
sholat malam
Qiyam adalah aktivitas ibadah shalat di malam hari. Shalat harus dilakukan dengan berdiri (qiyam). Di bulan Ramadhan, shalat taraweh disebut qiyamullail (berdiri di malam hari), sedangkan di luar Ramadhan adalah shalat tahajjud.
Hakikat Qiyam atau sholat malam adalah bangun dan tegak lurus sambil berdiri beribadah kepada Allah. Jika di siang hari kita melakukan puasa (shiyam) itu adalah manajemen syahwat, maka di balik kata Qiyam (sholat malam) dapat pula kita maknai sebagai manajemen ibadah.
Terdapat tiga prinsip dasar dalam memaknai sholat malam dalam arti manajemen ibadah. Pertama, tegak lurus berdiri beribadah pada Allah. Kedua, kesiapan diri meluruskan dan menyatukan semua orientasi hidup dan aktivitas hidup dari bermacam-macam menjadi hanya kepada Allah dan untuk Allah semata.
Inilah inti komitmen yang selalu kita baca ketika membaca do’a iftitah dalam sholat (QS. Al-Am’aan (6) : 161-163]. Ketiga, mengelola ibadah berdasarkan aturan, sistem, dan ketentuan Allah, baik tujuannya, caranya maupun skala prioritasnya.
(lanjut …)

puasa ramadhan
Puasa atau shiyam adalah menahan diri dari berbagai hal yang membatalkan, seperti makan, minum, berhubungan suami isteri dan sebagainya, dari terbit fajar sampai tenggelam matahari. Mengapa semua yang dihalalkan di luar Ramadhan diharamkan pada siang hari pada Ramadhan seperti makan, minum dan berhubungan suami istri dan sebagainya?
Dapat kita petik hikmahnya, bahwa hakikat puasa yang kita lakukan selama bulan Ramadhan merupakan pelatihan manajemen syahwat agar terbiasa mengendalikan syahwat yang bersemayam dalam diri kita.
Ada dua hal penting terkait dalam manajemen syahwat dalam ibadah puasa ramadhan. Pertama, terkait dengan pengendalian syahwat yang halal, seperti makan, minum, seks dan sebagainya. Karena puasa itu melatih orang yang menjalankannya untuk meraih derajat taqwa yang merupakan derajat tertinggi di sisi Allah [QS. Al-Hujarat (49) : 13].
Untuk meraih ketaqwaan itu sangat erat kaitannya dengan kemampuan mengendalikan syahwat yang halal. bukan syahwat yang haram. Syahwat yang haram kalau dilakukan merupakan bukti cacatnya keimanan. Sudah pasti orang yang cacat imannya tidak mungkin mencapai derajat taqwa kecuali ia sudah melakukan taubat nashuhah.
(lanjut …)

menyambut ramadhan
Berada di bulan mulia, memanfaatkan secara maksimal dan meraih keutamaannya adalah kerinduan orang-orang bertakwa. Sejauh apa kerinduan dan kecintaan kita pada ramadhan, adalah ukuran awal sebaik apa kita akan meraih segala hentuk kebaikan di bulan ini. Semoga Alloh menolong kita untuk menjadi hamba-hamba yang lebih bertakwa.
Bualan Ramadhan ibarat air yang suci bagi orang yang ingin bertaubat, yang akan membersihkan seluruh celah tubuh dari segala noda yang pernah mengotorinya. Peluklah Ramadhan. Menangislah di dalamnya. Termenunglah di dalamnya. Bergembiralah karenanya. Muliakanlah kehadirannya.
Karena sesungguhnya setiap detik yang kita rasakan di bulan ini adalah anugerah yang terindah yang mungkin tak akan terulang untuk kali kedua.
Allahumma ya Allah, jadikanlah bulan ini, bulan yang mulia buat kami, bulan yang mampu mengangkat derajat kami, bulan yang mampu menyelamatkan jiwa kami, bulan yang mampu mereda murka-Mu atas kami, dan bulan yang akan memenangkan kami atas kaum yang dzalim. Hanya kepada-Mu kami berserah diri dan hanya kepada-Mu kami mohon ampunan.
(lanjut …)

dunia ladang beramal
Jika kita keluar rumah, kita akan menyaksikan bahwa kebanyakan manusia –mungkin juga diri kita- memandang dunia sebagai tujuan hidupnya. Belum yang kita saksikan di kota-kota baik di pinggiran jalan, di kendaraan; di bus-bus, kereta maupun lainnya. Kita akan menyaksikan bahwa yang terlintas di benaknya hanyalah “Bagaimana caranya agar bisa hidup enak di dunia ini “, tidak lebih dari itu. Seakan-akan tidak pernah terlintas di hati ini bahwa hidup di dunia ini hanya sementara dan bahwa Allah menjadikan dunia ini sebagai ladang untuk beramal. Kita akan melihat manusia bermegah-megahan dalam segala hal sampai tidak sempat lagi beramal. Allah berfirman:
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu-sampai kamu masuk ke dalam kubur. ” (QS. At Takaatsur: 1-2)
Ketika azan dikumandangkan mereka masih saja sibuk dengan pekerjaannya, tanpa mempedulikan seruan adzan. Padahal tentang dunia ini, Allah Ta’ala berfirman,
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan saling berbangga dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu “. (QS. Al Hadiid : 20)
(lanjut …)

amalan dzulhijah
“Tidak ada satu amal saleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal saleh yang dilakukan pada hari-hari ini, (yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijah),” sabda Nabi SAW.
Para sahabat bertanya, “Tidak pula jihad di jalan Allah?”
Rasulullah menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya, tetapi tak ada yang kembali satu pun.” (HR Abu Daud, Ibnu Majah, at-Tirmidzi, dan Ahmad).
“Ketahuilah, amalan di sepuluh hari awal Dzulhijah akan dilipat-gandakan,” sabda Nabi SAW dalam hadis lainnya. Terlepas perbedaaan pelaksanaaan Idul Adha 1431 H, ada baiknya kita alihkan perhatian pada sesuatu yang lebih utama, yaitu merebut perhatian Allah SWT dengan menghadirkan amalan-amalan yang disukai-Nya.
(lanjut …)

qurban terbaik
Saat menjelang pelaksanaan Idul Qurban, kebetulan saya ditunjuk menjadi salah satu panitia Qurban di kantorku. Kebetulan pada tahun 2006 lalu, terjadi dua kali berqurban, tepatnya qurban pertama di awal bulan Januari 2006.
Saat pulang kerja, saya bersama rekan pergi untuk membeli hewan Qurban di salah satu penjual hewan Qurban untuk membelanjakan hewan qurban dari dana yang dititipkan panitia kepada saya
Tiba di tempat penjual hewan Qurban, terlihat penjual hewan Qurban sangat sibuk melayani para pembeli yang datang. Begitu pula dengan para pembeli yang sibuk memilih dan menawar harga hewan Qurban yang terbaik untuk memenuhi seruan ber-Qurban di hari raya nanti.
Saya pun terpaksa harus menunggu lama sambil melihat-lihat hewan Qurban yang ada di lokasi. Namun, diantara para pembeli yang sedang antri, mata saya tertuju pada seorang ibu tua yang sedang memikul bakul jualan berisi sapu lidi, kemoceng dan barang lainnya.
(lanjut …)

menjernihkan hati
Hati dan pikiran yang jernih akan melahirkan perbuatan yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Sebab, kejernihan hati dan pikiran, selalu dilandasi dengan semangat keikhlasan untuk mengabdikan dirinya semata-mata karena Allah.
Itulah salah satu ciri orang yang beriman. Perbuatan yang demikian itu akan mampu menjadikan dirinya sebagai pembersih jiwa untuk meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS Asy-Syams [91]: 9-10).
Banyak cara dan langkah yang diajarkan Islam untuk menjernihkan hati dan pikiran tersebut. Pertama, memperbanyak istighfar (memohon ampun) kepada Allah SWT disertai keyakinan untuk tidak mengulangi perbuatan-perbuatan yang salah.
“Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS Ali Imran [3]: 135).
(lanjut …)

tolak ciketing
Saat ini, umat Islam dan Pemerintah Indonesia menjadi tertuduh oleh sesuatu yang masih harus dikaji lebih jauh kebenaran tuduhan tersebut. Namun, kampanye berbagai pihak telah menstempel seolah-olah tuduhan itu adalah benar.
Inilah tuduhannya: intoleran, tak ada kebebasan beribadah, tak ada kebebasan beragama! Padahal, persoalannya sama sekali bukan itu. Persoalannya adalah masalah pendirian rumah ibadah. Tentu, itu dua hal yang berbeda.
Di mana-mana, bahkan di pusat-pusat peradaban dunia, seperti New York, Paris, Berlin, London, Sydney, dan sebagainya, masalah pendirian rumah ibadah merupakan persoalan yang tiada henti. Tentu, jika di Barat— yang menjadi pusat-pusat peradaban dunia itu—umat Islam mengalami kesulitan. Umat Islam yang menjadi minoritas itu dihambat dengan alasan heritage (kasus Camden, Sydney), lanskap (Swiss), budaya (Paris), diskriminasi (London), dan sebagainya. Tapi, jika dilacak lebih jauh, alasan perbedaan agama yang menjadi pangkal persoalan.
(lanjut …)

ukuran
Kualitas amaliah kita kepada Allah SWT tidak diukur melalui jumlah, kuantitas, berat, dan ringannya ibadah. Akan tetapi, diukur oleh jiwa yang ikhlas.
Keikhlasan itu hanya muncul dari jiwa yang zuhud, hati yang tidak dipenuhi oleh hasrat, kecuali hanya kepada Allah. Karena itu, walaupun kecil, sedikit, dan barangkali sepele, jika amaliah itu muncul dari jiwa yang zuhud, nilainya justru besar dan banyak.
Sebaliknya, jika amaliah itu dihitung dengan kuantitas, bahkan dilakukan oleh ribuan orang, tapi keikhlasan dan kezuhudan tidak tertanam dalam hatinya, sebanyak apa pun amaliah itu tetap dinilai kecil.
Bagi seorang zahid, amaliah adalah sesuatu yang muncul dari jiwa yang kosong dan dari kepentingan nafsu duniawi. Karena itu “Dua rakaat dari seorang alim yang zahid itu lebih dicintai oleh Allah daripada ibadah orang yang beribadah, tapi penuh ambisi duniawi,” terang Nabi Muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan melalui Ibnu Mas’ud ra.
(lanjut …)

sujud memohon ampunan
Rasulullah SAW memerintahkan umat Islam agar senantiasa memperbanyak amal ibadah di bulan Ramadhan. Sebab, terdapat banyak keutamaan yang akan diperolehnya.
Ibadah sunah menjadi bernilai fardhu, makan sahur merupakan berkah, bersedekah akan dilipatgandakan, membaca Al-Quran akan menjadi syafaat, dan beribadah pada malam Lailatul Qadar nilainya lebih baik daripada seribu bulan.
“Wahai manusia! Sungguh telah datang kepada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan ampunan Allah. Bulan yang mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah yang paling utama. Malam-malamnya adalah yang paling utama. Waktu demi waktunya adalah yang paling utama.” (HR Ibnu Khuzaimah).
Salah satu amalan yang disunahkan adalah memperbanyak ampunan dan tobat kepada Allah. “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat ” (Al-Baqarah [2]: 222). “Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini“. (HR Ibnu Khuzaimah).
(lanjut …)