sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Amalan Istimewa

admin | An-Natijah | Sunday, March 30th, 2008

Melihat kenyataan masyarakat kita dewasa ini, sangatlah menyedihkan dan memprihatinkan. Masyarakat yang mayoritas muslim, tetapi mayoritas pula dari mereka jauh dari ruh kehidupan Islamiyah, sifat keimanannya memudar, bahkan telah lemah.

Hubungan mereka dengan Allah SWT dan Rasul-Nya terlihat semakin jauh. Hubungan dengan saudara semakin kurang harmonis. Terlihiat dari kurang adanya rasa kebersamaan dan kepedulian kepada sasama muslim baik dalam hal tolong menolong, nasihat menasehati, terutama sekali dalam melaksanakan amar makruf nahi
mungkar, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Cahaya Islamnya mulai redup. yang dikaruniai rizki yang berlebih hanya mencari kepuasan duniawi, mementingkan kepuasan pribadi dari pada membantu saudaranya yang tertimpa musibah. Yang punya kedudukan, jabatan tinggi memanfaatkan kariernya sebagai jalan untuk menimbun kekayaan keluarganya, sehingga mengambil jalau pintas dengan melakukan korupsi manipulasi dan tidak segan-segan berbuat khianat. Yang miskin pun karena terpaksa, akhirnya mereka mengemis karena tidak adanya kepedulian dari yang kaya, bahkan tidak malu lagi menjambret, merampok, dan berjudi. Kebanyakan dari mereka itu adalah saudara seiman kita, yang diperintahkan Allah SWT untuk melaksanakan amar makruf nahi mungkar, namun karena kelemahan imannya membuat mereka berperi-laku menyimpang dari ajaran Allah SWT dan Rasul-Nya. Naudzubillahi mindzalik.

Lemah Iman

Nabi SAW menempatkan perintah amar makruf nahi mungkar pada bagian amalan yang istimewa, karena perratah Allah SWT yang satu ini hanya diberikan kepada umat Nabi Muhammad SAW saja, tidak kepada umat yang terdahulu. Nabi SAW juga memberitahukan bahwa meninggalkan perintah ini adalah tanda-tanda lemah dan turunnya iman seseorang sebagaimana sabdanya: “Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka ia hams mencegah dengan tangannya, jika tidak mam-pu maka dengan lisannya dan jika tidak mampu maka dengan hatinya dan yang demikian itu selemah-lemahnya iman“. (HR. Muslim).

Tingkat kesempurnaan iman seseorang dapat dilihat jelas dalam hadits di atas dalam hal mencegah kemungkaran. Pengertian “dengan tangannya” ialah dengan kekuasaan atau kehonnatannya (penguasa atau tokoh masyarakat). Sedang “dengan lisannya” yaitu mencegah dengan cara “dengan hatinya” artinya berdiam diri saja tidak melakukan tindakan apapun, sekedar membenci perbuatan mungkar dalam hati saja. Dan inilah tanda selemah-lemahnya iman. Termasuk golongan manakah kita, cobalah intropeksi diri!

Tugas Kita

Setiap muslim yang mengaku umat Nabi Muhammad SAW adalah berstatus mubaligh, pewaris dari Nabi SAW yang berkewajiban menyampaikan risalah yang dibawa oleh Nabi SAW. Adalah merupakan suatu kebodohan bila kita berpikir bahwa kewajiban berdakwah, melaksanakan amar makruf nahi mungkar ini hanya tugas kewajiban para ulama dan umaro (penguasa) sepenuhnya.

Ini adalah tugas kita semua untuk mengajak manusia dalam melaksanakan perintah Allah SWT yang dicontohkan Nabi SAW. Itulah tang-gung jawab kita semua, mengingat sebetulnya diri kita ini adalah pemiinpin, sesuai dengan sabda Nabi SAW: “Sesungguhnya kalian semua adalah pemimpin. Kalian semua akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. ” (HR.Bukhari & Mus-hm). Simak juga firnan Allah SWT: “Orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan menjadi wali dari sebagaiannya, menyeru kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar“( Q.S.9:71).

Atas dasar itulah setiap diri muslim wajib mengamalkannya dalam rangka tawashau bit haq (nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran). Namun bila ada yang sudah dinasehati tidak mau mengikuti maka tidak ada dosa bagi orang yang menasihati, karena dia telah melaksanakan perintah amar makruf nahi mungkar yang kelak di pertanggung jawabkan di hadapan-Nya, sedangkan masalah tidak di dengar atau didengar atau tidak diamalkan oleh penerima nasihat bukan tanggung jawabnya.

Turun Azab

Meninggalkan amat makruf nahi mungkar dapat menyebabkan datangnya laknat dan kemarahan Allah SWT, diakibatkan kelalaian manusia yang tidak lagi mengenal apa yang menjadi tanggung jawab dan kewajibannya sebagai muslim, umat yang diberikan kehormatan oleh Allah SWT sebagai umat terbaik, sebagaimana tersurat dalam Al Qur’an (Q.S.3:110). Betapa pentingnya amar makruf nahi mungkar bagi umat Islam sebagai syarat utama menjadi umat terbaik dari pada umat laimya. Bila syarat itu tidak dipenuhi tidaklah berhak menyandang gelar khaira ummah (umat terbaik).

Di kalangan umat Islam masih banyak yang lalai dalam masalah agamanya. Banyak yang tidak peduli dengan perjudian yang marak dilakukan, perzinahan, pungli, atau pemerasan dan berbasai kemungkaran bin serta kemaksiatan yang terjadi di negeri ini. Nabi SAW mengingatkan: “Tiada seorangpun yang melakukan maksiat dan ia tinggal dalam suatu kaum, melainkan kaum tersebut tidak mencegah perbuatan orang itu padahal mereka mampu melainkan Allah SWT akan menurunkan azab kepada mereka sebelum mereka mati (yaitu di dunia didatangkan bencana) ” (HR ibnu Dawud, Ibnu Majah). Bagaimana dengan bencana yang beriringan menimpa negeri ini, benarkah merupakan azab Allah SWT.

Sumber : Lembar Risalah An-Natijah No.11/Thn.XIII 14 Maret 2008

Related Posts with Thumbnails


Related Articles

  • No Related Post


No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment