Menggapai Ampunan dari Allah SWT.

Indah Mulya | Wednesday, May 21st, 2008

Rahmat dan kasih sayang mllik Allah

Allah SWT telah mengingatkan dalam Al qur’an surat Al Hijr ayat 49 dan 50 yang artinya “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Akulah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang, dan sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih“.

Makna ayat tersebut di atas dijelaskan bahwasanya Allah SWT sangat Pengasih dan Penyayang jauh lebih kasih dan lebih sayang dari siapa saja yang berhati kasih sayang dan Allah juga menjelaskan betapa siksa dan azab Allah itu luar biasa pedihnya tidak akan mungkin satupun makhluk dapat menanggungnya.

Apabila kita mencoba untuk menguak dan merenungkan sebab-sebab yang melatarbelakangi turunnya ayat tersebut, dimana dalam sebuah hadits , diriwayatkan bahwasanya suatu saat Rasulullah SAW berjalan melewati sekelompok sahabat-sahabat yang sedang sendau gurau dan bersenang-senang, tertawa sesamanya kemudian beliau menegur mereka, apakah mereka bersenang-senang menyebut-nyebut surga tidak sadarkah kalian bahwa neraka itu berada di depan kalian itu semua, maka saat itulah Malaikat Jibril turun dan menyampaikan salam kemudian melanjutkan, ya Muhammad, kenapa hamba-hamba-Ku itu menjadi kecewa dan berputus asa, maka saat itu pula ayat tersebut diturunkan, tolong sampaikanlah Muhammad kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Aku adalah dzat Yang Maha Pengasih jauh dari siapa saja yang berhati kasih.

Ayat tersebut memberikan optimisme dan harapan bagi kita bahwasanya tidak ada satupun dosa yang tidak diampuni oleh Allah SWT, kecuali dosa syirik, jika kita memohon ampun. Hal ini ternyata diperkuat oleh Hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim yang artinya “Ketika pertama kali Allah SWT menciptakan makhluk ini dan ketentuan-ketentuan-Nya yang ditulis di atas arsy, bahwasanya rahmat dan kasih sayang-Ku itu mendahului kemarahan dan siksa“. Perlu disadari bersama bahwa persoalan kesalahan, dosa dan kemaksiatan yang kita lakukan, adalah merupakan ujian karena tidak akan ada satupun manusia yang lepas dari dosa. Rasulullah SAW bersabda “demi dzat yang jiwaku berada dalam genggamannya“, ini merupakan sumpah yang menunjukkan pentingnya penjelasan yaitu “sungguh seandainya kalian ini tidak ada satupun yang berbuat dosa, kalian manusia suci semuanya dan kalian pula dibinasakan oleh Allah SWT dan akan diganti oleh manusia-manusia yang berlumuran dosa, tetapi mereka itu menyadari dan memohon ampun kepada-Nya“.

Mendapatkan pintu taubat

Kalau kita pahami bahwa sebenarnya dosa dan kesalahan itu wajar terjadi, tetapi yang terpenting bagaimana kita menyadari dosa dan kesalahan itu kemudian mengakuinya dan mohon ampun serta tunduk di hadapan Allah SWT.

Sebelum kalian ini pada zaman Bani Israil ada seorang laki-laki yang terkenal luar biasa bejadnya, besar sekali dosa yang telah diperbuat salah satu diantara kesalahannya itu, dia telah membunuh 99 orang tanpa ada kesalahan. Tetapi kemudian orang tersebut menyadari kesalahan dan berusaha untuk menggapai ampunan dari Allah hanya tidak mengetahui bagaimana caranya untuk menghapus dosa-dosa yang telah dilakukan, kemudian anak laki-laki itu berjalan untuk mencari petunjuk dan bertanya dalam rangka menggapai ampunan Allah SWT. Akhirnya, pemuda itu bertemu dengan seorang pendeta Yahudi. Diceritakan seluruh kebejatan yang dilakukannya, kemudian bertanya masih adakah pintu taubat untuk saya, mendengar perkataan pemuda tersebut pendeta Yahudi terperangah dengan ucapan tidak ada jalan untuk kamu, karena satu orang engkau bunuh balasannya adalah nyawa kamu, tetapi bagaimana dengan 99 orang yang kamu bunuh?. Lalu pemuda itu menjadi marah dan emosi kemudian pendeta Yahudi itu dibunuhnya sehingga genap menjadi 100 orang.

Tetapi kembali pada akhirnya beliau tertunduk lesu, bukankah aku ini ingin menebus dosa-dosa ku, tetapi kenapa justru menambah dosa lagi. Adakah orang yang menunjukkan memberikan solusi kepadaku bagaimana caranya saya mendapatkan pintu taubat dan ridho Allah. Pemuda itu berjalan dan akhirnya bertemulah
dengan seorang ulama, kemudian diceritakan sambil menangis apa yang telah terjadi pada diri pemuda tersebut, bahkan termasuk satu orang pendeta Yahudi yang dibunuhnya. Lalu pemuda itu bertanya masih adakah pintu taubat dan ampunan dari Allah untuk ku. Kemudian ulama itu menjawab dengan tegas bahwa selama 24 jam pintu taubat itu selalu terbuka dan berangkatlah kamu, tinggalkan masa lalumu, tinggalkan komunitas dimana kamu berada, karena dikomunitas yang lalu itu tidak baik dan akhirnya pemuda itu berangkat ke sebuah kelompok dan untuk bergabung dengan mereka, karena disanalah akan bertemu dengan kaum-kaum yang sholeh dan selalu berbuat kebaikan. Kemudian pemuda ini berjalan menemui kelompok yang dijadikan ulama tadi ditengah perjalanan Allah menentukan ajalnya, maka saat itu pula sang hamba itu meninggal dunia dalam perjalanan sebelum sampai di tempat tujuan dia bertaubat. Kematian pemuda tersebut membuat Malaikat pembawa rahmat dan Malaikat yang tugas memasukkan makhluk yang berdosa ke dalam neraka merasa berkepentingan untuk menyeret dan melemparkan manusia-manusia yang berbuat dosa masuk ke neraka jahanam, akan mengangkatnya turun pula Malaikat Rahmat, yaitu Malaikat-malaikat yang khusus bertugas memberikan rahmat, ampunan dan pahala dari Allah SWT. Kedua Malaikat itu mengklaim dirinya yang berhak atas orang yang meninggal dunia di dalam perjalanan tadi.

Meraih ampunan dan maghfiroh

Pada saat itu Allah menugaskan Malaikat Jibril untuk tahqim menghukumi mana yang paling berat dan mana yang paling berhak dari kedua Malaikat ini. Kemudian Malaikat Jibril mengukur dari tempat sejak pertama kali berangkat sampai ditempat kematian, ternyata diketahui dari tempat berangkat sampai menemui kematian lebih panjang sedepa dibanding sisa perjalanan. Malaikat azab mengatakan ini merupakan bagian saya karena sepanjang hidupnya tidak pernah melakukan sedikitpun kebaikan kecuali hari-harinya selalu dipenuhi dengan noda-noda hitam, Malaikat Rahmat mengatakan walaupun begitu dia itu sudah berupaya melakukan kebaikan, sayangnya ketentuan
sudah Allah takdirkan lain, seandainya diberikan kesempatan niscaya orang ini akan menjumpai Robb-Nya dengan penuh kasih sayang.

Ketika disampaikan kepada Allah SWT, bahwasanya panjang perjalanan yang sudah ditempuh lebih banyak dibanding sisa perjalanan. Allah SWT berfirman “wahai Malaikat Rahmat kamu yang lebih berhak bahwa hamba-Ku untuk menikmati Rahmat dan anugrah-Ku, silahkan engkau masuk ke dalam surga-Ku“.

Apa yang disebutkan oleh Rasulullah SAW sangat layak untuk dijadikan pegangan di dalam meniti hari-hari yang tersisa ini dan kita perlu tahu bahwasanya Rasulullah SAW bukan hanya sekedar bisa bercerita apalagi hanya menyuruh tetapi lebih dari itu Beliau telah mencontohkan prilaku yang konkrit di dalam kehidupan beliau. Perlu disadari bahwa dosa-dosa yang kita lakukan seberapapun besarnya, kalau kita mau sujud dan mohon ampun, yakin Allah SWT akan mengampuni-Nya. Taubat dan harapan itu ibarat pelampung dan timah pemberat, maksudnya bahwa pelampung berfungsi untuk tidak meleset kesombongan karena kebaikan-kebaikan kita, dan timah sebagai pemberat agar kita tidak tenggelam dalam pesimistis.

Untuk itu marilah kita tundukkan kepala untuk mendekatkan diri agar Allah SWT berkenan memberikan Rahmat dan kasih sayang. Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami dan terimalah amal ibadah, kemudian masuklah ke dalam surga-Mu dengan Rahmat dan kasih sayang-Mu, bukan karena dengan amal ibadahku. Amin ya Robbal alamin.

Sumber : Indah Mulya, Edisi No. 472, Th. VI 11 Mei 2008

Related Posts with Thumbnails



Related Articles

  • No Related Post

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment