Fitrah Perbuatan Baik
Banyak publikasi ilmiah menjelaskan bahwa salah satu sumber kebahagiaan manusia adalah berbuat baik kepada orang lain. Kebahagiaan itu bukan sekedar efek samping dari perbuatan tersebut, melainkan secara intrinsik sudah merupakan bagian darinya.
Mungkin kita masih sering berpikir bahwa setiap pertolongan kita untuk orang lain semata-mata demi kebaikan mereka. Padahal, tidak demikian. Perbuatan itu pada hakikatnya adalah untuk diri kita sendiri, untuk kebahagiaan kita.
Kebahagiaan itu muncul karena secara emosional kita merasa lapang, berkecukupan, dan berpengharapan. Kita juga akan mampu melihat dunia secara lapang, karena kita memiliki jiwa yang lapang.
Dalam sebuah firman, Allah menjanjikan kelapangan bagi hambanya yang gemar berbuat baik. “Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas.” (QS. Az-Zumar [39]: 10) Jadi, sesungguhnya perbuatan baik itu adalah sumber harapan dan kesentosaan bagi kehidupan kita.
Prestasi Bukan Prestise
Sewaktu Nabi Ibrahim AS diangkat (dipilih) sebagai pemimpin (imam), beliau bertanya kepada Tuhan tentang (nasib) anak-anak dan keturunannya. Lalu, Allah SWT menjawab, “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah [2]: 124).
Ayat ini mengajarkan kepada kita dua hal penting. Pertama, bahwa kedudukan dan pangkat tidak didasarkan pada keturunan (darah) dan kesukuan (etnik). Kedua, bahwa pemimpin selain harus adil (tidak zalim), ia harus berorientasi pada prestasi kerja (amal saleh), bukan prestise.
Inilah letak perbedaan antara kepemimpinan model jahiliyah dengan kepemimpinan Islam. Dalam masyarakat jahiliyah, seperti sering dikemukakan oleh ulama besar dunia, Syekh Islam Ibn Taimiyah, kemuliaan seseorang ditentukan oleh keturunan, sedangkan dalam Islam ditentukan oleh kualitas iman dan takwa alias prestasi kerja.
Prestasi, bukan prestise, bisa kita upayakan melalui setidak-tidaknya tiga hal. Pertama, membangun etos kerja yang baik dengan menyadari sepenuhnya bahwa kerja adalah ibadah. Sebagai ibadah, kerja harus dilakukan dengan niat yang tulus dan motif yang tinggi.
Menuju Pintu Ampunan Allah
Pada hakikatnya, setiap orang beriman mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan Allah SWT. Dia berfirman, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, (maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat.” (QS Al-Baqarah [2]: 186).
Kedekatan seorang Mukmin dengan Allah, mendatangkan manfaat sangat besar. Tidak ada doanya yang tidak dikabulkan, tidak ada dosanya yang tidak diampuni, tidak ada kesulitannya yang tidak dimudahkan. Bahkan, gerak ibadahnya terasa nikmat karena didasarkan pada rasa cinta kepada Zat Yang Maha agung.
Karena itu, setiap Mukmin hendaknya menjaga kedekatan dengan-Nya. Memang istiqamah di jalur ini berat. Bahkan, bagi sebagian orang teramat berat. Imam Al-Ghazali dalam bukunya Minhaj Al ‘Abidin mengingatkan, menjaga kedekatan dengan Allah tidaklah mudah. Godaan setan dan gejolak hawa nafsu akan terus menghadang.
Begitu pandai setan menggoda, hingga banyak muncul lelucon bahwa dosa kecil adalah biasa, sedangkan dosa besar dapat dihapus di hari tua dengan giat ibadah.
Dalam sebuah riwayat Ibnu Mas’ud mengatakan, “Orang yang benar-benar beriman, ketika melihat dosa-dosanya, ia seperti duduk di bawah gunung. la khawatir kalau puncak gunung itu jatuh menimpanya. Adapun orang munafik, ia memandang dosanya seperti menghalau lalat di ujung hidungnya.” (HR Bukhari).
Optimalisasi Potensi Zakat
Ajaran zakat dalam Islam secara normatif memiliki spirit sosial yang tidak sederhana. Apa yang diisyaratkan oleh Al-Quran adalah petunjuk Tuhan untuk memelihara stabilitas kesejahteraan umat. Melalui pola distribusi secara proporsional, zakat menjadi solusi untuk membagi kekayaan sesuai dengan proporsi yang telah ditentukan.
Allah memberikan petunjuk hingga ke tingkat operasional. Siapa yang menjadi sasaran utamanya (QS. At-Taubah: 60), berapa besarnya yang harus dikeluarkan muzakki (pembayar zakat) dan diterima mustahig (penerima zakat), semua telah terungkap jelas.
Mungkin, karena alasan seperti inilah, mengapa zakat selalu menjadi perhatian serius sejak zaman Nabi SAW dan para sahabatnya. Dan di lingkungan masyarakat kita, selama sekitar 10 tahun terakhir, zakat dan kelembagaannya juga tak pernah henti-hentinya diperbincangkan.
Perbincangan terutama bermula dari pertanyaan besar, mengapa potensi kekayaan yang cukup besar itu belum mampu menjawab persoalan kemiskinan yang selama ini melilit kehidupan umat. Padahal,
jika dibuat kalkulasi dengan mendasarkan pada argumen bahwa zakat itu merupakan “keharusan”, banyak persoalan kemiskinan akan bisa ditanggulangi.
Menjaga Ketaqwaan
Ramadhan yang agung baru saja berlalu dengan membawa kenangan manis. Kaum Muslimin yang menjalankan ibadah shaum dengan penuh keimanan berharap memperoleh ketakwaan sebagai hasil dari ibadah individual dan sosial selama satu bulan penuh, (QS. Al-baqarah: 183).
Kini, umat Islam telah memasuki Syawal. Secara bahasa, Syawwal berasal dari suku kata syala, ya syulu, syawwal artinya meningkat. Orang yang puasanya memperoleh hasil yang sempurna sehingga mendapat predikat takwa terlihat saat memasuki Syawal. Ibadahnya kepada Allah tetap konsisten atau dalam bahasa agama disebut istiqamah. Serta hubungannya terhadap makhluk lain (ibadah sosial) tetap terjaga dengan baik.
Adapun orang yang puasanya hanya memperoleh lapar dan haus saja adalah mereka yang ibadahnya menurun. Kekhawatiran baginda Rasululah SAW akan penurunan kualitas ibadah umatnya terbukti pada saat ini. Contoh sederhana, saat memasuki Syawal, masjid kembali sepi, Al-Quran kembali diparkir di rak buku, sajadah tetap rapi terlipat di almari.
Ketakwaan pada bulan Ramadhan tahun ini semestinya , tetap dijaga dengan baik. Sangat disayangkan jika cahaya, hidayah, dan ampunan Allah yang sudah diraih umat Islam dengan susah payah. melalui pengorbanan berupa kesabaran yang besar, kemudian luntur begitu saja.
Meminta Maaf kepada Orang yang Sudah Meninggal Dunia
Pertanyaan:
Sampai adik saya meninggal dunia, saya sebagai saudara tertua tidak melakukan pembagian waris secara adil. Sekalipun adik saya itu karena keperluannya pernah beberapa kali meminta, saya tidak pernah menanggapinya sebagimana mustinya sehingga akhirnya disaat adik tersebut sakit keras, ketika saya membesuknya di rumah sakit, dia berkata dengan pelan : “Bang, apa yang saya tidak dapat hak saya didunia, akan saya tuntut di akhirat nanti”.
Saya terkesiap dengan ucapannya itu, dan semenjak itu terasalah oleh saya betapa selama ini saya telah menzalimi adik-adik saya dalam soal menguasai harta waris yang seharusnya sudah saya pecah warisnya dua puluh tujuh tahun yang silam.
Nggak lama sesudah itu adik saya meninggal dunia. Ucapannya itu selalu terngiang-ngiang ditelinga. Kemudian dengan seadil-adilnya harta waris itu saya bagi, hak adik saya itu telah saya berikan kepada anak-anaknya yang menjadi ahli warisnya. Begitu juga adik-adik yang lain yang masih hidup sama menikmati harta waris sebagaimana mustinya.
Dari adik-adik saya empat orang yang masih hidup, saya dapatkan mereka tidak terlalu gembira dengan pembagian waris yang didapatnya, karena mereka hanya menyatakan : “Sayang sekali terlambat, sehingga abang kedua sampai meninggal dunia tidak mencicipi harta waris orang tua kita”.
Pengetahuan
Semoga Allah Yang Maha tahu segala-galanya membimbing kita untuk mengenal diri, mengenal Allah dan mengerti apa yang seharusnya dilakukan dalam hidup ini. Tanpa ilmu dan pengetahuan kita tidak akan mengetahui siapa diri kita, siapa Allah, dan jalan untuk pulang kepada Allah.
Makin sedikit pengetahuan, makin pahit hidup ini karena tak banyak masalah yang bisa diselesaikan. Oleh karena itu jikalau kita ingin sukses ingatlah janji Allah. “…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat ” (QS. Al-Mujaadilah[58]: 11).
Juga sabda Nabi SAW, “Barang siapa yang menempuh perjalanan dalam rangka untuk mencari ilmu pengetahuan, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga “. (HR. At-Turmudzi). Surga sama artinya atau lambang dari sebuah kebahagiaan yang hakiki, dan kebahagiaan itu terwujud karena kemenangan dan kesuksesan yang diraih. Artinya, kalau kita ingin mengetahui sejauh mana tingkat kesuksesanyang akan kita raih, maka lihatlah sejauh mana kecintaan kita kepada ilmu.
Kalau kita ingin sukses, selain ibadah harus tangguh dan akhlak harus dijaga, juga buatlah program belajar tiada henti. Kita tahu bahwa segala sesuatu dalam hidup ini selalu berubah. Umur bertambah tua, tubuh bertambah lemah, kebutuhan bertambah banyak, hingga masalah dan potensi konflik pun bertambah.
Ramadhan, Tawaran Beresiko
Sekali waktu, demikian dikisahkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Hakim, dan Imam Thabroni bahwa Malaikat Jibril AS pernah menjelaskan soal kedatangan bulan Ramadhan dalam kaitannya dengan posisi seseorang di mata Allah SWT. Begitu pentingnya hal itu, Jibril merasa perlu untuk menjelaskan langsung kepada Baginda Rasul.
Nabi yang mulia bersabda, “Jibril menjumpaiku. Lalu ia berkata, ‘Hai Nabiyallah. Barangsiapa meninggal di bulan Ramadhan tetapi Allah tidak mengampuninya, maka ia akan dilemparkan ke dalam neraka. Semoga Allah menjauhkan hal itu.’ Katakan ‘Amin’, maka aku jawab, ‘Amin’.”
Hadist berbunyi demikian, jarang sekali dikutip sehingga nyaris setiap tahun kita hanya disuguhi hal-hal ma’tsuroot seputar kelipatan pahala yang bisa kita dapat, bila bergiat dengan ibadah sepanjang bulan itu.
Padahal, hadist yang kita kutip di atas, sungguh akan membuat bulu kuduk kita semua berdiri tegak, karena selain menyediakan rupa-rupa hadiah, Allah SWT juga tak segan-segan mengancam mereka yang mengabaikan tawaran Allah SWT melalui Ramadhan ini. Nah!
Pentingnya Tetap Istiqamah dan Taqarrub kepada Allah SWT
Pada bulan suci Ramadhan kali ini, umat Islam, selain sedang diuji kesabarannya dalam menjalani hari-hari puasanya sebulan penuh, juga sedang diuji kesabarannya menghadapi fitnah akibat isu terorisme yang akhir-akhir ini sengaja dimunculkan kembali, diekspos terus-menerus dan dikaitkan dengan Islam dan kaum Muslim. Ujian ini terutama menimpa para pengemban dakwah, baik individu maupun lembaga dakwah (pesantren).
Menghadapi ujian ini seyogyanya setiap Muslim dituntut untuk tetap istiqamah di dalam ketaatannya kepada Allah SWT, tidak menyimpang sedikit pun dari jalan-Nya, dan malah harus semakin mendekatkan diri (taqarrub) kepada-Nya. Sebab, istiqamah dalam ketaatan kepada Allah SWT dan taqarrub kepada-Nya akan menjadi pintu baginya untuk meraih sukses di dunia dan akhirat.
Pentingnya Istiqamah
Sejak Baginda Nabi saw. memulai dakwah secara terang-terangan di Makkah, orang-orang kafir mulai memutar otak untuk mencari cara - dari mulai yang paling halus hingga yang paling kasar dan kejam - untuk menggagalkan dakwah Nabi saw.
Mula-mula mereka melontarkan isu bahwa Muhammad saw. adalah orang gila. Lalu beliau juga dituduh sebagai penyihir yang bisa memecah-belah bangsa Arab. Tujuannya, agar orang-orang Arab tidak mendekati, apalagi mendengarkan kata-kata Muhammad. Itulah ujian yang pertama dan paling ringan yang dialami Baginda Rasulullah saw.
Pas banget…
Madinah, 1995, menjelang pukul 3 dini hari
: persiapan keberangkatan
Salah seorang anggota kafilah haji Indonesia tahun 1995 mempersiapkan keberangkatannya menuju Masjid Nabawi, Madinah al Munawarroh.
Setelah berpakaian pantas, tak lupa ia masukkan bekal uang 50 riyal ke dalam sakunya. Ia punya niatan untuk belanja suvenir atau pernak-pernik lain yang bisa dibawanya pulang sebagai cindera mata.
Masjid Nabawi, Medinah
: lokasi kejadian
Masjid Nabawi saat itu baru dibuka kembali. Masjid ini biasa ditutup pukul 10 dan dibuka kembali pada pukul 3 dini hari waktu setempat. Masjid ini sangat besar dan megah! Dan yang membuat masjid ini sangat istimewa adalah karena di dalam masjid ini terdapat makam Rasulullah Muhammad SAW !
Setelah masuk melalui salah satu pintu masjid, sang calon haji melakukan beberapa sesi peribadatan sebagai pengisi waktu subuh yang masih cukup lama. Hingga sampailah waktu shalat subuh tiba, dan ia shalat berjamaah. Setelah sholat subuh usai, ia bersiap untuk melakukan beberapa ritual pagi yang biasa ia lakukan: membeli segelas kopi susu dan 3 helai roti cane di satu warung orang India yang ada di selatan Masjid Nabawi.
Next Page »















