Meminta Maaf kepada Orang yang Sudah Meninggal Dunia

Akhlaq,Ibadah,Sosial,Syariat | Wednesday, September 23rd, 2009
kubur

kubur

Pertanyaan:

Sampai adik saya meninggal dunia, saya sebagai saudara tertua tidak melakukan pembagian waris secara adil. Sekalipun adik saya itu karena keperluannya pernah beberapa kali meminta, saya tidak pernah menanggapinya sebagimana mustinya sehingga akhirnya disaat adik tersebut sakit keras, ketika saya membesuknya di rumah sakit, dia berkata dengan pelan : “Bang, apa yang saya tidak dapat hak saya didunia, akan saya tuntut di akhirat nanti”.

Saya terkesiap dengan ucapannya itu, dan semenjak itu terasalah oleh saya betapa selama ini saya telah menzalimi adik-adik saya dalam soal menguasai harta waris yang seharusnya sudah saya pecah warisnya dua puluh tujuh tahun yang silam.

Nggak lama sesudah itu adik saya meninggal dunia. Ucapannya itu selalu terngiang-ngiang ditelinga. Kemudian dengan seadil-adilnya harta waris itu saya bagi, hak adik saya itu telah saya berikan kepada anak-anaknya yang menjadi ahli warisnya. Begitu juga adik-adik yang lain yang masih hidup sama menikmati harta waris sebagaimana mustinya.

Dari adik-adik saya empat orang yang masih hidup, saya dapatkan mereka tidak terlalu gembira dengan pembagian waris yang didapatnya, karena mereka hanya menyatakan : “Sayang sekali terlambat, sehingga abang kedua sampai meninggal dunia tidak mencicipi harta waris orang tua kita”.

Atas kejadian itu saya bertanya kepada ustadz guru majelis taklim kami secara empat mata. Menurut beliau saya menzalimi adik-adik saya selama puluhan tahun. Untuk itu saya perlu meminta maaf dan ridhanya dari mereka yang masih hidup.

Nasehat ustadz tersebut telah pula saya lakukan. Semua adik-adik saya yang masih hidup, sekalipun dengan berat hati telah memaafkan saya. Tapi yang menjadi masalah bagaimana saya meminta maaf dan ridhanya dengan adik saya yang sudah meninggal dunia itu?

Dalam hal lain dalam pergaulan hidup ini, saya sendiri juga pernah melakukan kesalahan yang besar terhadap rekan bisnis dagang saya sehingga dia rugi dan bangkrut. Juga saya pernah menghianati kepercayaan orang yang memberi hutang kepada saya, yang hutang itu tidak saya bayar, sekalipun sebenarnya saya sudah mampu membayarnya.

Dan sekarang semua orang tersebut sudah meninggal dunia. Kini saya insyaf bahwa apa yang saya lakukan dahulu itu adatah suatu kesalahan yang besar, yang akan menjadi masalah besar bagi saya di akhirat kelak.

Maka disaat hari tua ini, ketika umur mendekati 70 tahun, saya menyesali apa-apa yang saya perbuat dimasa lalu itu, yang telah mendatangkan kesulitan dan penderitaan bagi orang lain. Tetapi ketika saya ingin meminta maaf dan ridhanya orangnya sudah meninggal dunia. Apakah yang bisa saya perbuat ?

Jawaban:

Para arifin (orang-orang arif) menyatakan sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna. Tapi tidak demikian halnya dengan saudara penanya sesal kemudiannya masih berguna, karena masih akan menuntun langkah-langkah disisa umur untuk memperbaiki kesalahan. Beruntunglah orang yang berumur panjang yang sempat insyaf, taubat dan memperbaiki kesalahan. Semoga saudara penanya termasuk orang yang beruntung itu.

Dalam ajaran agama Islam perbuatan dosa itu ada dua macam. Kesatu, dosa kepada Allah SWT. Kedua, dosa kepada sesama makhluk Allah SWT.

Dosa kepada sesama makhluk Allah SWT terbagi dua lagi. Kesatu, dosa kepada sesama manusia. Kedua, dosa kepada selain manusia. Misalnya dosa kepada hewan. Seperti mengikat kucing, dan tidak memberinya makan, sehingga kucing itu mati kelaparan.

Dosa kepada Allah SWT meminta ampunnya kepada Allah SWT, Sedangkan dosa terhadap sesama manusia, menyelesaikannya adalah dengan meminta maaf dan ridhanya dari orang yang kita berdosa kepadanya. Sedangkan dosa kepada hewan adalah dengan menyesalinya, serta ditebus dengan perbuatan baik.

Dosa kepada Allah SWT yang mengampuninya ya Allah SWT. Sedangkan dosa kepada sesama manusia adalah dengan meminta maaf dan ridhanya. Kalau manusia yang didosai masih hidup dan jelas alamatnya, maka masalahnya adalah mudah yaitu dengan mendatanginya dan meminta maaf dan ridhanya! Tapi, kalau yang bersangkutan sudah meninggal dunia, atau tidak ketahuan dimana tinggalnya, sehingga tidak bisa diketemukan orangnya, maka persoalannya menjadi musykil.

Seperti dikisahkan didalam satu hadis Rasulullah SAW : “Barangsiapa yang mempunyai kezaliman kepada saudaranya mengenai hartanya atau kehormatannya, maka diminta dihalalkanlah kepadanya dari dosanya itu sebelum datang hari dimana nanti tidak ada dinar dan dirham (hari kiamat), dimana akan diambil dari pahala amal kebaikannya untuk membayarnya. Kalau sudah tak ada lagi amal kebaikannya, maka akan diambil dari dosa orang yang teraniaya itu lalu dipikulkan kepada orang yang menganiaya itu ” (HR. Imam Bukhari).

Dosa terhadap sesama manusia itu ada dua golongan. Kesatu, terhadap hartanya. Kedua, terhadap kehormatannya.

Dosa mengenai harta, disepakati hendaklah dikembalikan atau diserahkan dalam keadaan sebaik-baiknya kepada pemiliknya. Atau diganti dengan barang yang lebih baik. Atau kalau tidak mampu mengembalikan dan mengganti hendaklah meminta maafnya dan ridhanya.

Kalau orangnya sudah meninggal dunia, hendaklah diserahkan kepada ahli warisnya. Kalau tidak ketahuan dimana ahli warisnya hendaklah diwakafkan atas namanya untuk kemaslahatan agama dan masyarakat, dengan niat menitipkannya kepada Allah SWT sebagai pembayar dosa tersebut, demikian fatwa dan pendapat lmam Ghazali.

Adapun terhadap dosa atas sesama manusia yang bukan mengenai hartanya, misalnya mengenai kehormatannya, apakah pernah memfitnahnya, atau memakinya, atau menghinanya, kalau mungkin hendaklah dengan meminta maaf dan ridhanya. Itulah cara yang utama dan terbaik.

Kalau tidak mungkin, karena orangnya sudah meninggal dunia atau tidak diketahui tempatnya, atau akan mengakibatkan huru hara, hendaklah dengan berendah diri dihadapan Allah SWT, seraya menyesali dosa yang diperbuat dan bertaubat, serta bersedekah atas nama yang bersangkutan dengan niat memohon kepada Allah SWT supaya pahala dari amal kebaikan itu cukup kiranya untuk membayar dosa yang diperbuat.

Karena itu pergunakanlah hari raya iedul fitri untuk bersilaturrahmi dengan semua sanak famili, teman kerabat, meminta maaf atas segala kesalahan dan dosa secara umum. Atau berkirim surat yang menyatakan meminta maaf kepada semua pihak.

Sumber : Buletin Dakwah Al-Huda, No. 1175 Tahun ke-23 – 12 Juni 2009

Related Posts with Thumbnails



Related Articles


7 Comments »

  1. saya mmempunyai cerita saya sendiri saya sering sekali memainkan hati sseorang laki” saya mempunyai pacar dan saya telah menghianati nya dengan saya berpacaran dengan orang lain,saya telah banyak mmembohongi perasaan nya dan menghianati nya sampai akhir nya dia tau saya
    mmpunyai kkasih lain dan pada waktu itu saya bertengkar dan banyak kata” tidak sopan yang keluar dari mulut saya sampai akhir nya bberapa hari kemudian dia mninggal dunia saya benar” menyesal,bagai mana cara meminta maaf dan menebus kesalahan saya apakah dia ikhlas memaafkan saya?
    tolong jawab secepat nya.

