Menjernihkan Hati

Akhlaq,Ibadah | Thursday, October 14th, 2010
menjernihkan hati

menjernihkan hati

Hati dan pikiran yang jernih akan melahirkan perbuatan yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Sebab, kejernihan hati dan pikiran, selalu dilandasi dengan semangat keikhlasan untuk mengabdikan dirinya semata-mata karena Allah.

Itulah salah satu ciri orang yang beriman. Perbuatan yang demikian itu akan mampu menjadikan dirinya sebagai pembersih jiwa untuk meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS Asy-Syams [91]: 9-10).

Banyak cara dan langkah yang diajarkan Islam untuk menjernihkan hati dan pikiran tersebut. Pertama, memperbanyak istighfar (memohon ampun) kepada Allah SWT disertai keyakinan untuk tidak mengulangi perbuatan-perbuatan yang salah.

Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS Ali Imran [3]: 135).

(lanjut …)



Menghormati Ulama

Akhlaq | Monday, October 11th, 2010
KH. Zainuddin MZ

KH. Zainuddin MZ

Bagi suatu kaum, wafatnya seorang ulama seharusnya menjadi suatu hal yang sangat disesali, karena ulama itu dapat memotivasi dan membimbing umat menuju kemaslahatan hidup.

Sesungguhnya Allah tidak akan menghilangkan ilmu dengan mencabutnya dari semua manusia, akan tetapi dengan menghilangkan ulama, sehingga ketika tidak ada lagi seorang alim, manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Yang ketika ditanya, mereka akan memberi fatwa tanpa didasari ilmu sehingga fatwa akan sesat dan menyesatkan.” (HR Bukhari)

Rasul SAW mengibaratkan ulama itu sebagai lampu-lampu bumi. Artinya, ulama itu bertugas menerangi kehidupan umat dari kegelapan. Sebagai pengganti para nabi, ulama bertugas melanjutkan dakwah dan menegakkan yang makruf serta mencegah yang mungkar. Mereka mewarisi ilmu para nabi, menjaga dan menyampaikannya kepada umat, agar senantiasa memiliki akhlak yang mulia.

(lanjut …)



Tirani Minoritas?

Akhlaq,Ibadah,Sosial | Monday, September 20th, 2010
tolak ciketing

tolak ciketing

Saat ini, umat Islam dan Pemerintah Indonesia menjadi tertuduh oleh sesuatu yang masih harus dikaji lebih jauh kebenaran tuduhan tersebut. Namun, kampanye berbagai pihak telah menstempel seolah-olah tuduhan itu adalah benar.

Inilah tuduhannya: intoleran, tak ada kebebasan beribadah, tak ada kebebasan beragama! Padahal, persoalannya sama sekali bukan itu. Persoalannya adalah masalah pendirian rumah ibadah. Tentu, itu dua hal yang berbeda.

Di mana-mana, bahkan di pusat-pusat peradaban dunia, seperti New York, Paris, Berlin, London, Sydney, dan sebagainya, masalah pendirian rumah ibadah merupakan persoalan yang tiada henti. Tentu, jika di Barat— yang menjadi pusat-pusat peradaban dunia itu—umat Islam mengalami kesulitan. Umat Islam yang menjadi minoritas itu dihambat dengan alasan heritage (kasus Camden, Sydney), lanskap (Swiss), budaya (Paris), diskriminasi (London), dan sebagainya. Tapi, jika dilacak lebih jauh, alasan perbedaan agama yang menjadi pangkal persoalan.

(lanjut …)



Mengagumi Rasulullah SAW

Akhlaq,Taqwa | Thursday, September 16th, 2010
rasulullah saw

rasulullah saw

Ketika Rasulullah SAW sedang bertawaf mengelilingi Ka’bah, beliau mendengar seorang di hadapannya bertawaf sambil berzikir, “Ya, Karim! Ya, Karim!” Lalu, Nabi SAW menirunya, “Ya, Karim! Ya, Karim!” Orang itu lalu berhenti di salah satu sudut Ka’bah, lalu berzikir lagi. Nabi Muhammad pun kembali mengikutinya.

Seakan merasa seperti diolok-olok, orang itu menoleh ke belakang. Terlihat olehnya seorang laki-laki yang gagah dan tampan, yang belum pernah dikenalinya. Orang itu lalu berkata, “Wahai, orang tampan,
apakah engkau memang sengaja memperolok-olokku karena aku ini adalah orang Arab Badui? Kalaulah bukan karena kegagahanmu, pasti aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad SAW.”

Rasulullah pun tersenyum, dan bertanya, “Tidakkah engkau mengenali nabimu, wahai, orang Badui?” Orang itu menjawab, “Belum.” Lalu, Rasulullah bertanya, “Jadi, bagaimana engkau beriman kepadanya?” Si Badui kembali berkata dengan mantap, “Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya walaupun saya belum pernah melihatnya.”

“Wahai, orang Badui, ketahuitah, aku ini nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat,” ujar Nabi. Melihat Rasulullah di hadapannya, dia tercengang, seakan tak percaya. “Tuan ini Nabi Muhammad?” Nabi menjawab, “Ya.”

(lanjut …)



Adab Berhari Raya

Akhlaq,Idul Fitri,Sosial | Monday, September 6th, 2010
shalat idul fitri di pelabuhan sunda kelapa

shalat idul fitri di pelabuhan sunda kelapa

Tak terasa, sebentar lagi umat Islam di seantero jagad akan merayakan Hari Raya Idul Fitri 1431 H. Inilah, hari kemenangan bagi mereka yang berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Semua umat Muslim bersuka cita menyambut datangnya hari raya.

Umat Muslim di berbagai tempat, daerah, dan negara memiliki tradisi masing-masing dalam menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri. Namun, intinya pada saat hari raya, setiap keluarga bisa berkumpul, saling mengunjungi, dan bersilaturahim, serta saling memaafkan.

Agar Idul Fitri 1431 H benar-benar bermakna, sebaiknya seorang Muslim hendaknya memperhatikan adab berhari raya. Rasulullah SAW telah memberi contoh dan teladan tentang adab berhari raya.

Dalam Kitab Mausuu’atulAadaab Al-Istaamiyyah, Syekh Abdul Azis bin Fathi As-Sayyid Nada menjelaskan adab berhari raya secara rinci.
(lanjut …)



Pemimpin Jatuh Miskin

Akhlaq,Sosial | Friday, September 3rd, 2010
garuda pacasila

garuda pacasila

Mengapa bangsa ini sulit sekali menjadi akil-balig? Belajar untuk bertanggung jawab layaknya orang dewasa. Para elite politik terus memperagakan perilaku kekanak-kanakan.

Gemar meminta banyak hal kepada negara sembari kerja malas-malasan. Petinggi negara masih juga tampak rileks, bahkan para koruptor pun dapat hadiah grasi. Segala hal di negeri ini seolah berjalan normal.

Kalau anak balita wajar bersikap kekanak-kanakan karena mereka memang homo ludens, makhluk bermain. Tapi, manakala para petinggi nasional masih bermain-main dengan urusan negara dan bangsa, lantas di mana pertanggung-jawabannya? Padahal saat ini hidup rakyat kian susah, perahu bangsa dalam pertaruhan, dan negeri ini tengah dilecehkan tetangga.

Sungguh, betapa sulit memahami nalar kekanak-kanakan elite politik yang menuntut adanya rumah aspirasi dengan anggaran keuangan negara. Kalau pakai anggaran sendiri tentu elegan. Bukankah selama ini mereka dibayar negara, yang salah satu kewajibannya ialah menyerap aspirasi rakyat.

(lanjut …)



Surga Karena Memuliakan Orang Miskin

Akhlaq,Kisah | Monday, August 30th, 2010
surga karena memuliakan orang miskin

surga karena memuliakan orang miskin

Menolong orang miskin dan anak yatim menunjukkan bukti cinta seorang Muslim kepada Rasulullah SAW.

Alkisah, di negeri Arab, ada seorang janda yang sangat miskin. Ia memiliki seorang anak. Karena kemiskinannya itu, ia pun berusaha meminta sesuap nasi kepada siapa saja yang mau berrnurah hati. Janda tersebut mengembara ke mana saja demi nasi dan makanan untuk dia serta anaknya.

Suatu hari, ia melintas di sebuah masjid dan bertemu dengari seorang Muslim. Kepadanya, janda ini meminta bantuan. “Wahai, tuan, sudilah kiranya bermurah hati. Anakku sedang kelaparan dan aku mohon pertolongan kepada Anda,” ujar janda tersebut.

“Mana buktinya kalau Anda miskin dan anak Anda seorang yatim?” tanya laki-laki Muslim itu.

(lanjut …)



Berdagang dengan Allah

Akhlaq,Kisah,Sosial | Saturday, August 28th, 2010
dagang unta

dagang unta

Rasulullah SAW terbiasa mengajarkan kepada sahabat-sahabatnya untuk senantiasa bersabar atas segala sesuatu yang menimpa mereka. Termasuk dalam masalah lapar sekalipun.

Mereka senantiasa mengencangkan ikat pinggang. Bila tidak ada sama sekali yang dimakan, maka mereka pun akan berpuasa. Itulah yang dicontohkan Rasul SAW kepada sahabat-sahabatnya.

Suatu hari, seusai mendengarkan nasihat-nasihat yang disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabatnya di Masjid Nabawi Madinah, maka pulanglah Ali bin Abi Thalib ke rumahnya.

Sesampai di rumahnya, ia menemui istrinya, Fatimah, putri Rasulullah SAW, yang sedang duduk memintal benang.

“Wahai perempuan yang mulia, adakah suatu makanan yang dapat dimakan oleh suamimu ini?” tanya Ali.

(lanjut …)



Stop Pornografi dan Pornoaksi

Akhlaq,Sosial,Syariat | Thursday, August 5th, 2010
ariel best collection

ariel best collection

Beredarnya video porno di internet yang diduga sepasang artis papan atas, sungguh tidak lagi mengejutkan. Pasalnya, sebagaimana yang sering ditampilkan acara infotainment televisi, para selebritis semakin berani mengumbar auratnya untuk dilihat jutaan pasang mata manusia termasuk diantaranya anak-anak.

Bahkan beberapa selebritis yang berpacaran sudah berani iklan bersama produk tertentu dengan latarbelakang yang seolah-olah mereka suami istri atau sepasang pengantin baru yang sedang berbulan madu.

Pemberitaan dan peredaran video-video porno, khususnya melalui internet dan media komunikasi hp bukanlah barang baru. Namun karena pengungkapan video akhir-akhir ini terkesan bintang papan atas, maka menjadi heboh sampai kepada kaum muslimin sekalipun, Na’udzu billah.

(lanjut …)



Meminta Maaf

Akhlaq,Sosial | Thursday, March 18th, 2010
minta maaf

minta maaf

Pernahkah kita meminta maaf kepada anak-anak sendiri? Jika dilakukan jajak pendapat, rasa-rasanya yang menjawab “Ya” hanya sedikit.

Mungkin sebagian besar masyarakat kita malah akan terheran-heran kalau ada yang bertanya demikian kepadanya, karena bagaimana mungkin orang tua meminta maaf kepada anaknya.

Ada satu hal yang menarik perhatian dalam suatu acara akad nikah. Yaitu pada saat seorang ayah memberikan sambutan dan nasehat untuk putrinya, “Saya atas nama ayahmu dan juga atas nama ibumu dengan ini mengikhlashkan dan merestui pemikahan ananda. Sebagai orang tua, kami meminta maaf kepada ananda atas segala kekurangan dan kesalahan yang telah kami perbuat selama mendidik dan mengasuhmu sejak kecil hingga saat menyerahkan tanggungjawab itu kepada suamimu”.

Yang hadir dan menyaksikan peristiwa tersebut tampak terpukau dan terbawa perasaan mendengar ucapan sang ayah kepada putrinya yang saat itu baru saja melangsungkan akad nikah. Sambil mengalirkan air mata sang ayah dan ibu mengantarkan putrinya ke pelaminan.

(lanjut …)







« Previous Page | Next Page »