Ahlul Kitab

Mimbar Jum'at | Sunday, March 30th, 2008

Kaum muslimin berselisih pendapat tentang siapa sebenarnya Ahlul Kitab. Perselisihan ini dipicu oleh sudut pandang yang berbeda dalam mernaharni makna istilah tersebut. Yang memahami Ahlul Kitab dengan dasar al-Quran serta sunnahNabi Muhammad Saw akan lebih terarah kepada Yahudi danNasrani.

Sementara yang memahami Ahlul Kitab dari sudut pandang bahasa, akan memencar pemahamannya kepada semua agama yang memiliki kitab, sebab makna umum dari Ahlul Kitab adalah orang-orang yang memiliki kitab. Maka dengan demikian, tidak hanya Yahudi dan Nasrani yang disebut Ahlul Kitab, tetapi termasuk juga Hindu, Budha dan lain-lain yang kepercayaan mereka juga melalui kitab mereka.

Istilah Qur’ani

Kalau mau jujur, maka tak dapat dibantah, bahwa munculnya istilah Ahlul Kitab itu adalah karena al-Quran menyinggung dan mengemukakan serta menerangkan tingkah laku Ahlul Kitab.

Disamping istilah Ahlul Kitab, juga disebutkan dengan istilah uutul kitab artinya mereka yang diberi kitab. Dan untuk menandai sebagian dari golongan Ahlul Kitab itu, al-Quran memberi istilah uutu nashiban minal kitab yang diarahkan khusus bagi orang-orang Yahudi. Ada beberapa puluh kali Allah SWT mengulangkata Ahlul Kitab serta kata alladziina uutul kitab di dalam Al-Quran yang kesemuanya ditujukan kepada Yahudi dan Nasrani yang ternyata bermuara kepada Bani Israil.

Diantara ayat yang menandai pengarahan makna Ahlul Kitab itu kepada Yahudi dan Nasrani adalah QS. al-Maidah: 68, “Katakanlah: Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al Qur ‘an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu“. Dalam ayat tersebut, Allah SWT telah meringankan seruan-Nya kepada Ahlul Kitab dengan menyebut Taurat dan Injil serta makna batin dari al-Quran yang telah diingatkan turunnya dalam kedua kitab yang diturunkan kepada Musa dan Isa. Dengan arti kata lain, Ahlul Kitab itu adalah mereka yang diberi kitab Taurat dan Injil dan keterangan dari kedua kitab itu tentang akan turunnya al-Quran.

Adapun mengenai kitab Zabur, tidak disebut secara langsung kaitannya dengan Ahlul Kitab dalam ayat 68 surat al-Maidah di atas. Namun, tidak berarti ia bukan bagian dari yang diturunkan kepada Ahlul Kitab. Zabur adalah bagian dari kelengkapan kitab yang diturunkan kepada Bani Israil yang diturunkan kepada nabi Daud as, karena seperti yang kita pahami dari QS. al-Maidah: 78, bahwa nabi Daud dan Isa as. telah mengutuk orang-orang kafir Bani Israil, “Telah dila ‘nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam..“.

Diantara cara menandai bahwa Ahlul Kitab itu adalah Yahudi dan Nasrani adalah bentuk kata yang digunakan Allah didalam menyeru golongan-golongan manusia dalam al-Quran. Ada empat kelompok golongan manusia yang diseru Allah di dalam al-Quran, yaitu:

  1. Manusia dan Jin secara umum, termasuk di dalamnya istilah Bani Adam.
  2. Orang-orang beriman, yaitu kaum muslimin yang diberi al-Quran.
  3. Para Nabi, termasuk di dalamnya para Rasul dan Nabi-Nabi tertentu seperti Wahai Adam, Musa, Daud, dan lain-lainnya, temasuk seruan kepada keluarga Nabi.
  4. Ahlul Kitab, termasuk di dalamnya Bani Israil, dengan seruan “Wahai Bani Israil

Dari cara Allah SWT menyeru itu, temyata kaum muslimin yang kepada mereka diturunkan al-Quran, Allah tidak memasukkan mereka sebagai Ahlul Kitab, tetapi menyeru mereka dengan “alladziina aamanu” (orang-orang yang beriman).

Kedudukan Ahlul Kitab

Sebelum Islam, Ahlul Kitab itu ada yang beriman dan ada yang kafir, yaitu menilai dari kepatuhan mereka terhadap kitab yang mereka terima. Pada masa hidupnya nabi Musa as dan Isa as kepada golongan Ahlul Kitab yang beriman baru berlaku ketentuan dihalalakannya mu’amalah dan munakahat yang ditegaskan padaQS. al-Maidah: 5, boleh memakan sembelihan mereka dan mengawini perempuan mereka.

Namun sesudah turunnya ayat 158 al-A’raf, yang menjelaskan keumuman risalah Islam untuk seluruh umatmanusia. Maka siapa saja diantara umat manusia yang tidak mau beriman kepada nabi Muhammad Saw, orang itu adalah kafir. Bermunakahat dengan mereka seperti yang tercantum di dalam surat An-Nuur ayat 3, al-An’am ayat 68 dan 70 tidak dibenarkan.

Nikah lintas agama

Nikah lintas agama yang diperbincangkan banyak orang mempunyai kaitan dengan pemahaman terhadap ayat al-Quran yang membolehkan mengawini perempuan Ahlul Kitab. Namun berdasarkan pelaksanaan yang telah ditunjukkan kaum muslimin
terdahulu dari generasi sahabat, Tabi’in dan Tabi’ Tab’iin, menunjukkan bahwa kawin lintas agama itu, adalah penyimpangan dan penyelewengan ajaran agama dan haram.

Related Posts with Thumbnails



Related Articles

  • No Related Post

1 Comment »

  1. wah wah… memperdebatkan yang sudah jelas… Ahlul kitab itu sudah jelas bahwa yg dimaksud adalah Yahudi dan Nasrani… karena mereka telah diturnkan kitab Taurat dan injil tetapi sudah diubah oleh para pemuka agama mereka.. nah merekalah yang di sebut sebagai ahlul kitab yang suka mengubah2 Firman Alloh Ta’ala.. sampai di turunkannya Alqur,an yang sempurna dan di jaga hingga hari kiamat…

    Comment by maulana — 19 December 2010 @ 5:52 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment