Kebangkitan Islam dan umat Islam di abad 15 H

unduk | Mimbar Jum'at | Sunday, April 27th, 2008

Pertanyaan :

Tahun 1980, dua puluh sembilan tahun yang lalu, sebagai seorang tokoh mahasiswa dari salah satu ormas ke-mahasiswaaan Islam saya terlibat aktif dalam berbagai kegiatan menyambut datangnya abad 15 H. Berbagai seminar dan pameran waktu itu diseleng-garakan. Puncak kegiatannya diseleng-garakan di “istana negara” dengan pidato presiden.

Saya kira ustadz tentu juga hadir pada acara-acara menyongsong abad 15 H itu, karena saya kenal ustadz pada waktu itu sebagai mantan wartawan dari majalah berita Islam yang terkenal serta menjadi pimpinan pusat dari ormas kepemudaan Islam.

Tentu ustadz juga ingat suasana pada waktu itu, yaitu suatu suasana yang sangat optimis bahwa abad 15 H akan menjadi “abad kebangkitan” bagi Islam dan bagi umat Islam diseluruh dunia. Banyak alasan pada waktu itu untuk optimis:

  • Pertama, keadaan Indonesia saat itu terasakan sangat maju dan sangat baik.
  • Kedua, Amerika Serikat baru saja kalah di Vietnam, sehingga terlihat sekali Amerika Serikat memerlukan bantuan dan dukungan dari dunia Islam.
  • Ketiga, Mesir menang perang atas Israel. Sehingga membangkitkan kembali ke-banggaan Arab yang terpuruk semenjak tahun 1949.
  • Keempat, pemimpin Palestine Yaser Arafat diterima untuk berpidato di PBB. Suatu kejadian yang sangat momentum dan historis, karena sebelumnya Yaser Arafat dianggap sebagai teroris.
  • Kelima, kegiatan menyongsong abad 15 H bukan saja diadakan dinegara-negara Islam, melainkan juga diselenggarakan di Inggeris dengan sebuah festifal Islam yang dibuka oleh Ratu Elizabeth dan dihadiri oleh tokoh Islam dari seluruh dunia, termasuk dari Indonesia, dimana saya terpilih berangkat ke London menghadiri festival yang sangat bersejarah itu.

Seluruh dunia Islam pada waktu itu bergairah sekali untuk menjadikan abad 15 H sebagai abad kebangkitan Islam dan kebangkitan umat Islam. Bahkan di Indonesia melalui tokoh-tokohnya seperti Buya Hamka, KH. Achmad Syaichu, Pak Natsir, PakAnwar Haryono, Pak Osman Raliby dan lain-lainnya yakin betul bahwa kebangkitan umat Islam di abad 15 H akan dipelopori oleh Indonesia.

Namun sekarang…… setelah abad 15 H itu kita jalani selama 29 tahun, tak. ada lagi terdengar bahwa abad 15 H ini adalah abad kebangkitan Islam dan kebangkitan umat Islam, Di Indonesia hal itu sepertinya tidak ada yang membicara-kannya lagi. Juga hal yang sama keliha-tannya terjadi di negara-negara Islam yang lainnya. Bahkan yang terasakan sekarang ini adalah keterpurukan umat Islam di mana-mana. Di Indonesia sekarang ini rasanya parah sekali, kita kehilangan harapan terhadap hari depan kita, yang kelihatan hanyalah kesuraman belaka. Begitu juga di TimurTengah, masalah Palestina tak selesai-selesai. Ada lagi masalah Irak dan Libanon. Kemudian muncul masalah Afghanistan dan masalah Sudan, serta masalah di benua Afrika yang lainnya seperti Senegal, Nigeria dan Somalia yang semuanya merupakan negara-negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam.

Membaca buletin Al Huda dua nomor berturut-turut minggu lalu, mengenai kebangkitan umat Islam di Eropa yang memang saya ikut menyaksikan dalam beberapa kali kunjungan saya ke Eropa, timbul pertanyaan di dalam hati, mungkinkah kebangkitan Islam dan umat Islam itu diawali di Eropa?. Kalau di Indonesia kiranya sangat jauh dari kemungkinan?.

JAWABAN :

Pertanyaan saudara penanya, membuat saya mencoba menggali kenangan atas kegiatan pribadi saya di tahun 1979 dan 1980. Seingat saya, memang ada ikut serta pada masa awal kegiatan menyongsong abad 15 H itu. Namun, ketika saya menanda tangani Petisi 50, maka saya menjadi tidak bisa terlibat lagi, apa lagi untuk acara puncak di “istana negara” jelas saya tidak hadir. Namun sebagai seorang aktivis, saya sendiri waktu itu tergolonglah orang yang optimis bahwa abad 15 H akan menjadi abad kebangkitan Islam dan umat Islam. Bahkan saya ikut berharap dan optimis bahwa kebangkitan itu akan dipelopori oleh Indonesia sebagai negara dengan pemeluk agama Islam terbesar di dunia.

Kini, seteiah 29 tahun abad 15 H kita jalani. Terasa sekali bukannya kebangkitan yang didapati, melainkan kemunduran dan tragedi yang berturut-turut yang menimpa umat Islam diseluruh dunia. Di Indonesia sekarang ini betul sekali sepertinya tidak ada lagi tokoh Islam yang bicara tentang kebangkitan Islam dan umat Islam. Apa lagi kalau kebangkitan itu dipelopori oleh Indonesia. Saya sendiri sudah melupakannya. Pertanyaan saudara penanya menggugah kembali impian dan harapan itu.

Cita-cita itu harus dihidupkan kembali. Harapan itu harus disemai kembali. Kita janganlah dikalahkan oleh kenyataan yang pahit. Sebaliknya kenyataan dan tragedi yang menimpa hendaknya menjadi cambuk untuk berfikir keras dan untuk bekerja keras. Kebangkitan dan ke-majuan umat Islam dan agama Islam bukanlah hal yang mustahil bila kita semua bekerja untuk cita-cita yang mulia itu.

Bila diteliti dengan seksama, tentulah Indonesia saat ini tidak dapat diharapkan untuk menjadi lokomotif dari kebangkitan Islam dan umat Islam, Juga umat Islam di Eropa kiranya juga sama halnya dengan umat Islam Indonesia. Harapan atas kebangkitan itu sebenarnya tetap terletak di Timur Tengah, dikalangan bangsa-bangsa Arab dan negara-negara Arab.

Alasannya:

  • Pertama, mereka penah membangun peradaban Islam yang cemerlang.
  • Kedua, posisi mereka sebagai kawasan kaya minyak adalah kuat dalam pergulatan internasional.
  • Ketiga, persinggungan mereka dengan Eropa sudah berjalan dalam kurun waktu yang panjang,
  • Keempat, tradisi keilmuan mereka kuat. Baik keilmuan agama. Mau-pun filsafat, matematika dan kedokteran

Masalahnya mereka terperangkap dengan persoalan Palestina dan ikutannya Irak, Afghanistan dan libanon. Padahal pemimpin Palestina almarhum Yaser Arafat telah mengambil langkah besar dengan melakukan persetujuan dengan Israel untuk saling mengakui dan saling menghormati serta kesediaan untuk hidup berdampingan dengan damai dan bersahabat.

Bila negara-negara Arab cepat mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah Palestina, maka masalah-masalah lainnya tidak sulit untuk diselesaikan. Karena Libanonflrak, Afghanistan, Sudan, Simalia, Nigeria adalah perluasan dari masalah Paiestina. Bila itu terjadi, dengan kekuatan minyaknya dan tradisi keilmuan yang mereka miliki, maka sekali lagi TimurTengah, khususnya Saudi Arabia, Mesir dan Libya bisa menjadi motor kebangkitan itu.

Mari kita rumuskan hal itu secara lebih mendetail, kemudian disosialisasikan untuk dijadikan pedoman kerja besar itu.

Sumber : Buletin Dakwah Al-Huda, No. 1118, Tahun Ke-23, 18 April 2008

Related Posts with Thumbnails



Related Articles

  • No Related Post

10 Comments »

  1. [...] 1 Muharram 1431 Hijriyah ini saatnya Umat Islam melakukan introspeksi total, mengapa kebangkitan Islam yang diyakini itu tidak kunjung datang ? Sebuah pertanyaan yang [...]

    Pingback by Intervensi Manusia Terhadap Sunatullah | Mimbar Jum’at — 21 March 2010 @ 11:02 pm

  2. Kebangkitan Islam ialah kebangkitan setiap muslim untuk meraih sukses hidup fiddunya wal akhiroh. Rumus : 1. Sadar bahwa setiap diri adalah abdi Allah, bertindak untuk dan atas nama Allah. 2. Mengutamakan sholat, kemudian rukun,wajib,sunat dan mubah dan sebaliknya yang dilarang. 3. Memanfaatkan keahlian dengan ilmu dan dengan niat ibadah. 4. Membagi waktu berdasarkan waktu sholat dan memanfaatkan sebaik baiknya. 5. Setiap pekerjaan yang sudah diawali dengan bismillah harus diutamakan dan dikerjakan dengan jihad, yakni sungguh sungguh, sebab pekerjaan itu sudah diniatkan ibadah maka harus sungguh sungguh melaksanakannya.

    Comment by MIFTAHUDDIN — 9 December 2011 @ 8:25 am

  3. Kebangkitan Islam adalah kebangkitan ummatnya untuk mengutamakan sholat dan rukun Islam lainnya. Dalam kacamata kebangkitan Islam Syahadad, merupakan ruh dari motivasi atau niat utama setiap gerak, sholat merupakan pembagi waktu sbg pokok dari semua bentuk peribadatan dan puasa merupakan gemblengan mental untuk menjadi lebih baik terutama karena menyongsong turunnya kitab suci, semua itu harus selalu kita tunaikan dg upaya perbaikan. Tentang zakat. Sudah pasti bahwa zakat diperintahkan untuk memberi bukan untuk menerima. Oleh karena itu Amil tugas nomor 1 nya sebenarnya ialah merubah para mustahik menjadi muzaki. Begini. Amil itu harus, harus, dan harus dapat didirikan disetiap Masjid di Indonesia ! sebab ; mesjid punya wilayah, punya jamaah. Agar setiap masjid punya data jamaahnya, mana mustahik, mana muzaki. Jangan sampai kita di Kudus mengeluarkan zakat di Jakarta, sementara didekat rumah besarnya mustahik tidak tersentuh. Dlolim ! Penerima lembaga yang mengaku sebagai amil promosi di media masa pakai uang apa tuh ? Diumumkan di TV telah membantu bencana alam ! LO. Peserta seminar atau apapun namanya yang membahas soal zakat hanya mewakili dirinya sendiri masing masing, tidak pernah mengundang mustahik dan tidak ada yang mewakilinya tidak ada yang tahu suarahatinya ! Amil zakat di Indonesia harus menunggu sistem pemerintahan kehalifahan ! Halo ummat Islam ! Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh ! Kebangkitan Islam bermarkaz di majid, ber awal dari masjid, dari masjid masjid Allah ta’ala !

    Comment by MIFTAHUDDIN — 20 December 2011 @ 10:17 pm

  4. Haji. Merupakan Rukun Islam. Karena merupakan rukun agama maka upaya untuk itu adalah perlu agar kita mampu semuanya. Kalaupun mampu belum tentu bisa karena kemampuan semua bentuk peribadatan adalah fadlal. Agar semua mampu maka langkah awal adalah jaga perdamaian dunia, jaga keamanan bersama. Kalau tidak aman dan perang semua tidak mampu. System kelolanya misalnya sbb. ; 1. DP jangan mahal mahal kalau sekarang cukup Rp.1 jt saja, masa tunggu 40 tahun. 2. Setiap anak sejak lahir ditabngkan ONH semampunya dan setelah balig wajib dilanjutkan semampunya. 3. Dana tabungan itu dipinjamkan secara syar’i untuk kredit usaha tanpa bunga ! Ini saja kalau diusahakan bener bener. Indonesia biidznillah jauh diatas China dan yang berperan benar benar ummat Islam ! Amerika, Israel itu kecil ! Kalau kita bangkit, amereka cs itu bangkrut. Sunnatullah itu ! Begini. Karena rukun, maka setiap Muslim wajib berangkat. Wajib ! Tapi tidak mungkin sampai di Arofah di hari Arofah semuanya, Tidak muat ! Mari kita berangkat haji jalan kaki saja dengan niat menabung satu rupiyah satu langkah dengan assumsi jarak tempuh Indonesia – Makkah al Mukarromah 30jt langkah. Yah kalaupun belum dapat fadlal ajal sudah duluan, tapi kita sudah berangkat ! Baru beberapa ayat saja dlm al Qur’ an Allah ta’ala telah mengingatkan kita bagaimana mengelola rizki. Wallahua’lam kalau nafkah dalam ayat tsb kita maknai hanya sbg shodaqoh itu terlalu sempit. Begitu pula rizki kalau hanya kita maknai uang, itupun terlalu sempit, karena rizki kita yang lebih bernilai itu jauh lebih banyak misalnya sehat, waktu, dsb. Oleh karena itu wallahua’lam seorang muttaqien itu adalah orang yang antara lain dalam mengelola keuangannya (keluar masuk) berpegang pada skala prioritas ilahiyyah. Dari mana uang didapat harus bener bener halal, dan dikeluarkan sesuai skala prioritas ilahiyyah. Jadi setiap kita terima uang ya diambil dulu dikit untuk tabungan onh, karena itu rukun Islam, baru yang wajib, nyicil utang, makan pokok, beaya pendidikan anak, dan yang sunnat dst. Jangan sampai terbalik, rokok dulu ( itu mekruh ! )

    Comment by MIFTAHUDDIN — 20 December 2011 @ 11:13 pm

  5. Urusan dunia versus urusan akherat. Para aktifis jam’iyyatul khuruj menjelaskan pada kami bahwa khuruj itu kerja agama dan bisnis itu kerja dunia. Begitu pula yang lain menjelaskan bahwa kalau dipasar, dimall itu urusan dunia dan kalau di masjid dimajlis dzikir itu urusan akherat. Memang waktu hidup itu sangat sedikit bahwa skala prioritas pilihan kita harusnya pada majelis dzikir, khuruj, dimasjid dst. Akan tetapi semua itu adalah urusan akherat sebab : 1. Kita hadir sebagai abdi Allah itu 24 jam/hari, dimana dan kapanpun kita dapat berbuat kebaikan karena Allah ta’ala. 2. Bahwa waktu hidup kita anggauta jamaah apapun, itu habis untuk profesi kalau kesibukan menyangkut profesi hanya dianggap kerja dunia kita rugi ! Dzikir di masjid itu berpahala besar, dan dzikir dikantor waktu menghitung uang negara itupun berpahala besar ! Jangan katakan ini urusan dunia dan itu urusan akherat. yang begitu itu sekuler ! Urusan dunia itu yaitu semua urusan yang tidak mempunyai implikasi keakheratan yaitu perbuatan baik (tidak berdosa) yang dilakukan karena selain Allah ta’ala(tidak berpahala). Sedangkan niat baik karena Allah ta’ala, niat jelek yang dibatalkan karena Allah taala, semua perbuatan baik karena Allah ta’ala, semua itu mendapat pahala maka semua itu adalah urusan akherat begitu juga perbuatan jelek karena apa atau siapapun walaupun bukan muslim tetap dosa dan itupun urusan akherat ! Kerja sesuai profesi kalau niatnya mencari uang semata itu urusan dunia. Kalau diniatkan ibadah jadi ‘ibadah. Kerja profesi kalau hanya diniatkan mencari uang itu rugi sebab berapapun gaji yang diterimanya tidak akan cukup untuk menebus harga waktu yang sesungguhnya jauh lebih mahal. Bahkan sesungguhnya gaji itu tidak lebih hanya agar seseorang mampu bertahan melanjutkan profesinya, yang ketika ajal tiba ditinggal semuanya. Kalau diniatkan ibadah logikanya begini ; kita diberi amanat berupa keahlian, keahlian itu mari kita bagi kita manfaatkan bersama dengan niat mengabdi kepada Allah ta’ala dengan sungguh sungguh, dengan ilmu sebaik baiknya, berharap pahala dan ridlo Allah ta’ala. Jika kita mampu berbagi produk dan jasa berkualitas dan tepat waktu, Allah taala akan mengatur rizki kita melalui mekanis pasar (misalnya). Kalau uang menjadi tujuan utama kita maka selama kita berusaha, maka uang akan selalu menjadi masalah. Kalau tujuannya ingin berbagi manfaat secara maksimal karena Allah ta’ala, mengutamakan mutu, maka uang tidak akan pernah menjadi masalah. Kalaupun kita belum beruntung tidak mengapa kita sudah dapat pahala atas terbaginya keahlian kita, BEP tentu akan cepat tercapai dan mekanisme pasar akan segera membantu kita berkat ridla Allah ta’ala. Iman sejalan dengan sukses kita semakin beriman semakin sukses !

