Pentingnya Keteladanan Para Pemimpin

Indah Mulya,Sosial | Saturday, July 5th, 2008

Memiliki akidah dan keimanan

Sebulan yang lalu kita menyaksikan berbagai kegiatan demonstrasi baik yang dilakukan oleh para mahasiswa maupun anggota masyarakat biasa yang menuntut kepada Pemerintah agar tidak menaikan harga BBM, dimana kita semua mengetahui Pemerintah telah menaikkan BBM, sementara kita dapat melihat kemampuan dan daya beli masyarakat kita sangat rendah akibat jumlah kemiskinan di negeri ini kian hari bukan makin berkurang tetapi justru meningkat. Kita memang ummat Islam yang terbesar di negeri ini harus menyikapi bahwa apa yang dilakukan oleh para pemimpin kita saat ini merupakan pilihan-pilihan yang sangat sulit, tetapi memang seandainya pemimpin kita mempunyai keteladanan kemauan dan kepedulian terhadap rakyat kecil, kita yakin masih amat banyak jalan keluar dari rencana pemerintah menaikkan harga BBM ini, ini memang merupakan tanggungan pemerintah, tanggungan negara dari APBN kita yang memberikan subsidi kepada masyarakat melalui BBM tersebut. Secara khusus masyarakat kita di bawah kemiskinan praktis kurang menikmati subsidi tersebut.

Kemudian bagaimana menurut ajaran Islam?, solusi yang diambil oleh ummat Islam tidak terlalu rumit dan sangat sederhana saja. Kalau kita baca di dalam Al qur’an, dimana Allah SWT memberikan jalan keluar kepada para pemimpinnya. Kita mengetahui bahwa pemimpin adalah seorang manusia biasa bukan seorang yang ma’sum, bukan nabi dan bukan orang-orang yang tidak berdosa, tetapi semuanya itu adalah manusia biasa, maka menurut hemat kita menjadi pemimpin disaat ini adalah amat sangat sulit, tetapi bila memiliki akidah yang kuat dan keimanan yang baik maka tuntutan rakyat ini masyarakat kita tidak teramat banyak. Dua orang saja para pemimpin bisa mewujudkannya dalam kepemimpinnya insya Allah pemimpin tersebut sudah dianggap sukses. Mana yang dua perkara itu ? Seperti yang dilukiskan oleh Allah dalam yang artinya “yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan“. Syarat untuk berhasil menjadi pemimpin pada saat sekarang ini dalam memenuhi kebutuhan masyarakat atau rakyatnya.

Membebaskan rakyat dari kelaparan dan kemiskinan

Bagaimana para pemimpin itu bisa membebaskan rakyatnya dalam kelaparan dari kemiskinan jangan sampai di negeri kaya raya akan sumber alamnya ada anggota masyarakat kita yang sampai kelaparan. Kalau yang kelaparan itu hanya satu orang hingga dua orang saja barang kali ini persoalan individual, tetapi apabila sudah jutaan manusia yang kelaparan, ini bukan lagi persoalan pribadi, tetapi menjadi persoalan sosial yang tentunya memerlukan penanganan-penanganan yang cerdas.

Masyarakat tidak banyak menuntut kepada para pemimpinnya, bagaimana pemimpin itu membebaskan rakyatnya dalam kelaparan dan pemimpin itu bisa memberikan rasa aman, kedamaian kepada masyarakatnya, insya Allah pemimpin yang seperti ini relatif sudah dianggap berhasil dan sukses.

Minggu-minggu yang lalu masyarakat kita begitu peduli karena pemerintah menaikkan harga BBM, tiba-tiba melakukan demonstrasi besar-besaran di berbagai daerah baik yang dilakukan para mahasiswa maupun yang dilakukan oleh masyarakat biasa itu berkaitan erat dengan kemiskinan dari pada ummat kita, karena mereka daya belinya sudah tidak mampu lagi dan sangat rendah sekali. Untuk mengukur atau melihat kaca mata kemiskinan bukan di kota Jakarta, akan tetapi jika pergi ke daerah rakyat yang susah dan berada digaris kemiskinan “inasya Allah” tidak terhitung jumlahnya dan banyak sekali.

Maka untuk menangani semacam ini kita pikir memerlukan keteladanan dari pada pemimpinnya, dimana para pemimpin itu peduli terhadap rakyat, misalnya untuk mengurangi beban yang begitu berat terhadap APBN kita dalam rangka memberikan subsidi BBM mungkin kita perlu meniru negara-negara yang sudah maju yaitu perlunya pembatasan pemilikan kendaraan. Kadang-kadang di kota-kota besar dan Jakarta ini ada orang memiliki sampai belasan jumlah kendaraannya, padahal makin banyak kendaraan kita dan makin banyak pula tanggungan pemerintah. Kenapa negara-negara maju yang bila kita hitung kekayaannya mereka lebih kaya dari pada kita, tetapi pemimpinnya peduli mereka bisa mewujudkan undang-undang itu, jika ada kemampuan pemerintah bisa terwujud dengan dibatasi jumlahnya, apalagi kita ummat yang mayoritas jumlahnya. Bukankah dalam agama Islam diperintahkan oleh Allah SWT yang sangat sederhana tidak boleh berlebih-lebihan, tidak boleh mubazir dan tidak boleh pamer. Banyak memiliki kendaraan itu mubazir dan Allah menerangkan bahwa sesungguhnya perbuatan mubazir dan berlebih-lebihan, baik berlebihan dalam harta, rumah dan kendaraan itu merupakan sahabat dan saudara syetan.

Kepedulian kepada sesama

Keteladanan bukan saja kita menuntut kepada pcmerinlah saja, akan tetapi para pengusaha, para orang-orang yang diberikan kelebihan rejeki dari Allah SWT juga memerlukan keteladanan. Untuk itu jangan kita hidup boros, dan pedulikan terhadap sesama bukankah Rasulullah SAW mengatakan “Barangsiapa yang tidak peduli kepada saudara-saudaranya terhadap persoalan-persoalan saudara-saudaranya maka orang tersebut bukan termasuk kepada ummat Muhammad SAW“.

Dalam hadits yang lain “Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga nafsunya mau mengikuti apa-apa yang telah dibawa oleh Muhammad SAW berupa Al Qur’an dan sunnah-sunnah beliau“, artinya kita jangan dulu mengaku sebagai seorang mukmin orang yang telah beriman kepada Allah apabila hawa nafsu kita, kemauan kita belum tentu kepada apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Sahabat-sahabat Nabi dahulu luar biasa mereka dalam memberikan keteladanan, maka perilaku sahabat-sahabat nabi sampai kiamat tidak bisa ditandingi oleh generasi apapun, karena mereka dalam ber-Islam memang total mencontoh sepenuhnya apa yang dimiliki oleh Muhammad SAW.

Salah satu contoh bagaimana keteladanan sahabat-sahabat dalam menyikapi Islam ini. Dalam salah satu kisah pada suatu hari Rasulullah SAW pernah melamar seorang gadis yang bernama Zaenab binti Zahsi ra, nabi melamar gadis ini hendak dijodohkan kepada anak angkatnya bernama Zaid bin Kharisah ra, dilamarlah oleh Rasulullah SAW. Sebagai manusia biasa tentu Zainab juga mendambakan seorang calon suami yang kaya, yang tampan, yang memikat dan lain sebagainya, mungkin karena Zaid bin Sabit ra adalah keturunan orang kulit hitam sudah barang tentu hitam itu kurang tampan, tidak punya materi. Ketika itu Zaenab itu menolak lamaran dari Rasulullah SAW, pada saat Zaenab menolaknya tiba-tiba turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW yang isi ayat itu dalam surat Al Ahzab ayat 36 yang artinya “Dan tidak pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata“.

Begitu ayat ini turun kemudian dibacakan oleh Rasulullah SAW kepada Zaenab binti Zahsi ra, yang tadinya menolak lamaran Rasulullah SAW yaitu Zaid bin Kharisah ra, hendak dijodohkan kepada Zaenab begitu mendengarkan ayat tersebut. Kemudian sikap menerima dengan ucapan saya mendengarkan ayat Allah ini dan sayapun mentaatinya.

Sedemikian pasrahnya orang-orang yang terdahulu begitu mereka mendengarkan Islam, mendengarkan ayat-ayat Al Qur’an mereka tidak bisa membantah, walaupun awalnya mereka menolak dan awalnya mereka membantah mungkin karena belum turun wahyu dan begitu Al Qur’an diperdengarkan mereka langsung mentaati.

Memang hal ini di negeri kita belum bisa diwujudkan, kita mengaku beragama Islam, bahkan ummat Islam yang terbesar tetapi kita amat sulit untuk mentaati isi Al Qur’an terutama yang berkenaan dengan keteladanan. Seandainya para pemimpin kita ada seorang ustadz memberikan penjelasan agama, memberikan penerangan kepada mereka dengan dalil-dalil, karena mereka beragama Islam dan beriman kepada Allah SWT, seandainya dalil-dalil itu langsung mereka katakan dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, insya Allah bangsa ini kita yakin dengan waktu yang fidak terlalu lama kita sudah akan bangkit.

Jika ada kepedulian dan keteladanan dari pada ummat Islam terutama kepada para pemimpin kita, mudah-mudahan tidak lama lagi bangsa kita mampu sebagai pemimpin dunia ini, dengan catatan kita kembali kepada Al qur’an dan Sunnah tunduk had kita dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Amin ya Robbal alamin.

Sumber : Indah Mulya, Edisi No. 479 Th VI – 29 Juni 2008

Related Posts with Thumbnails



Related Articles

  • No Related Post

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment