Islam dan Kemiskinan
Dalam sebuah obrolan lepas, seseorang melontarkan pendapat bahwa konteks kemiskinan itu sesungguhnya tidak perlu dirisaukan, dia harus selalu ada, dan kemiskinan itu sendiri tiada lain adalah sebagai bagian dari hukum alam yang menjadikan keseimbanganya.
Artinya, ketika ada yang kaya, tentulah dari sisi yang berseberangan ada orang yang miskin. Sesuatu yang lumrah. Bahwa soal kemiskinan bukan cuma menjadi “urusan” Islam, dan ia menjadi semacam “anggukan universal” yang tiada terbantahkan.
Seorang teman pemerhati dakwah, Dr.Arifin Ntoma memerikan tanggapannya. Ya itu benar. Kemiskinan adalah perimbangan dari kemakmuran atau keberhartaan dalam sisi materil. Namun jangan lupa bahwa soal kemiskinan adalah juga menyentuh persoalan immaterial Ini ukuran yang manusiawi. Ada orang ‘berada’ tetapi tetap merasa ‘miskin’. Sebaliknya, ada orang yang miskin tetapi ia tak merasa dirinya miskin. la kaya akan hati serta merasa tenteram dan enjoy dalam menjalani hidup.
Keangkuhan Duniawi
Kemiskinan itu terjadi dari dampak keangkuhan pola hidup duniawi. Akibat terjadinya ‘penguasaan’ harta pada kelompok tertentu dan tidak terdistribusi secara proporsional kepada khalayak atau orang banyak dan harta berputar di segelintir orang tertentu sehingga akhirnya ada pihak yang tidak mendapat kesempatan untuk memilikinya. Ini tentu ‘melanggar’ hukum keseimbangan.
Dalam Islam, konsep kesetimbangan dan keseimbangan itu pasti ada. Berpasang-pasangan. Itulah sunnatullah. Langit-bumi, surga-neraka, iman-kafir, baik-buruk, benar-salah, dan bahkan kaya versus miskin. Dalam kasus kaya-miskin, Islam justru hadir dalam konteks “memerangi kemiskinan”, kaum dhuafa kaum tertindas, dan hamba sabaya sebagai produk dan penwujudan kemiskinan itu sendiri. Tujuan Islam adalah memuliakan manusia dengan jalan memanusiakan manusia menjadi manusiawi, dalam kapasitas sebagai abdi Tuhan. Ajaran Islam amat menyuruh agar umat Islam itu hidup dalam keadaan cukup dan sejahtera, bahkan sampai kaya sekaya-kaya apa pun tidaklah dilarang. Akan tetapi, ia tak boleh “diam” dengan gelimang harta yang dimilikinya, ia mempunyai kewajiban untuk menyapa saudaranya yang kekurangan dalam kesantunan hidup yang berkasih sayang.
Kemiskinan dengan berbagai produknya itu adalah salah satu wujud praktik ‘penindasan’ manusia terhadap manusia. Ini yang harus dihindarkan, dan agar tidak terjadi maka kaum tertindas (musthadh’afin) itu harus dientaskan, diberdayakan untuk menjadi manusia yang memiliki kemuliaan dan kesetaraan nilai. Maka jadilah konsepsi zakat, infak, maal, shadaqah, menyantuni anak yatim, menyayangi orang miskin sebagai program aksi yang sejatinya menjadi solusi penyelesaiannya. Semua diamalkan dalam semangat berkasih sayang.
Guliran tingkah laku dunia akan mengakibatkan senantiasa hadirnya fenomena kemiskinan, dan di situlah Islam melalui sabda Nabi Muhammad SAW yang merepresentasi Titah Allah’ Azza wa Jala hadir melakukan penetrasi dan mengeliminasinya. Ada ancaman bagi yang tidak peduli. Sampai-sampai disebut pendusta addien (aturan, agama) bagi yang abai terhadap fakir miskin. (QS.Al Ma’uun).
Islam Penyeimbang
Kemiskinan itu tentulah bukan produk dari nilai-nilai yang Islami. Bukan produk Islam, akan tetapi justru jadi “pekerjaan” Islam. Hadirnya Islam justru dimaksudkan sebagai penyeimbangan kehidupan dunia dalam amuk kecamuknya yaiig tak karuan itu, yang melahirkan ekses ketniskinan dan penindasan, sehingga menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan dalam kehidupan.
Pola kehidupan dunia yang cenderung materilistik (kebendaan) telah ikut mendorong terjebaknya umat manusia untuk menggandrungi kehidupan yang serba enak, serba boleh, dan serba terfasilitasi sehingga pada gilirannya manusia begitu mencintai kehidupan dunia (hubud-dunya) .Terjangkiti penyakit wahan. Kondisi ini dikritisi oleh Al Qur’an dengan menyeru kepada sekalian manusia agar tak saja sibuk mengejar kenikmatan dunia, tetapi ingatlah akan kematian yang di sana akan dilanjutkan dengan kehidupan akhirat. Sehingga lakukanlah penyeimbangan di amtara keduanya: bahagia di dunia dan bahagia pula di akhirat.
Salah satu sisi penting dari keseimbangan dunia akhirat itu, adalah dimulai dengan melakukan penyeimbangan hidup di dunia. Jangan ada ketimpangan di antara sesama yang diukur dalam kadar yang proporsional. Perhatikan sekelilingmu. Jangan sampai ada yang kelaparan di sementara engkau begitu amat sangat kekenyangan. Itulah esensi ajakan kemakrufan dalam Islam.
Menarik kita kutipkan ungkapan yang amat popular, bahwa “kefakiran akan menyebabkan seseorang terjerumus kepada kekufuran“. Untuk itulah Islam menyeru agar manusia itu beriman dan terjauh dari kekufuran. Sedangkan kemiskinan/kefakiran, dengan berbagai-bagai manisfestasinya itu memang akan selalu condong mendorong kepada kekufuran. Dengan demikian, hendaklah kita sekalian risau tatkala melihat kemiskinan melintas dihadapan mata kita. Ubahlah itu. Juga, jangan sampai kita fakir lalu menjadi kufur, atau kaya tetapi juga menjadi kufur.
Sumber : Lembar Risalah An-Natijah, No. 26 / Thn XIII - 27 juni 2008
Related Articles
2 Comments »
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI





[...] makan. Para Salafus Shalih senantiasa berlomba dalam memberi makan kepada orang lapar dan yang membutuhkan. Nabi bersabda, “Siapa saja di antara orang muk-min yang memberi makan saudaranya sesama [...]
Pingback by Kiat-kiat Menghidupkan Bulan Ramadhan | Mimbar Jum’at — 20 August 2009 @ 8:15 am
[...] Rasulullah itulah yang membuat Shalahuddin Al Ayyubi memilih miskin hingga akhir hayat. Pada 1193, Sang Penakluk Aqsha (1192), meninggal [...]
Pingback by Kaya Untuk Miskin | Mimbar Jum’at — 13 March 2010 @ 9:13 pm