Cita-cita Mulia

Al-Huda,Sosial | Friday, October 10th, 2008

pak dirmanPertanyaan :

Masih terngiang ditelinga saya pidato Bung Karno yang menyatakan : “Wahai pemuda gantungkan cita-citamu setinggi bintang dilangit!”. Menurut Bung Karno, cita-cita itu begitu penting dalam hidup seseorang, karena cita-cita itu akan memandu perjalanan hidup seseorang ke masa depannya.

Kita ingat dan sama tahu, betapa dengan cita-cita Indonesia merdeka Bung Karno rela hidup dalam pembuangan (interniran) selama belasan tahun. Bahkan Bung Hatta disebabkan cita-citanya yang tinggi tentang kemerdekaan Indonesia sampai bersumpah tidak akan kawin sebelum Indonesia merdeka.

Bung Karno dan Bung Hatta beserta generasinya dikarenakan mempunyai cita-cita yang tinggi kemudian bekerja keras dan menjadi pejuang yang tangguh dan tahan menderita.

Pentingnya hidup dengan cita-cita adalah membuat seseorang teguh sebagai pejuarig dan tahan menderita. Ketiadaan cita-cita membuat hidup menjadi tidak bermakna. Karena hidup asal hidup saja. Tidak ada yang diperjuangkan, tidak ada yang dikorbankan dan tidak ada kesanggupan menahan penderitaan.

Saya cemas sekali dengan generasi muda sekarang ini yang hidup tanpa cita-cita mulia. Bukan anak-anak orang lain, saya lihat para cucu saya sendiri, hidup dengan santai, semuanya diukur dengan materi dan mengejar materi. Pembicaraannya selalu berkisar tentang materi. Idolanya para seleberitis, pemain bola, pemain basket, bintang film, penyanyi. Pendek kata, para idolanya adalah orang-orang populer dan yang banyak menghasilkan uang. Yang mencemaskan mereka punya team sepak bola favorit, ada kesebelasan Inggris, ada kesebalasan Jerman. Pendeknya kesebelasan luar negeri. Dan yang lebih mencemaskan saya justru ada menteri yang di TV menyebut team luar negeri yang jadi favoritnya. Saya tidak mengerti dengan sikap menteri tersebut. Dimana nasionalismenya? Dimana cita-citanya untuk bangsa dan negaranya?.

Menurut pendapat saya, meluasnya korupsi seperti yang dibahas buletin Al-Huda minggu lalu disebabkan para koruptor itu tidak mempunyai cita-cita yang mulia untuk bangsa dan negaranya. Sehingga dengan demikian tidak ada semangatnya sedikitpun untuk membangun bangsa dan negaranya. Bahkan dengan sadar sekadar untuk memenuhi keperluan materi bagi dirinya sendiri mereka sanggup untuk merongrong dan meruntuhkan bangsa dan negaranya.

Karena itu menurut pendapat saya, kita perlu menggembleng diri kita kembali kedalam satu cita-cita mulia sebagaimana yang ditanamkan oleh Bung Karno dahulu. Dan cita-cita mulia itu kalau tidak salah sudah dirumuskan oleh para ulama, yaitu cita-cita untuk menjadi manusia yang berguna dan bermanfaat bagi orang lain. Bukannya menjadi benalu dan perusak bagi orang lain. Apalagi menjadi benalu dan perusak bangsa dan negara. Koruptor itu adalah penghianat bangsa dan negara. Seyogyanya di hukum mati saja.

Jawaban :

Kalau bicara tentang generasi muda hendaklah kita para orang tua menyadari bahwa kesalahan generasi muda adalah disebabkan kesalahan orang tua dalam mengasuh mereka. Jadi begitu kita para orang tua ini menunjukkan rasa kecewa dengan generasi muda, maka sesungguhnya kekecewaan lebih besar perlu kita alamatkan pada diri kita para orang tua.

Bagaimana anak muda akan mempunyai cita-cita mulia, apabila kita para orang tua tidak menanamkan cita-cita mulia itu kepada mereka semenjak dini? Bagaimana anak-anak muda akan mempunyai cita-cita mulia, kalau kita para orang tuanya memberikan contoh hidup yang tidak mulia? Bagaimana anak-anak akan tampil sebagai pejuang, kalau para orang tua mereka bukan pejuang?

Kemudian yang perlu dipahami bahwa masa antara kehidupan kita para orang tua dengan masa kehidupan anak-anak kita adalah berbeda, seperti dikatakan oleh Saidina Ali bin Abi Thalib : “Hati-hati dan telitilah kamu dalam mendidik anakmu, karena mereka tidak hidup dizamanmu”.

Dimasa kita remaja dahulu tahun lima puluhan dan enam puluhan, jarang sekali rumah yang punya telpon, radio dan TV. Tapi dimasa anak-anak dan cucu kita sekarang disemua rumah ada TV, apalagi radio, mungkin disetiap kamar ada radio. Hampir semua rumah di kota besar punya telpon. Atau kalau tidak punya HP. Sekarang ini didalam rumah boleh dikatakan setiap orang punya HP sendiri. Kecepatan informasi, misalnya dalam hal sepak bola dan basket membuat mereka setiap hari menonton sepak bola Eropa dan basket Amerika Serikat.

Namun, sekalipun banyak terjadi perubahan di dunia dikarenakan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka tetap ada nilai-nilai luhur dan cita-cita mulia yang tetap abadi. Yang tidak lapuk di makan zaman.

Nilai-nilai luhur seperti kejujuran, keberanian, menjaga kehormatan diri, cinta bangsa dan cinta tanah air tetaplah melupakan nilai-nilai luhur yang perlu ditanamkan kepada setiap anak semenjak mereka kanak-kanak mereka.

Begitu pula cita-cita mulia untuk hidup bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat bagi bangsa dan negara, bermanfaat bagi agama dan bermanfaat bagi masyarakat hendaklah ditanamkan semenjak dini, semenjak mereka masih kanak-kanak.

Pribahasa lama menyatakan : “Kalau tidak menanam, tentulah tidak memanen”. Ya, bagaimana akan memanen, kalau tidak pernah menanam?

Kalau cita-cita mulia menjadi orang berguna bagi bangsa, negara, agama dan masyarakattidak pernah ditanamkan oleh para orang tua semenjak mereka kanak-kanak, bagaimana cita-cita itu bisa mereka miliki setelah mereka dewasa?

Salah kaprahnya, kebanyakan anak-anak kita atas arahan orang tuanya mem-punyai cita-cita mau jadi dokter, mau jadi jenderal, mau jadi bupati, yang semuanya itu berkaitan dengan materi. Jadi orang tua juga yang menanamkan jiwa materialistis kepada anak-anak. Hal itu sering tanpa disadari oleh para orang tua bahwa cita-cita yang demikian adalah salah.

Padahal cita-cita yang benar itu adarlah agar anak menjadi “orang berilmu” (menjadi mualim atau orang alim). Dokter atau insinyur adalah salah satu dari manifestasi orang berilmu.Tapi, jangan dokter dan insinyur yang dijadikan cita-cita. Begitu pula, semenjak kanak-kanak hendaklah ditanamkan untuk menjadi “orang berguna”. Untuk menjadi “orang sosial” dan “orang masyarakat”. Memang itulah cita-cita mulia yang perlu ditanamkan.

Sumber : Buletin Dakwah Al-Huda No. 1141 Tahun ke-23  -  26 September 2008

Related Posts with Thumbnails



Related Articles

  • No Related Post

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment