Lakukan yang Baik

An-Natijah,Sosial | Friday, December 10th, 2010
petani

petani

Tahun hijrah 1432 talah kita masuki bersamaan dengan beradanya kita di tahun 2011 miladiyah. Dua bilangan tahun saling berdekatan, tentu secara sunatullah tidak ada yang terlalu istimewa untuk kita kaum yang beriman pikirkan.

Toh, itu semua hanyalah perhitungan waktu sesuai dengan cara penghitungannya masing-masing. Masehi menurut pergerakan matahari (syamsiah), sedangkan hijriyah berdasarkan pergerakan bulan (ijamariah). Artinya, bunii yang kita pijak tetaplah satu, langit yang menyelimuti semesta raya ini pun langit yang sama pula.

Perbedaan model perhitungan waktu dalam bilangan tahun karena memang melihat konteks kejadian peristiwa yang berbeda. Dalam konteks Islam, misalnya, Khalifah Ummar bin Khattab menjadikan momentum hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah sebagai pangka! dimulainya perhitungan almanak Islam itu.
(lanjut …)



Lembut Hati

Akhlaq,An-Natijah | Friday, December 18th, 2009
lembut hati

lembut hati

Sebab turunnya ayat ke 159 surat Ali Imran adalah seusai terjadi Perang Uhud, dimana pasukan musyrik Quraisy yang memutar jalan berhasil memukul pasukan panah Islam yang turun dari bukit Uhud untuk mengambil harta “ghanimah” (rampasan perang).

Pasukan Islam mengira bahwa pasukan Quraisy telah kalah dan peperangan telah benar-benar usai. Akibat kekeliruan ini banyak sahabat yang gugur, termasuk Hamzah paman Nabi SAW.

Melihat kekeliruan yang dilakukan para sahabat, tidak membuat Nabi SAW marah dan kesal. Karena Allah SWT telah melembutkan hatinya sebagaimana dengan firman-Nya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.. ” (QS. Ali Imran: 159).

Sifat lembut hati merupakan salah satu akhlak mulia dari Nabi S AW seperti yang dikatakan Abdullah bin Umar: “Sesungguhnya, saya menemukan sifat Rasulullah SAW dalam kitab-kitab terdahulu itu demikian : Sesungguhnya tutur katanya tidak kasar, hatinya tidak keras, tidak suka berteriak-teriak dipasar-pasar, dan tidak suka membalas kejahatan orang dengan kejahatan lagi, namun dia memaafkan dan mengampuninya. ” (Tafsir Ibnu Katsir II, hl.608)

(lanjut …)



Hidup Bermakna

Akhlaq,An-Natijah,Taqwa | Saturday, August 15th, 2009
kasih sayang

kasih sayang

Sayyid Quthb mengemukakan pada bagian mukaddimah tafsir Fi Zhilalil Qur’an mengatakan: “Hidup di bawah naungan Al Qur ‘an adalah suatu nikmat. Nikmat yang tidak dimengerti kecuali oleh yang merasakannya. Nikmat yang mengangkat harkat usia manusia, menjadikannya diberkahi, dan menyucikannya

Hidup di bawah naungan Al Qur’ an adalah hidup yang disinari ilmu dan iman. Hidup dengan ilmu dan iman akan memiliki dinamika kegiatan yang positif serta sangat indah dan nyaman dinikmati oleh pemiliknya atau pelakunya. Hidup yang dinamis, penuh semangat dan tenaga sehingga cepat bergerak dan mudah menyesuaikan diri dengan keadaan.

Hidup yang dijalani hamba Allah yang taat, beriman dan bertaqwa dilihat sangat indah dan nyaman oleh keluarga dan masyarakatnya, karena pada kesehariannya memancar dari dirinya akhlaqul karimah, sikap mulia dalam pergaulan serta perkataan dan nasehatnya yang santun, menyejukkan, menyenangkan dan marhamah (kasih sayang). Padahal mungkin hidup yang dilaluinya tidaklah seindah yang terlihat, karena tak seorangpun yang bebas dari ujian dan cobaan dalam hidupnya.

Diuji dan Dicoba

Hidup ini terkadang pahit, getir, menyebalkan, menyakitkan, kejam, dan lain sebagainya Hidup seperti itu adalah hidup yang dijalani tanpa keimanan, ketaqwaan dan ilmu pengetahuan. Sudah menjadi ketentuan dari Yang Maha Pencipta, setiap kehidupan manusia akan mendapatkan ujian, cobaan, tantangan dan kesulitan.

(lanjut …)



Mengukur Kebajikan

Akhlaq,An-Natijah,Ibadah,Taqwa,Tauhid | Thursday, July 2nd, 2009
penggaris

penggaris

Di dalam Al Qur’an (surat Al Baqarah ayat 177) ada ungkapan al Birr, artinya kebajikan. Lafal ayatnya adalah: Laisal birra an tuallu wujuuhakum qibalai masyrikqi wal maghrib (Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan).

Ayat ini turun sehubungan dengan sikap penduduk muslim di Madinah pada waktu itu. Mereka merasa sebagai orang-orang baik, sedangkan yang lain (non muslim) sebagai orang-orang yang tidak baik (sesat). Untuk menyadarkan penduduk Madinah yang telah bersikap salah itu, turunlah ayat ini.

Pengertian dan Sikap Keliru

Khalifah Umar ibnu al Khaththab pernah mengatakan: “Tidaklah dapat mengukur keimanan dan keislaman seseorang karena ia telah melaksanakan shalat, tidak juga karena ia telah berpuasa, tidak juga karena telah membayar zakat hartanya, dan tidak juga karena ia telah menunaikan ibadah haji. Akan tetapi keimanan dan keislaman seseorang harus terlihat pada kehidupannya sehari-hari “.

Adalah pernyataan dan sikap keliru jika seseorang yang telah melaksanakan shalat lalu dikatakan sebagai orang baik. Betapa banyak orang yang telah menjalankan ibadah shalat, baik shalat lima waktu (shalat fardhu) maupun shalat-shalat sunat akan tetapi (ternyata) ia masih suka berbohong, mengucapkan kata-kata kotor, suka menggosip, benci kepada seseorang, mau mengambil sesuatu yang bukan miliknya (bukan hanya itu), bahkan ia juga terlibat kasus korupsi dan lain-lain.

(lanjut …)



Salah Urus

An-Natijah,ekonomi,Sosial,Taqwa | Thursday, May 21st, 2009
grafik emisi global

grafik emisi global

Sering kita dengar komentar, pendapat atau pernyataan: “Tahun ini tahun bencana. Tahun ini tahun sarat dengan peristiwa mengerikan dan lain-lain. Mengapa bisa begini? Mengapa bisa begitu ?”

Padahal, berbagai komentar seperti itu (sebenarnya) sudah biasa kita dengar. Sepuluh tahun silam, lima tahun lalu, bahkan baru setahun yang lalu mungkin (boleh jadi) kejadiannya baru beberapa saat yang lalu. Komentar semacam itu, pendapat seperti itu, reaksi senada juga sering kita dengar. Kerapkali kita baca, bahkan hampir setiap hari dapat kita simak, baik lewar media cetak dan elektronik atau langsung mampir di telinga kita.

Bahkan bukan hanya berita tetapi berbagai bencana dan malapetaka yang terjadi itu seringkali kita saksikan dengan mata kepala sendiri. Ironisnya bencana itu (kadang-kadang) tidak hanya menimpa orang-orang yang jahat, tetapi juga menimpa orang-orang baik (QS. Al-Anfaal:25).

Sebab-sebah Musibah

Sebenarnya, suatu musibah tidak akan terja di dunia ini,kecuali jika Allah SWT telah menetapkannya (QS. At-Taubah: 51). Alam ini telah direncanakan dan ditetapkan oleh Allah SWT bagus, tertib, teratur dan seimbang dengan aturan-aturan (hukum alam) yang telah diturunkan-Nya.

Ketidak-seimbangan pada alam menyebabkan terjadinya berbagai gejala tidak baik pada alam yang kita tempati ini. Penyebab ketidak-seimbangnya alam ini adalah manusia. Kepadanya (manusia) Allah SWT telah memberikan kedudukan mulia, yaitu sebagai khalifah (wakil) Allah SWT di bumi. Oleh karena itu manusia dipercaya mengelola, mengatur atau menata alam ini untuk keselamatan dan kebahagiaannya juga.

(lanjut …)



Nadziran

Akhlaq,An-Natijah,Sosial | Sunday, May 10th, 2009
ulama pakistan

ulama pakistan

Seorang muslim yang baik dan benar hidupnya akan jauh dari kesia-siaan. Hidup dan kehidupan seorang muslim adalah dalam rangka ibadah mengabdi kepada Allah SWT, pencipta alam semesta.

Selain itu seorang muslim pun dituntut dalam rangka mengemban suatu misi, Salah satu misinya adalah: Memberi peringatan kepada orang-orang yang lalai dari kebenaran, berada dalam kemaksiatan (kedurhakaan) kepada Allah SWT, dan rasul-Nya.

Tugas (misi) ini sebagaimana termaktub di dalam firman-Nya: “Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi lampu yang menerangi “. (Al Ahzab: 45-46).

Dalam keseharian, kita selalu hidup bersama orang lain. Ada yang dengan ikatan hubungan darah, ada yang sebagai tetangga, ada lagi yang sebagai teman usaha, teman dalam beronganisasi, beribadah dan lain-lain.

Sebagai sesama hamba Allah SWT dan umat Nabi SAW, maka kita dituntut (diwajibkan) untuk melaksanakan misi hidup, yang diperintahkan Allah dan rasul-Nya, diantaranya Nadziran, memberi peringatan secara ikhlas (karena Allah) kepada orang-orang yang sedang lalai dari penegakan amar ma’ruf dan nahi mungkar.

Setiap kali kita melihat seseorang melakukan kemungkaran, maka kita wajb menghentikannya dengan kekuatan (tangan), jika tidak bisa, maka kita wajib menghentikannya dengan kata-kata (nasihat), dan jika tidak bisa, kita masih dituntut menghentikannya dengan hati (doa), meskipun itu bentuk usaha (kadar iman) terlemah.



Aroma Dosa

Akhlaq,An-Natijah,Taqwa | Friday, May 8th, 2009
aroma kurang sedap

aroma kurang sedap

Mohammad bin Wahsy, pernah berkata dalam muhasabahnya (perenungannya): “Seandainya dosa itu mempunyai aroma, tentu semua orang tidak akan senang duduk bersama saya“.

Bayangkan kalau dosa itu mempunyai aroma, maka semua orang tidak akan bisa hidup tenang, karena masih mencium bau busuknya. Apalagi efek sampingnya terhadap anggota tubuh kita, misalnya, ketika kita memakan hasil korupsi, lalu perut kita tiba-tiba buncit. Atau ketika kita selingkuh atau berzina lalu hidung kita menjadi belang, ketika mata kita suka melihat aurat wanita lalu mata kita tiba-tiba buta. Tentu semua orang tidak akan melakukan perbuatan dosa.

Tepatlah ucapan Imam Ghazali: “Dosa itu bagaikan debu yang menempel di kaca. Maka pandai-pandailah membersihkan kaca itu “. Firman Allah SWT: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya ” (QS. Asy-Syams: 9-10).

Kita bertambah yakin apabila hati kita bersih, Hati yang bersih akan memunculkan kedamaian, ketentraman, dan kesejukan. ltulah hati yang telah memperoleh percikan surga. Kalau situasi dan kondisi semacam itu telah terwujud dalam kehidupan sehari-hari, alangkah indahnya hidup.

Suasana kedamaian dan kasih sayang begitu terasa dalam kehidupan. Kehidupan keluarga (rumah tangga) penuh dengan nila-nilai kerukunan, di kantor (tempat kerja) pun telah tercipta suasana keharmonisan (kondusif), saling tegur sapa berlangsung sedemikian akrab, dengan tutur kata yang santun, sepanjang masa serasa berada di sebuah negara Baldatun toyyibatun warrabbun ghafur (Negara indah yang penuh dengan nilai-nilai keampunan dari Allah yang Maha Pengatur).
(lanjut …)



Mukhlish

Akhlaq,An-Natijah,Taqwa | Friday, May 8th, 2009
Al-Quran dan tasbih

Al-Quran dan tasbih

Mukhlish adalah kata yang terambil dari bahasa Arab, artinya tulus hati, jujur, (AW. Munawwir, Kamus al Munawwir, hl 360). Dalam bahasa lndonesia Mukhlish dapat pula dimaknai orang yang ikhlas (orang yang tulus hatinya dan jujur). Orang yang ikhlas pun diartikan lebih luas dengan orang yang mengharap keridhaan Allah SWT, beriman kepada-Nya dan selalu berbuat kebaikan karena Allah SWT.

Ciri-ciri Orang Ikhlas

Untuk mengetahui apakah kita termasuk orang yang ikhlas dapat dikenal melalui ciri-cirinya. Dalam Al-Qur’an telah disebutkan berbagai ciri orang ikhlas itu, antara lain:

Bersikap hati-hati karena Allah

Bersikap hati-hati karena Allah SWT, bukan berarti tidak dinamis, malas, apatis, lamban bekerja, setengah hati dalam berusaha atau menyesal menunggu takdir Tuhan. Tetapi hati-hati, di sini mengandung arti berusaha dengan giat, bekerja sungguh-sungguh dan melakukan yang terbaik sesuai keridhaan Allah SWT.

Hati-hati, takut melakukan kesalahan bukan karena adanya pengawasan manusia semata tetapi juga merasakan kehadiran Allah SWT. Firman Allah SWT : “Sesungguhnya orang-orang. yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka ” (QS. Al Mukminun : 57).

Beriman Kepada Kitab Allah

Orang yang ikhlas akan berpegang teguh kepada ayat-ayat Allah. Sekarang ada kecenderungan, bahwa Al Qur’an hanya ditelaah dan dibaca oleh para ustadz, guru dan kyai. Sebagian umat Islam bila belum bisa baca Al Qur’an merasa sedih dan mereka terus belajar. Tetapi tidak jarang ada yangt idak merasa apa-apa bila belum bisa baca Al-Qur’an padahal sudah dewasa.

(lanjut …)



Berbuah Taqwa

Akhlaq,An-Natijah,Ibadah,Taqwa | Tuesday, May 5th, 2009
berbuah lebat

berbuah lebat

Taqwa adalah predikat orang beriman yg paling tinggi. Kearah inilah seluruh peribadatan ditujukan. Allah SWT sangat mencintai dan memuliakan orang-orang yang bertaqwa, dan akan menghadiahi mereka dengan balasan syurga di akhirat kelak.

Firman Allah SWT : “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada dalam surga yang penuh kenikmatan ” (QS. Ath Thuur: 17).

Karena begitu mulia dan tingginya kedudukan taqwa ini, maka untuk mencapainya diperlukan kerja keras serta usaha yang sungguh-sungguh dan terus menerus sepanjang hayat.

Untuk menggapai status taqwa ini, Allah SWT telah menunjukkan jalan atau tuntunan dengan melaksanakan ibadah mahdhah, seperti shalat, puasa, zakat, haji dan lain-lainnya, yaitu ibadah langsung dengan Allah SWT (hablun minallah), yaitu bertujuan untuk melatih atau mendidik yang bersih dan ikhlas, maka akhlak seseorang akan baik dan akan membuahkan amal-amal yang baik pula. Sebagaimana yang disabdakan Nabi SAW:

Ketahuilah bahwasanya dalam jasad (manusia) ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik maka akan baiklah semua jasad manusia. Akan tetapi apabila segumpal daging itu rusak, maka akan rusaklah seluruh jasad manusia. Ketahuilah (oleh kalian), bahwa segumpal daging itu adalah qalbu ” (HR Muslim).

(lanjut …)



Maha Menjamin Rezeki

An-Natijah,ekonomi,Sosial,Taqwa | Thursday, April 16th, 2009
pasar pagi

pasar pagi

Menurut sebuah riwayat, suatu hari Nabi Sulaiman AS ingin mengetahui bagaimana Allah SWT memberikan rezeki kepada seluruh makhluk-Nya di dunia ini. Sehingga untuk membuktikannya ia bertanya kepada seekor semut, seberapa banyak Allah SWT memberikan rezeki kepada semut dalam satu tahun. Semut menjawab bahwa ia memperoleh rezeki sebesar sekepalan tangan sang Nabi.

Mengetahui hanya sebesar itu tezeki yang diperoleh semut tersebut, rasanya sangat mudah bagi Nabi Sulaiman AS untuk memberikannya. Sehingga kemudian Nabi Sulaiman AS membuat kesepakatan dengan semut untuk mau masuk ke dalam botol yang telah diisi dengan makanan sekepalan tangan Nabi Sulaiman AS, dan semut setuju.

Maka botol pun ditutup rapat. Setahun kemudian Nabi Sulaiman AS datang kembali kepada semut, ketika ia membuka botol tersebut ternyata didapatmya semut hanya memakan sebagian saja dari makanan tersebut Nabi Sulaiman AS heran dan kemudian bertanya kenapa makanan tersebut tidak dihabiskan. Bukankah semut telah mengatakan, kalau rezekinya dalam satu tahun dapat diperoleh sebesar kepalan tangannya?

Mendengar pertanyaan itu semut menjawab dengan tenang: “Wahai Nabi yang mulia, memanglah benar apa yang hamba katakan,bahwa hamba mampu memperoleh rezeki dalam satu tahun sebesar kepalan tangan yang mulia, namun itu terjadi pada saat hamba tidak berada di dalam botol ini. Dan pada saat itu hamba sangat yakin Allah akan memberikan hamba rezeki dan Dia tidak akan melupakanku walau sadetik pun, sehingga aku yakin Allah akan menjamin rezekiku. Tetapi kini, hamba yang lemah ini terkurung dalam botolmu, apakah kau bisa menjamin bahwa kau tidak akan lupa memberiku makanan kembali setelah satu tahun? Apakah kau berani menjamin hidup dan rezekiku di tanganmu ?”

(lanjut …)







Next Page »