Kisah Nabi Daud
Pertanyaan :
Ada kisah nabi Daud yang dipertanyakan oleh teman kami yang non Islam yaitu tentang dosa besar yang dilakukan oleh nabi Daud, sehingga ketika beliau itu menyesal sampai sujud selama 40 tahun. Benarkah dalam kepercayaan agama Islam ada kisah tentang nabi Daud yang demikian itu?. Katanya tentang kesalahan nabi Daud yang mengambil isteri rakyatnya dengan cara menyuruh rakyatnya itu pergi berperang dan terbunuh, kemudian isterinya diperisteri oleh nabi Daud sebagai isterinya yang ke -100, padahal sebelum itu nabi Daud telah mempunyai isteri sebanyak 99 orang.
Katanya kisah tersebut terdapat di dalam Al Our’an, benarkah demikian?
Jawaban :
Menjadi salah satu dasar kepercayaan (akidah) agama Islam, bahwa seluruh nabi dan rasul terpelihara dari mengerjakan dosa. baik dosa kecil, maupun dosa besar. Karena nabi Daud itu adalah nabi dan rasul, maka menurut pokok akidah agama Islam beliau tidak mengerjakan dosa, baik dosa kecil, apalagi dosa besar.
Adalah tidak masuk akal seorang bisa bersujud sampai 40 tahun, tidak makan, tidak minum dan tidak tidur. Sungguh cerita (kisah) yang demikian tempatnya adalah di tong sampah. Kisah yang khayal yang tidak berguna. Sekaligus merupakan fitnah keji atas seorang nabi dan rasul.
Kita umat Islam, memuliakan seluruh nabi dan rasul, sekalipun syari’ah yang kita jalankan adalah syari’ah dari nabi dan rasul terakhir nabi Muhammad SAW, namun kita memuliakan dan mencintai semua nabi dan rasul yang diutus Allah SWT kepada umat manusia sebelum kenabian dan kerasulan nabi Muhammad SAW. Termasuk didalamnya kita memuliakan dan mencintai nabi Daud.
Firman Allah SWT : “……kami tidak membeda-bedakan antara seorangpun dari rasul-rasul-Nya…“. (Surat 2/Al Baqarah, ayat285).
Salah satu sifat atas kenabian dan kerasulan dalam akidah islamiyah ialah kemaksuman semua nabi dan rasul atas berbuat dosa. Baik dosa kecil, maupun dosa besar.
Hanya saja, para nabi dan rasul itu karena rasa takutnya yang sedemikian mendalam terhadap Allah SWT selalu bertaubat dan memohon ampun kepada Allah SWT, karena para nabi dan rasul itu takut jangan-jangan mereka telah berbuat dosa.
Dalam konteks yang demikianlah pemahaman atas ujung ayat 24 surat Shaad (surat ke-38) : “……Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya. Lalu ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat“.
Adapun untuk memahami maksud ujung ayat 24 surat Shaad itu baiklah diikuti secara runtut jalan ceritanya yang dimulai kisahnya dalam ayat 21 surat Shaad :
- (21). Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara dan memanjat pagar?.
- (22). Ketika mereka masuk (menemui) Daud lalu ia terkejut karena (kedatangan) mereka. Mereka berkata: “Janganlah kamu merasa takut. (Kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain. Maka berilah keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus.
- (3). Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka dia berkata : “Serahkanlah kambing itu kepadaku dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan”.
- (24). Daud berkata : “Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Dan amat sedikitlah mereka ini”. Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya. Maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat.
Dimanakah kesalahan nabi Daud dalam masalah perkara yang diajukan itu?. Dijelaskan di dalam ayat 26 surat Shaad: “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (atas perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan“.
Dari apa yang dikisahkan di dalam Al Our’an tentang nabi Daud itu, ternyatalah bahwa pada satu ketika dua orang menemui nabi Daud dengan jalan yang tidak lazim, yaitu dengan memanjat pagar, sehingga mengejutkan nabi Daud, dan rupanya ada prasangka bahwa kedua orang itu bermaksud jahat terhadap dirinya. Tapi salah seorang dari kedua orang itu berkata : “….janganlah kamu merasa takut…..kami adalah dua orang yang berperkara…“.
Kemudian seseorang dari mereka menjelaskan perkaranya, yang kemudian langsung ditanggapi oleh nabi Daud dengan suatu keputusan tanpa bertanya kepada pihak yang lainnya. Disinilah terletak kekhilafan nabi Daud, beliau memperturutkan kecenderungan pribadinya. Padahal dalam suatu mahkamah, seharusnya hakim bersikap netral atas kedua pihak yang berperkara dan hendaklah mendengar penjelasan kedua pihak sebelum menjatuhkan keputusan. Kemudian sesudah itu nabi Daud mendapatkan ilham bahwa tindakannya keliru (khilaf) dan beliau langsung sujud memohon ampun kepada Allah SWT. Kemudian pada ayat 26 Allah menegaskan bahwa semua penguasa hendaklah menegakkan hukum dengan adil dan jangan mengikuti hawa nafsu.
Namun demikian, nabi Daud menyatakan bahwa terdapat kecenderungan bagi orang-orang yang berserikat sebagian dari mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain. Artinya, dalam kasus perkara yang diajukan itu berhubungan dengan perbuatan muamalah yang berbentuk persyarikatan, yang berlaku umum sampai dimasa sekarang, yang memerlukan hakim yang adil.
Dengan demikian jelaslah di dalam Al Our’an tidak ada kisah tentang nabi Daud mengambil isteri orang lain dengan menugaskan suaminya kemedan perang sehingga suami itu terbunuh. Entahlah kalau hal itu berkaitan dengan kitab dan kepercayaan agama lain yang di luar Islam. Tentulah kita tak bisa memberikan tanggapan dan komentar. Apa yang bisa kita perdalam adalah apa yang termuat didalam ajaran agama Islam. Yang salah satu pokok ajaran akidahnya adalah tentang maksumnya para nabi dan rasul.
Sumber : Buletin Dakwah Al-Huda, No. 1130 Tahun ke-23 11 Juli 2008
Related Articles
9 Comments »
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI





Begtiulah mereka (Yahudi&Nasrani). para ahli kitab mereka merubah kitab yg diwariskan Nabi sedemikian rupa sehingga sampai manusia-manusia pilihan Allah (Nabi) pun mereka dijelek-jelekan. Na’udzubillah himindzalik
Comment by Namuusatta — 26 May 2009 @ 4:41 pm
Mungkin begini, maksud si penanya itu adalah apakah benar dua orang yg menemuinya itu dan hendak menguji Beliau sebenarnya menyindir apa yg telah dilakukuan Nabi Daud tentang 99kambing yg mau ditambahkan 1 dari kerabatnya dgn cara mengalahkan perdebatannya karena Nabi Daud mempunyai 99 istri dan merebut 1 istri tentara (Sabigh binti Sya’igh) yg pada waktu itu suami wanita (Uria bin Hannan) tsb sedang menjalankan tugas atas perintah Nabi Daud dan kemudaian Nabi Daud menyadari tentang apa yg telah dilakukannya kemudian meminta maaf dan bertobat kpd Allah SWT.
Kisah Nabi Daud yg ditanyakan diatas terdapat pula di situs http://peperonity.com/go/sites/mview/ceritanabi/16736250%28p5%29
Maaf, komentar yg saya kirim kemarin qo sekarang tidak tampil ya?
Comment by Namuusatta — 27 May 2009 @ 2:18 pm
@namusata
betul tuh bos..
maaf sblmnya nih, pernyataan di atas tentang kisah nabi Daud As
Jawabannya koq gak nyambung sm pertanyaaan’nya
malah sama sekali gak memberikan jawaban
2 orang yg datang itu malaikat, yg hendak menguji keimanan sekaligus mengingatkan Nabi Daud
Tapi jawaban nya melenceng kmn2..
di kitab nya bangsa bani israil (emg ada cerita tentang nabi daud berbuat dosa) tp kan ini dirubah, alias cerita nya di buat seolah2 agama Allah Swt itu nabi nya jelek2
krn bgmn pun kaum yahudi tetap berpegang teguh sm kepercayaan mereka, gak percaya sm Islam
gitu boss… cmiiw
Comment by Ahza — 27 August 2009 @ 4:45 pm
“Dengan demikian jelaslah di dalam Al Our’an tidak ada kisah tentang nabi Daud mengambil isteri orang lain dengan menugaskan suaminya kemedan perang sehingga suami itu terbunuh.”
di Al Quran emg gak di ceritain boss.. tp kan masih ada hadist, piye iki?
coba jawbannya di cocokan dgn Al quran dan Hadist
“Entahlah kalau hal itu berkaitan dengan kitab dan kepercayaan agama lain yang di luar Islam.”
lah ini jwbn apa lg boss? di tulis entahlah, berarti tidak tahu pasti (sm aja fitnah)
harus disebutkan kitab agama mana, ayat yg mana, biar bisa dikoreksi oleh Al Quran dan hadis
Comment by Ahza — 27 August 2009 @ 4:49 pm
DIRASAH ISLAMIYAH I
Kisah Nabi Ayub as
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah dirasah islamiyah 1
Dosen Pengampu: M. Ihsan Dacholfany M,Ed
Disusun Oleh :
Nama : Siti Sholekha
Program Studi : S1/PGSDI/B
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
BANI SALEH
2009
KISAH NABI AYUB A.S
Nabi Ayub a.s adalah salah satu cucu Nabi Ishak a.s. Putra Nabi Ibrahim a.s. Nabi Ayub a.s. merupakan seorang nabi yang mempunyai banyak anak. Nabi Ayub a.s. juga dermawan dan suka menolong, terutama kepada fakir miskin dan anak yatim piatu. Nabi Ayub a.s. tidak sombong walaupun mempunyai banyak harta.
Nabi Ayub a.s. pandai bersyukur kepada Allah swt atas nikmat yang telah diterimanya. Nabi Ayub a.s. selalu taat beribadah kepada Allah swt.
Nabi Ayub a.s. juga memiliki kesabaran yang luar biasa. Suatu ketika, Nabi Ayub a.s. mendapat ujian dari Allah swt, hartanya habis terbakar, binatang ternaknya banyak yang mati, dan beliau menjadi miskin.
Walaupun Nabi Ayub a.s. menjadi miskin, beliau tetap bersabar dan tetap taat beribadah kepada Allah swt. Karena itu, setan mencari jalan lain untuk menggoyangkan iman Nabi Ayub a.s. setan membinasakan anak – anak Nabi Ayub a.s. setan merobohkan tempat tinggal anak – anak Nabi Ayub a.s. dan para pembantunya. Mereka mati tertimbun reruntuhan. Nabi Ayub a.s. tetap tabah dan tidak mengeluh. Beliau selalu berzikir kepada Allah swt. Memohon perlindungan Allah swt.
Setan penasaran dan semakin ingin menggoyahkan iman Nabi Ayub a.s. setan kemudian mengganggu kesehatan Nabi Ayub a.s. dengan penyakit. Setan yakin, jika Nabi Ayub a.s. sakit dan fisiknya menjadi lemah, maka ia akan jadi malas beribadah dan melupakan Allah swt. Nabi Ayub a.s. akhirnya diserang penyakit kulit yang parah. Oleh karena itu, Nabi Ayub a.s. mengasingkan diri dan hanya ditemani istrinya, Rahmah.
Sakit berat yang diderita Nabi Ayub a.s. dihadapi dengan sabar dan tabah tanpa mengeluh sedikit pun. Dalam keadaan demikian Nabi Ayub a.s. tetap sabar dan kuat imannya serta tetap mendekatkan diri kepada Allah swt. Nabi Ayub a.s. tidak pernah meninggalkan perintah Allah swt, walaupun iblis selalu menggoda dengan segala daya dan tipu muslihat.
Setelah berbagai cobaan menimpa suaminya, ketegaran istri Nabi Ayub a.s. , Rahmah, mulai goyah. Ia mengeluh atas penderitaannya. Nabi Ayub a.s. mengingatkan istrinya, bahwa dirinya telah digoda setan. Nabi Ayub a.s. mengajak istrinya untuk berfikir jernih dan menerima seluruh cobaan itu dengan penuh kesabaran. Ternyata istri Nabi Ayub a.s. tidak sabar. Ia termakan bujukan setan. Ketika mengetahui istrinya termakan bujukan setan, Nabi Ayub a.s. mengusir istrinya. Nabi Ayub a.s. akhirnya hidup sendiri. Ditengah kesendiriannya Nabi Ayub a.s. bermunajat kepada Allah swt, dengan sepenuh hati memohon rahmat dan kasih sayang Allah swt agar memberi kesembuhan. Allah swt a.s. menerima doa Nabi Ayub a.s. dan menyuruh Nabi Ayub a.s. agar mengentakkan kakinya ke tanah. Setelah itu Nabi Ayub a.s. segera mengentakkan kakinya ketanah, maka memancarlah air sebagai obat bagi penyakitnya. Atas izin Allah swt, maka penyakit Nabi Ayub a.s. pun sembuh. Setelah Nabi Ayub a.s. sembuh, maka istrinya pun kembali kepada Nabi Ayub a.s., Nabi Ayub a.s. memenuhi janji untuk memukul istrinya yang tidak sabar menerima cobaan dengan seikat rumput sebagai pelajaran bagi istrinya agar tidak berbuat durhaka lagi. Mereka hidup bahagia seperti semula. Nabi Ayub a.s. tetap dengan tugasnya, menyebarkan agama Allah swt kepada umatnya agar beriman kepada Allah swt yang maha esa dan maha kuasa.
Contoh meneladani ketabahan Nabi Ayub a.s. :
Ahmad baru selesai membaca kisah Nabi Ayub a.s. Ahmad sangat kagum terhadap ketabahan Nabi Ayub a.s. dalam menghadapi berbagai macam cobaan dan musibah. Ahmad ingin meneladani ketabahan Nabi Ayub a.s. Ahmad ingin menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Ahmad menerapkan sikap tabah dan sabar dalam belajar. Ahmad belajar setiap hari. Ahmad rajin mengulang pelajaran yang telah dipelajari disekolah. Ahmad tidak tergesa – gesa dalam belajar. Ahmad selalu sabar dalam belajar.
Ahmad juga menerapkan sikap tabah dan sabar dalam membantu orang tua dirumah. Ahmad tidak mengeluh jika membantu orang tua. Ahmad juga tidak pernah menolak perintah orang tua.
Ketika sakit, Ahmad tidak merengek minta ditemani orang tua. Ahmad juga tidak mengeluh. Ahmad berusaha dengan keras untuk meneladani ketabahan Nabi Ayub a.s
Comment by Siti Sholekha — 20 November 2009 @ 8:55 am
[...] Kitab Zabur, Allah SWT pernah menegur Nabi Dawud AS ketika hendak memutuskan perselisihan antara dua suku. Tanpa disadari, sentimen kepada salah satu [...]
Pingback by Menjaga Objektivitas | Mimbar Jum’at — 22 December 2009 @ 9:48 pm
siapa sich nama2 istri dan ibu nabi daud as, mohom dijawab sekarang ..
Comment by nurul — 29 March 2010 @ 6:35 pm
dalam islam tak ada yang TAK MASUK AKAL karna segala sesuatu seandai nya tidak di barengi dengan akal itun bukan lah keyakinanan tapi tebakan apa lagi kepastian,sedang kan dalam islam kita harus yakin dan pasti tanpa keraguan bahkan adanya Allah,siapa Allah,di Mana Allah bahkan Allah itu apa,kita harus tau pasti ,yakin tanpa keraguan dan dimengerti oleh Iman dan akal / logika seperti hal nya matematika.
Comment by akay ahmad al mustary — 30 March 2010 @ 10:26 am
nggak nyambung antara pertanyaan dan jawaban…
rasanya juga nggak masuk diakal jika manusia, walau nabi sekalipun, tidak pernah berbuat dosa.
Karena yang tidak berdosa dan tidak akan pernah berdosa, hanyalah Allah sendiri.
Comment by doni — 13 June 2010 @ 5:39 am