
kalung emas
Kekayaan yang Allah berikan kepada manusia merupakan titipan sementara. Sebagian manusia mendapatkan titipan itu dengan jumlah yang besar dan sebagian yang lain mendapatkannya dengan jumlah kecil. Namun, menurut ajaran Islam, keberkahan harta benda itu tidak ditentukan oleh besaran jumlahnya.
Harta kekayaan seseorang akan berkah jika pemiliknya melakukan amalan-amalan sesuai dengan tuntunan Islam. Berikut amalan-amalan yang dimaksud. Pertama, syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang dikaruniakan kepadanya.
Allah berfirman, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan. Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim [14]: 7).
Kedua, silaturahim. Amalan ini merupakan upaya menyambung tali persaudaraan antar sesama manusia: merajut dan memperkuat ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Muslim) dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan sesama manusia). Praktik ini dapat melapangkan rezeki dari Allah.
(lanjut …)

kabinet
Dalam sebuah hadis riwayat Abu Daud, dari Siti Aisyah ra, Rasulullah SAW bersabda, “Jika Allah bermaksud menjadikan seorang pemimpin berhasil dalam kepemimpinannya, maka Diajadikan para pembantunya (para menterinya) orang-orang yang jujur dan tegas. Jika pemimpin itu lupa, mereka mengingatkannya. Dan jika pemimpin itu lurus dan benar, mereka mendukung dan membantunya. Tetapi, jika Allah menghendaki kepemimpinan seorang pemimpin itu tidak berhasil, maka para pembantunya (para menterinya) adalah orang-orang yang buruk yangtidak punya integritas. Jika pemimpin itu salah, mereka tidak mengingatkannya. Dan jika benar, mereka tidak mendukungnya .”
Taujih nabawi (arahan Nabi) di atas mengisyaratkan secara jelas bahwa di antara variabel penting yang menentukan keberhasilan atau kegagalan dari seorang pemimpin dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya, yaitu menyejahterakan masyarakatnya, adalah karakter dan watak serta integritas dari para pembantunya atau para menterinya.
(lanjut …)

pengumuman susunan kabinet indonesia bersatu II
Secara tradisional amanat hanya dipahami sebagai menunggu barang-barang titipan (wada’i), lalu menyampaikan dan meneruskan kepada pemilik atau orang yang berhak menerimanya. Diakui, pengertian ini memang tidak salah. Namun, secara modern, amanah memiliki cakupan makna yang lebih luas, terutama berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab seseorang yang memangku jabatan publik.
Dalam buku Khuluq al-Muslim, Muhammad Ghazali mengemukakan tiga makna penting dari amanah. Pertama, amanah berarti menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang tepat dan layak (wadh’ kull-i al-syai-i fi al-makan al-jadir lah). Dalam arti ini, orang yang amanah tak akan pernah memberikan tugas dan jabatan, kecuali kepada orang yang mampu dan cakap.
Itu sebabnya, Rasulullah menolak permintaan sahabatnya, Abu Dzar, ketika meminta kepada Nabi agar diangkat sebagai pejabat. (HR Muslim). Kemampuan intelektual (al-kifayah al-’ilmiyyah) dan kecakapan praktikal (al-kifayah al-amaliyyah), kata Muhammad Ghazali, tak selalu berkorelasi positif dengan keshalihan individual.
Maka boleh jadi, orang baik, bahkan sangat baik, semacam Abu Dzar, tetapi ia tak otomatis memiliki keahlian (competence) dan keterampilan praktikal (managerial skill), yang dipersyaratkan untuk dapat memangku dan melaksanakan suatu jabatan dengan baik dan sempurna.
(lanjut …)

bantuan gempa lampung
Sudah lebih dari sepekan lalu ‘Gempa Sumatra’ terjadi. Korban tewas akibat gempa berkekuatan 7.6 skala ritcher itu terus bertambah. Berdasarkan data dari Satkorlak Penanggulangan Bencana Sumatera Barat (4/10), korban tewas berjumlah 603 orang.
Kemungkinan korban tewas bisa mencapai 1.000 orang. Korban luka-luka juga terus mengalami peningkatan;yang !uka berat sebanyak 412 orang dan luka ringan sebanyak 2.093 orang. Adapun korban yang mengungsi sebanyak 736 orang (Republika Online, 4/10/ 2009).
Namun, Pemerintah seperti tidak mau belajar. Seperti sudah menjadi kebiasaan, penanganan korban gempa oleh Pemerintah selalu terlambat. Buktinya, meski ribuan orang selamat, sebagiannya – terutama para pengungsi – tetap menderita.
Pasalnya, meski telah enam hari pasca gempa, distribusi bantuan gempa terkesan lamban, padahal akses jalan ke sejumlah kabupaten dan kecamatan telah lancar. Akibatnya, sebagian besar korban gempa kini mulai mengaku kelaparan.
(lanjut …)

pintu taubat
Pada hakikatnya, setiap orang beriman mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan Allah SWT. Dia berfirman, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, (maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat.” (QS Al-Baqarah [2]: 186).
Kedekatan seorang Mukmin dengan Allah, mendatangkan manfaat sangat besar. Tidak ada doanya yang tidak dikabulkan, tidak ada dosanya yang tidak diampuni, tidak ada kesulitannya yang tidak dimudahkan. Bahkan, gerak ibadahnya terasa nikmat karena didasarkan pada rasa cinta kepada Zat Yang Maha agung.
Karena itu, setiap Mukmin hendaknya menjaga kedekatan dengan-Nya. Memang istiqamah di jalur ini berat. Bahkan, bagi sebagian orang teramat berat. Imam Al-Ghazali dalam bukunya Minhaj Al ‘Abidin mengingatkan, menjaga kedekatan dengan Allah tidaklah mudah. Godaan setan dan gejolak hawa nafsu akan terus menghadang.
Begitu pandai setan menggoda, hingga banyak muncul lelucon bahwa dosa kecil adalah biasa, sedangkan dosa besar dapat dihapus di hari tua dengan giat ibadah.
Dalam sebuah riwayat Ibnu Mas’ud mengatakan, “Orang yang benar-benar beriman, ketika melihat dosa-dosanya, ia seperti duduk di bawah gunung. la khawatir kalau puncak gunung itu jatuh menimpanya. Adapun orang munafik, ia memandang dosanya seperti menghalau lalat di ujung hidungnya.” (HR Bukhari).
(lanjut …)

apa kata akhirat ?
Ajaran zakat dalam Islam secara normatif memiliki spirit sosial yang tidak sederhana. Apa yang diisyaratkan oleh Al-Quran adalah petunjuk Tuhan untuk memelihara stabilitas kesejahteraan umat. Melalui pola distribusi secara proporsional, zakat menjadi solusi untuk membagi kekayaan sesuai dengan proporsi yang telah ditentukan.
Allah memberikan petunjuk hingga ke tingkat operasional. Siapa yang menjadi sasaran utamanya (QS. At-Taubah: 60), berapa besarnya yang harus dikeluarkan muzakki (pembayar zakat) dan diterima mustahig (penerima zakat), semua telah terungkap jelas.
Mungkin, karena alasan seperti inilah, mengapa zakat selalu menjadi perhatian serius sejak zaman Nabi SAW dan para sahabatnya. Dan di lingkungan masyarakat kita, selama sekitar 10 tahun terakhir, zakat dan kelembagaannya juga tak pernah henti-hentinya diperbincangkan.
Perbincangan terutama bermula dari pertanyaan besar, mengapa potensi kekayaan yang cukup besar itu belum mampu menjawab persoalan kemiskinan yang selama ini melilit kehidupan umat. Padahal,
jika dibuat kalkulasi dengan mendasarkan pada argumen bahwa zakat itu merupakan “keharusan”, banyak persoalan kemiskinan akan bisa ditanggulangi.
(lanjut …)

korban gempa padang
Musibah demi musibah datang silih berganti menerpa negeri ini. Jumlah kerugian sudah tidak terhitung lagi. Ada kerugian materi dan fisik. Ada pula kerugian psikologis. Apa rahasia di balik semua ini? Apakah ini ujian, laknat, ataukah hanya cara kerja alam mematuhi amanat Tuhan?
Alam dan semua yang terjadi di dalamnya merupakan rentetan kalimat-kalimat walau tidak tersusun dari huruf-huruf, dan tidak pula terangkai dari kata-kata. Di dalamnya sarat dengan isyarat dan penuh dengan ibrah (pelajaran).
Setiap mata diharapkan dapat membaca ayat-ayat alam dan menelaah kalimat-kalimat yang beredar di jagat raya. Pun demikian dengan telinga, diharapkan terbuka untuk mendengarkan suara-suara yang menggema di dalamnya.
Masalah penciptaan, hidup dan mati, Allah rumuskan dengan tujuan yang jelas. Allah menegaskan dalam Al-Quran, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini sia-sia; Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imron [3]: 190-191)
(lanjut …)

