Strategi ber-Sodaqoh..

Ibadah | Wednesday, July 4th, 2012
Written By: onnyhendro - Jul• 04•12

Menurutku..
Sekali lagi menurutku lho yes… Menunaikan Sholat 5 waktu rutin seumur hidup seorang umat muslim, tidaklah serta merta menjadikannya otomatis masuk surga…. Niyat gampang klo cuman gitu.. Hehe.. Begini maksud saya, menurutku sholat itu hanya salah satu syarat untuk mendapatkan paspor.. So, bagi yg sholatnya rajin otomatis dapat paspor.. Yg tidak sholat, pasti tidak dapat paspor..

Lha trus yg namanya Syahadat, zakat, puasa dan Haji bagi yang mampu.. Itu adalah 4 syarat lainnya… Ingat yes..baru syarat dapat pasport lho yes.. Jadi, ngga ada rumusnya baru nglaksanakan puasa atau zakat koq trus berpuas diri pasti masuk surga… “No way..”, Kata wong londo enggris..

Jadi, skali lagi iki menurutku lho yes.. Syarat bikin pasport, selain photo 4×6, kita harus persiapkan dgn baik data2 pendukung lain seperti  yg namanya syahadat, sholat, zakat, puasa.. Dan bahkan, bagi yg sdh dianggap dan merasa dirinya Mampu.. Ada Syarat tambahan.. menunaikan ibadah haji menjadi syarat wajib baginya…

Saya koq meyakini, hal ini juga berlaku untuk agama lain.. Misalnya sodara2 kita umat kristiani.. Rajin ke Gereja itu seharusnya baru syarat untuk mendapatkan ‘Pasport’.. Dan belum bisa membuat mereka bebas berwisata di Surga milik Alah Bapa mereka..

Udah gitu.. klo sampeyan dah pegang paspor, emang langsung bisa berangkat ke luar negri?? Ya enggak tho… Masih diperlukan banyak hal untuk menuju yg namanya luar negeri.. Ya ngurus visa, mbayar.. Beli tiket pesawat, mbayar.. Airport tax, mbayar.. Taxi di sononya, mbayar.. Hotel, mbayar.. Mbayar, mbayar, mbayar..

Nah..Berarti, setelah kita pegang paspor…masih dibutuhkan banyak ‘uang saku’ untuk bisa mencapai yg namanya ‘luar negri’…Dan Sepertinya, luar negri yg bernama SURGA pun menurut saya koq sama.. Paspor sebagai syarat wajib bisa berangkat.. Tapi tetep musti Punya banyak ‘uang saku’ untuk bisa berangkat.. Tapi juga sebaliknya, si kliwon, juragan mie ayam di kampungku.. punya rumah, punya kontrakan, mobilnya dua.. Speda motornya empat..tabungan juga oke.. Tapi pasti ngga akan mungkin bisa tamasya ke singapura.. Wong dia ngga pernah ngurus dan punya paspor..hehe..mbingungin khan..?

Wis, kembali ke laptop aja dulu.. klo memang bener demikian, maka setelah yakin pasti dapat pasport.. kita tinggal mencari sebanyak2nya ‘Uang Saku’.. dan salah satu cara yg paling efisien dalam memperoleh serta mengumpulkan ‘Uang Saku’ adalah sodaqoh..sbab, sodaqoh tuh pahalanya bisa kayak MLM.. Bahkan lebih hebat dari income-nya AMWAY lho.. Coba perhatikan janji Beliau:

“Permisalan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Dan Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah maha luas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 261.)

So.. Jelas tho.. 1:700 lho.. Dan itu janji Beliau..mosok Tuhan bo’ong..yang bener aja..hehe

Syaratnya cuman satu koq.. Ikhlas… Wis, itu aja.. jadi, klo kita lemparkan Rp 1000 maka Allah janjikan, pasti Balik Rp 700.000 … Lha klo pengin punya uang saku Rp 700 jt… Ya tinggal lemparkan aja Rp 1 jt dengan ikhlas…. Allah ngga mungkin bo’ong toh?!! (tentang ‘ikhlas’, ntar kita bahas tersendiri di judul selanjutnya yes..)

Emang sih, ada 4 kemungkinan cara Allah balikin 700x nya pada kita..
1) secara langsung.. Saat itu juga kita diberi gantinya
2) Beliau tunda, entah besuk, lusa, bln depan, th depan.. 10 th lagi.. Terserah Beliau
3) subtitusi.. Misalnya, Ngasih senyum, dapat roti..
4) kalo ngga sempat di kasihkan di dunia, Beliau jadikan amalan di akherat…
Kadang, alternatif ke 4 itulah yg bikin kita ragu,”apa iya bener, kita dapat ganti 700x ??”

Bodho… Kan udah jelas, Agamaku, Agamamu dan bahkan Agama mereka selalu mengajarkan dan bahkan meyakini bahwa “TUHAN ngga mungkin BOHONG”.. trus nunggu apalagi???

Gini..gini.. Kalian mungkin akan ragu, hari ini mau sodakoh Rp 5000 tapi takut kalo 700x nya jangan2 akan beliau balikin dgn cara alternatif ke 4..  Gampaaang.. Allah kan Maha Pemurah lagi Maha kreatif.. Bagi aja sodaqoh mu 5x Rp 1000…. Lempar dengan ikhlas… Pasti Allah akan bervariasi pula nglempar balik 700x nya ke kalian.. Coba deh… Yg pasti HARUS IKHLAS lho yes..

dan ingat lho yaa, jangan salah mengartikan dan mencampur adukan antara ‘syarat mendapatkan paspor’ dengan cara mencari uang saku.. Hati-hati, Zakat laiiin pool lho ama sodaqoh… Zakat yg hanya 2,5% dari harta kita itu kewajiban…

Seperti halnya Perpuluhan: berarti persepuluh, yang dalam perjanjian lama, Abraham melakukannya sebagai tanda syukur (Kejadian 14:20) itu adalah kewajiban..yang harus dilakukan karena merupakan bagian dari ucapan syukur karena telah menerima keselamatan.. Demikian pemberian sedekah tidak mendekatkannya kepada Allah. Karena Allah adalah Bapanya, ia memberi sedekah sebagai tanda terima kasih kepada Allah dan dengan hati penuh sukacita (Injil, Surat II Korintus 9:7).

Bener lho yaa.. Jangan keliruuuuuu… sebab itu haknya fakir miskin..kita cuman dititipi ama Beliau, dan di test apakah kita bisa berfungsi bagaikan ‘TALANG AIR’..

Trus, satu lagi.. Yg kadang jadi polemik adalah, harus sembunyi2 atau sebaiknya terang2an ???? Menurut saya, yang penting melaksanakan.. Biar Allah nanti yg menilainya.. Coba perhatikan bunyi surah Ibrahim ayat 31:

“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang beriman, hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi maupun terang-terangan, sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual-beli dan persahabatan.”

Ya khan… Yang penting tuh cari uang saku sebanyak- banyaknya.. Laksanakan!!! Jangan cuman ngributin, berdiskusi atau berpolemik tp ngga jalan2… Nih, ada satu gambaran lagi.. Berkata Ibnu Abbas : “ Allah menjadikan pahala sedekah tathowu’ ( yang tidak wajib ) yang diberikan secara sembunyi-sembunyi sebanyak 70 kali lipat , dan menjadikan pahala sedekah wajib yang diberikan secara terang-terangan sebanyak 25 kali lipat dibanding yg diberikan secara sembunyi-sembunyi. Begitu juga halnya dengan seluruh ibadat wajib dan yang tidak wajib . “

So.. Kalo aku.. Biarpun hanya 25x pahalanya, tapi kalo ada 10 orang lain yg mengikuti kegiatan kita… Dapat pahala 250x juga deh kayak’nya…hehe

Ayoooo cepaaaat mencobaaaaaaa…..

(bersambuuung maneeeh…)

dari

www.kajiedan.com

tentunya dengan seijin kaji edan

baca juga 

Trick & Taktik dalam Beribadah…



Konsultasi dengan Al-Qur’an

Ibadah | Tuesday, March 13th, 2012
Al-Qur'an

Al-Qur'an

Saat ini secara umum umat Islam sudah sangat jauh meninggalkan Al-Quran. Jangankan mentadabburi, membacanya saja terkadang sudah tidak sempat lagi, lantaran ‘kesibukan’ sehari-hari. Sudah barang tentu kita memiliki kesibukan masing-masing, mulai dari bekerja mencari nafkah, belajar, mengurus rumah tangga dan keluarga, serta aktivitas sosial.

Namun, betulkah di tengah atau di antara sekian banyak kesibukan tersebut kita benar-benar tidak mempunyai lagi waktu untuk sekadar membaca Al-Quran? Jika kita mengatakan ya untuk pertanyaan di atas, mungkin kita perlu berkaca kepada kehidupan Rasulullah dan para salafushshalih. Mereka senantiasa berinteraksi secara intensif dengan Kitab Suci ini di sepanjang kehidupan.

