Berbekal Taqwa

Ibadah,Mimbar Jum'at,Taqwa | Saturday, October 11th, 2008

TaqwaPada tujuannya puasa Ramadhan yang baru saja kita laksanakan menjanjikan sebuah harapan. Harapan itu tergambar dalam surah al-Baqarah [2]: 183, di mana didalamnya dicantumkan kalimat “la’allakum tattaquun“. Menurut bahasa Arab kata “la ‘alla” bermakna “tawaqqa ‘uu” atau “rajaa“” yakni pengharapan. Oleh sebab itu. kalimat “la’allakum tattaquuna” diterjemahkan “agar supaya kamu bertakwa” atau “semoga kamu bertakwa“. Maksudnya, berpuasa menjanjikan harapan agar pelakunya lebih bertakwa kepada Allah SWT.

Dalam setiap harapan mestilah ada semacam proses atau fase-fase yang harus dilalui untuk tercapainya harapan itu. Proses ini bisa berjalan secara alamiah, sederhana atau bahkan membutuhkan waktu yang lama. Misalnya jika kita menginginkan sebatang besi menjadi sebuah pedang atau sebilah pisau, maka tentu kita harus memprosesnya terlebih dahulu dengan membakarnya, memukulnya, kemudian disirami air. Semakin baik kita memprosesnya dan telaten membentuknya, maka akan semakin baik pula hasilnya.

Demikian pula dengan ibadah puasa. Orang berpuasa pada hakikatnya ia tengah memproses dirinya agar supaya sumber daya manusianya semakin meningkat, bermutu dan berkualitas. Puasa adalah latihan. Latihan lapar agar tahan menghadapi musibah kelaparan atau paling tidak dapat merasakan dan mengerti penderitaan orang-orang yang kelaparan. Latihan sabar agar tabah menghadapi ujian dan cobaan. Latihan menahan dan mengendalikan hawa nafsu agar tidak terjerumus ke jalan yang sesat. Sehingga selesai berpuasa diharapkan dapat beribadah dan bersikap lebih baik serta bekerja lebih giat sebagaimana layaknya orang bertakwa.

Takwa secara bahasa artinya adalah al-shiyanah yaitu memelihara, al-hadzru yaitu hati-hati dan al-wiqayah waspada dan menjaga. Sedangkan secara istilah takwa berarti menjaga diri dari murka dan azab Allah dengan tunduk kepada-Nya, melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-Nya. Dalam kitab Fathul Qadir karya al-Syaukani dikisahkan, Khalifah Umar bin Khattab pernah ditanya tentang takwa, beliau menjawab, “Apakah engkau pernah melalui jalan yang banyak bertaburan duri?”. “Ya pernah” jawab si penanya. “Maka apa yang kamu lakukan?”, Umar kembali bertanya. Penanya menjawab, “Saya akan berjalan dengan berhati-hati”. Lantas Umar berkata, “Seperti itulah takwa”.

Jadi, esensi takwa adalah menghadirkan keagungan Allah SWT’di dalam hati dan merasakan kebesaran serta keMahaan-Nya, kemudian merasa takut terhadap keagungan-Nya dalam artian ingin senantiasa mendekat kepada-Nya dan takut terhadap murka-Nya dalam kaitian berusaha sedaya upaya menjauhi segala larangan-Nya.

Sayyid Sabiq dalam kitabnya “Islamuna” menerangkan bahwa takwa bermuatan keyakinan (akidah), pengabdian (ibadah), akhlak atau adab dan berbagai kebajikan (al-bier). Lebih lanjut dia mengatakan bakwa orang yang berhak menyandang sebutan “muttaqin” hanyalah orang yang mampu menahan dan mengendalikan hawa nafsu dan menjauhi semua hal-hal yang syubhat serta berani berjihad di jalan Allah.

Dengan demikian, takwa bukan sekedar menjauhi dosa-dosa besar saja, tapi mencakup semua penyelewengan dan penyimpangan meski itu hanya kecil. “Jangan lihat kepada kecilnya dosa yang kamu lakukan, tetapi lihat kepada siapa kamu berbuat dosa“. Jika demikian, muttaqin ialah orang yang paling berprestasi dalam melaksanakan Islam.

Bekal Terbaik

Dalam QS. AL-Baqarah [2]: 197 Allah SWT berfirman yang artinya,”.. .Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal“.

Arti ayat di atas mengisyaratkan kepada kita bahwa takwa adalah sebaik-baik bekal. Karena hanya dengan bekal takwa seseorang bisa sampai ke akhir perjalanan hidupnya dalam keadaan bahagia, ketika bekalnya dibuka dan dipertanyakan di akhir perjalanan, ternyata bekal takwalah yang akan menyelamatkannya.

Diantara ciri orang bertakwa menurut beberapa ayat al-Quran :

  1.  Iman yang kuat sehingga menumbuhkan amal kebajikan yang banyak, amanah dan tepat janji serta memiliki kesabaran. Allah SWT berfirman yang artinya, “…akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabidan memberikan hartayang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yangmemerlukanpertolongan) dan orang-orangyang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah omng-orangyang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa“. (QS. Al-Baqarah[2]:177)
  2. Adil dalam mehyikapi dan memutuskan sesuatu: FirmanAllah SWT yang
    artinya, “…Berlaku adilah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa..“. (QS. Al-Maidah[5]:8).
  3. Sifat pemaaf sebagaimana dinyatakan Allah SWT, “…danpemaafan kamu itu lebih dekat kepada takwa…“. (QS. Al-Baqarah[2]:237).

Sumber : Buletin Mimbar Jum’at No. 41 Th. XXII  -  10 Oktober 2008

Related Posts with Thumbnails



Related Articles

  • No Related Post

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment