Pas banget…
Madinah, 1995, menjelang pukul 3 dini hari
: persiapan keberangkatan
Salah seorang anggota kafilah haji Indonesia tahun 1995 mempersiapkan keberangkatannya menuju Masjid Nabawi, Madinah al Munawarroh.
Setelah berpakaian pantas, tak lupa ia masukkan bekal uang 50 riyal ke dalam sakunya. Ia punya niatan untuk belanja suvenir atau pernak-pernik lain yang bisa dibawanya pulang sebagai cindera mata.
Masjid Nabawi, Medinah
: lokasi kejadian
Masjid Nabawi saat itu baru dibuka kembali. Masjid ini biasa ditutup pukul 10 dan dibuka kembali pada pukul 3 dini hari waktu setempat. Masjid ini sangat besar dan megah! Dan yang membuat masjid ini sangat istimewa adalah karena di dalam masjid ini terdapat makam Rasulullah Muhammad SAW !
Setelah masuk melalui salah satu pintu masjid, sang calon haji melakukan beberapa sesi peribadatan sebagai pengisi waktu subuh yang masih cukup lama. Hingga sampailah waktu shalat subuh tiba, dan ia shalat berjamaah. Setelah sholat subuh usai, ia bersiap untuk melakukan beberapa ritual pagi yang biasa ia lakukan: membeli segelas kopi susu dan 3 helai roti cane di satu warung orang India yang ada di selatan Masjid Nabawi.
Karakter Yahudi
Hari-hari umat Islam Palestina mengalami nasib yang tragis. Dijajah, dibantai dan ditindas oleh orang-orang Yahudi. Padahal Yahudi telah mendapatkan 90% tanah Palestina, sebelumnya hanya memiliki 5%. Dengan cara menyerang, kemudian menduduki dan menjajah Palestina. Untuk itu marilah kita pahami karakter khas mereka. Sehingga kita tidak mudah melupakan kejahatan-kejahatan Yahudi sepanjang sejarahnya.
Sejarah Yahudi Madinah
Menurut sejarah orang-orang Yahudi adalah keturunan Israil. Dalam tafsir Ibnu Katsir, Al Qurthubi dan Jalalain, Isra’il adalah nabi Ya’qub. Jadi bani Israil adalah keturunan Nabi Ya’qub. Menurut catatan KH. Munawar Khalil, kira-kira tahun 1800 SM, nabi Ya’qub pindah dari Kan’an (Palestina) bersama anak cucunya ke Mesir. Yaitu setelah Nabi Yusuf as, puteranya menjabat sebagai raja Mesir. Kemudian nabi Ya’qub wafat pada tahun 1689 SM, disusul Nabi Yusuf pada tahun 1635 SM.
Meskipun demikian bani Israil tetap tinggal di Mesir hingga 300 tahun iamanya. Setelah itu mereka hidup dibawah kekuasaan Fir’aun. Mereka ditindas, dibunuh dan diintimidasi. Akhirnya berkat pertolongan Nabi Musa mereka berhasil keluar dari Mesir dan kembali ke Palestina.
Allah swt berfirman: “Dan (Ingatlah) ketika kami selamatkan kamu dari (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu. Dan (ingatlah), ketika kami belah laut untukmu, lalu kami selamatkan kamu dan kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan” (QS Al Baqarah [2]: 49-50).
Dzulkarnain
Di internet saya baca suatu pembahasan tentang Dzulkarnain yang isinya meragukan kebenaran apa yang dikisahkan di dalam Al Qur’an tentang seorang raja yang berkuasa di barat dan di timur, dengan suatu kerajaan yang luas sekali, tapi memerintah dengan adil dan sangat taat kepada Allah SWT.
Apa lagi, kalau dimaksudkan dengan Dzulkarnain itu adalah Alexander Yang Agung dari Macedonia, karena catatan riwayat hidupnya tidak menunjukkan dia sebagai raja yang adil. Apalagi, sebagai seorang yang taat kepada Allah SWT, sehingga ada yang menyebut dirinya adalah “waliyullah”.
Begitu juga halnya kalau yang disebutkan dengan Dzulkarnain tersebut adalah seorang raja dari Persia yang bernama Cyrus Yang Agung, karena rekam jejak dari raja-raja penakluk selalu menunjukkan bahwa mereka adalah raja-raja yang sangat berkuasa dan sering melakukan kekejaman.
Sehingga dengan demikian kesimpulannya bahwa adanya seorang raja pendeta yang wilayah negaranya terbentang dari barat ke timur, yang memerintah dengan keadilan di atas jalan yang benar, hanyalah suatu isapan jempol. Suatu cerita hayalan yang tidak pernah ada.
Khutbah Wada’
Sungguh sangat menyentuh khutbah yang disampaikan Rasulullah Saw pada saat wukuf di padang Arafah dalam pelaksanaan haji wada (haji perpisahan), dan pesan yang disampaikan pun sangat kuat maknanya. Lebih kurang sekitar seratus ribu dua puluh empat atau empat puluh empat ribu orang berkumpul mengitari Rasulullah saat itu.
Rasulullah membuka khutbahnya dengan ucapan, “Wahai umat manusia, dengarkanlah apa yang akan aku katakan ini! Boleh jadi selepas tahun ini, aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian di tempat ini untuk selamanya“.
Apa yang kita atau anda rasakan seadainya turut berada di sana saat itu, dan anda meresapi secara mendalam kalimat yang disampaikan Rasulullah tersebut, dengan penuh yakin pastilah anda akan terdiam, dan badan anda pun akan gemetar.
Kalimat “Boleh jadi selepas tahun ini, aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian di tempat ini untuk selamanya“, seakan mengisyaratkan bahwa tidak lama lagi Beliau akan segera berpisah dengan umatnya. Semuanya menjadi hening, yang berhaji pada saat itu terdiam, khusyu’ mendengarkan khutbah Rasulullah Saw selanjutnya.
“Wahai manusia, sesungguhnya darah dan harta benda (sebagian) kalian (atas sebagian kalian) adalah haram, sebagaimana haramnya hari (kalian berada) di sini, di bulan (kalian berada) di sini, di negeri kalian (tanah haram) ini“.
Buah Adil
Di antara buah adil dalam keputusan hukum ialah tersebarnya ketentraman di hati.
Dikisahkan bahwa Kaisar Romawi mengirim utusan kepada Umar bin Khaththab r.a untuk melihat dari dekat kondisinya dan kegiatan-kegiatannya.
Ketika utusan Romawi tersebut telah tiba di Madinah, ia bertanya tentang Umar bin Khathab kepada penduduk Madinah. “Mana raja kalian?”
Penduduk Madinah menjawab: “Kami tidak mempunyai raja, kami hanya mempunyai pemimpin yang sedang pergi ke luar Madinah”.
Utusan Kaisar Romawi tersebut segera keluar dari Madinah untuk mencari Umar bin Khaththab, dan ia bertemu dengan Umar yang sedang tidur di atas tanah dengan berbantalkan tongkat kecilnya yang biasa ia bawa untuk mengubah kemungkaran.
Ketika utusan Kaisar Romawi melihat Umar bin Khaththab dalam keadaan seperti itu, ia merasakan ketenangan di hatinya, dan ia berkata: “Orang yang ditakuti semua raja karena kewibaannya, tetapi keadaainya sepert itu? Hai Umar, engkau berbuat adil dan engkau pun bisa tidur. Sadangkan raja kami zalim, maka tidak heran kalau ia tidak bisa tidur, dan selalu diliputi ketakutan” (Abu Bakar Jabr al-Jazairi, Ensiklopedi Muslim, hl.236).
Pemimpin yang adil selalu bersikap dalam pemberian keputusan dengan jalan tengah, yakni tidak berlebih-lebihan dan tidak pula sembrono. Oleh sebab itu, orang muslim harus adil dalam ucapan dan perbuatannya. la berbuat adil dalatn segala hal hingga menjadi akhlak yang tidak terpisahkan darinya.
Hasilnya, keluarlah darinya ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan yang adil dan jauh dari kezaliman. la sanggup mengendalikan hawa nafsu, tidak condong kepada syahwat dant tidak cinta dunia.
Semangat Merdeka!
“Merdeka itu bukan hanya masalah bangsa dan negara“, demikian dituturkan almarhum Mr. Moh Roem dalam satu kesempatan memperingati hari proklamasi kemerdekaan di gedung “Majalah Kiblat” Jl KH.Agus Salim - Jakarta Pusat.
“Merdeka itu adalah semangat hidup setiap warga bangsa!“.
“Setiap kita haruslah mempunyai semangat merdeka, karena kalau tidak demikian, sekalipun bangsa dan negara sudah merdeka, bukan mustahil, orang per orang belum merdeka“.
Pada tahun 1970-an, ketika orde baru sedang kuat-kuatnya, pernyataan Mr. Moh. Roem itu dianggap merupakan salah satu kritik pedas dan keras terhadap kebijakan politik pemerintah masa itu.
Menurut Mr. Moh. Roem hilangnya “semangat merdeka” itu adalah sesuatu yang berbahaya. Dalam jangka pendek, mungkin pemerintah boleh berpuas diri terjadi “stabilitas politik“, tapi dalam jangka panjang kehilangan semangat merdeka itu membuat bangsa akan menjadi bangsa yang penakut, menjadi bangsa yang kerdil dan bahaya lainnya menurut Moh. Roem bangsa itu suatu hari nanti akan terancam menjadi bangsa yang anarkis.
Setelah 30 tahun peringatan Mr. Moh Roem di tahun 1975 itu berlalu, rasanya apa yang dikhawatirkannya itu ternyata benar-benar terjadi. Bangsa ini menjadi bangsa yang penakut, dan sekaligus menjadi bangsa yang anarkis.
Pencuri Masakan
Di Damaskus, ada sebuah mesjid besar, namanya mesjid Jami’ At-Taubah. Saat itu ada pemuda yang bertempat di sebuah kamar dalam masjid. Sudah dua hari berlalu tanpa ada makanan yang dapat dimakannya. Dia tidak mempunyai makanan ataupun uang untuk membeli makanan. Saat datang hari ketiga dia merasa bahwa dia akan mati, lalu dia berfikir tentang apa yang akan dilakukan. Menurutnya, saat ini dia telah sampai pada kondisi terpaksa yang membolehkannya memakan bangkai atau mencuri sekadar untuk bisa menegakkan tulang punggungnya. Itulah pendapatnya pada kondisi semacam ini.
Masjid tempat dia tinggal itu, atapnya bersambung dengan atap beberapa rumah yang ada disampingnya. Hal ini memungkinkan sesorang pindah dari rumah pertama sampai terakhir dengan berjalan diatas atap rumah-rumah tersebut. Maka, dia pun naik ke atas atap masjid dan dari situ dia pindah kerumah sebelah. Di situ dia melihat orang-orang wanita, maka dia memalingkan pandangannya dan menjauh dari rumah itu. Lalu dia lihat rumah yang di sebelahnya lagi. Keadaannya sedang sepi dan dia mencium ada bau masakan berasal dari rumah itu. Rasa laparnya bangkit, seolah-olah bau masakan tersebut magnet yang menariknya.
Kisah Nabi Daud
Pertanyaan :
Ada kisah nabi Daud yang dipertanyakan oleh teman kami yang non Islam yaitu tentang dosa besar yang dilakukan oleh nabi Daud, sehingga ketika beliau itu menyesal sampai sujud selama 40 tahun. Benarkah dalam kepercayaan agama Islam ada kisah tentang nabi Daud yang demikian itu?. Katanya tentang kesalahan nabi Daud yang mengambil isteri rakyatnya dengan cara menyuruh rakyatnya itu pergi berperang dan terbunuh, kemudian isterinya diperisteri oleh nabi Daud sebagai isterinya yang ke -100, padahal sebelum itu nabi Daud telah mempunyai isteri sebanyak 99 orang.
Katanya kisah tersebut terdapat di dalam Al Our’an, benarkah demikian?
Jawaban :
Menjadi salah satu dasar kepercayaan (akidah) agama Islam, bahwa seluruh nabi dan rasul terpelihara dari mengerjakan dosa. baik dosa kecil, maupun dosa besar. Karena nabi Daud itu adalah nabi dan rasul, maka menurut pokok akidah agama Islam beliau tidak mengerjakan dosa, baik dosa kecil, apalagi dosa besar.
Ceriakan Penampilan Wajah
Abu Yazid Al Busthami, pelopor sufi, pada suatu hari pernah didatangi seorang lelaki yang wajahnya kusam dan keningnya selalu berkerut. Dengan murung lelaki itu mengadu, “Tuan Guru, sepanjang hidup saya, rasanya tak pernah lepas saya beribadah kepada Allah. Orang lain sudah lelap, saya masih bermunajat. Istri saya belum bangun, saya sudah mengaji. Saya juga bukan pemalas yang enggan mencari rezeki Tetapi mengapa saya selalu malang dan kehidupan saya penuh kesulitan?”
Sang Guru menjawab sederhana, “Perbaiki penampilanmu dan rubahlah roman mukamu.
Kau tahu, Rasulullah adalah penduduk dunia yang miskin namun wajahnya tak pernah keruh dan selalu ceria. Sebab menurut Rasulullah, salah satu tanda penghuni neraka ialah muka masam yang membuat orang curiga kepadanya.”
Bidadari Syurga
Dalam suatu kisah yang dipaparkan Al Yafi’i dari Syeikh Abdul Wahid bin Zahid, dikatakan: Suatu hari ketika kami sedang bersiap-siap hendak berangkat perang, aku meminta beberapa teman untuk membaca sebuah ayat. Salah seorang lelaki tampil sambil membaca ayat Surah At Taubah ayat 111, yang artinya sebagai berikut :
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan sorga untuk mereka”
Next Page »








