Membangun Harapan

unduk | Mimbar Jum'at | Sunday, May 18th, 2008

Dalam kehidupan global dan penuh persaingan, ternyata dapat meningkatkan jumlah
orang yang stress bahkan bunuh diri. Padahal al-Quran sudah mengingatkan bahwa prilaku seperti itu dilarang Allah SWT.

Allah S WT berfirman,” Hal anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir“. (QS. Yusuf [12]: 87)

Ayat di atas menjelaskan bahwa putus asa atau putus harapan dilarang AUah SWT. Dikatakan bahwa hal itu merupakan perbuatan orang kafir. Artinya orang yang beriman mestinya tidak berputus asa. Di sini jelas sekali bahwa iman menghasilkan harapan dalam hidup. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana kita bisa membangun harapan dalam hidup. Dalam kaitan ini Islam memberikan beberapa konsep kepada kita. Diantara konsep itu ialah:

Tawakkal

Tawakkal berdasarkan hadits Rasulullah Saw adalah menyerahkan segala urusan setelah berusaha atau berikhtiar kepada Allah SWT. Rasulullah Saw menegur seorang sahabat yang membiarkan untanya berkeliaran padahal ia pergi shalat. Beliau berkata, “Ikatlah dahulu untamu baru bertawakkal”.

Dengandemikian arti tawakkal bukanlah berdiam diri tanpa ada usaha. Bertawakkal artinya keharusan melakukan ikhtiar yang sudah ditetapkan Allah sejauh yang kita pahami demi mencapai hasil optimal.

Ali bin Abi Thalib ra. pada suatu hari menemukan orang-orang yang sedang berkumpul di masjid dan bertasbih. Setiap hari begitu. Kemudian Ali ra, bertanya kepada mereka, “Kamu ini sedang apa?”. Mereka menjawab, “Kami Ini orang yang tawakkal”. Mendengar jawaban mereka Ali ra. lantas berkata, “Tidak, kamu ini orang kaum yang sedang menunggu-nunggu makanan datang. Kalau kamu ini orang yang betul-betul tawakkal, maka apa hasil tawakkal kamu ini?” mereka menjawab, “Kalau kami menemukan sesuatu yang bisa kami makan, maka makanlah kami, dan kalau tidak ada yang dapat kami makan, ya tidak apa-apa”. Ali ra. kemudian berkata, “Begitu pula yang dilakukan oleh anjing-anjing kami”. Jadi, tawakkal yang benar adalah berusaha terlebih dahulu baru kemudian diserahkan kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman, “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya“.QS.Ali Imran[3]: 159).

Dengan demikian, orang yang selalu menggantungkan hasil akhir kepada Allah ia tidak akan putus harapan, ia selalu optimis. Karena ia tahu bahwa Allah akan selalu memberikan yang terbaik buat hamba-Nya.

Berpikir Positif terhadap Allah

Salah satu akhlak Islam adalah husnuzhzhan (positive thinking) kepada Allah SWT. Kebalikan dari husnuzhzhan adalah su’uzhzhan (negative thinking). Konsep ini masih sangat terkait dengan dengan konsep di atas.

Dalam kehidupan ini, kita sering dihadapkan kepada masalah-masalah yang tidak diinginkan. Seringkali sesuatu yang menurut perhitungan secara lahir tercapai, tetapi pada kenyataannya tidak. Lamaran ditolak, anak yang sudah bekerja di PHK dari tempat kerjanya, anak sakit-sakitan terus, dan lain-lain. Padahal, menurut klaimnya ia selalu berdo’a kepada Allah SWT agar dijauhkan dari semua itu dan dimudahkan dalam segala urusan dunianya. Dalam kondisi ini Islam tetap mengajarkan kepada kita agar tetap tabah menerimanya dan harus berbaik sangka kepada Allah SWT. Karena boleh jadi Allah punya maksud lain dan akan memberikan manfaat yang banyak di balik semua peristiwa.

Allah SWT beriman, “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal ber-perang itu adalah sesuatu yang kamu bend. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui“. (QS. Al-Baqarah [2]: 216).

Imam Ja’far Shadiq ra. peghulu para wali Allah berkata, “Seorang kekasih Allah berdo’a kepada-Nya. Dia (Allah) berkata kepada salah satu malaikat-Nya, ‘Penuhi keperluan hamba-Ku, tetapi jangan segera, karena Aku senang mendengar rintihannya’. Seorang musuh Allah berdoa kepada-Nya, Dia (Allah) berkata kepada salah satu malaikat-Nya, ‘Penuhi keperluannya dengan segera karena Aku benci mendengar suaranya’ “.

Jika do’a kita sulit dikabulkan, mudah-mudahan sebagai indikasi bahwa kita ini termasuk kelompok yang dicintai Allah dimana Allah senang mendengar rintihan kita.

Sumber : Buletin Mimbar Jumat, No.19 Th. XXII 9 Mei 2008

Related Posts with Thumbnails



Related Articles

  • No Related Post

2 Comments »

  1. [...] dan konsekuensi (tanggungan) dari suatu niat ataupun keinginan yang menggebu (azam) demi menggapai harapan, cita-cita maupun impian [...]

    Pingback by Kesungguhan | Mimbar Jum’at — 2 December 2009 @ 11:47 pm

  2. [...] bilang, salah satu hal yang dibutuhkan manusia untuk bisa survive adalah memiliki harapan. Betul, sih… tapi kalau harapannya terlalu muluk, bisa-bisa kita stres sendiri karena [...]

    Pingback by Amunisi Meraih Mimpi – Pelangi Di Seberang Mentari — 1 April 2010 @ 12:34 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment