Melawan Kejahatan

Akhlaq,ekonomi,Sosial,Syariat | Friday, August 28th, 2009
poster polisi

poster polisi

Kemaksiatan merupakan pikiran dan tindakan yang mengotori kehidupan jiwa raga manusia dan juga masyarakat. Direpublik ini telah terjadi pergeseran bentuk-bentuk kejahatan yang sekaligus membutuhkan hipotesis kuno bahwa seolah-olah pendorong kejahatan semata-mata adalah karena faktor kemiskinan.

Dinegeri ini telah lahir istilah “blue color crime ” yaitu bentuk kejahatan yang dilakukan oleh penjahat biasa dan “white color crime” yaitu kejahatan yang dilakukan oleh kaum bergengsi atau berdasi. Malahan sejalan dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi tanpa batas justru ruang lingkup white color crime menjadi semakin bebas dan meluas, baik terkait dengan dunia sosial, ekonomi maupun dunia politik dan kekuasaan atau pemerintahan. Salah satu contoh yang populer itulah yang kita kenal kejahatan korupsi.

Dinul Islam telah memperkenalkan kepada kita adanya kemaksiatan yang disebut Al Kobair, yaitu mengandung arti nilainya digolongkan dalam kategori dosa besar, yaitu:

  1. Asy syirku billah, dikenal kejahatan berbuat kemusyrikan pada Allah SWT, dampaknya berdimensi personal dan kasuistik.
  2. Uququl walidain, yaitu kejahatan menyakiti hati kedua orang tua, dampaknya berdimensi familiar.
  3. Qaulaz zuur, yaitu mengucapkan kata-kata bohong, yang dampaknya berdimensi publik atau komunal.

(lanjut …)



Keuntungan

ekonomi,Mimbar Jum'at,Sosial | Saturday, June 20th, 2009
uang banyak

uang banyak

Ciri kapitalis itu dua:

Pertama, dalam mencari keuntungan mereka tidak menggunakan tata nilai yang baik, mengeksploitir semuanya demi kepentingan diri dan konglomerasinya.

Kedua, setelah mendapatkannya mereka kikir dan sibuk membesarkan dirinya.

Islam menghadirkan solusi, ada dua ciri profesional muslim:

Pertama, ketika mencarinya, sangat menjaga nilai-nilai, sehingga kalau dia mendapatkan sesuatu, dirinya lebih bernilai daripada yang dia dapatkan. Kalau dia mendapat uang, maka dia dihormati bukan karena uangnya, tapi karena kejujurannya. Kalau dia mempunyai jabatan, dia disegani bukan karena jabatannya, tapi karena kepemimpinannya yang bijak, adil dan mulia.

Kedua, setelah mendapatkannya dia distribusikan untuk sebesar-besar manfaat bagi kemaslahatan umat. Makin kaya, makin banyak orang miskin yang menikmati kekayaannya.

Kita seringkali menganggap bahwa keuntungan itu adalah finansial (uang), sehingga sibuk menumpuk harta kekayaan untuk bermewah-mewahan. Inilah di antaranya yang membuat bangsa kita hancur.

(lanjut …)



Salah Urus

An-Natijah,ekonomi,Sosial,Taqwa | Thursday, May 21st, 2009
grafik emisi global

grafik emisi global

Sering kita dengar komentar, pendapat atau pernyataan: “Tahun ini tahun bencana. Tahun ini tahun sarat dengan peristiwa mengerikan dan lain-lain. Mengapa bisa begini? Mengapa bisa begitu ?”

Padahal, berbagai komentar seperti itu (sebenarnya) sudah biasa kita dengar. Sepuluh tahun silam, lima tahun lalu, bahkan baru setahun yang lalu mungkin (boleh jadi) kejadiannya baru beberapa saat yang lalu. Komentar semacam itu, pendapat seperti itu, reaksi senada juga sering kita dengar. Kerapkali kita baca, bahkan hampir setiap hari dapat kita simak, baik lewar media cetak dan elektronik atau langsung mampir di telinga kita.

Bahkan bukan hanya berita tetapi berbagai bencana dan malapetaka yang terjadi itu seringkali kita saksikan dengan mata kepala sendiri. Ironisnya bencana itu (kadang-kadang) tidak hanya menimpa orang-orang yang jahat, tetapi juga menimpa orang-orang baik (QS. Al-Anfaal:25).

Sebab-sebah Musibah

Sebenarnya, suatu musibah tidak akan terja di dunia ini,kecuali jika Allah SWT telah menetapkannya (QS. At-Taubah: 51). Alam ini telah direncanakan dan ditetapkan oleh Allah SWT bagus, tertib, teratur dan seimbang dengan aturan-aturan (hukum alam) yang telah diturunkan-Nya.

Ketidak-seimbangan pada alam menyebabkan terjadinya berbagai gejala tidak baik pada alam yang kita tempati ini. Penyebab ketidak-seimbangnya alam ini adalah manusia. Kepadanya (manusia) Allah SWT telah memberikan kedudukan mulia, yaitu sebagai khalifah (wakil) Allah SWT di bumi. Oleh karena itu manusia dipercaya mengelola, mengatur atau menata alam ini untuk keselamatan dan kebahagiaannya juga.

(lanjut …)



Menyegerakan Bersedekah

ekonomi,Ibadah,Sosial | Tuesday, May 19th, 2009
sedekah pake dolar

sedekah pake dolar

Jika mati seorang anak Adam maka putuslah segala amalnya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak yang saleh yang mendoakannya“. (HR Muslim)

Dari hadis di atas, banyak hikmah yang bisa dipetik tentang bekal untuk mati dan agar pahala kita terus mengalir meskipun telah meninggal dunia. Satu di antaranya adalah sedekah atau amal jariyah dalam arti luas.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya pahala orang Mukmin yang menyusul amalnya setelah dia meninggal dunia adalah ilmu yang dia ajarkan dan sebarkan, anak-anak saleh yang dia tinggalkan, atau mushaf (Al-Quran) yang dia wariskan, atau masjid yang dia bangun, atau rumah yang dia bangun untuk para ibnu sabil, atau selokan yang dia alirkan untuk kepentingan umum, atau sedekah yang dia keluarkan dari hartanya pada waktu sehat dalam hidupnya, akan menyusul amalnya sesudah matinya“. (HR Ibnu Majah)

Merujuk pesan Rasul tersebut, banyak hal yang bisa disedekahkan, seperti, mewariskan mushaf Al-Quran, membangun masjid, membangun rumah yatim piatu/tempat singgah untuk ibnu sabil, membangun fasilitas umum yang diperlukan, dan sedekah berupa harta yang dikeluarkan pada waktu sehat.

Di sini ada yang sangat perlu kita garis bawahi, yakni pentingnya mengeluarkan sedekah pada waktu sehat. Banyak orang yang berniat sedekah, tapi menunda hingga umur beranjak tua. Ada juga yang berniat sedekah, namun jika sudah mendekati ajalnya. Bahkan, ada yang berniat sedekah kalau dia sudah mati.

(lanjut …)



Jerat Hutang

ekonomi,Mimbar Jum'at,Sosial | Thursday, May 14th, 2009
tragedi kartu kredit

tragedi kartu kredit

Hidup di zaman sekarang ini, nyaris setiap orang tidak terlepas dari hutang. Memang istilah “ngutang”, sekarang ini sudah tidak lagi populer, yang populer adalah istilah kredit atau menyicil, tapi itu juga sama saja dengan mengutang.

Boleh dibilang hampir setiap barang dapat dibeli dengan sistem kredit. Beli rumah, beli perabotan rumah, beli kendaraan, apalagi sekarang ini ada kartu yang bentuknya seperti KTP yang dikenal dengan nama kartu kredit, para pemilik kartu ini ketika berbelanja di pusat-pusat perbelanjaan cukup dengan menggesekkannya, lalu tanda tangan, maka barang belanjaan sudah dapat dibawa pulang. Kita sudah sangat dimanja dengan kemudahan untuk berhutang.

Tidak tertutup kemungkinan seorang mukmin dapat terjebak dalam jerat-jerat hutang. Ketika berhadapan dengan masalah keuangan, memilih untuk berhutang menurut sebagian orang adalah solusi alternatif. Kendati demikian seorang mukmin harus mengetahui dan menyadarai bahwa berhutang mempunya efek mudharat (bahaya) yang luar biasa. Diantaranya adalah:

1. Dapat menjatuhkan harga diri

Harga diri seorang mukmin begjtu tinggi. Tak seorang pun yang mampu merendahkannya. Karena mukmin punya keterikatan dengan Dzat Yang Maha Tinggi dan Agung.

Namun, kemuliaan itu kadang memudar manakala ada cacat dalam diri seorang mukmin. Diantara cacat itu adalah ketidak-berdayaan membayar hutang. Saat itu juga, terselip dalam diri seorang mukmin itu perasaan rendah dan hina. Bayang-bayang ketidak-mampuan itu menjadikan dirinya tak lagi berdaya di hadapan orang lain. Terutama dihadapan orang yang memberi hutang. la tak lagi mampu menangkis amarah, celaan, bahkan gugatan hukum sekali pun.
(lanjut …)



Maha Menjamin Rezeki

An-Natijah,ekonomi,Sosial,Taqwa | Thursday, April 16th, 2009
pasar pagi

pasar pagi

Menurut sebuah riwayat, suatu hari Nabi Sulaiman AS ingin mengetahui bagaimana Allah SWT memberikan rezeki kepada seluruh makhluk-Nya di dunia ini. Sehingga untuk membuktikannya ia bertanya kepada seekor semut, seberapa banyak Allah SWT memberikan rezeki kepada semut dalam satu tahun. Semut menjawab bahwa ia memperoleh rezeki sebesar sekepalan tangan sang Nabi.

Mengetahui hanya sebesar itu tezeki yang diperoleh semut tersebut, rasanya sangat mudah bagi Nabi Sulaiman AS untuk memberikannya. Sehingga kemudian Nabi Sulaiman AS membuat kesepakatan dengan semut untuk mau masuk ke dalam botol yang telah diisi dengan makanan sekepalan tangan Nabi Sulaiman AS, dan semut setuju.

Maka botol pun ditutup rapat. Setahun kemudian Nabi Sulaiman AS datang kembali kepada semut, ketika ia membuka botol tersebut ternyata didapatmya semut hanya memakan sebagian saja dari makanan tersebut Nabi Sulaiman AS heran dan kemudian bertanya kenapa makanan tersebut tidak dihabiskan. Bukankah semut telah mengatakan, kalau rezekinya dalam satu tahun dapat diperoleh sebesar kepalan tangannya?

Mendengar pertanyaan itu semut menjawab dengan tenang: “Wahai Nabi yang mulia, memanglah benar apa yang hamba katakan,bahwa hamba mampu memperoleh rezeki dalam satu tahun sebesar kepalan tangan yang mulia, namun itu terjadi pada saat hamba tidak berada di dalam botol ini. Dan pada saat itu hamba sangat yakin Allah akan memberikan hamba rezeki dan Dia tidak akan melupakanku walau sadetik pun, sehingga aku yakin Allah akan menjamin rezekiku. Tetapi kini, hamba yang lemah ini terkurung dalam botolmu, apakah kau bisa menjamin bahwa kau tidak akan lupa memberiku makanan kembali setelah satu tahun? Apakah kau berani menjamin hidup dan rezekiku di tanganmu ?”

(lanjut …)



Pembangunan yang Tidak Membangun

Al-Huda,ekonomi,Indah Mulya,Khairu Ummah,Sosial | Monday, April 6th, 2009
konstruksi

konstruksi

Pertanyaan :

Saya heran dan bingung dikarenakan selama 40 tahun ini pemerintah Indonesia sibuk membangun. Tapi nyatanya rakyat melarat dan miskin. Padahal ideologi pemerintah disebut dengan “ideologi pembangunan”.

Bukankah selama ini kita dijejali “pohtik, no! Pembangunan, yes!” Sehingga saya menjadi orang yang “anti politik”. Bahkan saya jijik ama politik. Apalagi teman-teman kuliah saya dahulu yang “mahasiswa politik” itu kerjanya hanya “bikin ribut”, hanya “bikin rusuh”. Hanya “tukang demo” Ribut dengan dosen! Melawan dekan dan pembantu dekan, memprotes rektor.

Sampai sekarang saya benci politik. dengan sanak saudara saya yang “orang politik” saya bikin jarak. Saya jauh dengan mereka Dengan tetangga yang “orang politik” saya tidak mau bergaul. Pendeknya saya anti politik! Titik! Saya pro pembangunan! Titik!

Tapi sekarang, teman-teman saya yang mahasiswa politik itu jadi anggota DPR Rl Yang lebih menjengkelkan ada yang menjadi menteri Dan jadi menteri di departemen tempat saya bekerja dan berkarir Menjengkelkan sekali. Saya tahu siapa dia. Tukang bikin ribut. Tukang bikin rusuh Tidak lebih dari itu. Kenapa dia jadi mentenri? Sungguh tidak adil! Kenapa dunia jadinya terbalik-balik? Padahal prestasi akademisnya nol. Saya tahu benar itu. Saya lebih pantas jadi menteri dibanding dia. Saya lebih tahu urusan departemen saya ketimbang dia.

Jadi saya tanya, kenapa pembangunan pemerintah gagal ?

(lanjut …)



Akhlaq Mencari Rezeki

Akhlaq,ekonomi,Sosial | Saturday, April 4th, 2009
jualan mangga

jualan mangga

Allah SWT telah menjamin rezeki untuk setiap makhluk-Nya. Tiada suatu binatang melatapun yang tidak mendapat jaminan rezeki dari-Nya (QS. Huud [11]: 6). Manusia pun telah dijamin rezekinya oleh Allah SWT asal ia mau berusaha, karena sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu mau merubahnya sendiri.

