Belajar dari Dana Persepuluhan Gereja

Anas bin Malik radhiya’l-lahu ‘anh meriwayatkan: “Rasulullah tidak pernah diminta sesuatu oleh yang baru masuk Islam, melainkan beliau memberikannya. Sungguh telah datang seorang peminta-minta kepada beliau. Nabi memberinya kambing dalam jumlah seperti antara dua bukit. Orang itu kembali pada kaumnya dan memberitahukan: “Hai kaumku, masuk Islamlah kalian, karena Muhammad suka member! pemberian, seperti orang yang tidak takut miskin. Sungguh dahulunya, seseorang masuk Islam, tidak lain karena ingin dunia. Tapi tidak lama kemudian ia mendadak cinta kepada Islam melebihi dunia dan segala isinya.” (HR. Muslim [2312]).
Hadits di atas adalah bagian dari metode dan strategi da’wah Nabi s.a.w, yakni memenuhi hajat ummat melalui ketersediaan dana da’wah bagi banyak kepentingan atau hajat syar’iyah. Dari mana diambilkan? pertama dari kantong Nabi s.a.w sendiri, menyusul dari dapur ummattul mu’minin, dari orang-orang dekat Nabi dari sahabat Muhajirin dan Anshar, selain dari Baitul Mal waz Zakah atau terkadang melalui sistem penawaran sebagai hasil penempaan tarbiyah ruhiyah Rasulullah s.a.w, seperti ditunjukan oleh hadits Asma’ binti Abi Bakar as-Shiddiqrahiya’1-lahu ‘anhumaia berkata: Rasulullah s.a.w bersabda kepadaku:
Kehidupan Tauhidi
Apabila kita cermati situasi danllingkungan sekitar kita halnya tentu sangat memprihatinkan Seseorang yang memiliki hati yang bersih tentu ia akan mengelus dadanya ketika menyaksikan babak demi babak kehidupan yang sedang berlangsung. Betapa tidak, saat ini nyaris pada seluruh sektor kehidupan kaum muslimin berada dalam kondisi terpuruk.
Dalam sisi aqidah, banyak sekali umat Islam yang menganut keyakinan syirik, menyekutukan Allah SWT dalam hal ibadah. Perdukunan merajalela, meminta selamat, sukses dan bahagia kepada para arwah (ahli kubur) acapkali kita saksikan. pengagung- agungan yang berlebihan terhadap seseorang masih banyak kita jumpai. Demikian juga dalam bidang politik Permainan keruh penuh rekayasa dan retorika semu selalu ada dengan ragam upaya dan gayanya. Tidak terkecuali di bidang ekonomi dengan sistem keuangan riba (dharamkanAllah SWT) yang masih mendominasi perekonomian dunia pada umumnya, dengan sistem kapitalis dan liberalisnya. Di mana jurang pemisah antara si Kaya dan si miskin semakin hari semakin besar dan lebar. Sementara itu di lapangan sosial budaya pun kita disuguhi kebobrokan moral masyarakat, khususnya generasi mudanya, Setiap hari kita menyaksikan beragam kemaksiatan seperti: perzinaan, pemerkosaan, pembunuhan, kasus narkoba dan sebagainya.
Jangan Tertipu
Salah satu asma Allah adalah Al-Alim yaitu Allah Maha Mengetahui. Dia mengetahui segala-galanya, mulai dari hal-hal yang sangat kecil dan samar apalagi hal-hal yang nyata.
Meski ada semut hitam berjalan di batu hitam di tengah gulitanya malam, sungguh Allah tetap mengetahuinya dengan sangat detail. Demikian pula, Allah Mahatahu segala yang kita lakukan, sekecil apa pun, entah itu lirikan mata, lintasan niat dalam hati, harta yang dinafkahkan, dan sebagainya Allah Maha tahu segalanya.
Allah SWT berfirman, “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bund dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)“. (QS. Al-An’am [6]: 59).
Akibat Ulah Kita
Beberapa waktu belakangan ini sering kita mendengar dan menyaksikan berbagai peristiwa yang memprihatinkan dan memilukan di negeri kita sepetti banjir, tanah longsor, gempa bumi dan sebagainya. Berbagai persoalan tersebut seakan-akan tak henti-hentinya mendera bangsa. Tak hanya itu, banyak persoalan bangsa ini yang tak kunjung usai. Kenapa bisa begini? Kenapa bangsa ini masih terus didera derita? Kapankah semua ini akan berakhir?
Berbagai ramalan dan prediksi masa depan mulai jadi sorotan, seakan memberikan harapan bagi orang-orang yang tak punya iman. Mengacaukan keyakinan kita pada Tuhan. Kita lebih percaya apa yang keluar dari mulut paranormal ketimbang firman Allah SWTdan hadits Nabi SAW yang disampaikan oleh para alim ulama.
Mencari Kesembuhan Pakai Gelang/Kalung

“Dan apabila aku sakit, maka Dialah (Allah) Yang menyembuhkan aku.”(As-Syu’ara: 80)
Pengantar. Akhir-akhir banyak kita temui berbagai terapi penyembuhan dengan tawaran yang terkadang dibalut dengan bungkus agama, bahkan ada yang pakai jaminan halal segala dengan mencantumkan komentar para pasien lintas kalangan yang diduga sudah mengalami kesembuhan. Tujuannya tiada lain untuk menarik minat orang banyak, supaya ikut berobat dan ia sendiri mendapat bonus bisnis MLM.
Mencari kesembuhan adalah perintah agama. Islam mengajarkan, bahwa kalau kita sakit, maka diperintahkan untuk berobat. Berobatnya harus dengan benda yang halal, cara-cara yang dibenarkan, pakai obat yang tepat, sabar menjalani proses penyembuhan, sesuai anjuran. Dan yang lebih penting lagi kepada siapa kita berobat, dan dengan perantaraan apa kita mencari kesembuhan.
Letak Kebahagiaan yang Hakiki
Ketenangan jiwa
Kebahagian tidak dapat diukur dengan harta, pangkat, jabatan dan segala kemewahan duniawi, termasuk wanita. Tetapi sesungguhnya kebahagiaan itu terletak pada ketenangan hati seseorang. Banyak orang kaya dengan harta berlimpah ruah, tetapi kekayaannya tidak membuat hatinya menjadi tenang, bahkan sebaliknya, kekayaan yang ia kumpulkan justru menyibukkan dirinya untuk mengejar kekurangan, karena berapapun harta benda yang ia miliki masih saja dianggapanya kurang. Sebagaimana firman Allah dalam surat At Takaatsur ayat 1-2 yang artinya “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur”. Demikian kebiasaan manusia di dalam mengejar kekayaan, mempunyai satu buah mobil, ingin menjadi dua, mempunyai dua ingin bertambah tiga, dan seterusnya. Karena itu marilah kita berusaha dan
berdc’a, agar hati kita selalu diberi ketenangan. Sebab hanyalah di dalam hati yang tenang letak kebahagiaan yang hakiki. Kaya yang sebenarnya adalah ketenangan jiwa. Kita menyadari sepenuhnya bahwa kehidupan dunia ini adalah sementara dan sebentar.
Sahabat Rasulullah SAW Umar Bin Khatab mengibaratkan bahwa kehidupan di atas dunia laksana seorang musafir yang singgah diwarung untuk minum. Kita dapat memperhitungkannya, berapakah lamanya seorang musafir membeli sebotol minuman disalah satu warung, waktu yang dibutuhkan tidak begitu lama kurang lebih 5-10 menit lamanya. Sebab perbandingan antara waktu di dunia dengan akhirat sangat jauh berbeda, yakni satu berbanding seribu. Jadi andaikan ada manusia yang hidup di atas dunia seribu tahun dibanding dengan akhirat berarti baru satu hari lamanya. Kehidupan di dunia ini merupakan tempat beramal sebanyak-banyaknya dan akhirat merupakan tempat kita menerima pembalasan dari Allah SWT. Di dunia kita bebas dalam melaksanakan suatu pekerjaan dan perbuatan, bebas menurut k’einginan kita masing-masing. Segala amal berbuatan baik dan buruk akan dipertanggung jawabkan nantinya.
Membahayakan Aqidah
Aqidah dalam Islam sangat prinsip, esensinya adalah tauhid. Nabi Muhammad SAW memprioritaskan pembinaan aqidah umat, agar iman kaum muslimin itu benar-benar berkualitas. Hal ini sangat diutamakan dalam ajaran Islam. Mengapa? karena hal ini merupakan pondasi yang sangat mendasar di hati umat Islam.
Aqidah adalah sesuatu yang sangat tingai nilainya bagi seorang muslim Dengan aqidah yang kuat seorang muslim akan memiliki sikap yang teguh pendiriannya (istiqomah) di dalam hidup dan kehidupannya sehari-hari. Maka nilai aqidah bagi seorang muslim itu tidak dapat ditukar dengan uang, harta, bahkan nyawa sekalipun.
Tetapi terkadang aqidah (keyakinan atau kepercayaan) ini bisa goyah dan luntur dengan adanya berbagai aliran pemikiran dan paham yang terus berkembang dan muncul di masyarakat, yang dapat melunturkan nilai-nilai aqidah Islamiyah, sehingga menimbulkan banyak tantangan dan problem umat.
Tiga Macam Gaya Hidup

