“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya“. (QS Al A’raf [7]:96).
Dalam kehidupan ini, seorang muslim harus memiliki keimanan yang kuat dan kokoh agar dapat meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat.
Dengan iman, kehidupan seorang muslim menjadi terarah, selalu mendekatkan diri kepada Allah dan jauh dari segala maksiat. Dengan iman yang kokoh, Nabi Yusuf menolak ajakan Zulaikha untuk berzina, dan begitulah seterusnya.
Orang yang beriman disebut dengan mukmin dan orang Islam disebut dengan muslim. Seorang muslim belum tentu seorang mukmin, akan tetapi seorang mukmin pasti seorang muslim, hal ini karena belum tentu iman sudah masuk ke dalam hati.
Dalam hal ini karena banyak sekali seorang muslim yang mengaku beragama Islam akan tetapi mereka tidak menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah dan juga tidak menjauhkan segala apa yang dilarang-Nya, kita sering menyebutnya dengan Islam KTP.
(lanjut …)
Janganlah kamu meminta jabatan dalam pemerintahan. Karena jika kamu diberi jabatan karena permintaanmu, maka bebanmu sungguh berat. Tetapi jika kamu diberi jabatan tanpa kamu minta, maka kamu akan dibantu oleh orang banyak (HR. Muslim dari Abdurrabman bin Samurah ra)
Keberadaan pemimpin jelas amat dibutuhkan bagi setiap orang dalam berbagai kelompok dan bidang. Dalam sepakbola ada kapten kesebelasan, di perusahaan ada direktur bahkan presiden direktur, dalam shalat berjamaah mesti ada yang namanya imam dan dalam suatu negara ada presiden atau perdana menteri atau ada juga yang menyebutnya dengan raja. Dibutuhkannya pemimpin menunjukkan betapa strategis jabatan kepemimpinan itu.
Jabatan kepemimpinan yang diemban seseorang bisa membawa kebaikan tapi juga bisa membawa keburukan, tidak hanya bagi orang yang dipimpinnya tapi juga bagi dirinya sendiri, bahkan tidak hanya keburukan di dunia ini saja tapi juga bisa sampai ke akhirat nanti. Kepemimpinan yang akan membawa seseorang pada keburukan disebabkan banyak faktor.
1. Kekejaman Dalam Memimpin
Kepemimpinan yang dijalankan dengan berlaku kejam atau zalim kepada orang yang dipimpin merupakan sesuatu yang membawa malapetaka bagi sang pemimpin dan orang yang dipimpinnya, tidak hanya kejam dari tindakan fisik tapi juga kebijakan dan ketentuan yang dikeluarkannya sehingga rakyat tidak berdaya dihadapan sang pemimpin meskipun pemimpin itu melakukan kesalahan, karenanya pemimpin yang berlaku kejam kepada rakyat yang dipimpinnya merupakan sejelek-jelek pemimpin.
(lanjut …)
Sebagai muslim sejati, setiap kita tentu memahami dan menyadari bahwa kehidupan akhirat jauh lebih baik dibanding kehidupan di dunia ini. Karenanya kehidupan dunia hanya batu loncatan untuk meraih kenikmatan dalam kehidupan akhirat. Oleh karena itu, sangat beruntung apabila kita berhasrat kepada kehidupan akhirat, dibanding kehidupan dunia yang perbandingannya seperti air lautan dengan tetesan air dari jari tangan yang baru dicelupkan. Rasulullah saw mengemukakan keuntungan bila kita berorientasi pada kehidupan akhirat dalam satu haditsnya:
“Dan barangsiapa yang akhirat adalah semangat dan hasratnya dan kepada-nya ia mencurahkan perhatian dan untuknya ia berniat, niscaya Allah azza wa jalla menjadikan kekayaan di dalam hatinya dan Dia memperbaiki segala urusannya, dan kekayaan dunia datang kepadanya dalam keadaan hina” (HR. Bazzar, Thabrani dan Ibnu Hibban)
Dari hadits di atas, kesimpulan yang bisa kita ambi! adalah bahwa paling tidak, ada tiga keuntungan yang akan kita peroleh bila ambisi kita adalah untuk kehidupan akhirat yang bahagia.
(lanjut …)
Hakikat dunia sebagai tempat sementara seharusnya membuat manusia, apalagi kaum muslimin menyadari bahwa dunia ini adalah yang oleh Rasulullah saw dikatakan sebagai tempat bercocok tanam dan panennya dalam kehidupan di akhirat nanti. Namun tetap saja begitu banyak manusia yang lupa akan hakikat dunia sehingga kesenangan dan kenikmatan dunia menjadi ambisi manusia dan yang lebih tragis lagi adalah menjadi ambisi kaum muslim dan mereka yang menamakan dirinya sebagai aktivis dakwah yang seharusnya mengingatkan orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya.
Dunia seringkali dilambangkan dengan harta, tahta dan wanita. Orang yang berambisi terhadap dunia akan mencapai semua itu meskipun dengan menghalalkan segala cara, bahkan yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah mencari pembenaran dengan nilai-nilai Islam yang dipahaminya, salah satunya adalah dengan menggunakan istilah, dalil dan kaidah agama agar sesuatu yang tidak benar yang disikapi dan dilakukannya menjadi seolah-olah benar.
Oleh karena itu, Rasulullah saw mengingatkan bahayanya bila seseorang berambisi kepada dunia. “Barangsiapa yang dunia ini adalah semangat dan hasratnya, kepadanya ia memberikan perhatian dan untuknya ia berniat, niscaya Allah menjadikan kefakiran dihadapan kedua matanya, dan Dia memporakporandakan segala urusannya dan tidak akan ia peroleh darinya kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya darinya” (HR. Bazzar, Thabrani dan Ibnu Hibban).
(lanjut …)
Setiap muslim pasti ingin mendapatkan rahmat atau kasih sayang dari Allah swt. Untuk memperolehnya, banyak pintu yang bisa dimasuki, artinya banyak sebab yang bila kita lakukan maka kita akan memperoleh rahmat dari Allah swt, satu diantaranya adalah melalui harta yang kita cari dan kita manfaatkan.
Dalam satu hadits, Rasulullah saw bersabda: “Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang berusaha dari yang baik, membelanjakan uang secara sederhana dan dapat menyisihkan kelebihan untuk menjaga saat dia miskin dan membutuhkannya” (HR. Muslim dan Ahmad).
Dari hadits di atas, Allah swt akan memberikan rahmat kepada seseorang dalam kaitan dengan harta bila ia melakukan tiga perkara.
(lanjut …)
![QS Al A’raf [7]:200](http://mimbarjumat.com/wp-content/uploads/2008/07/7_200.png)
“Dan jika kemu ditimpa sesuatu godaan syaitan Maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS Al A’raf [7]:200)
Di dalam Al-Our’an, ada bentuk-bentuk memohon perlindungan kepada Allah swt yang harus kita lakukan, karenanya perlu kita bahas secara singkat melalui tulisan ini.
1. Berlindung Dari Kejahatan.
Keburukan atau Kejahatan manusia dengan berbagai sebab merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan bagi kita dalam hidup ini, kejahatan memang bisa dilakukan oleh siapa saja karenanya kita berlindung kepada Allah swt dari yang demikian, karenanya ketika Rasulullah saw disihir oleh orang Yahudi yang bernama Labid bin Asam, beliau mengalami sedikit pusing sehingga malaikat merugyah beliau sehingga beliau terbebas dari sihir itu. Karena itu, Rasulullah saw berlindung kepada Allah swt dengan turun surat Al-Falaq dan An-Nas, firman-Nya: Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subu dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.” (QS Al Falaq [113]: 1 -5). Di dalam surat lain, Allah swt juga membimbing kita untuk berlindung kepada-Nya dari kejahatan syaitan, jin dan manusia, Allah swt berfirman: “Katakanlah: Aku bertidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. raja manusia. sembahan ma-nusia. dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyt, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia“. (QS An Naas [114]:1-6).
(lanjut …)

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. ” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ” (Ali lmran 3:31).
Imam Jalaluddin As Suyuthi dalam tafsirnya Ad-Duril Mantsuur (mutiara yang ditebar) Juz 2/238 menafsirkan hal tersebut dengan membawakan beberapa hadits. Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Jarir dari Hasan ra: “Ada suatu kaum yang datang kepada Nabi saw: Yaa Rasulullah sesungguhnya kami amat mencintai Tuhan kami, maka Allah menurunkan ayat tersebut“.
Dari Umar ra berkata nabi saw: “Tidak sempurna keimanan seseorang sehingga hawa nafsunya tunduk kepada apa-apa yang datang kepada kalian (Alqur’an dan sunnah)“.
(lanjut …)

“Allah Tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan bertaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangi-mu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerlmu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil“. (QS. Al-Mumtahanah [60]: 8 )
Definisi akhlak menurut Imam Al-Gozali adalah: Ungkapan tentang sikap jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dan tidak memerlukan pertimbangan atau pikiran terlebih dahulu.
(lanjut …)

tetangga
Bertangga adalah bagian dari kehidupan manusia yang tidak bisa ditolak. Sebab manusia memang tidak semata-mata makhluk individu, tetapi juga makhluk sosial. Satu sama lain harus bermitra dalam mencapai kebaikan. Islam memerintahkan segenap manusia untuk senantiasa berjamaah dan berlomba dalam berbuat kebaikan. Sebaliknya, Islam melarang manusia bersekutu dalam melakukan dosa dan permusuhan.
Firman Allah SWT : “Bertolong-tolonglah kamu dalam berbuat kebaikan dan taqwa dan janganlah kamu tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah , kepada Allah, karena sesungguhnya Allah sangat berat siksanya” (QS. Al-Maidah: 2)
(lanjut …)
“Allah tidak menerima amal, kecuali amal yang dikerjakan dengan ikhlas karena Dia semata-mata dan dimaksudkan untuk mencari keridhaan-Nya” (HR. Ibnu Majah).
Setiap orang pasti ingin bahagia atau beruntung. Kebahagiaan dan keberuntungan itu dibahasakan oleh Rasulullah saw dengan kata thuuba yang artinya kebaikan yang banyak, beruntung atau bahagia. Dalam kehidupan masyarakat, orang yang bahagia seringkali dikonotasikan sebagai orang yang memiliki harta atau fasilitas hidup yang memadai. Namun Rasulullah saw menunjukkan kriteria lain dari orang yang bahagia. Melalui tulisan ini, akan kita bahas empat golongan orang yang termasuk orang yang bahagia dengan kebahagiaan yang sesungguh-sungguhnya :
(lanjut …)