Waladun Shaleh

Akhlaq,Mimbar Jum'at,Parenting,Sosial | Friday, January 29th, 2010
santri cilik belajar komputer

santri cilik belajar komputer

Anak dalam bahasa Arab disebut waladun, suatu kata yang mengandung penghormatan sebagai makhluk Allah yang tengah menempuh perkembangan menjadi abdi Allah yang shaleh.

Anak menurut ajaran Islam adalah amanah Allah yang dititipkan kepada orang tuanya. Amanah tersebut menuntut adanya keharusan orang tua menghadapi dan memperlakukannya dengan sungguh-sungguh, hati-hati, teliti dan cermat. Sebagai amanah anak harus dijaga, dibimbing dan diarahkan selaras dengan apa yang diamanahkan.

Memandang anak dalam kaitan dengan pase perkembangan membawa arti bahwa,

  1. Anak diberikan tempat khusus yang berbeda dunia dan kehidupannya dengan orang dewasa,
  2. Anak memerlukan perhatian dan perlakuan khusus dari orang dewasa dan para pendidiknya. Oleh sebab itu, Islam memandang anak secara riil dan lebih professional. Artinya kehidupan anak tidak boleh dilepaskan dari dunianya serta berbagai dimensinya.

(lanjut …)



hak anak, hormatkah kita kepadanya?

Parenting | Monday, February 23rd, 2009
 Segelas Air

Segelas Air

Rasa haus mencengkeram seperti kemarau, dan segelas minuman ada dihadapan…

Mata bocah yang bening bulat itu, menatap lekat-lekat ke gelas minuman yang tersaji di hadapannya. Rasa haus sudah sedemikian membangkitkan keinginannya untuk meraih gelas itu.

Tiba-tiba datang seorang lelaki yang kemudian menyambar gelas itu. Sedetik kemudian perlahan gelas itu terbang menjauhi mata bening bocah yang sudah dibakar oleh hasrat kehausan. Gelas itu mendarat di tangan lelaki lainnya, yang duduk berhadapan dengan bocah itu.

Dan si bocah, rasanya mungkin perlu bantuan Tuhan untuk memendam rasa kecewanya….

***

“Nak, karena engkau kebetulan duduk di sebelah kananku, engkau berhak didahulukan dari yang lainnya. Karena itulah, aku meminta persetujuan darimu, relakah engkau, sekiranya minuman yang ada di tanganku ini kuberikan kepada orang yang duduk di sebelah kiriku?”

Rasa haus yang telah mencengkeram kerongkongan membulatkan tekad si bocah untuk berkata “tidak”, kepada lelaki yang sedemikian santun itu.

(lanjut …)