hak anak, hormatkah kita kepadanya?
Rasa haus mencengkeram seperti kemarau, dan segelas minuman ada dihadapan…
Mata bocah yang bening bulat itu, menatap lekat-lekat ke gelas minuman yang tersaji di hadapannya. Rasa haus sudah sedemikian membangkitkan keinginannya untuk meraih gelas itu.
Tiba-tiba datang seorang lelaki yang kemudian menyambar gelas itu. Sedetik kemudian perlahan gelas itu terbang menjauhi mata bening bocah yang sudah dibakar oleh hasrat kehausan. Gelas itu mendarat di tangan lelaki lainnya, yang duduk berhadapan dengan bocah itu.
Dan si bocah, rasanya mungkin perlu bantuan Tuhan untuk memendam rasa kecewanya….
***
“Nak, karena engkau kebetulan duduk di sebelah kananku, engkau berhak didahulukan dari yang lainnya. Karena itulah, aku meminta persetujuan darimu, relakah engkau, sekiranya minuman yang ada di tanganku ini kuberikan kepada orang yang duduk di sebelah kiriku?”
Rasa haus yang telah mencengkeram kerongkongan membulatkan tekad si bocah untuk berkata “tidak”, kepada lelaki yang sedemikian santun itu.
“Demi Tuhan, aku tidak akan memperkenankan siapa pun merebut bagianku darimu!”, kalimat itu meluncur dari mulutnya.
Gelas minuman pun didapatkannya dari lelaki santun itu…
Si bocah itu matanya tajam,
dan bening bulat-bulat!
***
Rasanya petikan cerita yang pertama sudah sedemikian jamak dan semua orang pastilah sudah habis perhatian mereka diserap oleh hal-hal yang besar, sehingga jika mereka berada pada situasi yang mirip, respon mereka pun hampir mirip dengan pertunjukan yang ada pada petikan cerita pertama.
Ups, tapi tampaknya kesimpulan di atas tak sepenuhnya benar.
Karena kira-kira 14 atau 15 abad yang lalu, lelaki yang sedemikian santun itu benar-benar pernah ada dan hidup! Perilakunya yang menjadi warna petikan cerita kedua itu didasarkan dari sebuah dokumentasi yang merupakan hasil perjuangan duo yang terkenal, yang karena sedemikian cintanya, mereka mendedikasikan hidupnya buat merekam perilaku pribadi yang luar biasa itu. Duo itu adalah Bukhari dan Muslim, dan cerita tentang lelaki itu diriwayatkan oleh seseorang yang bernama Sahl bin Sa’ad RA.
Ada yang bilang, katanya nggak gampang tuh, untuk bisa menjadi seorang yang layak meriwayatkan perilaku dan kehidupan lelaki mulia itu. Syaratnya berat dan para ahli dokumenter yang melacak keping-keping riwayat lelaki itu pun punya sistem seleksi yang sangat-sangat ketat. Alhasil, jika sebuah riwayat telah mendapat atribut “sahih”, maka bisa dipastikan 100% kalau riwayat itu benar-benar terjadi.
Karna itulah, petikan cerita kedua itu pernah benar-benar terjadi.
Dan rasa-rasanya dunia yang begitu mengagungkan dan menomorsatukan orang dewasa, dunia tempat mangkal kita, masih sulit untuk menerima kalau riwayat itu benar-benar terjadi!
***
Gula yang manis, atau garam yang asin.
Kira-kira seperti itulah mudahnya membangkitkan perasaan dongkol yang telah mengendap di memori. Seperti mudahnya membangkitkan rasa asin atau manis saat membayangkan garam dan gula. Perasaan dongkol apalagi nih, kok sampai begitu mudah dibangkitkan?
Bagi anak tunggal, mungkin mereka sedikit tak akrab. Tapi bagi yang kebetulan beruntung lahir di keluarga dengan lebih dari satu anak, kata ini tentunya terdengar akrab bagi mereka. Apalagi untuk mereka yang lahir lebih duluan alias lebih tua. Kata sakti ini adalah “mengalah”.
Meski kata itu sudah berulang-ulang diwujudkan sebagai perilaku, tapi tampaknya ia tidak bisa sepenuhnya ‘membunuh’ semacam perasaan jengkel atau dongkol yang selalu muncul menyertai. Seperti itulah, munculnya perasaan dongkol yang menyertai tindakan mengalah bisa menjadi semacam bayang-bayang gelap diri. Perasaan ini muncul karena terasa betul pemenuhan hak kita ditahan dan untuk kemudian hak yang seharusnya bisa menjadi milik kita itu malah dialirkan kepada pihak lain. So, untuk perasaan yang satu ini tentunya akan mudah sekali untuk dibangkitkan, sebagaimana kita membayangkan rasa manisnya gula!
Kata sakti itu ucapkanlah,
dan rasakan apa yang terjadi…
Beruntunglah bagi mereka yang merasakan kedamaian saat mendengar kata itu.
Tapi sebagian yang lain, tiba-tiba mereka merasakan ada batu yang menghimpit dada, dan pelan-pelan dua ujung tanduk kecil…
muncul di kepala!
***
Rasanya aneh, dan mungkin susah atau malah tidak mau menerima.
Kenapa mesti meminta ijin kepada seorang bocah sih, kalau urusannya cuma memberi segelas minuman? Bocah-bocah itu kan ndak tau apa-apa?
Eit, benarkah seorang bocah itu tidak tahu apa-apa?
“Oh, Abdul si bocah tua itu ya? Dia bisa dibiarkan saja. Toh dia tak tahu apa-apa!”
Kalau Anda kebetulan bernama Abdul, kira-kira bagaimana sih, perasaan Anda ketika mendengar perkataan itu diucapkan?
***
Dan terbukti, lelaki itu mempunyai visi yang melesat ke depan.
Lelaki itu, yang belakangan diketahui bernama Muhammad, seorang Nabi dan Rasul terakhir, memberi jejak pelajaran yang sangat berharga tentang vitalnya sebuah penghormatan kepada hak-hak anak. Muhammad Rasulullah, sebagaimana petikan cerita kedua di atas, memelihara hak si anak dengan menyuguhkan minuman terlebih dahulu kepada anak itu karena ia berada di samping kanan beliau. Ini adalah bentuk pendidikan yang menjadikan anak seakan berada dalam jajaran para orang tua dari segi perolehan hak. Ketika anak telah merasa mengambil haknya, perasaan cintanya kepada Rasulullah SAW akan bertambah dan keimanan kepada risalah beliau akan semakin kokoh.
Anak akan merasa berharga, karena ia didukung oleh cara bersikap yang demikian. Sebagai konsekuensinya, citra diri yang baik pun terbentuk. Ia tidak menganggap dirinya buruk, dan tidak pula memandang orang dewasa dan lingkungan pada umumnya sebagai sumber ketakutan. Selanjutnya, anak akan memiliki konsep diri yang positif sehingga mampu mengembangkan dan melesatkan potensinya. Dan tampaknya rasa percaya diri yang sangat besar, seringkali ditentukan oleh seberapa baik anak memperoleh perlakuan dari orang tua. Bukan apa yang ia miliki untuk ditunjukkan kepada orang lain.

***
Dan Ponari Sweat tampaknya masih diproduksi.
Entah sampai kapan.
Sekali lagi ini Ponari, bukan Pocari Sweat lho!
Dan Rasulullah SAW telah menjadi contoh bagaimana ia menjadi teman saat bercanda dan menjadi guru saat bertutur, dihadapan anak-anak. Dan terhadap hak anak, Rasulullah menjadi pelindung dan penjaganya!
Sesungguhnya, seberapa serius dan sensitifkah kita kepada hak-hak mereka?
(jogja, 22 februari 2009)
note:
ucapan terimakasih disampaikan kepada Mohammad Fauzil Adhim, yang menginspirasi. bagi yang serius, bisa merujuk tulisan aslinya yang serius di Suara Hidayatullah edisi febuari 2009
Related Articles
No Comments »
No comments yet.
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI





