sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Sahadat dan kultus

unduk | Al-Huda | Sunday, May 25th, 2008

Pertanyaan :

Saya punya teman di satu komonitas profesi yang beragama Islam juga, namun dia sangat bebas berfikir dan mem pertanyakan apa saja. Misalnya, tentang sahadat. Dipertanyakannya kenapa sahadat yang seharusnya hanya berisikan pengakuan atas keesaan Allah SWT dilanjutkan dengan pengakuan atas kerasulan Nabi Muhammad SAW, bukankah hal itu berarti mengkultuskan dan mensejajarkan Nabi Muhamamd SAW dengan Allah SWT?.

Kenyataan lain yang dipertanyakannya tentang kaligrafi Allah dan Nabi Muhammad SAW di rumah-rumah orang Islam kaligrafi keduanya dipasang sejajar. Bu-kankah dengan demikian Nabi Muhamamd SAW disakralkan (disucikan) sama dengan Allah SWT. Atau dengan kata lain Nabi Muhamamd SAW dikultuskan sampai ketingkat yang sakral.

Padahal bukankah antara Allah SWT dengan Nabi Muhammad SAW terdapat jarak yang jauh sekali. Allah SWT adalah Khalik (Pencipta) sementara Nabi Muhamamd SAW adalah makhluk (yang diciptakan).

(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Siswa SD Tertua

unduk | An-Natijah | Sunday, May 25th, 2008

Sungguh, betapa mulianya orang yang menuntut ilmu. Betapa besamya fasilitas dan predikat yang diberikan Allah SWT kepada mereka-mereka yang senantiasa mencari ilmu dan mengamalkannya, sebagaimana firman Allah SWT: “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan be-berapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Q.S.Al Mujaadilah: 11)

Sungguh, betapa beruntung orang-orang yang masih berkesempatan mengenyam ilmu pengetahuan, sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Albert Einsten: “Jangan pernah menganggap tugas belajarmu sebagai sebuah kewajiban, namun pandanglah itu sebagai sebuah kesempatan yang patut dibuat iri. Sebuah kesempatan untuk menikmati betapa indahnya dunia ilmu pengetahuan, kepuasan hati yang diberikannya, serta manfaat yang diterima oleh masyarakat bila jerih payahmu berhasil“.

(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Jahil Murakkab

unduk | Mimbar Jum'at | Sunday, May 25th, 2008

Menurut kajian sufistik, ada empat tipologi manusia berkaitan dengan sikap terhadap pengetahuan dirinya.

Pertama, orang yang tahu dan dia sadar bahwa dirinya tahu. la ahli ilmu dan tidak bakhil untuk memberikan ilmunya kepada orang lain. Sadar akan ilmunyamembuat iaberkewajiban untuk berbagi kepada sesama. la merasa adatanggungjawab keilmuan yang harus ia sebarluaskan kepada orang-orang yang membutuhkan. la tidak mencari pamrih dan tidak suka menghitung harga ilmunya dengan materi. la ingat pesan Allah SWT: “… dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa“. QS. Al-Baqarah [2]: 41).

Kedua, orang yang tahu tetapi tidak sadar kalau dirinya tahu. Mungkin ia sadar bahwa dirinya tahu, namun karena suatu hal ia tidak bisa menggunakan dan membagi penge-tahuannya itu. Faktor kesibukan, masalah finansial, tidak diberinya kesempatan adalah bagian dari alasan mengapa seseorang tidak dapat menggunakan pengetahuannya dan tidak bisa berbagi kepada orang lain. Setelah kesibukan dikurangi, finansial diperhatikan dan kesempatan diberi, ia bisa eksis dan memberi manfaat kepada banyak orang dengan hikmah ilmu yang dimiliki.

(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Selayang Pandang Soal Ahmadiyah

unduk | Mau'izah Hasanah | Wednesday, May 21st, 2008

Berbagai reaksi yang cukup keras timbul dari berbagai pihak terhadap aliran Ahmadiyah Qodyani. Sebagian memandang rekomendasi BAKOR PAKEM yang dikeluarkan beberapa waktu yang lalu itu sebagai kebablasan, melanggar HAM dan melanggar UUD 45 Pasal 29 prihal kebebasan beragama. Tetapi sebagian besar lagi berpendapat tepat, sesuai dengan harapan umat Islam, selaras dengan fatwa MUI yang sudah dikeluarkan sejak tahun 1980.

Kedua pendapat dari kedua kelompok itu tentu sah-sah saja dinegara demokrasi seperti negeri kita ini. Toh, saling tuding dan saling klaim ini berada dalam tataran wacana public dimana pendapat satu pihak sering berseberangan dengan pihak yang lain. Namun betapapun maraknya pendapat dari berbagai pihak ada baiknya memiliki tolok ukur yang jelas. Tolok ukur dalam masalah agama Islam seharusnya Al Qur’an dan Sunah Rasul. Karena masalah Ahmadiyah ini adalah masalah agama, sudah barang tentu pemerintah (Negara) berkewajiban menjaga, melindungi dan membina kerukunan umat beragama. Kerukunan umat beragama ini akan tercipta manakala setiap umat beragama tidak merasa terganggu kemurnian agama / aqidahnya. Aliran Ahmadiyah sejak berdirinya di Kota Qodiyan India sudah banyak menimbulkan kontraversi dengan umat Islam setempat. Bahkan karena kontraversi ini semakin tajam. maka pada tahun 1970 an pusat penyebarannya pindah ke kota Rabwah, Pakistan. Rupanya disinipun aliran ini sulit ditolerir oleh umat Islam Pakistan. Arena akidahnya memang sudah menyimpang dari aqidah mayoritas umat Islam. Maka pada tahun 1973 timbullah huru hara antara kaum Ahmadiyah dengan umat Islam Pakistan.

(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Menggapai Ampunan dari Allah SWT.

unduk | Indah Mulya | Wednesday, May 21st, 2008

Rahmat dan kasih sayang mllik Allah

Allah SWT telah mengingatkan dalam Al qur’an surat Al Hijr ayat 49 dan 50 yang artinya “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Akulah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang, dan sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih“.

Makna ayat tersebut di atas dijelaskan bahwasanya Allah SWT sangat Pengasih dan Penyayang jauh lebih kasih dan lebih sayang dari siapa saja yang berhati kasih sayang dan Allah juga menjelaskan betapa siksa dan azab Allah itu luar biasa pedihnya tidak akan mungkin satupun makhluk dapat menanggungnya.

Apabila kita mencoba untuk menguak dan merenungkan sebab-sebab yang melatarbelakangi turunnya ayat tersebut, dimana dalam sebuah hadits , diriwayatkan bahwasanya suatu saat Rasulullah SAW berjalan melewati sekelompok sahabat-sahabat yang sedang sendau gurau dan bersenang-senang, tertawa sesamanya kemudian beliau menegur mereka, apakah mereka bersenang-senang menyebut-nyebut surga tidak sadarkah kalian bahwa neraka itu berada di depan kalian itu semua, maka saat itulah Malaikat Jibril turun dan menyampaikan salam kemudian melanjutkan, ya Muhammad, kenapa hamba-hamba-Ku itu menjadi kecewa dan berputus asa, maka saat itu pula ayat tersebut diturunkan, tolong sampaikanlah Muhammad kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Aku adalah dzat Yang Maha Pengasih jauh dari siapa saja yang berhati kasih.

(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Membangun Harapan

unduk | Mimbar Jum'at | Sunday, May 18th, 2008

Dalam kehidupan global dan penuh persaingan, ternyata dapat meningkatkan jumlah
orang yang stress bahkan bunuh diri. Padahal al-Quran sudah mengingatkan bahwa prilaku seperti itu dilarang Allah SWT.

Allah S WT berfirman,” Hal anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir“. (QS. Yusuf [12]: 87)

Ayat di atas menjelaskan bahwa putus asa atau putus harapan dilarang AUah SWT. Dikatakan bahwa hal itu merupakan perbuatan orang kafir. Artinya orang yang beriman mestinya tidak berputus asa. Di sini jelas sekali bahwa iman menghasilkan harapan dalam hidup. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana kita bisa membangun harapan dalam hidup. Dalam kaitan ini Islam memberikan beberapa konsep kepada kita. Diantara konsep itu ialah:

(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Seperti Penjual Parfum

unduk | An-Natijah | Saturday, May 17th, 2008

Barangkali pernah anda menjumpai seorang yang tadinya berakhlak baik, shalih dan aqidahnya benar bahkan sikap dan tingkah lakunyapun mulia, namun tiba-tiba berubah total menjadi berakhlak bunik, aqidahnya luntur, sering melakukan perbuatan tercela dan terjerumus ke lubang kenaksiatan. Ini tidak lain pengaruh yang kuat dari pergaulannya dengan teman yang berakhlak buruk dan sering melakukan kemungkaran. Namun sebaliknya adapula di antara manusia yang mendapat hidayah, yang semula buruk perangainya kemudian berubah 180 derajat menjadi baik lantaran bergaul dengan teman yang shalih.

Manusia adalah makhluk sosial yang hidup berkelompok, tidak mungkin bisa hidup sendirian. la pasti butuh lingkungan dan pergaulan.Teman bergaul merupakan elemen penting dalam memenuhi kebutuhan hidup bersosialisasi.

(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Makna Muhsinin

unduk | Mimbar Jum'at | Saturday, May 17th, 2008

Apabila ada seseorang yang berbuat kebajikan dengan menolong orang mi skin, membantu orang yang sakit, menyumbang dana yang diperlukan masyarakat, berupa masjid, rumah sekolah, perbaikan jalan dan sarana-sarana kemasyarakatan lainnya, maka orang tersebut oleh masyarakat Arab disebut muhsinin.

Berbagai sumbangan yang kita terima dari negara-negara Arab, bila kita tanya asal muasalnya, maka selalu dijawab berasal dari para muhsinin. Makna muhsinin identik dengan dermawan tanpa identitas yang selalu kita sebut dengan “hamba Allah”. Sementara kalau kita telusuri arti umum muhsinin itu maknanya adalah orang-orang baik. Muhsinin adalah kata jama’ dari kata muhsin, yang asal katanya adalah ahsana -yuhsinu - ihsana, yang maknanya, berbuat baik - kebaikan. Jadi makna muhsinin adalah orang-orang yang berbuat kebaikan.

(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Kebenaran Beraqidah dan Akhlaq Bagi Kebahagiaan Jiwa

unduk | Indah Mulya | Saturday, May 17th, 2008

Kemuliaan Akhlaq

Zaid bin Saanah, seorang pendeta Yahudi masuk Islam karena melihat pada wajah Muhammad segala tanda Kenabian. Diceritakan diantara tanda kenabiannya adalah kesabaran dan ketinggian budi pekerti. Pada waktu nabi dan sahabat sedang berkumpul tiba-tiba datang seorang badui berkata “hai Rasulullah SAW, kaum di desaku yang telah masuk Islam kenapa makin miskin hidupnya? apakah mungkin nanti orang tersebut akan pindah agama lagi? Bila engkau bersedia menolong dengan makanan, maka aku bersedia menolong mereka dengan makanan dan aku bersedia untuk membawanya“.
Kemudian nabi menoleh kepada Ali bin Abithalib, kemudian Ali berkata, “Ya Rasul, memang mereka tidak punya makanan sedikitpun“.
Akhirnya nabi setuju untuk memberikan kurma kepada orang miskin tersebut dengan cara berhutang kepada Zaid bin Sa’anah.
Setelah beberapa hari sebelum datang jatuh tempo pembayaran nabi ditegur sambil mengatakan, “hai Muhammad, bayarlah utangmu demi Allah, aku lihat semua nabi Abdul Muthalib itu suka menunda pembayaran utang“.
Mendengar perkataan Zaid, kemudian Umar marah, “berani sekali engkau berbuat dan memaki Muhammad semacam ini. Sungguh kalau tidak dilarang pasti aku bunuh engkau“.
Muhammad pada waktu itu dengan tenang berkata kepada Umar “bayarlah hutangku dan tambahkan 20 gantang kurma sebagai ganti ancamanmu“.
Setelah itu Umar memberikan padaku hakku dan tambahan sebesar yang nabi katakan. Akhirnya dengan sifat kesabaran dan budi pekertinya nabi Muhammad SAW, seorang pendeta Yahudi yang bernama Zaid bin Sa’nah berikrar menyebutkan kalimat syahadat dan memberikan separuh harta untuk kaum muslimin dan Zaid bin Saanah gugur di medan perang sebagai syuhada.

(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Selembar Bulu Mata

unduk | Kisah | Sunday, May 11th, 2008

Konon di Hari Pembalasan kelak, ada seorang hamba Allah sedang di adili. Ia dituduh bersalah, menyia-nyiakan umurnya di dunia untuk berbuat maksiat. Tetapi ia bersikeras membantah.
“Tidak. Demi langit dan bumi sungguh tidak benar. Saya tidak melakukan semua itu.”
“Tetapi saksi-saksi mengatakan engkau betul-betul telah menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam dosa,” jawab malaikat.
Orang itu menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu ke segenap penjuru. Tetapi anehnya, ia tidak menjumpai seorang saksi pun yg sedang berdiri. Di situ hanya ada dia sendirian. Makanya ia pun menyanggah, “Manakah saksi-saksi yg kau maksudkan? Di sini tdk ada siapa kecuali aku dan suaramu.”
“Inilah saksi-saksi itu,” ujar malaikat.
Tiba-tiba mata angkat bicara, “Saya yg memandangi.”
Disusul oleh telinga, “Saya yg mendengarkan.”
Hidung pun tidak ketinggalan, “Saya yang mencium.”
Bibir mengaku, “Saya yang merayu.”
Lidah menambah, “Saya yang mengisap.”
Tangan meneruskan, “Saya yang meraba dan meremas.”
Kaki menyusul, “Saya yang dipakai lari ketika ketahuan.”
“Nah kalau kubiarkan, seluruh anggota tubuhmu akan memberikan kesaksian tentang perbuatan aibmu itu”, ucap malaikat.
Orang tersebut tidak dapat membuka sanggahannya lagi. Ia putus asa dan amat berduka, sebab sebentar lagi bakal dijebloskan ke dalam jahanam.

(lanjut …)






Next Page »