    Comment by MIFTAHUDDIN — 21 December 2011 @ 12:15 am

  6. Suara takbir para Muadzdzin yang mulia harus didengar sebagai suara jihad untuk sebuah kebangkitan ! Bangkit untuk memanfaatkan waktu waktu kita secara tepat waktu, disiplin dan efisien. Suara itu sudah tersedia, rutin setiap saat ! Kita hanya butuh ganti membran atau kacamata lama pada yang baru yakni kacamata kebangkitan kita ummat Islam ! Simpel kan. Ubah mustahik jadi muzaki sebab terpendam didalam diri mereka potensi besar yang kita tidak tahu ! Dan jangan lupakan diri kita sendiri. Kita semua harus jadi motivator untuk sesama dan jangan lupakan diri kita sendiri. Adilkan ! Kita berharap siapapun yang terbaik untuk jadi motivator ayo tampil dalam semangat kebangkitan Islam ! Dijamin oleh Allah tidak akan rugi sampean !

    Comment by MIFTAHUDDIN — 21 December 2011 @ 5:42 am

  7. Anda seorang pengusaha mikro, saya super super super mikro, setelah saya gunakan kaca mata yang lebih jernih yang pas buat saya yakni kacamata kebangkitan Islam, saya merasa lebih PD sampai berani menulis segala. Apalagi Anda ! Jangan katakan pekerjaan saya mudah dikendalikan walaupun kecil, kalau kalkulasi selalu hampir sama dengan harga jual. Saya hampir merasa bosan dengan pekerjaan yang saya tekuni lebih dari 40 tahun dengan sejumlah karyawan yang sangat setia pada pekerjaannya terutama jika hanya diniatkan mencari uang ! Dengan kacamata kebangkitan Islam, terasa lebih bersemangat lagi lebih muda lagi, lebih bergairah lagi baik bagi saya maupun karyawan saya. Begini. Dulu setiap terjadi inflasi, penyesuaian upah selalu datang dari karyawan. Sekarang tidak lagi. Karena niat ibadah, ada gairah ada ketulusan, ya ternyata mekanisme pasar berfihak pada kita. Dulu mencetak genteng saya anggap sebagai urusan dunia karena urusan dunia maka harus diurus cara dunia. Bisnis is bisnis kata orang yahudi. Tiap hari cetak genteng 300 biji ada sedikit sisa, tapi kalau waktu jemur kena hujan, habis termasuk sisanya. Bosan tapi mau apalagi. Sehari kalau bosan itu rasanya sangat panjang seperti berpuasa ! Dengan niat ibadah : Saya ingin berbuat baik berbagi manfaat pada sesama saya berharap pahala terbaik dari Allah, usai sholat subuh bismillah niat karena Allah ingin membuatkan genteng terbaik berharap pahala Allah ta’ala. E belum lelah sudah dluha. kerja lagi, belum bosan sudah dluhur. kerja lagi sebentar sudah takbir adzan asar, kerja sampai magrib tidak apa apa sebenarnya karena sudah sholat asar. Dulu ada yang mengatakan bahwa jika orang bekerja lebih dari 7 jam maka jam bisa lebih tapi kapasitas perjam akan turun. Dengan manajemen waktu berdasarkan waktusholat hal itu tidak berlaku. Saya merasa patut berharap pahala dari Allah SWT karena saya selama 40 tahun telah membuatkan genteng untuk atap rumah orang sejumlah 1400 rumah yang dapat dihuni selama 2 generasi ! Upah yang saya terima terutama hanya agar saya dapat melestarikan pekerjaan sesuai keahlian saya.

    Comment by MIFTAHUDDIN — 23 December 2011 @ 11:06 pm

  8. kebangkitan Islam menunggu hadirnya Imam Mahdi ? Imam Mahdi pasti bukan Nabi, beliau adalah pemimpin tunggal. Pemimpin adalah pilihan pemilih. Kita belum layak dipimpin oleh seorang pemimpin sebab kita ummat Islam ini terdiri dari berbagai madzhab yang belum bisa dipersatukan sehingga yang ada hanyalah pemimpin madzhab, aliran, faham, partai, negara dsb, yang semua belum dapat dipersatukan. Setiap madzhab merasa dirinya benar sekaligus merasa yang lain salah. Kita pertanyakan ; pernahkan ada seorang pemimpin madzhab yang berani menyatakan bahwa madzhabnya benar 100%/ benar mutlaq, kita yakin tidak ada. Bahkan kita yakin bahwa kalaulah diambil yang benar benar dari setiap madzhab dan dikumpulkan semuanya maka itupun belum tentu benar 100%/benar mutlaq. Kita harus menyadari bahwa kebenaran mutlaq tidak dapat dicapai tapi hanya bisa didekati. Karena Yang Maha Benar hanyalah Allah ta’ala ! Jika kita ummat Islam ingin bangkit, terbalik kalau menunggu hadirnya Imam Mahdi sebab Imam Mahdi adalah pemimpin tunggal. Kita harus bangkit dulu menggalang kerjasama jangan saling menyalahkan, cukup bagi kita jika kita punya Allah dan Rosul yang sama kita bersatu dan padu. Sebab kalau tidak maka sesungguhnya dibawah sadar kita telah menjadikan madzhab kita sebagai tuhan ! Dan ini yang terjadi sekarang ! Kita merasa kalau kita bangkit dan sangat kuat, maka sunnatullah Yahudi melemah begitu juga Amerika. Tujuan kita adalah melanjutkan risalah Rosulullah yang rohmatan lil ‘alamin. Jika kita menjadi sangat kuat, sesuai prinsip tsb yang harus dipegang secara konsisten maka justru kita harus berbuat baik pada mereka ! Tanpa dendam ! Mampu tidak ? Kalau tidak mampu maka ummat Islam tidak pernah akan diberikan kekuatan oleh Allah ta’ala. Ini adalah prinsip dasar yang harus difahami dulu ! Atau kalau Allah ta’ala menghendaki orang orang Ameerika menjadi Muslim dan mereka yang bangkit dan kita yang tidak konsisten ini yang menjadi beban kebangkitan Islam itu sendiri ? Jadi buat apa kita selalu membicarakan mereka sampai lupa waktu, lupa memikirkan kebangkitan kita, lupa mencari konsep yang bagus untuk kebangkitan kita ? Buang buang waktu saja.

    Comment by MIFTAHUDDIN — 25 December 2011 @ 2:38 pm

  9. Tujuan kebangkitan Islam itu apa sebenarnya ? Kebangkitan Islam sebenarnya adalah semangat, cita cita, harapan yang disertai usaha tentunya untuk mencapai tujuan Islam. Tujuan Islam itu persis tujuan al Qur’an yakni sebagai petunjuk jalan yang lurus bagi orang orang yang bertaqwa agar menjadi orang orang yang sukses ( muflihuun ). Sukses ? Sukses dalam pengertian pertama tentunya ialah jika harapan, do’a dan usaha kita diijabah oleh Allah ta’ala. Allah berjanji bahwa do’a kita kepadaNya pasti diijabah oleh Allah ta’ala, akan tetapi jangan lupa bahwa Allah ta’ala pastilah menilai & mempertimbangkan kesungguhan usaha kita. Allah ta’ala pun telah memberikan petunjuk tentang do’a do’a terbaik kepadaNya untuk kita. Sukses dalam pengertian kedua ialah jika kita berhasil mengisi waktu kita yang terlepas dengan pahala terbaik dari Allah ta’ala. Jika kita menjadi pengusaha mana yang lebih berpeluang untuk mencapai sukses ? Niat mencari uang ataukan niat mencari pahala terbaik dai Allah ta’ala ?

    Comment by MIFTAHUDDIN — 25 December 2011 @ 3:24 pm

  10. Ada yang berkata urusan akherat itu urusan yang tidak ada uangnya, lihatlah seorang da’i setelah menyampaikan da’wah terima uang tidak. kalau terima uang maka itu urusan dunia ! tidak. kalau yang memberi bisyaroh ibadah, maka yang menerimapun ibadah ! kalau yang memberi itu niatnya menyuap, maka yang menerima pun berdosa ! karena kedua duanya jauh berbeda ! setiap hati pasti bisa membedakannya ! Jangan membuat istilah yang tidak pada tempatnya dari sisi ummat Islam sendiri misalnya uang suap disebut uang tasyakuran ini menyesatkan. jangan. jangan dan jangan !

    Comment by MIFTAHUDDIN — 27 December 2011 @ 7:34 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment