Pas banget…
Madinah, 1995, menjelang pukul 3 dini hari
: persiapan keberangkatan
Salah seorang anggota kafilah haji Indonesia tahun 1995 mempersiapkan keberangkatannya menuju Masjid Nabawi, Madinah al Munawarroh.
Setelah berpakaian pantas, tak lupa ia masukkan bekal uang 50 riyal ke dalam sakunya. Ia punya niatan untuk belanja suvenir atau pernak-pernik lain yang bisa dibawanya pulang sebagai cindera mata.
Masjid Nabawi, Medinah
: lokasi kejadian
Masjid Nabawi saat itu baru dibuka kembali. Masjid ini biasa ditutup pukul 10 dan dibuka kembali pada pukul 3 dini hari waktu setempat. Masjid ini sangat besar dan megah! Dan yang membuat masjid ini sangat istimewa adalah karena di dalam masjid ini terdapat makam Rasulullah Muhammad SAW !
Setelah masuk melalui salah satu pintu masjid, sang calon haji melakukan beberapa sesi peribadatan sebagai pengisi waktu subuh yang masih cukup lama. Hingga sampailah waktu shalat subuh tiba, dan ia shalat berjamaah. Setelah sholat subuh usai, ia bersiap untuk melakukan beberapa ritual pagi yang biasa ia lakukan: membeli segelas kopi susu dan 3 helai roti cane di satu warung orang India yang ada di selatan Masjid Nabawi.
empati
Memasuki minggu tenang pasca berakhirnya masa kampanye, melakukan perjalanan di sepanjang jalan rasanya amatlah nyaman. poster-poster caleg yang kalau dirasakan amat minim estetika grafisnya dan juga pilihan kata yang disajikan bersamanya, sebenarnya lebih tepat disebut sebagai sampah visual daripada sebuah poster yang menyampaikan sebuah pesan. Dan poster-poster itu sungguh telah menyiksa tanpa ampun sensor penglihatan kita, yang sebenarnya sudah sangat lelah saat di jalanan, karena sensor penglihatan kita bekerja sangat-sangat aktif mengolah ribuan informasi agar kita bisa selamat dalam perjalanan.
Terasa nyaman memang, setelah poster-poster dan spanduk-spanduk kampanye itu hilang dari pandangan. Pandangan jadi terasa lebih lapang dan bersih. Justru karena telah terasa lapang itulah, saya malah jadi ingat kepada kisah Abu Nawas yang pernah saya baca. Tersebutlah seseorang, dalam kisah itu, yang meminta nasehat kepada Abu Nawas. Orang itu mengeluh kepada beliau soal rumahnya yang menurutnya begitu sumpek dan sempit.
Bahkan orang gila pun mungkin akan menyangka sinting kepada Abu Nawas, karena nasehatnya kepada orang yang berkeluh kesah itu. Abu Nawas meminta orang tersebut untuk membeli kambing dan memintanya untuk mengajak serta kambing itu tinggal serumah dengan yang bersangkutan. Awalnya orang itu nurut saja. Akan tetapi pada hari ketiga, orang itu mulai memprotes saran ‘gila’ dari Abu Nawas.