“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kalian dan sekali-kali janganlah syetan yang pandai menipu, memperdayakan kalian tentang Allah.” (Fathir:5)
Makna Gaya Hidup
Gaya hidup boleh kita artikan, pola tingkah laku sehari-hari yang patut dijalankan oleh suatu kelompok sosial di tengah masyarakat, sesuai tuntunan agama. Seperti melakukan kebiasaan yang baik untuk menciptakan hidup sehat setiap hari, sebaliknya menghindari kebiasaan buruk yang berpotensi mengganggu kesehatan.
Gila Dunia dan Takut Mati

“Ummat-ummat terdahulu akan berkoalisi hendak menguasai kalian, seperti berkumpulnya jago-jago makan ketika menyantap makanan”. Sahabat bertanya: “apakah karena jumlah kami yang sedikit pada saat itu.” Nabi s.a.w menjawab: “bahkan jumlah kalian saat itu, justru sangat banyak. Akan tetapi tak ubahnya seperti buih banjir. Allah mencabut rasa takut pada musuh kalian, sebaliknya Allah menanamkan di hati kalian penyakit wahn”. Sahabat kembali bertanya: “apa itu penyeakit wahn.” Nabi s.a.w bersabda: “cinta dunia dan takut mati.” (Shahih. HR.Abu Dawud [2/102], Imam Ar-Ruyani [25/134/2], Ahmad [5/287]. Dishahihkan Syeikh Albani dalam as-Shahihah [2/684], Shahihul Jami’ [8183], Shahih Sunan Abu Dawud [4/111]).
Rahasia Malam

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. Dan katakanlah:”Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong. Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (al-Isra’79-81)
Malam berbeda dari siang. Malam itu gelap dan siang itu terang, karena itu waktu malam lebih cocok untuk tidur, bersenang-senang dengan keluarga dan istirahat. Siang itu sebenarnya adalah waktu bangun dan bekerja dalam mencari karunia Allah.
Karena itu, di mana-mana di seluruh dunia, waktu kerja resmi selalu di siang hari. Waktu kerja malam sebenarnya bersifat emergency untuk mengurus kepentingan umum seperti kesehatan, keamananan dan lain-lain.
Karena kegiatan ummat manusia pada umumnya di siang hari, maka suasana malam lebih hening dan tenang. Suasana seperti ini lebih cocok untuk beribadah dan membuka kontak batin dengan Allah Tuhan Pencipta.
Next Page »





