sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Menegakkan Syariah dan Khilafah

admin | Al-Huda, Syariat | Friday, October 31st, 2008

khilafahPertanyaan :

Disinyalir mutu beragama umat Islam Indonesia masih rendah, baru pada tingkatan ibadah mahdah, sedangkan dalam ibadah sosial dan muamalah masih jauh dari ajaran agama. Apalagi dalam masalah jihad, umat Islam Indonesia sangat memprihatinkan. Dengan kata lain umat Islam Indonesia belum berislam secara kafah (secara menyeluruh), baru beragama setengah hati, dengan demikian dapat dikatakan bahwa umat Islam Indonesia terancam menjadi orang yang beragama dengan munafik, yaitu secara lahiriah menyatakan beriman, namun di dalam hati tidak beriman. Begitulah ustadz, salah satu isi ceramah Ramadhan di masjid kami bulan Ramadhan yang lalu.

Oleh karenanya umat Islam Indonesia perlu memperbaiki kwalitas keimanannya dengan menjadikan jihad dan bermuamalah secara Islam sebagai tekad dalam memperbaiki mutu iman. Untuk itu menurut ustadz yang berceramah umat Islam Indonesia perlu berbulat tekad untuk menegakkan syariah dan menegakkan khilafah islamiyah. Tegaknya syariah dan khilafah itu adalah diperlukan bukan saja untuk kebaikan bagi uamt Islam, namun sekaligus juga merupakan kebaikan bagi umat yang non Islam. Karena Islam adalah agama yang diturunkan bukan hanya untuk mengurus umat Islam, sekaligus juga agama Islam diturunkan untuk mengurus umat yang non Islam.

(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Sumber Kebahagiaan

admin | An-Natijah, Ibadah | Sunday, October 26th, 2008

sedekahAnda ingin bahagia setiap hari?

Cobalah berikan beri sedekah kepada fakir miskin dan kaum dhuafa lainnya. Meskipun sedikit akan memberikan manfaat besar. Sebab dengan bersedekah bisa mendatangkan kebahagiaan, membuka pintu rezeki dan menolak bala.

Barangkali kedengarannya seperti omong kosong dan tidak masuk akal. Bukankah (secara logika) bersedekah itu sebuah pengeluaran yang mengurangi harta kita? Dan dari sudut pandang ekonomi itu berartinya kita bertambah miskin karena tidak adanya imbal balik dari apa yang telah kita berikan kepada orang lain?

Anggapan tersebut tidak benar dan bahkan telah dibuktikan secara ilmiah oleh para ilmuwan dari Universitas British Colombia dan Universitas Harvard yang menyimpulkan bahwa orang yang suka bersedekah setiap hari akan lebih bahagia. Menurut mereka, bersedekah merupakan cara sederhana yang luar biasa untuk mendapatkan kebahagiaan. (Seputar Indonesia, 22/03/08). Elizabeth W Dunn, asisten profesor psikologi Universitas British Columbia yang juga turut melakukan penelitian tersebut mengatakan bahwa:

(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Israaf

admin | An-Natijah, Ibadah | Sunday, October 26th, 2008

Israaf mempunyai makna:

  1. Melakukan sesuatu tetapi tidak dalam kerangka ketaatan
  2. Boros dan melampaui batas.

Menurut istilah Israaf adalah penyakit rohani berupa perbuatan yang melampaui batas kewajaran baik dalam hal makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan lain sebagainya.

Penyebab perilaku Israaf antara lain:

  1. Latar belakang keluarga. Bila keluarga membiasakan Israaf, maka akan tercontoh oleh anak-anaknya.
  2. Keluasan rezeki setelah datang kesempitan.
  3. Berteman dengan pemboros.
  4. Lalai terhadap bekal perjalanan
  5. Pengaruh isteri dan anak
  6. Lalai terhadap tabiat kehidupan dunia dan apa yang harus terjadi. Dunia selalu berubah, bisa jadi saat ini mendapat niktnat dan besok mendapat musibah. Barang siapa yang mengabaikan hal tersebut niscaya mereka sangat mudah masuk ke jurang lembah Israaf.
  7. Kurang mampu mengendalikan aneka tuntunan jiwa.
  8. Lalai terhadap kekuasaan dan kehebatan hari kiamat
  9. Lalai terhadap realitas yang tengah dihadapi. Bagi mereka yang “beku” perasaannya dan mati rasa belas kasihannya akan mudah berlaku Israaf. Yakni hidup bermewah-mewah dan mengumbar kesenangan duniawi
  10. Lalai terhadap dampak buruk akibat Israaf di antaranya:
    • Muncul penyakit fisik.
    • Hati jadi keras.
    • Kebekuan dalam pikiran.
    • Condong kepada dosa.
    • Menjadi saudara setan.
    • Mudah mencari harta melalui jalan haram.
    • Tidak mampu menghadapi ujian atau kesulitan.


sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Sebaik-baik Manusia

admin | Mimbar Jum'at, Sosial, Taqwa | Wednesday, October 22nd, 2008

Setelah puasa Ramadhan kita laksanakan berikut segenap amaliah pelengkap-nya, marilah kita merenung dan banyak mengingat kebesaran Allah SWT Pencipta seluruh alain ini, kita syukuri segala nikmat-nikmat-Nya yang telah dilimpahkan-Nya kepada kita. Orang yang banyak ingat dan bersyukur kepada Allah, hidupnya akan bahagia, tenang, dan tentram, dan hal itu dapat dirasakan secara langsung hasil dan akibatnya dalam kehidupan kita di dunia ini, lebih-lebih di akhirat kelak.

Manusia adalah makhluk Allah yang terbaik susunan jasmani dan rohaninya. Dengan panca indera dan akal, hati dan nafsu; manusia menjadi makhluk yang berperadaban. Dengan akal pikirannya, manusia itu semakin lama semakin maju dalam segala hal, karena dapat membedakan antara yang haq dan batil, yang membahagia-kan dan mencelakakan atau merusak. Dengan berpuasa yang salah satu tujuannya adalah agar manusia selalu berada dalam kebenaran (la ‘allahum yarsyudun) QS. Al-Baqarah [2]: 186, maka sesungguhnya kita telah ditempa untuk menumbuh-suburkan fitrah manusia sebagai makhluk yang cendrung kepada aan menginginkan kebenaran dan yang haq.

Sekalipun begitu, tidak dapat dibantah bahwa manusia dengan segenap potensi yang dimilikinya, iatidak hanya.melakukan yang baik dan benar, tetapi jugamengerjakan banyak keburukan. Semakin banyak manusia berbuat baik, maka berbahagialah suatu masyarakat. Dan sebaliknya, jikalau banyak yang berbuat jahat dan melakukan teror sosial, maka akan sengsara dan tidak tentramlah suatu masyarakat.

(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Berorientasi Akhirat

admin | Khairu Ummah, Taqwa | Monday, October 20th, 2008

orientasi akhiratSebagai muslim sejati, setiap kita tentu memahami dan menyadari bahwa kehidupan akhirat jauh lebih baik dibanding kehidupan di dunia ini. Karenanya kehidupan dunia hanya batu loncatan untuk meraih kenikmatan dalam kehidupan akhirat. Oleh karena itu, sangat beruntung apabila kita berhasrat kepada kehidupan akhirat, dibanding kehidupan dunia yang perbandingannya seperti air lautan dengan tetesan air dari jari tangan yang baru dicelupkan. Rasulullah saw mengemukakan keuntungan bila kita berorientasi pada kehidupan akhirat dalam satu haditsnya:

Dan barangsiapa yang akhirat adalah semangat dan hasratnya dan kepada-nya ia mencurahkan perhatian dan untuknya ia berniat, niscaya Allah azza wa jalla menjadikan kekayaan di dalam hatinya dan Dia memperbaiki segala urusannya, dan kekayaan dunia datang kepadanya dalam keadaan hina” (HR. Bazzar, Thabrani dan Ibnu Hibban)

Dari hadits di atas, kesimpulan yang bisa kita ambi! adalah bahwa paling tidak, ada tiga keuntungan yang akan kita peroleh bila ambisi kita adalah untuk kehidupan akhirat yang bahagia.

(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Masjid sebagai Sentral Kebangkitan Umat Islam

admin | Indah Mulya, Sosial | Saturday, October 18th, 2008

masjidSimbol kebangkitan Islam

Ada seorang insiyur Arsitek yang senior dan sering mendapat proyek raksasa antara lain adalah jembatan Selat Sunda yang menghubungkan pulau Sumatera dengan pulau Jawa. Ternyata beliau adalah bukan seorang arsitek biasa tetapi beliau telah mengkaji Al qur’an yang begitu lama waktunya.

Dalam perjalanan untuk mengkaji Al qur’an beliau temukan ayat-ayat yang meyakinkan  pribadi beliau bahwa era 700 tahun ke depan adalah era kebangkitan Islam. Dan yang lebih mengkejutkan beliau meyakini bahwa kebangkitan Islam dan umat Islam sedunia 700 tahun ke depan akan dimulai take of nya dari Negara Indonesia, ternyata salah satu ayat yang beliau maksud sebagai ayat kebangkitan Islam dan umat Islam di Indonesia adalah ayat pertama dari surat Isra.

Kemudian kita bertanya kenapa kebangkitan Islam itu dari Indonesia, kemudian arsitek itu menjawab karena bangsa Indonesia itu negara yang paling banyak mempunyai jumlah masjid dibandingkan dengan seluruh negara di muka bumi ini. Katakanlah saja bahwa di Mataram dan pulau Lombok saja terkenal dengan negeri 1000 masjid, kadang-kadang dalam satu RT terdapat sebanyak dua masjid di pinggiran Mataram ada dua masjid yang terpaksa harus bergantian untuk melaksanakan sholat di masjid itu karena saking banyaknya jamaah. Semua masjid di bangun secara permanen dengan menara yang menjulang tinggi dan kubah yang sangat spesifik.

(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Ilmu

admin | An-Natijah, Ibadah, Sosial | Thursday, October 16th, 2008

Laskar PelangiIslam memandang begitu pentingnya ilmu, sehingga menuntut ilmu menjadi kewajiban bagi setiap muslim, sebagaimana sabda Nabi SAW : “Tuntutlah ilmu walaupun ke negeri Cina, karena menuntut ilmu itu fardu atas setiap manusia” (HR Anas bin Malik r.a)

Ilmu lebih penting daripada harta, demikian dikatakan oleh Sayidina Ali bin Ali Thalib: “Ilmu itu lebih penting daripada harta, karena ilmu menjaga kamu sedangkan kamu harus menjaga harta. Ilmu akan bertambah bila diberikan kepada orang lain, sedangkan harta akan berkurang bila dibelanjakan“.

Menuntut Ilmu

Keistimewaan orang yang menuntut ilmu dan kelebihan orang berilmu adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi SAW: “Barang siapa melewati suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya salah satu jalan di antara jalan-jalan surga. Sesungguhnya malaikat membentangkan sayapnya bagi orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang dilakukannya. Sesungguhnya orang alim itu dimintakan ampunan oleh semua apa yang ada di langit dan di bumi serta ikan-ikan di tengah lautan. Sesungguhnya kelebihan orang yang alim atas orang-orang yang beribadah (yang tidak alim) adalah seperti kelebihan bulan purnama atas bintang-bintang yang lain. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dirham dan dinar, akan tetapi mereka mewariskan ilmu………..“(HR Abu Darda r.a).

(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Akibat Ambisi Dunia

admin | Akhlaq, Khairu Ummah, Sosial | Monday, October 13th, 2008

Hakikat dunia sebagai tempat sementara seharusnya membuat manusia, apalagi kaum muslimin menyadari bahwa dunia ini adalah yang oleh Rasulullah saw dikatakan sebagai tempat bercocok tanam dan panennya dalam kehidupan di akhirat nanti. Namun tetap saja begitu banyak manusia yang lupa akan hakikat dunia sehingga kesenangan dan kenikmatan dunia menjadi ambisi manusia dan yang lebih tragis lagi adalah menjadi ambisi kaum muslim dan mereka yang menamakan dirinya sebagai aktivis dakwah yang seharusnya mengingatkan orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya.

Dunia seringkali dilambangkan dengan harta, tahta dan wanita. Orang yang berambisi terhadap dunia akan mencapai semua itu meskipun dengan menghalalkan segala cara, bahkan yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah mencari pembenaran dengan nilai-nilai Islam yang dipahaminya, salah satunya adalah dengan menggunakan istilah, dalil dan kaidah agama agar sesuatu yang tidak benar yang disikapi dan dilakukannya menjadi seolah-olah benar.

Oleh karena itu, Rasulullah saw mengingatkan bahayanya bila seseorang berambisi kepada dunia. “Barangsiapa yang dunia ini adalah semangat dan hasratnya, kepadanya ia memberikan perhatian dan untuknya ia berniat, niscaya Allah menjadikan kefakiran dihadapan kedua matanya, dan Dia memporakporandakan segala urusannya dan tidak akan ia peroleh darinya kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya darinya” (HR. Bazzar, Thabrani dan Ibnu Hibban).

(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Berbekal Taqwa

admin | Ibadah, Mimbar Jum'at, Taqwa | Saturday, October 11th, 2008

TaqwaPada tujuannya puasa Ramadhan yang baru saja kita laksanakan menjanjikan sebuah harapan. Harapan itu tergambar dalam surah al-Baqarah [2]: 183, di mana didalamnya dicantumkan kalimat “la’allakum tattaquun“. Menurut bahasa Arab kata “la ‘alla” bermakna “tawaqqa ‘uu” atau “rajaa“” yakni pengharapan. Oleh sebab itu. kalimat “la’allakum tattaquuna” diterjemahkan “agar supaya kamu bertakwa” atau “semoga kamu bertakwa“. Maksudnya, berpuasa menjanjikan harapan agar pelakunya lebih bertakwa kepada Allah SWT.

Dalam setiap harapan mestilah ada semacam proses atau fase-fase yang harus dilalui untuk tercapainya harapan itu. Proses ini bisa berjalan secara alamiah, sederhana atau bahkan membutuhkan waktu yang lama. Misalnya jika kita menginginkan sebatang besi menjadi sebuah pedang atau sebilah pisau, maka tentu kita harus memprosesnya terlebih dahulu dengan membakarnya, memukulnya, kemudian disirami air. Semakin baik kita memprosesnya dan telaten membentuknya, maka akan semakin baik pula hasilnya.

Demikian pula dengan ibadah puasa. Orang berpuasa pada hakikatnya ia tengah memproses dirinya agar supaya sumber daya manusianya semakin meningkat, bermutu dan berkualitas. Puasa adalah latihan. Latihan lapar agar tahan menghadapi musibah kelaparan atau paling tidak dapat merasakan dan mengerti penderitaan orang-orang yang kelaparan. Latihan sabar agar tabah menghadapi ujian dan cobaan. Latihan menahan dan mengendalikan hawa nafsu agar tidak terjerumus ke jalan yang sesat. Sehingga selesai berpuasa diharapkan dapat beribadah dan bersikap lebih baik serta bekerja lebih giat sebagaimana layaknya orang bertakwa.

(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Cita-cita Mulia

admin | Al-Huda, Sosial | Friday, October 10th, 2008

pak dirmanPertanyaan :

Masih terngiang ditelinga saya pidato Bung Karno yang menyatakan : “Wahai pemuda gantungkan cita-citamu setinggi bintang dilangit!”. Menurut Bung Karno, cita-cita itu begitu penting dalam hidup seseorang, karena cita-cita itu akan memandu perjalanan hidup seseorang ke masa depannya.

Kita ingat dan sama tahu, betapa dengan cita-cita Indonesia merdeka Bung Karno rela hidup dalam pembuangan (interniran) selama belasan tahun. Bahkan Bung Hatta disebabkan cita-citanya yang tinggi tentang kemerdekaan Indonesia sampai bersumpah tidak akan kawin sebelum Indonesia merdeka.

Bung Karno dan Bung Hatta beserta generasinya dikarenakan mempunyai cita-cita yang tinggi kemudian bekerja keras dan menjadi pejuang yang tangguh dan tahan menderita.

Pentingnya hidup dengan cita-cita adalah membuat seseorang teguh sebagai pejuarig dan tahan menderita. Ketiadaan cita-cita membuat hidup menjadi tidak bermakna. Karena hidup asal hidup saja. Tidak ada yang diperjuangkan, tidak ada yang dikorbankan dan tidak ada kesanggupan menahan penderitaan.

(lanjut …)