Usaha dan Doa

Ibadah,Mimbar Jum'at,Taqwa,Tauhid | Sunday, April 19th, 2009
berdoa di tempat kerja

berdoa di tempat kerja

Di dalam kehidupan umat, doa adalah tumpuan hidup sehari-hari, maka tidak sedikit yang menjadikan doa itu sebagai gantungan dalam hidupnya. Hal ini dapat kita lihat dan kita rasakan di saat seseorang atau sekelompok orang akan memulai suatu usaha atau pekerjaan, hati mereka secara spontanitas langsung berbisik, semoga Tuhan memberikan kemudahan serta keberhasilan sebagaimana yang mereka harapkan.

Ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh dan peranan do’a dalam kehidupan manusia di dunia ini. Hal ini diakui oleh Rasulullah dalam sabdanya, “Doa itu adalah mukhul (penggerak) ibadah (kegiatan hidup setiap manusia)“.

Berdasarkan petunjuk di atas, maka doa dapat kita simpulkan ke dalam dua kerangka, Pertama, mengikuti sunnah Allah dan Rasul-Nya, sedangkan kerangka kedua adalah doa itu suatu cita-cita hidup bagi yang berdoa.

Dalam upaya pembentukan pribadi yang kokoh dan kuat dalam menghadapi berbagai peristiwa yang sulit, dan rintangan-rintangan yang sukar diatasi, maka doa dan iman merupakan benteng yang kokoh dan kuat untuk mengatasinya.

Dengan demikian pribadi seseorang tidak mudah menjadi ambruk, akan tetapi dapat bergerak secara sadar dan tetap berpijak pada kaidah-kaidah kebenaran dan nilai-nilai moral. Demikian janji Allah kepada orang-orang yang selalu mengkikuti petunjuk-petunjuk-Nya dan bersabar (QS. Al-Maidah [5]: 69, QS. Ali Imran [3]: 120, QS. Al-Ahqaf [46]: 13).

(lanjut …)



Sunnah Rasul

Akhlaq,Mimbar Jum'at,Taqwa | Wednesday, March 25th, 2009
muhammad

muhammad

Melaksanakan sunnah Rasulullah SAW sangat penting bagi kehidupan seorang muslim, baik dalam hal ibadah maupun muamalah (hablum minallahi wa hablum minannasi). Allah SWT menyatakan dalam firman-Nya,”…Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya “. (QS. Al-Hasyr[59]:7).

Disamping Al-Quran, sunnah Rasullah SAW merupakan pedoman hidup manusia. Dengan menjalankan kedua pedoman hidup tersebut, manusia bisa mencapai hidup yang sempurna, bahagia dunia dan akhirat. Sebaliknya, ditinggalkannya salah satu pedoman tersebut akan membuat manusia kehilangan arah dan tersesat dalam hidup. Ada banyak hikmah yang bisa diambil apabila kita melaksanakan sunnah Rasul SAW, diantaranya:

1. Hidup Menjadi Seimbang

Kehidupan Rasulullah Saw selalu berlangsung dalam keseimbangan antara jasmani, akal dan qalbu (rohani). Hal itu tercermin dari sikap dan perbuatannya sehari-hari. Sunnah Rasulullah Saw telah menjelaskan aspek-aspek tertentu agar tercapainya hidup yang seimbang

  • Aspek jasmaniah
    Rasulullah Saw selalu mengajarkan agar bidup bersih, memakan makanan yang halal dan baik serta tidak berlebihan. Rasulullah Saw menyatakan, “Perutmu itu sepertiganya untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiganya untuk bernafas“. (QS. Al-Hadits).
    Juga tentang keutamaan mukmin yang kuat jasmaniahnya, Rasulullah Saw, “Mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, (hal ini berlaku) dalam semua segi kebaikan“. (HR Muslim).
    (lanjut …)



Syirik

Mimbar Jum'at,Tauhid | Thursday, March 12th, 2009
bakar kemenyan

bakar kemenyan

Masalah perbuatan syirik memang tidak merugikan Allah. Kemurkaan Allah terhadap seseorang yang menyekutukan-Nya dengan yang lain adalah demi kelestarian posisi manusia itu sendiri. Manusia diciptakan Tuhan dalam posisi yang tertinggi dan terbaik diantara seluruh makhluk ciptaan Tuhan.

Dalam piramida ciptaan Tuhan di alam ini, manusia menempati posisi paling puncak. Tidak ada lagi yang lebih tinggi dari manusia kecuali Allah SWT. Adapun benda-benda seperti patung, dan kekuatan alam lainnya berada di bawah kendali manusia. Alam diciptakan Allah untuk manusia agar manusia mempergunakan potensi alam untuk kepentingan hidupnya di bumi.

Karena manusia yang paling tinggi posisinya di alam ini, maka Allah memilih manusia sebagai khalifah-Nya untuk mengurus alam. Allah SWT berfirman, “sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tiin: 4),

Dalam surat dan ayat yang lain, “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (QS. Al-Isra’ [17]: 70).

Dalam surat al-BaqarahAllah SWT juga menegaskan, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadi kan seorang khalifah di muka bumi’. Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? ‘ Tuhan berfirman: ‘SesungguhnyaAku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’ ” (QS.Al-Baqarah[2]:30).

(lanjut …)



Surat Al-Ashr

Akhlaq,Mimbar Jum'at | Thursday, March 5th, 2009
waktu1

waktu

Al-Ashri. Demikian bunyi ayat pertama dari surah al-Ashr. Surah yang sangat dalam dan luas isi kandungannya. Bahkan menurut ahli tafsir Muhammad ‘Abduh, bahwa seandainya hanya surat Al-Ashr ini saja yang diturunkan, maka sudah bisa mencakup seluruh kandungan Al-Quran.

Dalam surah tersebut, Allah SWT bersumpah dengan masa. Tentu kita akan bertanya, kenapa Allah bersumpah dengan masa?. Kenapa Allah bersumpah dengan makhluknya? Sementara kita makhluk-Nya tidak boleh bersumpah dengan selain Allah, karena Dia yang menciptakan seluruh makhluk di alam ini. Kita bersumpah dengan menyebut khaliq (yang menciptakan) para makhluk. Tetapi Allah bersumpah dengan masa, sesuatu yang kebih rendah dari Dzat Allah itu sendiri. Tak lain sebabnya adalah karena masa/waktu itu penting.

Setiap kali Allah bersumpah dengan sesuatu, maka berarti Allah menyuruh kita untuk memperhatikannya. Allah bukan hanya bersumpah atas masa, tetapi juga atas matahari, bulan, siang, malam dan sebagainya. Semuanya itu bertujuan supaya kita memperhatikan benda-benda dan makhluk-makhluk tersebut dalam rangka menambah keimanan kita kepada Allah SWT.

Allah bersumpah dengan masa, karena masa itu adalah sesuatu yang sangat penting. Dimana letak pentingnya masa? Karena masa itu terus berjalan. Masa tidak pernah berhenti, walaupun sesaat. Masa terus berputar dengan cepat. Masa tidak dapat kita kejar. Jangankan masa 5 atau 10 tahun yang lalu, sedetikpun waktu yang baru lewat tidak dapat kita kejar. Karena itu, kita harus bisa mempergunakan masa dengan sebaik-baiknya. Kalau tidak, kita akan menjadi orang yang merugi.

(lanjut …)



Tawakkal

Akhlaq,Mimbar Jum'at,Taqwa,Tauhid | Saturday, February 21st, 2009

Sikap tawakkal sebagai ciri-ciri kokohnya keimanan seseorang kepada Allah SWT, adalah sikap pasrahnya yang kuat kepada keputusan Allah SWT dalam segala urusan hidupnya, baik dikala senang alaupun diwaktu susah. la yakin bahwa Allah SWT Maha Pengatur, Maha Kuasa dan Maha Bijaksana dalam melakukan dan menentukan apa saja termasuk dalam hal memberikan rezeki kepada seseorang atau mencabutnya, memberikan kemenangan kepada suatu golongan atau menimpakan kekalahan kepadanya, mengangkat seseorang atau menduduki suatu jabatan atau mencopotnya dan menjatuhkannya.

Tawakkal merupakan bekal hidup seseorang yang beriman yang bisa menjadikan dirinya tabah dalam menghadapi apapun bentuk cobaan atau musibah yang menimpanya. Dengan sikap tawakkal, seorang mukmin akan merasa tenang dalam hidupnya. Bila ia mendapatkan kebaikan ia sadar bahwa Allah-lah yang memberikannya, untuk itu ia bersyukur. Bila ia ditimpa kesulitan atau mengalami musibah, ia sadar bahwa itu datang dari Allah sebagai batu uj ian baginya, dan ia yakin bahwa dibalik kesulitan dan musibah itu, pasti ada hikmah dan kemasalahatan yang dikehendaki oleh-Nya. Untuk itu ia akan bersabar dan bertawakkal.

Firman Allah SWT, “Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal “. (QS. At-Taubah [9]: 51).

Seorang mukmin dalam situasi apapun dan bagaimanapun kritisnya, ia akan tetap percaya akan ke-Mahakuasaan Allah SWT. la akan memohon pertolongan-Nya, maka dirinya akan tentram, jiwanya tenang, sikapnya tabah. Segala sepak terjangnya hanyabersandar kepadaAllah SWT. Sebab, tanpa pertolongan Allah SWT dan tanpa bantuan-Nya, tindakan apapun yang ia lakukan, sistem apapun yang ia jalankan, strategi apapun yang ia terapkan, tak akan banyak artinya, meskipun dikemas dengan rapih dan teratur. Untuk itulah Allah SWT senantiasa memperingatkan orang beriman untuk jangan terpukau dengan kekayaan, kepintaran, kecerdasan, kekuasaan karena semua itu tak akan banyak berpengaruh, bila tidak ada pertolongan atau bantuan dari Allah SWT.

(lanjut …)



Husnul Khatimah

Mimbar Jum'at,Taqwa,Tauhid | Tuesday, February 3rd, 2009

Berbicara mengenai husnul khatimah (akhir yang baik), sama dengan berbicara mengenai kematian atau maut. Meski sebenarnya tidak mesti harus selalu mengaitkan istilah husnul khatimah tersebut dengan kematian. Maut tidak luput dari setiap kehidupan manusia. Itulah yang menyebabkan perlu adanya pengetahuan kita mengenai maut itu. Agar kita dapat menghadapinya dengan bekal yang disiapkan sebaik-baiknya hingga mendapat husnul khatimah bukan suul khatimah (akhir yang buruk).

Manusia pasti mengalami mati, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kan dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan“. (QS. Al-Anbiya [21]: 35).

Saat menjelang kematian akhir hidup bisa menjadi saat yang menyenangkan, karena akan berjumpa dengan Allah SWT dan bisa pula menjadi saat yang menakutkan, saat nyawa atau ruh lepas dari jasad. Ada yang melepas nyawa atau ruh dengan tenang sebagai pertanda husnul khatimah, sebaliknya ada pula merasakan amat sakit, yang ditandai dengan kegelisahan yang amat sangat, disebabkan beban dosa dan kesalahan yang telah diperbuat selama hidup di dunia.

Proses sakaratul maut bisa menjadi parameter baik atau buruk kehidupan manusia diakhirat. Sehingga timbullah anggapan pada pihak keluarga yang menyaksikan kematian seseorang, bila menghembuskan nafas terakhir dengan baik dan tenang, akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat. Sedangkan ketika menghadapi sakaratul maut dengan histeris dan kesakitan yang luar biasa pertanda akan menghadapi siksaan di hari kemudian.

(lanjut …)



Pengaturan Allah

Mimbar Jum'at,Tauhid | Tuesday, January 27th, 2009

tatasuryaAl-Quran mengatakan bahwa umat Islam merupakan ummatan wasathan, yaitu umat pertengahan. Supaya mereka menjadi saksi atas manusia, dan supaya Rasul menjadi saksi atas mereka. (QS. Al-Baqarah[2]: 143).

Sehagai umat pertengahan mereka melihat segala sesuatu di alam ini sesuai dengan patutnya atau menurut hukum yang lazim. Gejala-gejala alam seperti siang-ma!am, gerhana, halilintar, petir, topan dan badai diatur oleh Penciptanya berdasarkan hukum-hukum tidak berubah yang disebut sunnatullah.

Semuanya berjalan mengikuti ketentuan-ketentuan pasti yang dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan pengaturan hidupnya. Al-Quran menegaskan, “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui” (QS. Yunus [ 10]: 5).

Dalam surat yang lain, “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya” (QS. Yasiin [36]: 40).

(lanjut …)



Dunia

Akhlaq,Mimbar Jum'at | Saturday, January 17th, 2009

petaduniaPada suatu hari Rasulullah Saw sedang tidur-tiduran di rumahnya melepas lelah. Beliau berbaring di atas tempat tidurnya yang terbuat dari pelepah, pohon kurma yang dianyam. Tiba-tiba seorang sahabat beliau yang bernama Ibnu Mas’ud datang berkunjung. Setelah mengucapkan salam dan Rasulullah menjawab salamnya, Ibnu Mas’ud pun masuk menemui Rasulullah.

Oleh karena saat kedatangan Ibnu Mas’ud tersebutRasulullah Saw tidak mengenakan baju, maka Ibnu Mas’ud sempat melihat guratan merah dibadan Rasulullah karena berbaring di atas ranjang yang terbuat dari pelepah kurma.

