Diantara Ujian Manusia pada Harta dan Jabatan

Indah Mulya | Sunday, March 2nd, 2008

Lalai akan kewajiban kepada Allah Dalam Al-Qur’an sural At Takaatsur “Alhaakumuttakaasur” bermegah-megahan telah melalaikan kamu dari ketaatan pada Allah SWT. Ingin ego manusia cenderung megah agar orang lain terkalahkan. Maka At Takaatsur bisa saja berarti harta, dimaiia dalam surat Al Munaafiquun ayat 9 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi“. Harta akan melalaikan manusia, anak-anak bisa melupakan manusia, melakukan ketaatan pada Allah SWT. Betapa banyak yang dahulu belum memegang jabatan dengan gelar Kiyai Haji atau professor doktor ketika gelarnya tercopot akhirnya berubah menjadi koruptor.

Betapa jabatan dan harta bisa melalaikan orang dan itu sudah dibuktikan oleh nabi Adam as, setelah melakukan pelanggaran pada Allah yang bukan karena tiada prasarana dan sarana tapi justru nabi Adam lalai terhadap perintah Allah, ketika seluruh sarana dan prasarana ada justru telah melalaikan, bukankah orang-orang yang sekarang tidak sholat, lalai karena dagangannya, lalai karena usahanya, lalai karena pekerjaan kantor. Bukankah itu semua melalaikan, maka Al qur’an menegur kita dan salah satu kriteria orang yang disebut dengan rijal, pahlawan dan contoh pigur dalam Al qur’an. Sebagaimana di terangkan dalam surat An Nuur ayat 37 yang artinya “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah dan mendirikan sholat dan membayar zakat. Mereka tidak takut kepada suatu hari yang (di hari itu ) hati dan penglihatan menjadi gonjang“. Jadi kalau ada orang yang hartanya banyak, super sibuk tapi lalai dari sholat itu namanya bukan rijal dan tidak disebut dalam pahlawan atau tokoh dalam Al qur’an, justru yang disebut sebagai tokoh adalah yang berdagang, yang berbisnis dan yang mempunyai jabatan, tetapi dia tidak dilalaikan olehnya.

(lanjut …)



Letak Kebahagiaan yang Hakiki

Indah Mulya | Monday, February 11th, 2008

Ketenangan jiwa

Kebahagian tidak dapat diukur dengan harta, pangkat, jabatan dan segala kemewahan duniawi, termasuk wanita. Tetapi sesungguhnya kebahagiaan itu terletak pada ketenangan hati seseorang. Banyak orang kaya dengan harta berlimpah ruah, tetapi kekayaannya tidak membuat hatinya menjadi tenang, bahkan sebaliknya, kekayaan yang ia kumpulkan justru menyibukkan dirinya untuk mengejar kekurangan, karena berapapun harta benda yang ia miliki masih saja dianggapanya kurang. Sebagaimana firman Allah dalam surat At Takaatsur ayat 1-2 yang artinya “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur”. Demikian kebiasaan manusia di dalam mengejar kekayaan, mempunyai satu buah mobil, ingin menjadi dua, mempunyai dua ingin bertambah tiga, dan seterusnya. Karena itu marilah kita berusaha dan
berdc’a, agar hati kita selalu diberi ketenangan. Sebab hanyalah di dalam hati yang tenang letak kebahagiaan yang hakiki. Kaya yang sebenarnya adalah ketenangan jiwa. Kita menyadari sepenuhnya bahwa kehidupan dunia ini adalah sementara dan sebentar.

Sahabat Rasulullah SAW Umar Bin Khatab mengibaratkan bahwa kehidupan di atas dunia laksana seorang musafir yang singgah diwarung untuk minum. Kita dapat memperhitungkannya, berapakah lamanya seorang musafir membeli sebotol minuman disalah satu warung, waktu yang dibutuhkan tidak begitu lama kurang lebih 5-10 menit lamanya. Sebab perbandingan antara waktu di dunia dengan akhirat sangat jauh berbeda, yakni satu berbanding seribu. Jadi andaikan ada manusia yang hidup di atas dunia seribu tahun dibanding dengan akhirat berarti baru satu hari lamanya. Kehidupan di dunia ini merupakan tempat beramal sebanyak-banyaknya dan akhirat merupakan tempat kita menerima pembalasan dari Allah SWT. Di dunia kita bebas dalam melaksanakan suatu pekerjaan dan perbuatan, bebas menurut k’einginan kita masing-masing. Segala amal berbuatan baik dan buruk akan dipertanggung jawabkan nantinya.

(lanjut …)



Pesan-pesan Khutbah Rasulullah

Indah Mulya | Monday, February 4th, 2008

Tempat bersejarah

Di dalam Al qur’an ada 2 ketentuan yang berkaitan dengan dimensi ruang dan dimensi waktu. Kedua dimensi itu ditentukan sebagai kawasan damai dan tcmpat di mana ummat Islam itu dilarang untuk melakukan operasi perang. ummat Islam dilarang untuk melakukan pertumpahan darah dan ditempat mana pula telah ditentukan di kawasan suci yang haram hukumnya orang kafir masuk ke tempat tersebut dan tidak dibenarkan untuk melakukan perburuan binatang satwa. Itulah yang disebut dengan waktu-waktu yang haram dan tempat-tempat yang haram. Dalam surat At Taubah ayat 36 yang artinya “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan Ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa”

(lanjut …)



Memahami Gerakan-gerakan di Luar Islam

Indah Mulya,Sosial | Sunday, January 20th, 2008

Tipu Daya Pemikiran Barat

Allah SWT, telah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 120 yang artinya “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka…..”. ayat ini bukan ayat mutasyabih yang perlu ditafsirkan secara aneh-aneh dan bermacam-macam, dan ayat ini tegas tanpa kompromi. Jadi jika kita melihat sejarah akan lebih terbukti lagi supaya kita bisa melihat suatu rentang waktu yang panjang tentang bagaimana serangan pemikiran pada kaum muslimin.

Perlu diketahui bahwa Islam pernah mendirikan khilafah Islamiyah selama 500 tahun lamanya atau 5 abad, saat itu Islam berkuasa dari barat hingga ke timur. Perang salib berlangsung selama 200 tahun lamanya, perang antara kaum muslimin dengan kaum Nasrani, telah terjadi sembilan kali serangan gelombang secara besar-besaran ke pusat khilafah gagal total, karena salah satu karakter pada umat Islam, jika umat Islam diserang secara fisik dan secara militer maka ukhuwah dan solidaritasnya semakin kuat, ruhul jihadnya muncul, jadi makanya mereka memikirkan cara-cara yang lain.

Maka sekitar tahun 1800 di dekat Palestina dilakukanlah konferensi zending atau konferensi missionaris . internasional, diantara yang berpidato adalah Samuel Zweimer dia mengatakan kepada kaum missionaris atau para penggembala domba yang sesat. Tujuan kita bukankah menjadikan kaum muslimin beralih agama, tetapi tugasmu adalah “Mengeluarkan mereka dari Islam dan tidak berpikir mempertahankan agamanya. Di samping itu, saudara hams berusaha agar mereka tidak berbudi luhur. Dengan demikian saudara telah mengeluarkan kaum muslimin dart agama mereka, meskipun mereka tetap enggan memakai baju Yahudi atau Kristen. Gaya hidup seperti itulah sasaran kita, yaitu pemuda yang enggan bekerja keras, malas, dan senang berfoya-foya, hanya tertarik pada soal-soal sexsualitas, popularitas, mencari harta dan pangkat hanya untuk pemuas nafsu“.

Para gembala domba-domba yang sesat, tugas-tugas kalian bukan untuk mengkristenkan kaum muslimin, sebab masalah tersebut soal hidayah, tugas kalian adalah yang sebenarnya menjauhkan umat Islam dari ajarannya. Menjauhkan umat Islam dari Al Qur’an. Ketika serangan militer gagal berkali-kali, maka dirancanglah serangan pemikiran atau Ghozwul Fikri. Ummat Islam dengan ini terlalai, terlena, lupa dan tidak sadar.

(lanjut …)



MANUSIA CENDERUNG PADA KELOMPOK MAYORITAS

Indah Mulya | Monday, January 14th, 2008

Pada suatu hari Rasulullah SAW menyampaikan hadits kudsinya kisah nabi Adam pada hari kemudian kepada para sahabat yang artinya “Wahai Adam, bangunlah dan pilihlah setiap 1000 orang, maka 1 orang ke surga dan 999 masuk ke neraka”. Kemudian para sahabat menunduk lalu menangis, dan Rasulpun menangis, tetapi kemudian Rasulullah mengatakan, wahai para sahabat angkatlah kepalamu dan ingatlah bahwa umatku bagaikan bulu putih, satu bulu putih di seekor lembu yang warnanya hitam. Artinya umat Muhammad itu dibanding dengan seluruh umat ini sedikit. Keinginan atau kecenderung manusia selalu bergabung pada kelompok mayoritas dan sering kali tidak selamanya kelompok mayoritas itu justru mengikuti yang sesat.

(lanjut …)







« Previous Page