Pertanyaan :
Tahun 1980, dua puluh sembilan tahun yang lalu, sebagai seorang tokoh mahasiswa dari salah satu ormas ke-mahasiswaaan Islam saya terlibat aktif dalam berbagai kegiatan menyambut datangnya abad 15 H. Berbagai seminar dan pameran waktu itu diseleng-garakan. Puncak kegiatannya diseleng-garakan di “istana negara” dengan pidato presiden.
Saya kira ustadz tentu juga hadir pada acara-acara menyongsong abad 15 H itu, karena saya kenal ustadz pada waktu itu sebagai mantan wartawan dari majalah berita Islam yang terkenal serta menjadi pimpinan pusat dari ormas kepemudaan Islam.
(lanjut …)
Kata suap bukan merupakan hal baru dan aneh di lingkungan kita. Hampir semua lini kehidupan sering terjadi suap menyuap. Bahkan suap diasumsikan sebagai penghasilan tambahan. Dalam situasi tertentu terkadang uang suap diidentikkan sebagai ucapan tanda terima kasih atas sesuatu yang diinginkan.
Kata suap dalam bahasa Arab disebut rasywah atau rasya yang bermakna memasang tali atau mengambil hati. Dari sekian banyak para ahli yang memberikan defenisi tentang pengertian suap, maka dapat disimpulkan suap adalah sesuatu yang diberikan seseorang kepada orang lain dengan cara yang bathil, untuk mendapatkan atau mengabulkan keinginan dan kepastian si pemberi dalam segala bentuk jenis keinginann, hasrat, atau kehendak dan perbuatan itu dilakukan secara zalim.
(lanjut …)

kartini
Kartini dianggap sebagai pelopor perjuangan emansipasi di Indonesia . dan akhir-akhir ini namanya dihubung-hubungkan dengan kata feminisme.
Apa yang terlanjur lekat dengan sosok Kartini sebenarnya hanyalah sebagian proses hidupnya yang gelisah. Akhir proses kartini tak banyak terungkap. Pemikiran pada awal prosesnyalah yang terlanjur lantang disuarakan sehingga lekat pada namanya. Padahal, menjelang akhir hayatnya, Pemikiran kartini telah banyak berubah.
Kartini Dulu
Ngga bisa disalahkan kalo ada orang yang beranggapan Kartini memperjuangkan emansipasi, mendobrak adat, dan berkiblat ke Barat, serta mengkritisi Islam. Pada awalnya, Kartini emang demikian. Inilah contoh surat-suratnya:
(lanjut …)
Berwudhu wajib dilakukan oleh orang yang akan mengerjakan shalat. Berwudhu harus lengkap syarat-syaratnya, yaitu :
- Islam.
- Mumaiz (dapat membedakan baik dan buruk).
- Tidak berhadas besar.
- berwudhu dengan air yang mensucikan dan tidak ada yang menghalangi sampainya air kekulit.
Begitu pula berwudhu harus memenuhi rukun-rukunnya, yaitu:
- niat.
- Membasuh muka.
- Membasuh dua tangan sampai ke siku.
- Menyapu sebagian kepala dengan air.
- Membasuh dua kaki sampai ke dua mata kaki.
- Menertibkan semua rukun wudhu.
Firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman apabila kamu hendak mengerjakan shalat maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku. Sapulah kepalamu dan basuhlah kakimu sampai ke dua mata kaki” (QS. Al Maidah:6).
(lanjut …)
PERTANYAAN :
Demo terhadap film “fitna” buatan anggota parlemen Belanda Geert Wil-ders masih berlangsung diseluruh ne-geri Islam. Dari berita koran dan TV kita saksikan demo itu terjadi di Pakistan, di India, di Mesir, di Maroko, mungkin juga di negara-negara yang lain lagi, yang tidak disiarkan oleh koran dan TV.
Menarik perhatian kami atas ula-san buletin Al Huda yang menyatakan bahwa pembuatan film itu dilakukan oleh seorang fundamental kristen atau seorang fundamentalis atheis. Hal itu mengesankan bahwa Al Huda berpen-dapat bahwa masalah film itu adalah tanggung jawab seorang individu, atau sekelompok individu yang fundamentalis, bukannya merupakan tanggung jawab dari bangsa Belanda dan peme-rintahan Belanda. Suatu pendapatyang tampaknya berlainan, karena dari demo-demo yang kita saksikan di TV terlihat sekali bahwa demo itu ditujukan kepada bangsa Belanda dan pemerin-tah Belanda. Menurut kami pemerintah
Belanda dan pemerintah-pemerintah lain dari negara-negara Eropa, seperti Deni mark ada dibelakang layar dari film “fitna” tersebut. Dan dari kartun-kartun yang mengolok-olok Rasulullah SAW.
(lanjut …)
Sering muncul pernyataan bahwa bangsa Indonesia memiliki etos kerja yang rendah. Secara sosiologis kita harus mengakui bahwa umat Islam merupakan bagian terbesar dari bangsa ini. Bertolak dari realita ini, umat Islam Indonesia dengan ajaran Islamnya merupakan kelompok yang pertama kali bertanggungjawab terhadap pembinaan dan pengembangan etos kerja bangsa tercinta.
Etos kerja yang rendah ini, ber-implikasi menempatkan umat Islam termarjinalisasi dalam ekonomi. Kelompok terbesar dari bangsa ini sering dikalahkan dalam bidang ekonomi oleh kelompok minoritas tanpa rnelalui perebutan kekuasaan,
tetapi cukup melalui solidaritas antara sesama mereka. Untuk melakukan perbaikan ekonomi ini, etos kerja yang tinggj perlu dimiliki, disamping pening-katan SDM, dan ukhuwah islamiyah.Etos kerja merupakan suatu ungkapan yang terdiri dari dua kata dengan arti masing-masing yang berbeda sehingga ketika kedua kata itu digabungkan sedikit menimbulkan kerancuan. Kata etos, berasal dari bahasa Yunani yang berarti karakter atau watak. Dari makna ini dikem-bangkan pengertian etos sebagai pandangan hidup yang khas dari individu atau kelompok manusia. Dari kata etos, muncul perkataan etika dan etis yang menekankan kepada makna akhlak, yaitu kualitas essensial seseorang atau suatu kelompok. Jadi, kata etos mengandung makna semangat, motivasi dan falsafah hidup seseorang atau sekelompok orang.
(lanjut …)
Setiap muslim melaksanakan kewajibannya untuk berdakwah, agar mengajak seluruh umat manusia hanya untuk menjadi hamba Allah sejati dan hanya beribadah kepada Allah. Agar dakwah mempunyai nilai dan kualitasnya, agar dakwah kita benar dalam melaksanakankewajiban dan dapat dipertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT, maka diperlukan ma’rifat tahtian yaitu mengetahui tantangan-tantangan dan rintangan-rintangan dalam berdakwah. Tantangan dan rintangan itu dapat dibagi 2 jenis :
- Tantangan internal yang datang dari aktivitas dakwah itu sendiri atau datang dari jamaah atau organisasi dakwah.
- Tantangan eksternal dakwah yang datang dari aktivitas dakwah yang tidak menginginkannya Islam tegak di muka bumi ini.
Diantara tantangan dakwah dari internal dakwah adalah, yang pertama, tidak adanya kejelasan orientasi dari dakwah sehingga kalau itu terjadi maka dikhawatirkan dakwah kita tidak diterima oleh Allah SWT. Dakwah tujuanya adalah dalam rangka mencari ridho Allah dengan berupaya secara maksimal mungkin untuk mengentaskan seluruh umat manusia dari segala bentuk kedzoliman yang akan menuju nur cahaya ilaihi.
(lanjut …)
Jika diteliti lebih mendalam, akan kita temukan bahwa di antara penyebab terjadinya kerusuhan ialah persaingan antar manusia Dalam bentuk yang sederhana persaingan itu mungkin berupa saling sikut untuk memperebutkan harta dan kedudukan. Tetapi jika terus menerus berkembang ke tingkat yang lebih serius, sehingga masing-masing pihak menganggapnya sebagai soal hidup dan matinya, maka orang tidak akan segan menggunakan kekerasan seperti menggunakan peledakan bom sekalipun seperti yang sekarang kita alami.
Itulah akibat dari sikap hidup individualistis dan egoistis yang bertumpu pada materialises yang dikehendaki paham liberalisme barat. Selama puluhan tahun seiring dengan mengalirnya modal asing ke Indonesia paham itu berkembang subur dan menguasai serta membentuk perilaku hidup bangsa kita. Sadar atau tidak sadar kita sudah digiring dalam suatu kehidupan yang penuh pertarungan dan yang terkadang mengabaikan sama sekali rasa saling menghargai. Apayang disebut dengan demokrasi terkadang berubah menjadi kesempatan untuk saling terkam dengan lebih intens.
(lanjut …)
PERTANYAAN :
Pihak barat rupanya tidak bosan-bosannya untuk menista agama Islam. Berawal pada “Ayat-ayat Setan” Salman Rusdhi, warga negara Inggeris ke-turunan India, hampir dua puluh tahun yang silam. Kemudian komik-komik karikatur tentang Rasulullah SAW di koran-koran Denmark yang kemudian di-terbit ulangkan oleh beberapa koran lain di beberapa negara Eropa. Sekarang ada lagi film “Fitna” hasil kerja seorang anggota parlemen Belanda yang bernama Geert Wilders.
Kiranya, semua, hal itu hendaklah membuat kita semua umat Islam berfikir, kenapa umat yang lain itu begitu berani dan dengan semena-mena menista dan menghina agama Islam.
Setelah berfikir, kemudian bangkit membela kehormatan agama Islam dengan tegas. Negara Indonesia yang penduduknya mayoritas beragama Islam, hendaklah berani bertindak tegas kepada negara Belanda. Bukan saja sekadar protes dan menyesalkan, melainkan suatu tindakan yang lebih konkrit, seperti memutuskan hubungan diplomatik. Atau setidak-tidaknya untuk sementara membekukan hubungan diplomatik. Duta Besar Indonesia untuk negeri Belanda di panggil pulang, Sementara Duta besar belanda untuk Indonesia dipersilahkan meninggalkan Indonesia.
(lanjut …)
Ketulusan dan Keikhlasan
Barangsiapa yang kelak berharap akan bertemu Robb-Nya maka hendaklah ia melakukan hal-hal yang baik dan dia tidak memperbuat syirik dalam beribadah kepada Allah. Nabi Muhammad SAW mengajak sahabat-sahabatnya secara terus menerus agar selalu memperbaiki diri, memperkuat dan mereformasi iman. Salah seorang sahabat kemudian bertanya kepada Nabi, bagaimana kami memperbaharui iman kami. Lalu Nabi menjawab perbanyaklah dengan ikhlas dengan mengucapkan “Laa ilaaha illallaah Muhammaddarasuuluilaah” – Tiada Tuhan yang haq kecuali Allah, teriring doa kita sekalian mudah-mudahan Allah SWT senantiasa memberikan hidayah dan menuntun kita dalam kekhusu’an dalam ibadah yang kita laksanakan, sehingga ibadah ini tidak hanya bermakna bagi kita sendiri dalam kehidupan kita, akan tetapi juga diharapkan ibadah ini diterima oleh Allah SWT.
Untuk membangun ketulusan dan keikhlasan kita dapat mulai dengan melakukan sikap pro aktif. Untuk itu mari kita lihat masalah ini dengan pandangan netral dan baik, kita ini hakekatnya kembali pada titik nol, kalau kita sudah bisa membawa perasaan, pikiran, dan paradigma kita untuk melihat apa yang ada untuk diri kita ini ke titik nol, maka yang akan lahir dari jiwa kita adalah ma’rifatullah dimana kita meyakini adanya Allah yang Maha Kuasa seraya kemudian kita akan terucap dengan sadar bahwa semua yang ada, ini berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah SWT itulah inti dari Tauhid. Kesadaran seseorang untuk menjadikan segala sesuatu dan mengembalikan segala sesuatu kembali kepada satu titik pusat yang paling besar semuanya itu karena Allah SWT.
(lanjut …)