terminal the movie
Ketika bangunan menjulang baru berdiri. Pesta digelar memeluk decak kekaguman. Tetapi, adakah mereka bertanya, di manakah wahai para kuli bangunan ? Padahal, di antara para kuli itu mungkin ada yang terjatuh dari lantai tujuh, mati tanpa asuransi, meninggalkan istri dan anaknya cemas menanti.
Ketika seseorang mangkat. Para pengiring jenazah didera haru. Dan setelah prosesi doa sambutan usai, tolan dan para kerabat itu akhirnya pulangjuga ke rumahnya. Tetapi, adakah yang teringat siapakah gerangan para tukang gali kuburan?
Maka sadarlah bahwa sesungguhnya tidak ada satu pun kenikmatan tanpa jasa orang lain yang bahkan tidak pernah kita kenal. Dialah ‘orang -orang lemah’ yang telah berjasa menapaki jalan panjang untuk menghantarkan sepiring nasi di atas meja hidangan.
Sungguh kita sering melupakan jasa mereka. Kita lupa, siapa gerangan paraji, dukun beranak atau bidan yang membantu pesalinan ketika kita lahir. Kita pun sudah lupa siapa nama guru SD kelas satu. Padahal dialah manusia pertama yang mengajarkan huruf dan angka.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kalian akan diberi rejeki dan pertolongan karena jasa kelompok orang-orang yang miskin.” (HR Abu Dawud)
Pada hati yang hancur ada kekuatan yang memberikan cahaya bagi orang yang mau memperhatikannya. Sehingga, Allah berfirman bahwa salah satu ciri orang yang bertakwa adalah mereka yang menyadari bahwa pada harta mereka ada hak orang yang meminta maupun yang tidak meminta (QS Adz Dzaariyaat [51]: 20)
(lanjut …)

DPR RI
Kamis, 1 Oktober 2009, negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini kembali disuguhi oleh salah satu peristiwa cukup besar sekaligus mewah: Pelantikan Anggota DPR Terpilih Periode 2009-2014. Pelantikan yang dikawal tidak kurang oleh 3000-an pasukan keamanan ini dikatakan peristiwa besar karena para anggota DPR baru tersebut selama lima tahun ke depan akan turut menentukan nasib jutaan rakyat negeri ini.
Pasalnya, sebagaimana sebelumnya, melalui tangan para anggota DPR-lah sejumlah produk UU yang mengatur seluruh kehidupan rakyat bakal lahir. Pelantikan ini juga sekaligus mewah karena menelan biaya sekitar Rp 11 miliar hanya untuk acara sekitar dua jam saja. Jumlah sebesar itu baru anggaran dari KPU. Padahal, sebagaimana lima tahun sebelumnya, acara pelantikan tersebut lebih bersifat seremonial belaka.
Adapun dari DPR sendiri, Setjen DPR telah menganggarkan Rp 26 miliar atau sekitar Rp 46,5 juta peranggota untuk biaya pindah tugas (tiket keluarga anggota Dewan dan biaya pengepakan) bagi anggota baru terpilih dari luar Jakarta. Hal itu didasarkan pada Keputusan Menteri Keuangan Nomor 7/KMK.02/ 2003.
Berharap pada DPR Baru?
Sekitar 70% anggota DPR Periode 2009-2014 memang benar-benar baru. Namun, sesuai dengan hasil Pemilu 2009 lalu, keanggotaan DPR baru itu tetap didominasi oleh partai-partai lama yang notabene sekular. Berdasarkan validasi terakhir KPU, perolehan kursi tiap parpol di DPR adalah: Partai Demokrat 150, Partai Golkar 107, PDIP 95, PKS 57, PAN 43, PPP 37, PKB 27, Gerindra 26, Hanura 18 (Mediacenter.kpu.go.id, 14/5/2009).
(lanjut …)

Presiden SBY
Amanah publik bukan arena untuk orang sembarangan. Sebab, amanah ini akan menggiring setiap orang yang mengembannya kepada dua pilihan yang terjal: kehinaan atau kemuliaan, ‘racun’ atau ‘madu’, neraka atau surga.
Demikian beratnya konsekuensi dari amanah ini, Allah SWT memberikan metafor bahwa langit, bumi, dan gunung-gunung tak akan mampu memikulnya. “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu. Mereka khawatir akan mengkhianatinya. Dan, dipikullah amanah itu oleh manusia” (QS. Al-Ahzab [33]: 72).
Oleh karena itu, ketika Rafi’ bin Umar meminta nasihat kepada Abu Bakar RA, sahabat utama Rasulullah SAW tersebut berpesan singkat, “Jangan pernah mau jadi pemimpin.”
Rafi’ menyela, “Anda menasihati saya agar menjauhi kepemimpinan, tapi Anda sendiri menjadi khalifah.”
“Ya, dan saya kukuh pada nasihat tadi. Karena siapa pun yang menjadi pemimpin, lalu tidak berlaku adil, laknat Allah akan merundungnya,” jawab Abu Bakar RA.
(lanjut …)