Bagi mereka, Al-Quran adalah wirid (bacaanl harian, ibarat ‘makanan’ yang wajib dikonsumsi setiap hari sehingga ada yang mengkhatamkan bacaan Al-Quran setiap 10 hari, seminggu sekali, atau tiga hari sekali. Imam Syafi’i bahkan menuntaskan 60 kali bacaan Al-Quran pada setiap bulan Ramadhan. Tingkat minimal bacaan Al-Quran para sahabat adalah sebanyak tiga juz sehari, yaitu ketika mereka dalam keadaan semangat beramal menurun.

Komitmen mereka terhadap Al-Quran terbentuk sedemikian rupa karena keyakinan yang mendalam bahwa kunci kesuksesan, rahasia kemenangan, dan kebahagiaan hidup tersimpan di dalam Kitab Suci tersebut. Untuk menyingkap kunci dan rahasia tersebut tentu saja harus diawali dengan banyak membacanya (QS 29:45; 33:34), baik pada waktu malam maupun siang (ana’al-lait wa athrafannahar).

(lanjut …)



Kunci-kunci Rezeki

Ibadah,Sosial | Friday, January 6th, 2012
kunci rezeki

kunci rezeki

Nabi Nuh ‘alaihis salam pernah berkata kepada kaumnya: “Wahai kaumku, Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu—(yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku—Niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu (memanjangkan umurmu) sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu Mengetahui.” (QS. Nuh 2-3)

Nuh ‘alaihis salam juga berkata: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun—Niscaya Dia akan mengirimkan hujan lebat kepadamu, membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun serta mengadakan (pula di dalamnya) sungai-sungai untukmu.” (QS. Nuh: 10-11)

Dari beberapa ayat di atas terdapat beberapa pelajaran, di antaranya:

Pertama, dakwah para nabi ushul(asas)nya adalah sama yaitu Tauhid (menyeru beribadah kepada Allah saja dan meniadakan sesembahan selain-Nya), meskipun syari’atnya berbeda-beda.

Kedua, dalam berdakwah, para nabi mengedepankan Al Ahamm fal ahamm (yang lebih terpenting di antara yang penting) yaitu Tauhid sebelum yang lain.

(lanjut …)



Menikmati Malam

Ibadah | Sunday, December 11th, 2011
menikmati malam

menikmati malam

Saat itu malam masih tersisa. Bulan masih berenang dalam ruang semesta. Dan, bintang-gemintang masih setia bergelantungan. Dan dalam keheningannya ini, di salah satu bilik yang sangat sederhana, terdengar suara berbisik. “Wahai istriku, ikhlaskah dirimu jika malam ini aku beribadah kepada Allah?”

“Wahai suamiku, kekasih Allah. Sesungguhnya (jika menuruti kata hati) aku merasa nyaman jika selalu berada di sampingmu. Namun, aku ikhlas dengan apa yang engkau sukai. Engkau sangat gemar beribadah kepada Allah. Bagaimana mungkin aku tidak mengikhlaskanmu.” sahut Aisyah lembut.

Sejurus kemudian, pasangan suami istri agung ini berwudhu. Keduanya lalu tegak dalam kesalihan malam bak Jabal Rahmah yang memancang kuat menembus lazuardi imani. Takbirnya melesat bersama keagungan Sang Pencipta. Rapalan firman-firman-Nya bergetar bersama air mata yang memburai berharap rida Allah. Begitu juga dengan gerak rukuk dan sujudnya, lekat dalarn harmoni gerak jagad raya. Demikian ikhlas keduanya memenuhi panggilan suci untuk menjadikannya lebih mulia dalam menggapai maqamam mahmuda (tempat terhormat).

Inilah sepenggal peristiwa malam yang dikisahkan oleh Aisyah RA kepada Atha’ saat ia dan temannya bertandang ke rumah ummul mukminin. Cerita yang dituturkan melalui jalur Ibnu Mardawih ini merupakan satu dari sekian kisah mengesankan Rasulullah dalam upaya menghidupkan sisa-sisa malamnya.

(lanjut …)



Puasa Asyura

Ibadah,Syariat | Friday, December 2nd, 2011
puasa asyura

puasa asyura

Sesungguhnya hari Asyura (10 Muharram) merupakan hari bersejarah dan diagungkan. Orang-orang Quraisy biasa berpuasa pada hari asyura di masa jahiliyyah, Rasulullah pun melakukannya pada masa jahiliyyah, sampai datang syariat puasa.

Tatkala beliau sampai di Madinah beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa.” (HR. Bukhari Muslim) “Nabi tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya: “Apa ini?” Mereka menjawab: “Sebuah hari yang baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur. Maka Rasulullah saw menjawab: “Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (Yahudi) , maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu.” (HR. Bukhari)

Ada banyak hadits yang bicara tentang puasa Asyura, antara lain: “Rasulullah ditanya tentang puasa Asyura, beliau menjawab: “Puasa itu bisa menghapuskan dosa-dosa kecil pada tahun kemarin.”(HR. Muslim).

Adapun cara berpuasa di Hari Asyura adalah berpuasa selama 3 hari dimulai dari tgl 9, 10, dan 1 1 Muharram berdasar hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan lafadz sebagaimana telah disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam al-Huda dan al-Majd Ibnu Taimiyyah dalam al-Muntaqa 2/2: “Selisihilah orang yahudi dan berpuasalah sehari sebelum dan setelahnya.”

Dan pada riwayat ath-Thahawi menurut penuturan pengarang al-Urf asy-Syadzi: “Puasalah pada hari Asyura dan berpuasalah sehari sebelum dan setelahnya dan janganlah kalian menyerupai orang Yahudi.”

Sumber: Buletin Dakwah Masjid Al-Iman Edisi ke-24, 2 Desember 2011



Adab Menuntut Ilmu (Bagian 1)

Akhlaq,Ibadah | Wednesday, November 16th, 2011
menuntut ilmu

menuntut ilmu

Ilmu memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam, bahkan ayat yang pertama turun adalah ayat yang mengajak untuk belajar. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,” (QS. Al Alaq: 1)

Allah Subhaanahu wa Ta’aala juga sampai bersumpah dengan sarana untuk memperoleh ilmu, yaitu pena. Dia berfirman, “Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,” (QS. Al Qalam: 1)

As Sunnah juga menguatkan kedudukan ilmu sampai-sampai menjadikan usaha ntuk memperoleh ilmu sebagai jalan ke surga. Rasulllah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Apabila seseorang meninggal, maka terputuslah amalnya selain tiga perkara; sedekah jaariyah, ilmu yang dimanfaatkan atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Para penuntut Ilmu juga merupakan wasiat Rasulllah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dimana para pengajar diperintahkan berbuat baik kepada mereka. Beliau bersabda: “Akan datang kepadamu orang-orang yang mencari ilmu, maka apabila kamu melihat mereka, ucapkanlah kepada mereka, ‘Selamat datang kepada wasiat Rasulllah shallallahu ‘alaihi wa sallam’, dan berilah fatwa kepada mereka.” (HR. Ibnu Majah dari Abu Sa’id, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3651)

(lanjut …)



Polemik Makna Syawal

Ibadah | Friday, September 23rd, 2011
grebek syawal

grebek syawal

Dalam kalender Hijriyah, bulan yang mengiringi Ramadhan dinamai Syawal, bulan ini adalah merupakan bulan yang kesepuluh. Banyak orang memaknai Syawal sebagai bulan peningkatan, benarkah asumsi tersebut?… mengenai hal ini terdapat pro kontra yang menyebar di masyarakat Indonesia, untuk mengetahui lebih lanjut mari kita simak paparan di bawah ini.

Kelompok pertama menyebutkan bahwa Syawal adalah bulan peningkatan, mereka berdalil dengan makna dari Syawal itu sendiri yaitu irtifa’, naik dan meningkat.

Kemudian ada dua alasan yang lainnya adalah: pertama, meningginya derajat kaum Muslimin setelah mereka ikhlas dalam menunaikan shaum Ramadhan dan mendapatkan maghfiroh ampunan dari Allah, sebagaimana sabda Nabi:

Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan tulus karena Allah, maka dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah.” (HR. al-Bukhori dan Muslim)

Kedua, karena secara moral dan spiritual kaum Muslim harus mempertahankan dan meningkatkan nilai-nilai amaliyah Ramadhan pada bulan ini dan bulan-bulan berikutnya hingga datang Ramadhan tahun depan.

(lanjut …)



Berpuasa Seperti Setahun Penuh

Ibadah,Syariat | Monday, September 19th, 2011
puasa syawal

puasa syawal

Allah yang Maha Pengasih lagi Penyayang senantiasa membuka beragam pintu kebaikan kepada hamba-hamba-Nya. Salah satu pintu kebaikan adalah menunaikan puasa enam hari di bulan syawal. Pundi-pundi pahala akan diraih oleh siapa saja yang mampu mengetuk pintu ini, meskipun ia harus rela menahan rasa haus dan dahaga. Sebaliknya, siapa saja yang terluput darinya, akan kehilangan pahala dan ganjaran luar biasa.

Keutamaan Puasa Syawal

Puasa enam hari bulan syawal memiliki keutamaan yang sangat istimewa. Siapa saja yang berpuasa Ramadhan lalu diikuti dengan enam hari puasa syawal, maka ia bagaikan melaksanakan puasa setahun penuh.

Bagi siapa saja yang merenungi pahala ini, niscaya ia akan bersegera dan berlomba dalam menunaikannya. Dari Abu Ayyub al-Anshori, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Romadhon kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim)

Imam an-Nawawi berkata, “Orang yang melakukan satu kebaikan akan mendapatkan sepuluh kebaikan yang semisal. Puasa Ramadhan adalah selama sebulan berarti akan semisal dengan puasa 10 bulan. Puasa syawal adalah enam hari berarti akan semisal dengan 60 hari yang sama dengan 2 bulan. Oleh karena itu, seseorang yang berpuasa Romadhon kemudian berpuasa enam hari di bulan syawal akan mendapatkan puasa seperti setahun penuh.”

(lanjut …)



Renungan Pasca Ramadhan

Ibadah | Sunday, September 18th, 2011
renungan pasca ramadhan

renungan pasca ramadhan

Begitu cepat Ramadhan berlalu seiring berjalannya waktu. Kepergiannya ternyata menyisakan sebaris kenangan yang tersirat di dalam qalbu. Ada Perasaan lega bercampur resah memenuhi hati setiap muslim yang senantiasa mengharap ridho Allah.

Lega karena selama sebulan bersabar dalam ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan resah jikalau segala amal ibadahnya hanyalah sia-sia dan tidak diterima di sisi Allah dan tidak mendapatkan balasan.

Tidak bisa dipungkiri perginya bulan Ramadhan melarutkan pula jiwa-jiwa yang hanya menyembah Allah di bulan Ramadhan saja. Ternyata tarbiyah imaniah di bulan Ramadhan pada sebagian manusia bukan malah mendidik jiwa dia menjadi insan bertakwa, melainkan menjadikan ia bertambah nista dengan kembali berbuat kemaksiatan dan dosa.

Lantas bagaimana keadaan kita setelah Ramadhan beranjak meninggalkan kita? Apakah kita termasuk orang yang beruntung atau celaka? Marilah kita luangkan waktu sejenak untuk merenungi diri kita.

Mudah-mudahan bersama renungan singkat ini bersamai pula hidayah Allah menyapa diri kita. Dan semoga segores renungan ini bisa menjadi nasihat takwa bagi jiwa yang menginginkan keridhoan Allah dan cinta-Nya.

(lanjut …)



Keistimewaan Bulan Ramadhan

Ibadah | Monday, August 8th, 2011
keistimewaan ramadhan

keistimewaan ramadhan

Bulan Ramadhon telah hadir menjumpai kita. Sudah sepantasnya seorang Mukmin mengetahui kehormatan tamu ini dan menempatkannya sesuai kedudukannya.

Kedatangan bulan Romadhon dan berpuasa di dalamnya adalah nikmat Allah yang agung bagi orang-orang yang dikehendaki-Nya. Hal ini ditegaskan oleh sebuah hadits Rosululloh dari Abu Hurairah ra yang menuturkan, “Ada dua orang laki-laki dari negeri Qudha’ah yang masuk Islam di hadapan Nabi saw. Laki-laki yang pertama gugur sebagai syahid dalam peperangan bersama Rosululloh, sedang yang kedua wafat setahun sesudahnya. Tholhah bin ‘Ubaidillah (salah seorang sahabat yang utama) berkata, ‘Aku bermimpi melihat surga, lalu aku melihat orang yang mati syahid itu didahului oleh temannya ketika masuk surga, aku heran karenanya. Keesokan harinya aku sampaikan hal itu kepada Rosululloh. Beliau bersabda, ‘Apakah yang kalian herankan dari mimpi tersebut? Bukankah ia sempat berpuasa Romadhon setelah kematian temannya, ia pun telah sholat enam ribu rokaat atau sekian-sekian rokaat sholat sunnah?’. Para Sahabat menjawab, ‘Ya, benar!’. Maka Rosululloh bersabda, ‘Sesungguhnya perbedaan tingkatan antara keduanya lebih jauh dari jarak antara langit dan bumi’.” (HR. Ahmad, dishohihkan al-Albani)

Allah telah mengistimewakan bulan Ramadhan secara spesifik dengan menurunkan Kitab-Nya yang teragung untuk umat termulia. Dengan keistimewaan ini, Allah swt mengkhususkan bulan Romadhon dengan firman-Nya, “(Beberapa hari yang ditentukan itu adalah) bulan Romadhon, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)….” (QS. al-Baqoroh [2]: 185)

(lanjut …)







Next Page »