Melihat kondisi Rasulullah yang demikian itu, Ibnu Mas’ud tak mampu menahan kesedihannya, air matanya pun mengalir deras membasahi pipi. Tidak tahu apa yang terlintas saat itu dipikiran Ibnu Mas’ud, boleh jadi dia tidak tega melihat seorang utusan Allah, yang dimuliakan Allah, mencintai dan dicintai oleh banyak pengikutnya, seorang pemimpin, seorang panglima di medan perang, yang boleh dibilang sama bahkan ‘lebih besar’ dari raja-raja atau penguasa-penguasa yang pemah ditaklukkan beliau, tetapi tempat tidurnya saja tidak menunjukkan bahwa beliau adalah seorang yang ‘besar’, sampai-sampai meninggalkan bekas dibadannya. Mungkin perasaan itu yang membuat Ibnu Mas’ud sangat sedih.

(lanjut …)



Khutbah Wada’

Ibadah,Kisah,Mimbar Jum'at,Sosial,Syariat | Saturday, December 20th, 2008

Padang ArafahSungguh sangat menyentuh khutbah yang disampaikan Rasulullah Saw pada saat wukuf di padang Arafah dalam pelaksanaan haji wada (haji perpisahan), dan pesan yang disampaikan pun sangat kuat maknanya. Lebih kurang sekitar seratus ribu dua puluh empat atau empat puluh empat ribu orang berkumpul mengitari Rasulullah saat itu.

Rasulullah membuka khutbahnya dengan ucapan, “Wahai umat manusia, dengarkanlah apa yang akan aku katakan ini! Boleh jadi selepas tahun ini, aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian di tempat ini untuk selamanya“.

Apa yang kita atau anda rasakan seadainya turut berada di sana saat itu, dan anda meresapi secara mendalam kalimat yang disampaikan Rasulullah tersebut, dengan penuh yakin pastilah anda akan terdiam, dan badan anda pun akan gemetar.

Kalimat “Boleh jadi selepas tahun ini, aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian di tempat ini untuk selamanya“, seakan mengisyaratkan bahwa tidak lama lagi Beliau akan segera berpisah dengan umatnya. Semuanya menjadi hening, yang berhaji pada saat itu terdiam, khusyu’ mendengarkan khutbah Rasulullah Saw selanjutnya.

Wahai manusia, sesungguhnya darah dan harta benda (sebagian) kalian (atas sebagian kalian) adalah haram, sebagaimana haramnya hari (kalian berada) di sini, di bulan (kalian berada) di sini, di negeri kalian (tanah haram) ini“.

(lanjut …)



Haji dan Persatuan

Ibadah,Mimbar Jum'at,Sosial,Syariat | Monday, December 8th, 2008

masjidil haramDitengah-tengah perjalanan kehidupan perpolitikan yang berlangsung di negeri kita yang tak luput dari keributan, pertikaian dan sengketa, kata bersatu dan hidup bersama secara rukun dan damai sepertinya baru bisa kita wujudkan di dalam angan-angan kita saja. Sehingga kata persatuan dan kebersamaan adalah barang langka dan mahal untuk saat-saat ini di tengah-tengah masyarakat kita.

Dalam bidang politik misalnya, kita dapat saksikan bagaimana sistem dan etika berpolitik bangsa Amerika Serikat dalam pemilihan Presiden beberapa waktu lalu. Kebanyakan kita, baik yang mencalonkan diri menjadi kepala desa, bupati, walikota, dan gubernur, maupun yang tidak mencalonkan diri hanya sebagai anggota biasa di sebuah partai, memujinya, dan berharap hal serupa dapat terjadi di negeri ini, saling menghargai, sportif, siap menang dan siap kalah.

Namun, pada dasarnya untuk mewujudkan hal yang serupa itu tidak cukup hanya dengan memuji, membicarakan dan mendiskusikannya, melainkan yang terpenting adalah adanya keinginan kuat untuk mengamalkan etika-etika berpolitik tersebut di lapangan.

Bila kita lihat ritual pelaksanaan ibadah haji, yang saat ini ribuan masyarakat muslim Indonesia telah berangkat ke tanah suci untuk menunaikannya, betapa persatuan, persamaan dan kebersamaan begitu kontras terlihat, yang berhaji disadarkan bahwa dirinya bukan siapa-siapa, semuanya menyatu dan sama dalam balutan kain putih, yang tidak berhaji pun harus mampu mengambil palajaran dan hikmah dari ritual ibadah haji, ternyata ketika semua mengenakan kain putih, tidak ada lagi status yang membedakan, tidak ada lagi pangkat dan jabatan, melainkan kita harus bersatu secara bersama-sama saling menyokong dan membantu untuk menuntaskan pelaksanaan ritual ibadah haji. Karena sewaktu-waktu ada saja musibah yang akan menimpa kita, maka saat itu rasa kebersamaan dan sepenanggunganlah yang dapat menyelamatkan kita.

(lanjut …)







« Previous Page | Next Page »