    Comment by dian — 31 January 2010 @ 10:37 am

  2. hendaklah ibu dengan berendah diri dihadapan Allah SWT, seraya menyesali dosa yang diperbuat dan bertaubat, serta bersedekah atas nama yang bersangkutan dengan niat memohon kepada Allah SWT supaya pahala dari amal kebaikan itu cukup kiranya untuk membayar dosa yang diperbuat

    Comment by unduk — 10 February 2010 @ 2:58 pm

  3. baru tau aqu dy mninggal oiia karna apa dy mninggal

    Comment by dendy — 6 January 2011 @ 7:37 pm

  4. mohon pencerahan,saya pernah melakukan kekhilafan.saya seorang suami yg ditinggal istri bekrja di luar negeri.selama ditinggal istri ,saya pernah menjalin hubgn dgn gadis dan pernah mlakukan layaknya suami istri dan saya mengaku lajang kpdnya dan kelurgnya.sampai akhirnya saya mengaku terus terang kepadanya bahwa aku udh berkeluarga.

    saya memutuskan harus kmbali ke keluarga saya dan meninggalkan si gadis. dia tidak terima , dia tetap ingin saya menikahinya karena dulu pernah berjanji akan menikahinya. dia ingin saya menceraikan istri saya. saya udah meminta maaf kpdnya berkali2 lwt telpon dan sms bahwa saya tidak bisa meninggalkan kelrga saya akan berapa bnyk dosa lagi yang akan saya tanggung bila saya meninggalkan keluarga saya. dia tetap menuntunt janji saya bahkan kelak sampai matipun dan di akheratpun dia tetap akan menuntut janji saya.

    saya bener2 mrasa berdosa, saya bener2 dihantui rasa bersalah. saya bener2 bingung memilih dia atau keluarga saya . terus terang saya masih mencintainya tapi jika saya berterus terang ke istri untuk menikahinya jelas amat mustahil istri menerima. akhirnya saya bulatkan tekad untuk memilih kluarga saya dan mencoba meminta maaf padanya.tapi jawabannya tetap sama sampai di akheratpun dia akan tetap menuntut tapi permohonan maaf saya masih lewat telpon dan sms.karena bila saya datang kerumahnya saya takut akan menerima kekerasan dari kelurganya atau malah memperbesar sisa rasa sayang saya kepadanya. saya bener2 menyesal dan saya bener2 ingin memohon maaf padanya dan kluarganya tapi gimana cara yang paling tepat dan baik. Mohon jawabannnya. Tolong bantu saya. saya bener2 di hantui dosa besar. tolong dijawab/dibalas dengan sesegera mungkin.

    Comment by antok — 5 February 2011 @ 2:33 am

  5. @antok: apabila pak antok sudah meminta maaf dengan sebenar-benarnya namun yang bersangkutan tetap enggan memberi maaf, cobalah untuk mendoakan beliau semoga Allah memberi beliau kebaikan dan membukakan hati beliau sehingga bersedia memberikan maaf.
    cobalah tunggu beberapa waktu lamanya, karena kadang-kadang orang yang merasa sangat sakit hati terasa sulit untuk memberikan maaf. Namun seiring berlalunya waktu, semoga Allah memberikan kelapangan hati sehingga lebih mudah untuk memberi maaf.

    Comment by unduk — 5 February 2011 @ 6:31 pm

  6. Saya minta maaf kepada semuanya

    Comment by Jimbrong — 11 March 2011 @ 8:04 am

  7. assalamualaiqum pak ustad. . .
    Pak ustad ibu saya sudah meninggal pada tahun 2006. Dan meninggalnya karena minum racun, apa yg harus sy lakukan? Waktu itu ibu sy dan ayah saya marah dngn saya tp sy tdk menghiraukan mereka karena sy lelah. . .dan sy merasa mexesal karena belum membahagiakan ibu sy. . .apa kah dosa ibu saya bisa di ampuni? Dan apa yg hrus saya lakukan? Trmaksg pak ustad.

    Comment by jay — 24 April 2012 @ 3:02 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment