertolongan kita untuk orang lain semata-mata demi kebaikan mereka. Padahal, tidak demikian. Perbuatan itu pada hakikatnya adalah untuk diri kita sendiri, untuk kebahagiaan kita.

Kebahagiaan itu muncul karena secara emosional kita merasa lapang, berkecukupan, dan berpengharapan. Kita juga akan mampu melihat dunia secara lapang, karena kita memiliki jiwa yang lapang.

Dalam sebuah firman, Allah menjanjikan kelapangan bagi hambanya yang gemar berbuat baik. “Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas.” (QS. Az-Zumar [39]: 10) Jadi, sesungguhnya perbuatan baik itu adalah sumber harapan dan kesentosaan bagi kehidupan kita.

(lanjut …)



Prestasi Bukan Prestise

Akhlaq,Ibadah,Sosial | Wednesday, November 4th, 2009
kerja serius

kerja serius

Sewaktu Nabi Ibrahim AS diangkat (dipilih) sebagai pemimpin (imam), beliau bertanya kepada Tuhan tentang (nasib) anak-anak dan keturunannya. Lalu, Allah SWT menjawab, “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah [2]: 124).

Ayat ini mengajarkan kepada kita dua hal penting. Pertama, bahwa kedudukan dan pangkat tidak didasarkan pada keturunan (darah) dan kesukuan (etnik). Kedua, bahwa pemimpin selain harus adil (tidak zalim), ia harus berorientasi pada prestasi kerja (amal saleh), bukan prestise.

Inilah letak perbedaan antara kepemimpinan model jahiliyah dengan kepemimpinan Islam. Dalam masyarakat jahiliyah, seperti sering dikemukakan oleh ulama besar dunia, Syekh Islam Ibn Taimiyah, kemuliaan seseorang ditentukan oleh keturunan, sedangkan dalam Islam ditentukan oleh kualitas iman dan takwa alias prestasi kerja.

Prestasi, bukan prestise, bisa kita upayakan melalui setidak-tidaknya tiga hal. Pertama, membangun etos kerja yang baik dengan menyadari sepenuhnya bahwa kerja adalah ibadah. Sebagai ibadah, kerja harus dilakukan dengan niat yang tulus dan motif yang tinggi.

(lanjut …)



Bila Buah Hati tak Kunjung Hadir

Akhlaq,Taqwa,Tauhid | Monday, November 2nd, 2009
bayi lucu

bayi lucu

Salah satu tujuan pernikahan adalah melahirkan generasi shalih yang akan meneruskan kehidupan Bani Adam di muka bumi secara umum dan mengemban tongkat estafet perjuangan umat dalam menyebarkan Islam kepada alam semesta secara khusus.

Allah SWT berfirman, artinya, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa rasul sebelummu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.” (Ar-Rad: 38).

Lahirnya anak-anak bagi suami istri merupakan kebahagiaan yang tidak tergantikan. Dapat segera menimang sang buah hati hasil dari cinta kasih keduanya dalam sebuah ikatan suci setelah pernikahan merupakan harapan yang sangat diimpikan.

Kehadiran anak akan menjadi hiasan indah bagi bangunan rumah tangga, tanpanya hati suami istri terasa hampa, tanpanya kebahagiaan pernikahaan keduanya seakan belum lengkap dan tanpanya rumah keduanya terasa sepi.

Namun ada satu perkara yang sudah dimaklumi bersama bahwa tidak seluruh keinginan manusia dapat terwujud, karena hidup memiliki Pengatur dan Penata, di tangan-Nya-lah segala urusan dipegang, maka terkadang ada suami istri yang susah punya anak, padahal keduanya sudah menikah beberapa tahun, bahkan telah menempuh segala upaya dan cara, namun sang buah hati belum juga lahir.

(lanjut …)