Kunci-kunci Rezeki
Nabi Nuh ‘alaihis salam pernah berkata kepada kaumnya: “Wahai kaumku, Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu—(yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku—Niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu (memanjangkan umurmu) sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu Mengetahui.” (QS. Nuh 2-3)
Nuh ‘alaihis salam juga berkata: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun—Niscaya Dia akan mengirimkan hujan lebat kepadamu, membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun serta mengadakan (pula di dalamnya) sungai-sungai untukmu.” (QS. Nuh: 10-11)
Dari beberapa ayat di atas terdapat beberapa pelajaran, di antaranya:
Pertama, dakwah para nabi ushul(asas)nya adalah sama yaitu Tauhid (menyeru beribadah kepada Allah saja dan meniadakan sesembahan selain-Nya), meskipun syari’atnya berbeda-beda.
Kedua, dalam berdakwah, para nabi mengedepankan Al Ahamm fal ahamm (yang lebih terpenting di antara yang penting) yaitu Tauhid sebelum yang lain.
Menikmati Malam
Saat itu malam masih tersisa. Bulan masih berenang dalam ruang semesta. Dan, bintang-gemintang masih setia bergelantungan. Dan dalam keheningannya ini, di salah satu bilik yang sangat sederhana, terdengar suara berbisik. “Wahai istriku, ikhlaskah dirimu jika malam ini aku beribadah kepada Allah?”
“Wahai suamiku, kekasih Allah. Sesungguhnya (jika menuruti kata hati) aku merasa nyaman jika selalu berada di sampingmu. Namun, aku ikhlas dengan apa yang engkau sukai. Engkau sangat gemar beribadah kepada Allah. Bagaimana mungkin aku tidak mengikhlaskanmu.” sahut Aisyah lembut.
Sejurus kemudian, pasangan suami istri agung ini berwudhu. Keduanya lalu tegak dalam kesalihan malam bak Jabal Rahmah yang memancang kuat menembus lazuardi imani. Takbirnya melesat bersama keagungan Sang Pencipta. Rapalan firman-firman-Nya bergetar bersama air mata yang memburai berharap rida Allah. Begitu juga dengan gerak rukuk dan sujudnya, lekat dalarn harmoni gerak jagad raya. Demikian ikhlas keduanya memenuhi panggilan suci untuk menjadikannya lebih mulia dalam menggapai maqamam mahmuda (tempat terhormat).
Inilah sepenggal peristiwa malam yang dikisahkan oleh Aisyah RA kepada Atha’ saat ia dan temannya bertandang ke rumah ummul mukminin. Cerita yang dituturkan melalui jalur Ibnu Mardawih ini merupakan satu dari sekian kisah mengesankan Rasulullah dalam upaya menghidupkan sisa-sisa malamnya.
Puasa Asyura
Sesungguhnya hari Asyura (10 Muharram) merupakan hari bersejarah dan diagungkan. Orang-orang Quraisy biasa berpuasa pada hari asyura di masa jahiliyyah, Rasulullah pun melakukannya pada masa jahiliyyah, sampai datang syariat puasa.
Tatkala beliau sampai di Madinah beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa.” (HR. Bukhari Muslim) “Nabi tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya: “Apa ini?” Mereka menjawab: “Sebuah hari yang baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur. Maka Rasulullah saw menjawab: “Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (Yahudi) , maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu.” (HR. Bukhari)
Ada banyak hadits yang bicara tentang puasa Asyura, antara lain: “Rasulullah ditanya tentang puasa Asyura, beliau menjawab: “Puasa itu bisa menghapuskan dosa-dosa kecil pada tahun kemarin.”(HR. Muslim).
Adapun cara berpuasa di Hari Asyura adalah berpuasa selama 3 hari dimulai dari tgl 9, 10, dan 1 1 Muharram berdasar hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan lafadz sebagaimana telah disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam al-Huda dan al-Majd Ibnu Taimiyyah dalam al-Muntaqa 2/2: “Selisihilah orang yahudi dan berpuasalah sehari sebelum dan setelahnya.”
Dan pada riwayat ath-Thahawi menurut penuturan pengarang al-Urf asy-Syadzi: “Puasalah pada hari Asyura dan berpuasalah sehari sebelum dan setelahnya dan janganlah kalian menyerupai orang Yahudi.”
Sumber: Buletin Dakwah Masjid Al-Iman Edisi ke-24, 2 Desember 2011
Adab Menuntut Ilmu (Bagian 1)
Ilmu memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam, bahkan ayat yang pertama turun adalah ayat yang mengajak untuk belajar. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,” (QS. Al Alaq: 1)
Allah Subhaanahu wa Ta’aala juga sampai bersumpah dengan sarana untuk memperoleh ilmu, yaitu pena. Dia berfirman, “Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,” (QS. Al Qalam: 1)
As Sunnah juga menguatkan kedudukan ilmu sampai-sampai menjadikan usaha ntuk memperoleh ilmu sebagai jalan ke surga. Rasulllah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Tirmidzi)
“Apabila seseorang meninggal, maka terputuslah amalnya selain tiga perkara; sedekah jaariyah, ilmu yang dimanfaatkan atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Para penuntut Ilmu juga merupakan wasiat Rasulllah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dimana para pengajar diperintahkan berbuat baik kepada mereka. Beliau bersabda: “Akan datang kepadamu orang-orang yang mencari ilmu, maka apabila kamu melihat mereka, ucapkanlah kepada mereka, ‘Selamat datang kepada wasiat Rasulllah shallallahu ‘alaihi wa sallam’, dan berilah fatwa kepada mereka.” (HR. Ibnu Majah dari Abu Sa’id, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3651)
Polemik Makna Syawal
Dalam kalender Hijriyah, bulan yang mengiringi Ramadhan dinamai Syawal, bulan ini adalah merupakan bulan yang kesepuluh. Banyak orang memaknai Syawal sebagai bulan peningkatan, benarkah asumsi tersebut?… mengenai hal ini terdapat pro kontra yang menyebar di masyarakat Indonesia, untuk mengetahui lebih lanjut mari kita simak paparan di bawah ini.
Kelompok pertama menyebutkan bahwa Syawal adalah bulan peningkatan, mereka berdalil dengan makna dari Syawal itu sendiri yaitu irtifa’, naik dan meningkat.
Kemudian ada dua alasan yang lainnya adalah: pertama, meningginya derajat kaum Muslimin setelah mereka ikhlas dalam menunaikan shaum Ramadhan dan mendapatkan maghfiroh ampunan dari Allah, sebagaimana sabda Nabi:
“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan tulus karena Allah, maka dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah.” (HR. al-Bukhori dan Muslim)
Kedua, karena secara moral dan spiritual kaum Muslim harus mempertahankan dan meningkatkan nilai-nilai amaliyah Ramadhan pada bulan ini dan bulan-bulan berikutnya hingga datang Ramadhan tahun depan.
Berpuasa Seperti Setahun Penuh
Allah yang Maha Pengasih lagi Penyayang senantiasa membuka beragam pintu kebaikan kepada hamba-hamba-Nya. Salah satu pintu kebaikan adalah menunaikan puasa enam hari di bulan syawal. Pundi-pundi pahala akan diraih oleh siapa saja yang mampu mengetuk pintu ini, meskipun ia harus rela menahan rasa haus dan dahaga. Sebaliknya, siapa saja yang terluput darinya, akan kehilangan pahala dan ganjaran luar biasa.
Keutamaan Puasa Syawal
Puasa enam hari bulan syawal memiliki keutamaan yang sangat istimewa. Siapa saja yang berpuasa Ramadhan lalu diikuti dengan enam hari puasa syawal, maka ia bagaikan melaksanakan puasa setahun penuh.
Bagi siapa saja yang merenungi pahala ini, niscaya ia akan bersegera dan berlomba dalam menunaikannya. Dari Abu Ayyub al-Anshori, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Romadhon kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim)
Imam an-Nawawi berkata, “Orang yang melakukan satu kebaikan akan mendapatkan sepuluh kebaikan yang semisal. Puasa Ramadhan adalah selama sebulan berarti akan semisal dengan puasa 10 bulan. Puasa syawal adalah enam hari berarti akan semisal dengan 60 hari yang sama dengan 2 bulan. Oleh karena itu, seseorang yang berpuasa Romadhon kemudian berpuasa enam hari di bulan syawal akan mendapatkan puasa seperti setahun penuh.”
Renungan Pasca Ramadhan
Begitu cepat Ramadhan berlalu seiring berjalannya waktu. Kepergiannya ternyata menyisakan sebaris kenangan yang tersirat di dalam qalbu. Ada Perasaan lega bercampur resah memenuhi hati setiap muslim yang senantiasa mengharap ridho Allah.
Lega karena selama sebulan bersabar dalam ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan resah jikalau segala amal ibadahnya hanyalah sia-sia dan tidak diterima di sisi Allah dan tidak mendapatkan balasan.
Tidak bisa dipungkiri perginya bulan Ramadhan melarutkan pula jiwa-jiwa yang hanya menyembah Allah di bulan Ramadhan saja. Ternyata tarbiyah imaniah di bulan Ramadhan pada sebagian manusia bukan malah mendidik jiwa dia menjadi insan bertakwa, melainkan menjadikan ia bertambah nista dengan kembali berbuat kemaksiatan dan dosa.
Lantas bagaimana keadaan kita setelah Ramadhan beranjak meninggalkan kita? Apakah kita termasuk orang yang beruntung atau celaka? Marilah kita luangkan waktu sejenak untuk merenungi diri kita.
Mudah-mudahan bersama renungan singkat ini bersamai pula hidayah Allah menyapa diri kita. Dan semoga segores renungan ini bisa menjadi nasihat takwa bagi jiwa yang menginginkan keridhoan Allah dan cinta-Nya.
Keistimewaan Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhon telah hadir menjumpai kita. Sudah sepantasnya seorang Mukmin mengetahui kehormatan tamu ini dan menempatkannya sesuai kedudukannya.
Kedatangan bulan Romadhon dan berpuasa di dalamnya adalah nikmat Allah yang agung bagi orang-orang yang dikehendaki-Nya. Hal ini ditegaskan oleh sebuah hadits Rosululloh dari Abu Hurairah ra yang menuturkan, “Ada dua orang laki-laki dari negeri Qudha’ah yang masuk Islam di hadapan Nabi saw. Laki-laki yang pertama gugur sebagai syahid dalam peperangan bersama Rosululloh, sedang yang kedua wafat setahun sesudahnya. Tholhah bin ‘Ubaidillah (salah seorang sahabat yang utama) berkata, ‘Aku bermimpi melihat surga, lalu aku melihat orang yang mati syahid itu didahului oleh temannya ketika masuk surga, aku heran karenanya. Keesokan harinya aku sampaikan hal itu kepada Rosululloh. Beliau bersabda, ‘Apakah yang kalian herankan dari mimpi tersebut? Bukankah ia sempat berpuasa Romadhon setelah kematian temannya, ia pun telah sholat enam ribu rokaat atau sekian-sekian rokaat sholat sunnah?’. Para Sahabat menjawab, ‘Ya, benar!’. Maka Rosululloh bersabda, ‘Sesungguhnya perbedaan tingkatan antara keduanya lebih jauh dari jarak antara langit dan bumi’.” (HR. Ahmad, dishohihkan al-Albani)
Allah telah mengistimewakan bulan Ramadhan secara spesifik dengan menurunkan Kitab-Nya yang teragung untuk umat termulia. Dengan keistimewaan ini, Allah swt mengkhususkan bulan Romadhon dengan firman-Nya, “(Beberapa hari yang ditentukan itu adalah) bulan Romadhon, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)….” (QS. al-Baqoroh [2]: 185)
Fiqih Ramadhan
I. Hal-Hal Yang Perlu Diketahui Tentang Ramadhan
Sebelum menjalankan ibadah Ramadhan, ada beberapa hal yang perlu dipahami. Di antaranya:
- Puasa Ramadhan adalah rukun Islam yang keempat. Hukumnya adalah fardhu (wajib) yang datang langsung dari Tuhan Pencipta, Allah Ta’ala.
- Allah mensyari’atkan puasa dan berbagai ibadah Ramadhan sebagai salah satu program yang harus dilewati setiap Muslim dan Mukmin dalam pembentukan karakter taqwa meraka. (QS. Al-Baqarah : 183).
- Ancaman keras bagi orang-orang beriman yang tidak melaksanakan ibadah Ramadhan, khususnya ibadah puasa seperti yang dijelaskan Rasul saw: Ikatan dan basis agarna islam itu ada tiga. Siapa yang meninggalkan salah satu darinya, maka ia telah kafir, halal darahnya: Syahadat Laa ilaaha illallah, sholat fardhu (5X sehari) dan puasa Ramadhan. (HR. Abu Ya’la dan Dailami). Dalam hadits lain Rasul saw. bersabda: Siapa berbuka satu hari dalam bulan Ramadhan tanpa ada ruhkshah (faktor vang membolehkan berbuka / dispensasi) dari Allah, maka tldak akan tergantikan kendati ia melaksanakan puasa sepanjang masa. (H.R. Abu Daud, Ibnu Majad dan Turmuzi).
- Ramadhan memiliki aturan main yang perlu ditaati, agar proses dan pelaksanaan ibadahnya, khususnya puasa Ramadhan dapat berjalan dengan baik dan maksimal.
Mukjizat Sholat Malam
Qiyam adalah aktivitas ibadah shalat di malam hari. Shalat harus dilakukan dengan berdiri (qiyam). Di bulan Ramadhan, shalat taraweh disebut qiyamullail (berdiri di malam hari), sedangkan di luar Ramadhan adalah shalat tahajjud.
Hakikat Qiyam atau sholat malam adalah bangun dan tegak lurus sambil berdiri beribadah kepada Allah. Jika di siang hari kita melakukan puasa (shiyam) itu adalah manajemen syahwat, maka di balik kata Qiyam (sholat malam) dapat pula kita maknai sebagai manajemen ibadah.
Terdapat tiga prinsip dasar dalam memaknai sholat malam dalam arti manajemen ibadah. Pertama, tegak lurus berdiri beribadah pada Allah. Kedua, kesiapan diri meluruskan dan menyatukan semua orientasi hidup dan aktivitas hidup dari bermacam-macam menjadi hanya kepada Allah dan untuk Allah semata.
Inilah inti komitmen yang selalu kita baca ketika membaca do’a iftitah dalam sholat (QS. Al-Am’aan (6) : 161-163]. Ketiga, mengelola ibadah berdasarkan aturan, sistem, dan ketentuan Allah, baik tujuannya, caranya maupun skala prioritasnya.
Next Page »













