Dzulkarnain
Di internet saya baca suatu pembahasan tentang Dzulkarnain yang isinya meragukan kebenaran apa yang dikisahkan di dalam Al Qur’an tentang seorang raja yang berkuasa di barat dan di timur, dengan suatu kerajaan yang luas sekali, tapi memerintah dengan adil dan sangat taat kepada Allah SWT.
Apa lagi, kalau dimaksudkan dengan Dzulkarnain itu adalah Alexander Yang Agung dari Macedonia, karena catatan riwayat hidupnya tidak menunjukkan dia sebagai raja yang adil. Apalagi, sebagai seorang yang taat kepada Allah SWT, sehingga ada yang menyebut dirinya adalah “waliyullah”.
Begitu juga halnya kalau yang disebutkan dengan Dzulkarnain tersebut adalah seorang raja dari Persia yang bernama Cyrus Yang Agung, karena rekam jejak dari raja-raja penakluk selalu menunjukkan bahwa mereka adalah raja-raja yang sangat berkuasa dan sering melakukan kekejaman.
Sehingga dengan demikian kesimpulannya bahwa adanya seorang raja pendeta yang wilayah negaranya terbentang dari barat ke timur, yang memerintah dengan keadilan di atas jalan yang benar, hanyalah suatu isapan jempol. Suatu cerita hayalan yang tidak pernah ada.
Jawaban :
Adapun tentang adanya kontroversi mengenai Dzulkarnain bukanlah sesuatu yang baru. Telah ada semenjak masa Rasulullah SAW dan itu dijadikan bahan pertanyaan kaum musyrik Mekah dan orang-orang Yahudi.
Kemudian hal itu diambil alih oleh para orientalis, tentunya ditambah dengan berbagai kajian ilmiah (atau sebenarnya peseodo ilmiah) yang tujuannya untuk memojokkan agama Islam dan hal itu sudah berlangsung ratusan tahun. Kalau saudara penanya rajin mencari di internet akan bertemulah hal yang semacam itu banyak sekali
Apakah hal semacam itu buruk untuk Islam? Menurut kami tidak, justru hal semacam itu baik untuk Islam! Karena dengan kajian-kajian mereka yang kadang-kadang sangat mendalam banyak horizon baru yang terbuka. Bukan saja bagi kita, tapi sekaligus bagi mereka para orientalis itu sendiri. Karena pertanyaan-pertanyaan mereka yang ilmiah itu merupakan pisau bermata dua, Disatu pihak tertuju kepada Islam. Dilain pihak semua dalil dan argumen yang mereka kemukakan tentulah pula harus ditujukan kepada agama Kristen yang mereka anut.
Disitu ketemu oleh mereka bahwa Islam yang menurut mereka sarat dengan berbagai kelemahan, ketika “mistar uji” yang sama mereka tujukan kepada agama mereka sendiri agama Kristen, maka di dalam agama Kristen mereka ketemukan lebih banyak masalah dan lebih lemah fondamennya dari apa yang mereka timpakan kepada Islam.
Pertanyaan-pertanyaan mereka itu adalah bagus, karena membuat kita jadi berfikir dan kemudian pemahaman dan penghayatan terhadap agama kita sendiri menjadi semakin kuat dan semakin kokoh.
Bukan soal Dzuikarnain saja yang dipermasalahkan. Misalnya tentang pemakaian Al Qur’an tentang panggilan raja Mesir dengan Fira’un dalam kisah-kisah yang menyangkut nabi Musa dan nabi Harun, sementara ketika berhubungan dengan nabi Yusuf panggilan atas raja mesir itu adalah Malik, maka dipertanyakan konsistensi Al Qur’an dalam pemakaian istilah. Pertanyan serupa itu ratusan tahun lamanya menjadi bahan tertawaan dan ejekan terhadap Islam.
Namun, ketika arkeolog Perancia Jean Francois Champollion pada tahun 1830 bisa membaca dan mengurai “hieroglif’ tulisan Mesir Kuno, ternyatalah memang baru dizaman nabi Musa dan nabi Harun serta masa yang dekat sebelumnya raja Mesir bergelar “fir’aun”, sementara ketika dinasti yang memerintah Mesir dimasa nabi Yusuf memanglah raja Mesir di panggil Malik (Raja), dengan demikian akhirnya m.ereka sendiri, para orientalis itu sendiri yang membuka dan menjelaskan, bahwa bahasa yang dipakai Al Qur’an adalah tepat dan benar. Sesuai dengan zamannya.
Contoh lainnya mengenai firman Allah SWT di surat Yunus, ayat 92 tentang diselamatkannya tubuh Fir’aun untuk menjadi bahan pelajaran : “Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami“.
Ratusan tahun pula ayat Al-Qur’an ini dipertanyakan, mana jasad Fira’un itu?, untuk dijadikan bahan pelajaran dan bahan peringatan dan agar tercegah dari berbuat lengah kepada aturan Allah SWT? Baru pada ta’hun 1898 ketika seorang arkelog Perancia lainnya “Loret” menemukan mumminya di “wadi al-Muluk” (Lembah raja-raja) di Thebe, diseberang sungai Nil dekat kota Luxor, barulah terbukti bahwa mayat Fira’un yang mengejar nabi Musa sampai ketengah laut itu diselamatkan sampai hari ini.
Disitu terbukti, bahwa yang bertanya adalah para orientalis, dan kemudian yang meneriakkan jawabannya bahwa Al Qur’an benar adalah para orientalis itu juga.
Contoh lainnya, adalah masih dizaman kita sekarang, yaitu kejadian di tahun 1992, 16 tahun yang silam ketika para arkeolog menemukan kota Irarti di Syria sebagai tempatnya kaum “Ad”. Padahal kota tersebut juga diperatnyakan selama ratusan tahun, tentang kota kaum “Ad” itu. Dimana? Pernah adakah? Atau hanya fiksi dan sekadar ilustrasi untuk memberikan pembenaran kepada suatu ajaran?
Adapun mengenai Dzulkarnain yang dikisahkan di dalam surat 18 Al-Kahfi, dari ayat 83 sampai ayat 98, bila disimak dengan teliti adalah kisah tentang seorang raja yang bergelar “dzulkarnain” yang arti harfiahnya “pemilik dua tanduk”. Dia disebut pemilik dua tanduk karena bentang wilayah kekuasaannya digambarkan terbentang dari tempat matahari terbenam sampai ketempat matahari terbit. Dari timur ke barat. Kedua ujung itu diibaratkan tanduk. Sehingga penguasanya disebut sebagai “pemilik dua tanduk”.
Siapa dirinya. Al Qur’an tidak menyebutkan. Apakah Alexander Yang Agung, apakah Cyrus Yang Agung? itu adalah reka-reka yang datang kemudian, mengingat kedua orang itu dimasa lalu mempunyai bentang kekuasaan yang begitu luas. Mungkin masih diperlukan waktu untuk kemudian para sejarahwan dan para arkeolog menemukannya pula. Kalaupun sampai sekarang belum ketemu, tidaklah kemudian berarti hal itu tidak pernah ada. Ini adalah penalaran akal sehat yang diperkuat oleh iman.
Sumber : Buletin Dakwah Al-Huda No. 1148 Tahun ke-23 - 5 Desember 2008
Related Articles
2 Comments »
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI






Dzulkarnain adalah seorang firaun yang bernama akhnaton yang hidup sejaman dengan nabi Musa as, dia diusir dari mesir karena menyerukan orang mesir untuk menyembah 1 tuhan yang dia sebut Aton. Konsep Ketuhanan yang sama dengan Nabi Musa as.
Setelah diusir dari mesir, beliau berlayar mengarungi samudra dan terdampar di kepulauan Maladewa, yaitu tempat terbenamnya matahari. Setelah itu berlayar kembali dan terdampar di kepulauan Kiribati, yaitu tempat terbitnya matahari. Sebagai buktinya, Bentuk perahu nelayan pulau tersebut saat ini, mirip dengan perahu pada jaman mesir kuno.
Setelah singgah di kiribati, beliau berlayar kembali dan terdampar di negri diantara dua bukit, atau biasa disebut negri Cina. Yang dalam Al Quran di tulis bahwa kaum tersebut seperti tidak mengerti pembicaraan, maksudnya adalah bahasa mereka sangat berbeda dengan bahasa yang di pakai Dzulkarnain.
kata Ya’juj Ma’ juj sendiri berasal dari bahasa Cina yang artinya:
Ya’ = Asia
Jouj = Benua
Ma’ = Kuda
Jouj = Benua
Yang dapat disimpulkan Ya’ juj berarti Orang-orang yang berada di benua asia, meliputi sebagian cina, jepang, korea.
Sedangkan Ma’ juj berarti orang-orang yang berada di benua yang mayoritas penduduknya mahir mengendarai kuda, meliputi mongol, siberia, khazakstan, dan negara asia tengah.
pada waktu kedatanganya, Dzulkarnain berada pada jaman dinasti chang.
Yang akhirnya beliau diminta untuk membangun tembok penghalang yang masih berdiri kokoh sampai sekarang, yaitu yang biasa di sebut Tembok Besar Cina.
walaupun tidak semua tembok di bangun oleh beliau, tetapi teknologi pembangunanya mengikuti tenbok pertama yang dibangun Dzulkarnain.
Dan tembok pertama yang dibangun adalah tembok yang mengelilingi kerajaan Chang. Yang panjangnya 17m.
Tembok tersebut berada di provinsi Henan kota Xian jiang.
bila dilihat dari luar memang tembok tersebut terbuat dari batu, tetapi didalamnya terdapat pondasi yang terbuat dari campuran besi dan tembaga.
Dan ada pertanyaan, mengapa Allah mencantumkan bahasa cina ke dalam Al Quran. Sebagaimana kita tahu bahwa Al Quran berbahasa arab.
Bahwa bahasa cina tidak berubah dari jaman Kedatangan Dzulkarnain sampai sekarang, seperti bahasa arab yang tidak berubah.
Setelah pembuatan tembok pertama selesai, Dinasti chang runtuh. dan diganti dengan dinasti Zhou, yang artinya Dzulkarnain.
Demikian masukan dari saya.
Comment by hendra — 21 May 2009 @ 3:55 am
yang jelas Dzulqarnain bukanlah Alexander, karena:
1. Dzulkarnain seorang mukmin sedang Alexander seorang penyembah berhala
2. Adanya perbedaan tujuan dan sarana yang digunakan Dzulkarnain dan Alexander
3. perbedaan letak geografis perjalanan Dzulkarnain dan Alexander
4. Dzulkarnain membangun tembok sedang Alexander tidak
5. Dzulkarnain berperan dalam menciptakan sejarah cina kuno sedang Alexander tidak sampai ke negeri cina
6. Dzulkarnain adalah Akhnaton, Raja Mesir yang berkuasa antara tahun 1370 s.d 1352 SM
Comment by whie — 5 February 2010 @ 9:57 am