Etos Kerja dan Ihsan

Mimbar Jum'at | Sunday, April 20th, 2008

Sering muncul pernyataan bahwa bangsa Indonesia memiliki etos kerja yang rendah. Secara sosiologis kita harus mengakui bahwa umat Islam merupakan bagian terbesar dari bangsa ini. Bertolak dari realita ini, umat Islam Indonesia dengan ajaran Islamnya merupakan kelompok yang pertama kali bertanggungjawab terhadap pembinaan dan pengembangan etos kerja bangsa tercinta.

Etos kerja yang rendah ini, ber-implikasi menempatkan umat Islam termarjinalisasi dalam ekonomi. Kelompok terbesar dari bangsa ini sering dikalahkan dalam bidang ekonomi oleh kelompok minoritas tanpa rnelalui perebutan kekuasaan,
tetapi cukup melalui solidaritas antara sesama mereka. Untuk melakukan perbaikan ekonomi ini, etos kerja yang tinggj perlu dimiliki, disamping pening-katan SDM, dan ukhuwah islamiyah.Etos kerja merupakan suatu ungkapan yang terdiri dari dua kata dengan arti masing-masing yang berbeda sehingga ketika kedua kata itu digabungkan sedikit menimbulkan kerancuan. Kata etos, berasal dari bahasa Yunani yang berarti karakter atau watak. Dari makna ini dikem-bangkan pengertian etos sebagai pandangan hidup yang khas dari individu atau kelompok manusia. Dari kata etos, muncul perkataan etika dan etis yang menekankan kepada makna akhlak, yaitu kualitas essensial seseorang atau suatu kelompok. Jadi, kata etos mengandung makna semangat, motivasi dan falsafah hidup seseorang atau sekelompok orang.

Sementara kata kerja adalah bahasa Indonesia yang yang dalam bahasa al-Quran dikemukan dengan istilah shun ‘un, amal dan fi ‘il. Kata shun ‘un mempunyai makna membuat atau memproduksi sesuatu secara artistik dan berdasarkan keterampilan. Kata amal, menurut Raghib al-Isfahani adalah suatu perbuatan yang dilakukan dengan sengaja atau niat. Dalam al-Quran, kata ini bersifat netral artinya dipakai untuk perbuatan baik dan perbuatan yang bersifat jelek. Sedangkan kata fi ‘il berarti upaya membuat suatu perbuatan bagus atau tidak bagus sama sekali baik dilakukan secara sengaja atau tidak sengaja.

Islam menempatkan kerja atau amal sebagai kewajiban setiap muslim. Kerja bukan sekedar upaya mendapatkan rezeki yang halal guna memenuhi kebutuhan hidup, tetapi mengandung makna ibadah seorang hamba kepada Allah, menuju sukses di akhirat kelak. Oleh sebab itu, muslim mesti menjadikan kerja sebagai kesadaran spiritualnya yang transenden (agama Allah).

Dengan semangat ini, setiap muslim akan berupaya maksimal dalam melakukan pekerjaannya. la berusaha menyelesaikan setiap tugas dan pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya dan berusaha pula agar setiap hasil kerjanya menghasilkan kualitas yang baik dan memuaskan. Dengan kata lain, ia akan menjadi orang yang terbaik dalam
setiap bidang yang ditekuninya. Ada tiga tahapan yang harus dilakukan seseorang agar prestasi kerja meningkat dan kerjapun bernilai ibadah.

Pertama, kerja keras. Ukuran kerja keras adalah kesempatan berbuat, tanpa pamrih. Kedua, kerja cerdas. Kepasifan dalam menghadapi pekerjaan membatasi seseorang tidak berusaha meningkatkan kemampuan profesionalismenya. Profesionalisme biasanya dijadikan ukuran dalam peningkatan prestasi di setiap pekerjaan. Ketiga, ikhlas. Ukuran ikhlas berdasarkan ajaran Islam. Ikhlas dalam berkarya adalah kunci kejujuran. Banyak para pekerja yang dalam pekerjaannya tekun dan cerdas namun tidak ikhlas yang pada akhirnya menjadi petaka.

Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan“. (QS. At-Taubah [9]: 105).

Dalam mengerjakan sesuatu, seorang muslim selalu melandasinya dengan mengharap ridha Allah. Ini berimplikasi bahwa ia tidak boleh melakukan sesuatu dengan sembrono, sikap seenaknya, dan secara acuh tak acuh. Sehubungan dengan ini, optimalisasi nilai hasil kerja berkaitan erat dengan konsep ihsan. Ihsan berkaitan dengan etos kerja, yaitu melakukan pekerjaan dengan sebaikmungkin, sesempurna mungkin atau seoptimal mungkin. Allah mewajibkan atas segala sesuatu, sebagaimana firman-Nya, “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya“. (QS. As-Sajdah [32]: 7).

Selain itu muslim pun diminta itqan dalam mengerjakan sesuatu. Itqan berarti membuat atau mengerjakan sesuatu secara sungguh-sungguh dan teliti sehingga rapi, indah, tertib dan bersesuaian dengan yang lain dari bagian-bagiannya. Allah SWT berfirman, “Seni ciptaan Allah yang membuat dengan teliti (atqana) segala sesuatu” (QS. An-Naml [27]: 88).

Dengan demikian, bila Allah melakukan ihsan kepada manusia, maka manusia pun dituntut melakukan ihsan dalam kehidupan. Tegasnya, perintah ihsan merupakan perintah kepada umat Islam untuk melakukan pekerjaan dengan sebaik mungkin. Semangat ini akan melahirkan etos kerja umat Islam yang tinggi dalam setiap rofesi yang mereka tekuni.

Sumber : Buletin Mimbar Jum’at No. 15 Th. XII 11 April 2008

Related Posts with Thumbnails



Related Articles

  • No Related Post

1 Comment »

  1. Assalamu’alaikum wr wb
    salam sejahtera, selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1429 H
    terimakasih kumpulan artikelnya untuk menambah ilmu, mudah-mudahan bermanfaat.

    Comment by Dede Ihsan — 16 September 2008 @ 3:41 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment