
rasulullah saw
Alkisah, suatu ketika Rasulullah saw bermain tebak-tebakan dengan para sahabat.
Bertanya Rasulullah, “Tahukah kalian, mereka-mereka yang keimanannya membuatku kagum?”.
“Aku tahu ya Rasulullah”, seru salah seorang sahabat. “Mereka yang engkau maksud itu tentulah para malaikat“.
“Mengapa engkau berpikir demikian?”, tanya Rasulullah kembali.
“Karena para malaikat selalu mematuhi semua perintah Allah. Mereka tidak sekalipun pernah melanggar aturan Allah”, jawab sahabat.
“Tapi para malaikat memang ditakdirkan untuk selalu mematuhi perintah Allah. Mereka tidak diberi kelengkapan hawa nafsu seperti layaknya kita. Dan tempat mereka dekat dengan Allah. Wajar jika mereka selalu beriman. Keimanan para malaikat tersebut, sama sekali tidak membuatku kagum”, bantah Rasulullah.
Para sahabat termangu-mangu dengan jawaban Rasulullah tersebut. Mereka terdiam sejenak, memikirkan jawaban apa kiranya yang dikehendaki oleh Rasulullah.
Tiba-tiba, salah seorang sahabat berseru, “Aku tahu ya Rasulullah, yang Rasulullah maksudkan tentu para nabi dan rasul utusan Allah. Mereka manusia biasa seperti kita, namun mereka selalu mematuhi apapun yang Allah perintahkan, apapun resikonya”.
Rasulullah tersenyum, “Betul mereka manusia biasa seperti kita, namun mereka mendapatkan petunjuk langsung dari Allah swt. Mereka menerima wahyu dan mendapatkan mukzizat. Wajar jika karena semua itu, mereka beriman kepada Allah”.
“Keimanan mereka sama sekali tidak membuat aku kagum”, bantah Rasulullah sekali lagi.
(lanjut …)

kambing kurban
Kisah keluarga Nabi Ibrahim adalah kisah teladan bagi setiap rumah tangga Muslim dalam menjalani problematika rumah tangga. Serentetan ujian yang bergulir tiada henti dalam kehidupannya. Namun semua itu tidak menjadikan bahtera rumah tangganya goncang bahkan semakin bertambah kuat perkasa.
Sekian tahun lamanya keluarga Ibrahim menanti sang buah hati. Telah banyak linangan air mata dalam doanya untuk di karuniai seorang putra sebagai penerus perjuangannya. Ketika sang buah hati telah hadir dan merekah dalam hatinya, maka Allah hendak menguji keimanan nabi Ibrahim dengan sang buah hatinya. Allah berfirman dalam al-Qur’an.
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’.” (QS. Ash-Shaffat: 102)
Siapapun pasti akan merasa berduka ketika buah hatinya sakit dan terluka. Apalagi anak semata wayang yang sekian tahun dinanti kehadirannya diperintahkan untuk disembelih sebagai bukti keimanannya. Meski demikian Nabi Ibrahim yakin bahwa mimpi yang dialaminya adalah wahyu dari Allah bukan sekedar halusinasi dan bisikan setan. Akhirnya iapun bertekad melaksanakan perintah Allah tersebut bersama anaknya.
(lanjut …)

qurban terbaik
Saat menjelang pelaksanaan Idul Qurban, kebetulan saya ditunjuk menjadi salah satu panitia Qurban di kantorku. Kebetulan pada tahun 2006 lalu, terjadi dua kali berqurban, tepatnya qurban pertama di awal bulan Januari 2006.
Saat pulang kerja, saya bersama rekan pergi untuk membeli hewan Qurban di salah satu penjual hewan Qurban untuk membelanjakan hewan qurban dari dana yang dititipkan panitia kepada saya
Tiba di tempat penjual hewan Qurban, terlihat penjual hewan Qurban sangat sibuk melayani para pembeli yang datang. Begitu pula dengan para pembeli yang sibuk memilih dan menawar harga hewan Qurban yang terbaik untuk memenuhi seruan ber-Qurban di hari raya nanti.
Saya pun terpaksa harus menunggu lama sambil melihat-lihat hewan Qurban yang ada di lokasi. Namun, diantara para pembeli yang sedang antri, mata saya tertuju pada seorang ibu tua yang sedang memikul bakul jualan berisi sapu lidi, kemoceng dan barang lainnya.
(lanjut …)

surga karena memuliakan orang miskin
Menolong orang miskin dan anak yatim menunjukkan bukti cinta seorang Muslim kepada Rasulullah SAW.
Alkisah, di negeri Arab, ada seorang janda yang sangat miskin. Ia memiliki seorang anak. Karena kemiskinannya itu, ia pun berusaha meminta sesuap nasi kepada siapa saja yang mau berrnurah hati. Janda tersebut mengembara ke mana saja demi nasi dan makanan untuk dia serta anaknya.
Suatu hari, ia melintas di sebuah masjid dan bertemu dengari seorang Muslim. Kepadanya, janda ini meminta bantuan. “Wahai, tuan, sudilah kiranya bermurah hati. Anakku sedang kelaparan dan aku mohon pertolongan kepada Anda,” ujar janda tersebut.
“Mana buktinya kalau Anda miskin dan anak Anda seorang yatim?” tanya laki-laki Muslim itu.
(lanjut …)

dagang unta
Rasulullah SAW terbiasa mengajarkan kepada sahabat-sahabatnya untuk senantiasa bersabar atas segala sesuatu yang menimpa mereka. Termasuk dalam masalah lapar sekalipun.
Mereka senantiasa mengencangkan ikat pinggang. Bila tidak ada sama sekali yang dimakan, maka mereka pun akan berpuasa. Itulah yang dicontohkan Rasul SAW kepada sahabat-sahabatnya.
Suatu hari, seusai mendengarkan nasihat-nasihat yang disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabatnya di Masjid Nabawi Madinah, maka pulanglah Ali bin Abi Thalib ke rumahnya.
Sesampai di rumahnya, ia menemui istrinya, Fatimah, putri Rasulullah SAW, yang sedang duduk memintal benang.
“Wahai perempuan yang mulia, adakah suatu makanan yang dapat dimakan oleh suamimu ini?” tanya Ali.
(lanjut …)

sedekah
Madinah, 1995, menjelang pukul 3 dini hari
: persiapan keberangkatan
Salah seorang anggota kafilah haji Indonesia tahun 1995 mempersiapkan keberangkatannya menuju Masjid Nabawi, Madinah al Munawarroh.
Setelah berpakaian pantas, tak lupa ia masukkan bekal uang 50 riyal ke dalam sakunya. Ia punya niatan untuk belanja suvenir atau pernak-pernik lain yang bisa dibawanya pulang sebagai cindera mata.
Masjid Nabawi, Medinah
: lokasi kejadian
Masjid Nabawi saat itu baru dibuka kembali. Masjid ini biasa ditutup pukul 10 dan dibuka kembali pada pukul 3 dini hari waktu setempat. Masjid ini sangat besar dan megah! Dan yang membuat masjid ini sangat istimewa adalah karena di dalam masjid ini terdapat makam Rasulullah Muhammad SAW !
Setelah masuk melalui salah satu pintu masjid, sang calon haji melakukan beberapa sesi peribadatan sebagai pengisi waktu subuh yang masih cukup lama. Hingga sampailah waktu shalat subuh tiba, dan ia shalat berjamaah. Setelah sholat subuh usai, ia bersiap untuk melakukan beberapa ritual pagi yang biasa ia lakukan: membeli segelas kopi susu dan 3 helai roti cane di satu warung orang India yang ada di selatan Masjid Nabawi.
(lanjut …)

Yahudi
Hari-hari umat Islam Palestina mengalami nasib yang tragis. Dijajah, dibantai dan ditindas oleh orang-orang Yahudi. Padahal Yahudi telah mendapatkan 90% tanah Palestina, sebelumnya hanya memiliki 5%. Dengan cara menyerang, kemudian menduduki dan menjajah Palestina. Untuk itu marilah kita pahami karakter khas mereka. Sehingga kita tidak mudah melupakan kejahatan-kejahatan Yahudi sepanjang sejarahnya.
Sejarah Yahudi Madinah
Menurut sejarah orang-orang Yahudi adalah keturunan Israil. Dalam tafsir Ibnu Katsir, Al Qurthubi dan Jalalain, Isra’il adalah nabi Ya’qub. Jadi bani Israil adalah keturunan Nabi Ya’qub. Menurut catatan KH. Munawar Khalil, kira-kira tahun 1800 SM, nabi Ya’qub pindah dari Kan’an (Palestina) bersama anak cucunya ke Mesir. Yaitu setelah Nabi Yusuf as, puteranya menjabat sebagai raja Mesir. Kemudian nabi Ya’qub wafat pada tahun 1689 SM, disusul Nabi Yusuf pada tahun 1635 SM.
Meskipun demikian bani Israil tetap tinggal di Mesir hingga 300 tahun iamanya. Setelah itu mereka hidup dibawah kekuasaan Fir’aun. Mereka ditindas, dibunuh dan diintimidasi. Akhirnya berkat pertolongan Nabi Musa mereka berhasil keluar dari Mesir dan kembali ke Palestina.
Allah swt berfirman: “Dan (Ingatlah) ketika kami selamatkan kamu dari (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu. Dan (ingatlah), ketika kami belah laut untukmu, lalu kami selamatkan kamu dan kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan” (QS Al Baqarah [2]: 49-50).
(lanjut …)
Pertanyaan :
Di internet saya baca suatu pembahasan tentang Dzulkarnain yang isinya meragukan kebenaran apa yang dikisahkan di dalam Al Qur’an tentang seorang raja yang berkuasa di barat dan di timur, dengan suatu kerajaan yang luas sekali, tapi memerintah dengan adil dan sangat taat kepada Allah SWT.
Apa lagi, kalau dimaksudkan dengan Dzulkarnain itu adalah Alexander Yang Agung dari Macedonia, karena catatan riwayat hidupnya tidak menunjukkan dia sebagai raja yang adil. Apalagi, sebagai seorang yang taat kepada Allah SWT, sehingga ada yang menyebut dirinya adalah “waliyullah”.
Begitu juga halnya kalau yang disebutkan dengan Dzulkarnain tersebut adalah seorang raja dari Persia yang bernama Cyrus Yang Agung, karena rekam jejak dari raja-raja penakluk selalu menunjukkan bahwa mereka adalah raja-raja yang sangat berkuasa dan sering melakukan kekejaman.
Sehingga dengan demikian kesimpulannya bahwa adanya seorang raja pendeta yang wilayah negaranya terbentang dari barat ke timur, yang memerintah dengan keadilan di atas jalan yang benar, hanyalah suatu isapan jempol. Suatu cerita hayalan yang tidak pernah ada.
(lanjut …)
Sungguh sangat menyentuh khutbah yang disampaikan Rasulullah Saw pada saat wukuf di padang Arafah dalam pelaksanaan haji wada (haji perpisahan), dan pesan yang disampaikan pun sangat kuat maknanya. Lebih kurang sekitar seratus ribu dua puluh empat atau empat puluh empat ribu orang berkumpul mengitari Rasulullah saat itu.
Rasulullah membuka khutbahnya dengan ucapan, “Wahai umat manusia, dengarkanlah apa yang akan aku katakan ini! Boleh jadi selepas tahun ini, aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian di tempat ini untuk selamanya“.
Apa yang kita atau anda rasakan seadainya turut berada di sana saat itu, dan anda meresapi secara mendalam kalimat yang disampaikan Rasulullah tersebut, dengan penuh yakin pastilah anda akan terdiam, dan badan anda pun akan gemetar.
Kalimat “Boleh jadi selepas tahun ini, aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian di tempat ini untuk selamanya“, seakan mengisyaratkan bahwa tidak lama lagi Beliau akan segera berpisah dengan umatnya. Semuanya menjadi hening, yang berhaji pada saat itu terdiam, khusyu’ mendengarkan khutbah Rasulullah Saw selanjutnya.
“Wahai manusia, sesungguhnya darah dan harta benda (sebagian) kalian (atas sebagian kalian) adalah haram, sebagaimana haramnya hari (kalian berada) di sini, di bulan (kalian berada) di sini, di negeri kalian (tanah haram) ini“.
(lanjut …)
Di antara buah adil dalam keputusan hukum ialah tersebarnya ketentraman di hati.
Dikisahkan bahwa Kaisar Romawi mengirim utusan kepada Umar bin Khaththab r.a untuk melihat dari dekat kondisinya dan kegiatan-kegiatannya.
Ketika utusan Romawi tersebut telah tiba di Madinah, ia bertanya tentang Umar bin Khathab kepada penduduk Madinah. “Mana raja kalian?”
Penduduk Madinah menjawab: “Kami tidak mempunyai raja, kami hanya mempunyai pemimpin yang sedang pergi ke luar Madinah”.
Utusan Kaisar Romawi tersebut segera keluar dari Madinah untuk mencari Umar bin Khaththab, dan ia bertemu dengan Umar yang sedang tidur di atas tanah dengan berbantalkan tongkat kecilnya yang biasa ia bawa untuk mengubah kemungkaran.
Ketika utusan Kaisar Romawi melihat Umar bin Khaththab dalam keadaan seperti itu, ia merasakan ketenangan di hatinya, dan ia berkata: “Orang yang ditakuti semua raja karena kewibaannya, tetapi keadaainya sepert itu? Hai Umar, engkau berbuat adil dan engkau pun bisa tidur. Sadangkan raja kami zalim, maka tidak heran kalau ia tidak bisa tidur, dan selalu diliputi ketakutan” (Abu Bakar Jabr al-Jazairi, Ensiklopedi Muslim, hl.236).
Pemimpin yang adil selalu bersikap dalam pemberian keputusan dengan jalan tengah, yakni tidak berlebih-lebihan dan tidak pula sembrono. Oleh sebab itu, orang muslim harus adil dalam ucapan dan perbuatannya. la berbuat adil dalatn segala hal hingga menjadi akhlak yang tidak terpisahkan darinya.
Hasilnya, keluarlah darinya ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan yang adil dan jauh dari kezaliman. la sanggup mengendalikan hawa nafsu, tidak condong kepada syahwat dant tidak cinta dunia.