Menjaga Ketaqwaan
Ramadhan yang agung baru saja berlalu dengan membawa kenangan manis. Kaum Muslimin yang menjalankan ibadah shaum dengan penuh keimanan berharap memperoleh ketakwaan sebagai hasil dari ibadah individual dan sosial selama satu bulan penuh, (QS. Al-baqarah: 183).
Kini, umat Islam telah memasuki Syawal. Secara bahasa, Syawwal berasal dari suku kata syala, ya syulu, syawwal artinya meningkat. Orang yang puasanya memperoleh hasil yang sempurna sehingga mendapat predikat takwa terlihat saat memasuki Syawal. Ibadahnya kepada Allah tetap konsisten atau dalam bahasa agama disebut istiqamah. Serta hubungannya terhadap makhluk lain (ibadah sosial) tetap terjaga dengan baik.
Adapun orang yang puasanya hanya memperoleh lapar dan haus saja adalah mereka yang ibadahnya menurun. Kekhawatiran baginda Rasululah SAW akan penurunan kualitas ibadah umatnya terbukti pada saat ini. Contoh sederhana, saat memasuki Syawal, masjid kembali sepi, Al-Quran kembali diparkir di rak buku, sajadah tetap rapi terlipat di almari.
Ketakwaan pada bulan Ramadhan tahun ini semestinya , tetap dijaga dengan baik. Sangat disayangkan jika cahaya, hidayah, dan ampunan Allah yang sudah diraih umat Islam dengan susah payah. melalui pengorbanan berupa kesabaran yang besar, kemudian luntur begitu saja.
Lantas, bagaimanakah Rasulullah SAW menuntun umat Islam agar senantiasa berada dalam ketakwaan?
- Pertama, beliau mengajarkan supaya kita menjalankan ibadah shaum enam hari di bulan Syawal.
- Kedua, selalu menjaga shalat berjamaah. Salah satu ciri orang bertakwa adalah yang senantiasa memakmurkan masjid dengan shalat berjamaah, (QS. At-Taubah: 18).
- Ketiga, secara konsisten melaksanakan ibadah-ibadah sunah, utamanya qiyamullail dan iktikaf.
- Keempat, lisannya selalu dibasahi dengan zikir, terutama bacaan ayat-ayat suci Al-Quran.
- Kelima, tidak pernah meninggalkan shalat dhuha.
- Keenam, bersikap dermawan. Semangat berinfak, sedekah, dan zakat diniatkan untuk membantu kaum dhuafa meskipun berada di luar bulan Ramadhan.
- Ketujuh, menjaga tali silaturahim yang dalam tradisi orang Indonesia disebut halal bi halal.
Syawal adalah momentum yang paling tepat untuk saling memaafkan dan
saling menghapus dosa dan kesalahan antarsesama. Allah SWT mengampuni dosa dan kesalahan para hamba-Nya setelah masing-masing pihak saling memaafkan.
Jika, ketujuh macam ibadah di atas dapat dilaksanakan dalam ke-hidupan pada 11 bulan setelah Ramadhan, maka predikat takwa akan dapat disandang orang Islam. Allah SWT berjanji akan menempatkan orang-orang yang bertakwa ke maqaman mahmuda (tempat terpuji) yang sebagian besar ulama menafsirkannya sebagai surga yang seluas langit dan bumi.
Sumber : Kolom hikmah Republika, 24 September 2009
Related Articles
4 Comments »
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI






[...] Menjaga Ketaqwaan (September 29th, 2009) [...]
Pingback by Iman | Mimbar Jum’at — 1 October 2009 @ 2:10 pm
Mudah-mudahan tahun depan kita akn bertemu dengan Ramadhan lagi. Amin
Comment by Motivasi Kerja — 7 October 2009 @ 11:54 am
ADA SEKITAR 80% MUSLIMUN YG TAK HAFAL TERJEMAHAN FATIHAH.
FATIHAH YG MEREKA BACA MINiMAL 17X SEHARI, SEUMUR HIDUP, TAK MASUK KE OTAK, KE HATI.
Mereka belum bertaqwa, masih munafiq.
Gimana cara cepat mengatasinya?
Comment by MZ ARIFIN — 21 October 2009 @ 8:45 am
[...] Khusnul khatimah, maknanya adalah mengakhiri hidup dengan baik. Yaitu mengakhiri hidup dalam ketaatan dan ketakwaan kepada Allah SWT. [...]
Pingback by Khusnul Khotimah | Mimbar Jum’at — 31 March 2010 @ 12:20 pm