Banyak sekali ayat-ayat al-Quran dan hadits Nabi Saw yang selalu mendorong agar manusia memiliki semangat dalam mencari karunia (rezeki) Allah SWT itu. Alah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur” (QS. Al-A’raf [7]: 10).

Pada suatu ketika Rasulullah Saw sedang duduk-duduk dengan para sahabat, tiba-tiba tampaklah di sana seseorang yang masih muda yang amat kuat dan tubuhnya kekar. Pagi-pagi ia telah berangkat bekerja dengan penuh semangat. Para sahabat berkata, “Kasihan sekali pemuda ini, andaikata usianya yang masih muda dan tenaga yang masih kuat itu dia pergunakan untuk berjuang fi sabilillah, alangkahbaiknya“.

Mendengar ucapan sahabat itu, Rasulullah lantas berkata, “Janganlah kamu berkata seperti itu, sebab orang itu kalau keluarnya tadi dari rumah untuk bekerja guna mengusahakan kehidupan anaknya yang masih kecil, maka ia telah berusaha di jalan Allah. Jikalau ia bekerja untuk dirinya sendiri agar ia tidak sampai meminta-meminta pada orang lain, itu pun dijalan Allah. Tetapi apabila ia bekerja karena untuk berpamer atau untuk bermegah-megah, maka itulah fi sabilisysyaithan atau karena kamu mengikut jalan syaitan.” (HR. Thabrani).

(lanjut …)



Kekurangan Ilmu

Al-Huda,ekonomi,Sosial | Thursday, February 26th, 2009
Albert Einstein

Albert Einstein

Pertanyaan :

Mengikuti kritik yang gencar sekali di buletin Al Huda tentang kehidupan ekonomi, membuat saya termenung dan juga bingung Kesan saya sepertinya pemerintah begitu tidak tahunya, atau kalau boleh saya katakan, bila saya ikuti buletin Al Huda apa adanya, maka bisa dikatakan bahwa pemerintah kekurangan ilmu, pemerintah kita begitu bodohnya!

Padahal disisi lain sama kita ketahui bahwa ekonomi Indonesia disusun dan dirancang oleh para ekonom jempolan. Ekonom terbaik Indonesia. Ekonom paling jempolan yang Indonesia miliki. Prof. DR. Wijoyonitisastro dan Prof. DR. Emil Salim yang merancang politik ekonomi Indonesia dan yang merancang pembangunan jangka panjang lima puluh tahun, yang kemudian merincinya lagi dalam pembangunan 2 X 25 tahun.

Setelah itu merincinya lagi dalam pembangunan lima tahun yang dikenal sebagai “Repelita” (rencana pembangunan lima tahun). Terakhir disusun aplikasinya secara tahunan, yang terurai satu per satu di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara(APBN).

Kemudian Prof. Wijoyo dan Prof. Emil Salim dibantu oleh puluhan profesor lainnya dan ratusan doktor. Semuanya adalah ekonom terbaik dan paling jempolan Indonesia pada masanya. Begitu pula di Bappenas sekarang diisi oleh puluhan doktor dan profesor yang sebagian diantaranya lulus dengan cumlaude dan memiliki prestasi ilmiah yang tinggi.

(lanjut …)



Pribadi Unik

An-Natijah,ekonomi | Sunday, February 8th, 2009

Manusia tercipta sebagai pribadi yang unik. Dalam kesempurnaan sebagai makhluk di antara makhluk lain, manusia juga memiliki kelebihan dan kekurangan yang melekat pada dirinya, seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

Keunikan inilah yang seringkali menjadikan manusia sebagai makhluk yang kompleks, yang begitu spesial dan berbeda dengan makhluk apa pun di dunia ini. Terkadang kita mudah mengerti akan watak seseorang karena kesederhanaan, sikap dan perilakunya, namun seringkali kita pun sulit memahami seseorang karena kompleksitas keadaan yang dialaminya.

Manuasia memiliki kelebihan dan kekurangan, yang sebenamya merupakan bagian dari kesempurnaannya. Dua hal tersebut selalu memberikan warna pada dirinya sehingga dapat menjadikan hidupnya begitu indah dan menarik. Dua hal tersebut justeru memberikan dinamika bagi kehidupannya.

Namun sangat disayangkan, kebanyakan diantana kita kerap kali hanya mau melihat orang lain dari sisi kelebihannya tanpa mau melihat pula sisi kekurangannya. Terutama hal ini dilakukan oleh para pimpinan sebuah perusahaan, misalnya kepada para karyawan

(lanjut …)







« Previous Page | Next Page »